
William menekuri medalionnya. Benda itu hanya rusak sedikit. Pelurunya tidak sampai menembus ke belakang, tapi membuat benjolan tajam yang lesak ke dalam katup, tepat pada gambar sigil segitiga Salomo.
Apakah dia sengaja atau ini hanya kebetulan? Sambil berjalan, ia melepas gambar potret dalam kalung dengan hati-hati, menatap putus asa pada wajah rusak Arabella. Itu satu-satunya potret yang dimilikinya bersama Arabella. Mereka membutuhkan waktu agak lama untuk mendapat satu gambar tersebut. Waktu itu, segala hal belum serumit sekarang.
Ada embusan napas memburu. Seseorang menyasarnya dari samping, dari sudut tersembunyi. William menoleh. Ia tidak perlu melakukan apa pun. Iblis sudah melesap keluar dari tubuhnya dan mewujud untuk menyerang pria itu, mengunyah kepalanya dalam bunyi keletus nyaring, mencipratkan darah merah dan serpihan tulang ke karpet. William menunggu hingga hingga iblis itu selesai makan sebelum melanjutkan perjalanan menyusuri lorong manor.
Biasanya iblis itu hanya mengisap darah saja, tapi akhir-akhir ini gerakannya makin liar, membuat William sedikit waswas. Ia berhasil menipu iblis lain, yang rupanya seperti manusia, ketika lolos dari Scholomance; tapi bukan berarti itu membuatnya jadi terbiasa pada kehadiran sesosok iblis. Ia tak pernah terbiasa.
Legenda mengenai Scholomance memang benar. William adalah nara sumber hidupnya. Ia menyuruh kesembilan temannya pergi dari sana dan meninggalkan bayangannya sendiri untuk mengakali sang iblis. Namun cerita tidak berhenti sampai di situ. Sang iblis tidak suka diakali. Dia mengutus salah satu bayangannya untuk mengikuti William sebagai kenang-kenangan. Tanda mata dari sekolah iblis.
Meski merespons panggilannya dan muncul setiap kali ia dalam bahaya atau setiap kali William ingin, iblis yang menempel padanya itu tak punya nama, juga tidak bisa diajak berkomunikasi. William sudah mencoba mengajaknya bicara ratusan kali, tapi selalu tidak ada balasan.
Keinginan untuk bicara dengan orang lain. Karena keinginan itulah ia meminjamkan kalungnya pada orang lain. Karena itu juga ia memberi tahu rahasia kehidupan pada orang lain. Hal yang bodoh karena orang itu justru berkhianat. Seharusnya ia tahu manusia selalu berkhianat, seperti ia mengkhianati iblis Scholomance. Semua hal berputar dalam karmanya sendiri.
Sepatunya berhenti di depan pintu kayu megah bercat merah anggur. William menempelkan telinganya pada kayu tersebut dan memejamkan mata, mendengarkan. Ada suara napas di dalam sana. Orang yang ia cari belum pergi. Pria itu masih di sini, di dalam manornya, sembunyi seperti tikus terpojok. William menjauhkan tubuh, membuka pintu dengan kedua tangan. Kayu berat itu mengayun ke dalam tanpa suara. Kamar terang benderang. Semua lampu menyala, jendela-jendela terbuka lebar.
"Akhirnya kau sampai, Will," suara itu membuat William menoleh ke samping.
Duke Ashington ada di sana, di depan jendela kamar. Sinar matahari pagi menyiram rambut cokelatnya dalam kilau keemasan, membuatnya sekilas tampak seperti bara api.
Frederick Ashington mengenakan pakaian mewah cerah dengan hiasan sutra dan beledu, seperti selayaknya seorang pangeran, membuat William sedikit menyesal tidak berpakaian lebih bagus sebelum berangkat. Ia langsung pergi ke Aston begitu mendapatkan kembali kalungnya.
"Frits," William melangkah maju tanpa terganggu sinar matahari. Ia membuka kedua tangannya untuk memeluk, tapi Duke Ashington justru bergerak mundur.
