BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 68


__ADS_3

“Maksud Anda, kalung ini membawa kutukan?” Marco menukas dengan senyum tertarik.


“Tidak! Tidak, tidak, maksud saya bukan begitu! Maksud saya adalah … sering ada dalam cerita, kan? Benda-benda indah membawa petaka. Bahkan batu safir biru itu yang konon membuat kapal Titanic tenggelam!”


“Tapi kita semua memakai emas, bahkan arloji Anda pun terbuat dari emas putih.”


Wallace tertawa. Tangannya disilangkan ke depan, menyembunyikan arlojinya dalam kempitan ketiak. Ia menatap Marco dengan hati-hati. “Sebaiknya kembalikan saja benda itu ke tempat di mana Anda menemukannya, Tuan, barangkali pemiliknya sedang mencari.”


Ada tekanan dalam nada suara Wallace waktu itu, juga kegelisahan. Marco mengenali sedikit aroma ketakutan. Ia sudah lama terlatih dalam urusan seperti ini. Wallace, yang lebih muda dua puluhan tahun darinya, sama sekali bukan tandingan Marco.


“Aneh sekali, Tuan Wallace.” Marco mengetuk-ngetukkan kakinya dengan pelan ke atas lantai marmer. Matanya menatap ke sekeliling, beberapa pemuda dan kalangan atas lain berada jauh dari mereka meski melirik sembunyi-sembunyi, semua orang selalu tahu kapan harus menghindar dari seorang Marco Argent.


Marco mengembalikan pandangan ke depan, menatap direktur yang lebih mirip babi daripada manusia. “Aku tidak ingat pernah mengatakan bahwa kalung ini kutemukan. Kenapa Anda bisa tahu bahwa kalung ini bukan milikku?”


Mata hijau Wallace mengerjap-ngerjap kebingungan. “A-Anda sepertinya mengatakan itu. Anda mengatakannya, kok.”


“Tidak.” Marco menggeleng. “Aku cuma datang untuk menanyakan apa arti simbol yang terukir pada medalion cembung ini. Aku bahkan tidak menyebutkan dari mana dan dari siapa aku mendapatkannya. Kenapa Anda bisa begitu yakin, kalung ini kutemukan, bukannya kubeli di suatu tempat, diberi oleh seseorang, atau warisan keluarga?”


“A-Anda kan membawanya pada saya! Cuma intuisi saja. Bisa saja saya salah bicara, kan?” Wallace tertawa, kedengaran dipaksakan. “Saya pikir, Tuan Marco Argent pasti tidak akan ke sana kemari menanyakan arti kalung yang sudah dimengertinya sejak lama.”


Itu penjelasan yang amburadul, tetapi Marco mendiamkannya. Dia kembali beralih pada pertanyaan selanjutnya, “Jadi, Anda tahu apa arti simbol ini?”

__ADS_1


“Simbol? Tidak, saya pikir … saya rasa, itu cuma lambang perkumpulan biasa. Atau inisial nama. Bukan sesuatu yang punya arti.”


“Tapi Anda kelihatan mengenalinya.”


“Tidak!” Wallace mulai kesal. Wajahnya memerah. Ia menggilas rokoknya pada asbak, kemudian mengangkat dagunya tinggi-tinggi. “Saya tidak tahu menahu soal kalung murahan, Tuan Argent! Dan maafkan saya, tapi saya ada urusan penting yang harus segera saya selesaikan. Lebih penting dari sekadar kalung sepuhan!”


Pria itu sudah bangkit berdiri dari kursi beludru yang ia duduki ketika Marco sengaja menggumamkan sebuah kalimat.


“Padahal di dalamnya ada sesuatu yang menarik.”


Saat itu, Wallace mundur beberapa langkah sampai hampir terjengkang. Ia pasti sudah jatuh andai saja tangannya tidak dengan sigap menangkap sandaran kursinya yang kokoh.


Marco mengerutkan kening. Reaksi ini sudah diduganya, tetapi ia tidak menyangka Wallace akan lebih merasa marah daripada takut. “Kenapa, Tuan Wallace? Anda tahu sesuatu tentang kalung ini?”


Sebenarnya Marco belum membuka kalung itu. Ia bahkan tidak benar-benar tahu bahwa mata kalung tersebut bisa dibuka. Medalionnya berbentuk bulat dengan cembung pipih, ada garis tipis samar di pinggir, mengelilingi lingkaran. Tadinya Marco hanya bertaruh dengan diri sendiri. Wallace sangat mencurigakan, ia yakin pria itu pasti tahu sesuatu. Dan ternyata memang benar.


