
"Membawa barang ke luar Albion lebih baik jangan lewat Bjork. Segala hal dipersulit di sana."
"Memang jangan. Singa tua di sana tidak mati-mati. Kudengar penggantinya malah pergi ke Redstone."
"Ah, si pembuat mukjizat," julukan itu diucapkan dengan nada mengejek. Satu-satunya suara wanita yang terdengar. "Dia kabur?"
"Kudengar diusir."
Suara tawa pelan berderai.
"Hush! Kalian dengar apa yang terjadi pada Spencer dan Hastings, kan?"
"Tentu. Kau pikir kenapa tua bangka itu kawin dengan Chantall?"
"Ah! Untuk menyembunyikan pembantaiannya?"
"Gila! Mubazir benar Chantall! Kok dia mau? Lebih baik denganku!"
Suara gelak tawa muncul bersamaan dengan candaan kotor.
Jacob mengepulkan asap rokok dari sela bibir. Ia sengaja pergi jauh ke Delton untuk menghindar dari nama Argent, tapi bahkan di warung-warung makan remang di Delton pun ia masih mendengar pamannya digosipkan.
"Keith," panggilnya pelan.
Keith, asistennya yang juga berada di meja yang sama, segera mencondongkan tubuh. Senyum terulas di bibir lelaki muda itu. Usianya sepantaran dengan Jose. "Kau minta aku membereskan mereka, Jake?"
Jacob menggeleng. Menindak gosip remeh di warung remang tidak akan ada habisnya. Lagi pula ini urusan pamannya. Ia tidak akan ikut campur. "Sepertinya orang yang kita tunggu tidak datang. Kita pulang—"
"Chantall bahkan sudah bunting, aku lihat dia jalan-jalan dengan perut gendutnya," suara cempreng itu kedengaran sangat jelas, bahkan di tengah hiruk pikuk obrolan manusia, karena orang yang mengobrol ada di kubik duduk di belakang Jacob.
"Mungkin anak orang lain. Kapan sih? Baru pertengahan tahun lalu kan mereka kawin? Juli atau Juni. Mana mungkin secepat itu."
"Lagi pula kudengar dia impoten," yang lain menanggapi sambil tertawa.
"Masuk akal. Kau tahu keponakannya yang di sini? Dia saja bertahun-tahun tidak punya anak."
"Mungkin impoten juga."
__ADS_1
"Mungkin istrinya yang mandul, hukuman Tuhan."
Mereka tertawa lagi.
Jacob membanting gelasnya ke atas meja, bangkit, lalu berbalik menendang partisi kayu di belakangnya hingga rubuh. Orang-orang berteriak. Suara gelas pecah dan kayu terguling mewarnai udara.
***
Olivia tidak kaget melihat Jacob pulang dengan keadaan berantakan. Suaminya berdarah panas, tak jarang terlibat perkelahian. Tapi Jacob selalu menang, jadi ia tidak khawatir. "Siapa lagi yang kau hajar, Sayang?" sambutnya sambil mengecup sudut bibir Jacob.
Steward, kepala pelayan mereka, segera datang membawa handuk dingin. Jacob menggeleng. "Tadi sudah dikompres, lagi pula tidak masalah," katanya sambil duduk di ruang tengah. Ia menggenggam tangan Olivia. "Semua baik-baik saja di rumah?"
"Baik. Tadi ada surat dari Bjork." Olivia mengulurkan tangan pada Steward, yang segera mengeluarkan dan menyerahkan surat yang disimpannya. Surat itu memiliki lak segel dengan lambang dua pedang bersilang. Olivia merantingnya pada Jacob. "Kalau dilihat dari tulisannya, sepertinya dari Ibu. Aku belum membukanya."
"Kan sudah kubilang kau boleh membuka surat yang datang?" Jacob menukas. Ia mematahkan lilin segel dan membaca surat di dalamnya dengan cepat. "Ibu minta kita datang ke Bjork."
"Kenapa?" Olivia menepuk pahanya pelan, baru ingat sekarang sudah bulan Februari. "Menemani Bibi Jane? Waktu persalinannya sebentar lagi, kan?"
"Mungkin." Jacob mengangkat bahu. Ia tidak ingat usia kandungan bibinya. "Tapi setahuku mereka tidak terlalu akur, sulit percaya Ibu minta kita datang demi Jeanne. Yang tertulis di sini, Ibu kesepian. Jose yang selalu membuat rumah jadi ribut sudah pindah ke Redstone. Hiburannya cuma Garnet, tapi gadis itu sekarang lebih sering berada di Redstone daripada Bjork."
"Kita berangkat kapan?" tanya Olivia. "Aku berkemas sekarang?"
Jacob melipat kembali suratnya dan menyerahkan pada Steward untuk disimpan. "Kau semangat sekali."
"Aku tak sabar ingin bertemu Bibi Jane dan Ibu," sahut Olivia riang. "Waktu cepat sekali berlalu. Rasanya seperti baru kemarin mereka menikah, tahu-tahu saja sudah punya anak. Bibi Jane ingin anak laki-laki, tapi kata Paman Rolan perkiraannya perempuan."