"Kau hilangkan dulu iblisnya baru mendekat," pria itu menggunakan nada memerintah. Satu tangan terulur ke depan dengan gestur menahan. "Aku tidak mau giginya yang tajam dan bau menyentuh jubah sutraku."
William baru sadar iblis itu masih berada di belakangnya, kali ini mengambil bentuk kepala macan dan badan gorila. Sisi pinggang ke bawah lenyap dalam partikel hitam yang bergelung seperti kepulan asap. Ditatapnya mata hitam kosong itu lekat-lekat, membuat wujud mengerikan tersebut terurai menjadi serbuk kehitaman dan lenyap. Tidak ada kata terucap, tapi ia tahu iblis itu mengerti apa yang diinginkannya. Iblis itu memang berada di bawah kendalinya.
William menoleh kembali pada Duke Ashington, yang kini sudah menempatkan diri di ruang duduk. Pria itu masih kelihatan sesegar dan semuda lelaki berumur tiga puluhan. Tubuhnya tegap, wajah mudanya segar.
William mengendus, menangkap aroma perempuan di kamar ini. Beberapa aroma yang berbeda. "Kau bersenang-senang di sini, Frits?" kekehnya.
Duke Ashington mengangkat satu bahu, dengan santai menuang anggur ke dalam dua gelas kaca. "Hidup harus dinikmati," ujarnya. Matanya melirik tajam, penuh penilaian. "Itu juga yang kau lakukan, kan?"
__ADS_1
"Memang. Jangan cemas, aku tidak datang untuk mengkritisimu."
Duke Ashington menggeser pandangan ke luar kamar, ke arah mayat-mayat yang tampak dari bukaan pintu. Senyumnya kecut. "Tentu saja, aku bisa melihatnya. Bagaimana kabarmu, Will? Iblismu masih tidak mau bicara?"
William tersenyum tipis. Ia duduk di seberang Duke Ashington, menerima gelas anggur yang diangkat padanya.
"Dari mana kau tahu aku di sini?" Sang Duke memulai, kelihatan jelas berusaha membuat nada suaranya kedengaran tak peduli.
"Aku sudah tahu sejak dulu," sahut William tenang, menyesap anggurnya. Manis. Terlalu manis. "Hanya saja aku memang menunda untuk bertandang. Kau tahu apa prioritasku."
Duke Ashington mengabaikan sindiran yang terkandung dalam kalimat terakhir. Ia mengeluarkan cerutu, membuka mulut untuk memanggil pelayan, tapi kemudian sadar tidak akan ada yang datang, jadi ia memotong sendiri ujung cerutu dan menyalakannya dengan kikuk.
"Kalung itu hidup," katanya. "Dia punya keinginan sendiri, keinginan yang kau maupun aku tidak bisa mengabulkannya."
"Dan dengan melemparkannya pada baron rendahan, kau sedang mengabulkan keinginan kalungku?"
"Benda itu bukan milikmu," Duke Ashington menyergah. "Mau lihat yang diperbuat benda itu padaku?" Ia meletakkan cerutu untuk melepas sarung tangan sutranya, memperlihatkan ujung-ujung jari yang retak gosong. Jarinya berbau potongan kayu busuk.
"Itu bukan karena kalungku, melainkan karena batas waktumu sudah habis." William menuang lebih banyak anggur lagi ke dalam gelasnya. "Kita tinggal mengumpulkan manusia sebanyak yang dibutuhkan untuk memperpanjang umurmu."
William menatap kalung medalion yang sejak tadi masih ada dalam genggaman. Setiap kali matanya sampai pada tonjolan rusak di katup bagian belakang, darahnya selalu mendidih. Ia harap Jose Argent mati dicabik-cabik mayat hidup. Ia harap pemuda itu mati menderita dan dalam cara yang sangat perlahan. "Kupikir memang itu tujuanmu membuat Scholomance?" Ia mengalihkan perhatian. "Untuk mendapat stok nyawa?"