Setelah keceplosan waktu itu, Wallace tetap saja menyangkal habis-habisan bahwa ia mengetahui sesuatu tentang kalung di tangan Marco. Ia marah dan menjerit, kemudian berlari pergi dari Gedung Diskusi dengan langkah lamban khasnya.


Marco masih ingat dengan jelas bagaimana wajah Wallace saat itu. Takut. Ngeri. Marah.


Memang ada sesuatu pada kalung yang diberikan Nolan ini.

__ADS_1


Rolan bilang, simbol pada kalung ini ada hubungannya dengan ritual darah. Mungkin berarti ada juga hubungannya dengan orang-orang yang hilang dan kehabisan darah di Bjork. Marco mulai merasa bahwa semua misteri ini bisa terurai. Rolan sekarang sedang menggali catatan penelitian di rumahnya yang lama. Dokter itu tidak terlalu ingat di mana ia mengetahui simbol pada kalung itu dan bagaimana cerita lengkapnya, jadi Marco menyuruh Rolan untuk mengacak-acak arsip di rumah lamanya, mencari info sebanyak mungkin. Seperti biasa, Rolan tidak punya pilihan selain mematuhinya.


Marco menimang-nimang kembali kalung emas tersebut. Emas murni. Meski sekarang tahu bahwa bandul kalungnya bisa dibuka dan ada sesuatu yang penting di dalamnya, Marco tidak menemukan cara membuka yang tepat. Ia yakin, kalung tersebut pasti punya mekanisme kerja sendiri. Kalau ia memaksa membuka kalung tersebut dengan cara mencungkil atau menggergaji, Marco takut rahasianya bisa rusak. Ia akan kehilangan petunjuk yang sangat penting.


Karena itu, sejak pagi tadi, ia hanya meneliti kalung dari ujung sampai ujung. Permukaannya ia raba dan telusuri dengan jari, mencari semacam kenop atau sesuatu yang bisa dimasuki kunci. Biasanya, sebuah rahasia pasti memiliki kunci.


Marco tidak sabar mendengar laporan terbaru dari Rolan. Mungkin saja informasi tentang ritual darah yang dimaksud dan rahasia di balik simbol kalung ini akan membuat misteri hilangnya darah orang-orang di Bjork akan terpecahkan.


Marco sekarang menemukan hubungannya. Kalau memang ada ritual darah, pasti ada sebuah organisasi. Ritual memerlukan pelaku ritus. Dan mengurus banyak orang dan menguras darahnya sampai habis pasti memerlukan keahlian khusus. Menculik manusia dan membuang mayatnya, bahkan meski itu adalah mayat kering, bukan hal yang mudah dilakukan sendirian. Pasti ada beberapa. Kalung di tangannya ini pasti merupakan jalan untuk masuk ke dalam perkumpulan rahasia yang penuh darah itu.


Marco tahu, Wallace terlibat. Namun ia menunda untuk melakukan penggeledahan dan interogasi langsung pada pria itu. Kalau ia gegabah, bisa-bisa jejak yang dimilikinya menghilang. Yang paling penting adalah sama-sama pura-pura tidak tahu. Ia akan berpura-pura bahwa dirinya tidak menyadari keterlibatan Wallace, dan ia tahu bahwa Wallace pasti juga akan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Melihat dari betapa ngeri dan takutnya pria itu, pasti ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi kalau kalung ini jatuh ke tangan orang lain.


Marco tersenyum sekali lagi. Ia merasa hampir bisa mencapai akhir dari misteri, tetapi juga jauh di saat bersamaan. Masih ada banyak hal yang tidak ia mengerti.


Apakah mungkin para korban memang dipilih secara acak?


Kalau peristiwa berdarah ini memang ulah sekte sesat tertentu, seberapa berbahayanya mereka? Dan kenapa tidak bisa terendus oleh polisi rahasia yang dibangunnya di bawah tanah?


Dan yang ingin diketahuinya adalah: apakah mungkin memang ada hubungannya sekte darah ini dengan penyusup hitam yang masuk ke dalam rumahnya.


Kalau memang perlu darah, kenapa harus mengincar Higgins? Kenapa harus susah-susah masuk ke dalam pondok pengurus kuda, sementara di luar sana banyak gelandangan yang darahnya gratis dan keberadaannya tidak akan ditangisi. Apakah mungkin ada hubungannya juga dengan hilangnya beberapa kalangan atas seperti Lord Dominic serta bangsawan lain?

__ADS_1


__ADS_2