Jacob tidak menanggapi. Olivia segera mengubah topik bahasan jadi soal kejadian remeh yang terjadi hari ini. Kadang ia merasa setiap kali mengungkit soal anak, Jacob jadi mudah tersinggung. Hal yang mengherankan bagi Olivia karena ia merasa dirinya yang lebih sedih. Orang-orang mencibirnya di belakang, menganggapnya tak subur. Mereka sudah menikah selama hampir tujuh tahun, tapi tidak ada tanda kehadiran anak. Rasanya kurang ajar, tapi Olivia sedikit cemburu pada Jeanne yang begitu mudah mendapat keturunan. Usia pernikahan bibinya itu bahkan belum ada satu tahun.
"Kita berangkat nanti sore," Jacob memutuskan. Ia memanggil Steward, memintanya menyiapkan segala hal.
"Nanti sore?" Olivia membeliak. Jarak dari Delton ke Bjork makan waktu satu hari. "Kenapa buru-buru?"
"Ibu akan menelepon kita seperti biasa kalau memang cuma kangen." Jacob bangkit dari duduknya. "Sedikit ganjil bagiku karena Ibu perlu mengirim surat dengan lak segel segala. Aku jadi penasaran ada apa sebenarnya. Kau ingat apa yang terjadi terakhir kali kita mendapat surat semacam ini?"
Marco menghilang dan Bjork dalam keadaan kacau balau. Tentu saja Olivia masih mengingatnya. Ia juga masih ingat bagaimana Jacob sendirian menghadapi banyak massa dari Jorm. Waktu itu ia hanya bisa memandangi dari balik jendela bersama Renata, berharap suaminya bisa mengatasi masalah yang datang tanpa terluka.
"Menurutmu ada masalah lagi di Bjork?"
__ADS_1
Jacob mengangkat satu bahu. "Semoga saja tidak. Kadang Ibu memberi tanda samar hanya untuk iseng sedikit. Aku tidak dengar ada kabar buruk dari informan, jadi kuharap semua baik-baik saja, tapi tidak ada salahnya kita berangkat secepat mungkin."
Olivia mengangguk.
***
"Tensi di Bjork makin tinggi," Keith memperingatkan sebelum Jacob pergi. Lelaki itu lebih pendek satu kepala dari Jacob, tapi tubuhnya cukup kekar. Awalnya Keith lebih suka memakai denim dan overall khas buruh, tapi sejak menemani Jacob ke mana-mana, ia mengubah gaya berpakaiannya ke setelan semi formal. "Banyak yang tidak suka karena menganggap keluargamu diistimewakan."
"Aku tahu," tukas Jacob. Awalnya tidak ada protes terdengar, tapi makin lama makin banyak suara tidak enak yang berusaha menjatuhkan Jose serta Marco. Jeanne berusaha sebisanya meredam, tapi wanita itu tidak mau terlalu terang-terangan karena berhati-hati dengan kepercayaan publik pada media. Usahanya berhasil karena yang beredar hanya gosip tanpa dasar.
"Kau tidak tahu, yang ini beda," tukas Keith cepat. "Kudengar di Bjork masih banyak pendukung Spencer dan Hastings. Dua orang itu memang banyak berbuat amal—"
"Untuk mencuci dosa," cemooh Jacob. Ia masih berada di ruang tengah, menunggu Olivia bersiap. "Aku tahu itu. Banyak orang membenci nama Argent. Kita menghajar beberapa di antaranya tadi pagi."
"Kau yang menghajarnya," koreksi Keith datar. "Aku bahkan sampai kesulitan mencegahmu membunuh mereka tadi. Tolong kendalikan emosimu di Bjork nanti, Jake. Jangan terlibat kalau tidak harus. Para pekerja pabrik menggantungkan hidup mereka padamu."
Tawa Jacob meledak. Ia menepuk keras punggung Keith. "Jangan melankolis, ah! Aku cuma mau pulang ke rumah orang tua, bukan ke neraka."
"Siapa yang mau ke neraka?" Olivia melangkah masuk ke ruang tengah dengan setelan ringkas dan mantel tebal. Sebelah alisnya dinaikkan saat menatap Jacob. "Kau, Sayang?"
"Kalau iya kenapa?" Jacob menyunggingkan senyum menggoda.
Olivia terkekeh. "Kalau iya, aku mau ikut. Aku akan pergi ke mana pun kau pergi."
"Manja sekali." Jacob bangkit menghampiri dan merangkul istrinya.
"Kupikir kau suka perempuan manja?"
"Hanya kalau itu kau," sahut Jacob serius, tapi matanya bersinar jenaka. Keith berdehem keras di belakang mereka. Jacob tertawa dan melanjutkan, "Tidak ada yang ketinggalan, Sayang? Kalau semua sudah siap, kita berangkat sekarang."
Olivia menoleh pada Keith. "Kau juga ikut?"
"Ke neraka?" kelakar Keith. Ia meringis. "Tidak, terima kasih. Kalian saja Tuan, Nyonya."
***
¬antebellum (latin): masa sebelum perang
__ADS_1