Duke Ashington mendengus seolah rencana itu tak pernah ia pertimbangkan. "Aku membuatnya cuma untuk uang. Emasku mulai ludes." Tawa getir meluncur dari bibir merahnya. "Tentu saja orang mati tidak mungkin dapat kucuran dana dari istana. Aku tidak mungkin tiba-tiba muncul di depan keponakan jauhku dan meminta jatah, kan?"
William mengangguk-angguk pelan. Uang memang selalu jadi masalah. Bahkan ia pun pernah mengalami kesulitan ekonomi pada awal-awal keluar dari Rumania. Semuanya terselesaikan setelah ia mulai membeli sedikit barang seni atau mengumpulkan literatur akademis dan menyimpannya selama beberapa ratus tahun. Barang-barang rongsok itu mendadak jadi berharga dan bernilai banyak, meski ada juga yang tetap jadi sampah. Kemudian ia jadi dekat dengan keluarga kerajaan sebelumnya dan mendapat gelar Sir berkat sumbangsihnya dalam literatur dan kesenian. Itu berhasil membuat dompetnya cukup gemuk.
"Kenapa kau tidak sembunyi di purimu di Bjork?" William penasaran. "Kau tahu aku tidak bisa mencarimu ke sana, kan?"
"Di gunung penuh nyamuk dan suram itu? Tidak ada apa-apa di tempat semuram itu, lalu sebelah mananya yang hidup?" Duke Ashington mengibaskan tangan ke sekitar kamar. Wajahnya bangga. "Di sini aku bisa melihat segalanya dalam warna-warni yang jelas. Orang-orang tidak mengenalku lagi, tapi aku tetap mendapat pelayanan bagus dan mereka menghormatiku, mengira aku adalah kerabat jauhku sendiri. Di sini aku bisa melihat kemajuan zaman, melihat otomobil yang canggih serta perempuan-perempuan cantik berpupur tebal." Ia meringis. "Perempuan yang rela melakukan apa saja karena mendambakan gelar Lady."
"Kau tidak berubah, Frits." William menenggak habis anggurnya. Percakapan ini membuatnya merindukan kenangan lama. Dulu mereka pun sering bercakap-cakap sepanjang malam, tanpa tidur, dimabuk kesenangan dan kepuasan akan umur panjang tiada henti. Hidup yang kekal.
"Kau juga tidak berubah, Will," Duke Ashington membalas, memamerkan gingsul kecilnya yang mirip taring. "Kau terjebak dalam repetisi. Kau pikir dengan mengulang kembali apa yang pernah kau lalui bersamanya—meski dengan tubuh orang lain, maka dia bisa kembali. Padahal tidak. Arabella sudah mati, dan tidak akan ada yang bisa kau lakukan untuk menghidupkannya lagi."
__ADS_1
"Bisa." William membanting gelasnya ke meja dan bangkit berdiri. Ia tidak suka ketika orang lain mengucapkan nama Arabella. Nama itu demikian sakral baginya. "Tinggal satu kali lagi. Satu kali lagi lalu dia akan kembali padaku, aku bisa merasakannya. Keberadaannya bertambah kuat tiap hari."
"Kata siapa?" Sang Duke terkekeh, ada nada sedih terselip di sana. "Kata iblismu yang tak pernah bicara itu? Yang menempel padamu seperti parasit sejak kau lolos dari Scholomance?"
"Kau akan lihat sendiri buktinya kalau tidak menghalang-halangiku!" William menggeram. Jarinya terangkat naik. "Gara-gara kau, sekarang aku hanya punya satu kesempatan. Satu kali gerhana! Dan tempat yang terdekat hanya Bjork! Aku bahkan tak punya waktu mencari pride yang lain! Apa yang kau dapat dari ini, Frits? Inikah balasanmu untuk semua yang sudah kulakukan demi kau?"
"Aku ingin menyadarkanmu!" Duke Ashington mengisap cerutunya dalam-dalam. Aroma kayu manis menguar di sekeliling mereka. "Kau diperdaya iblis itu, Will. Dia cuma ingin mendapat lebih banyak lagi nyawa, semua ini akan sia-sia. Kau akan menyadarinya"
"Apa umur panjang dan kemudaan yang kau dapat ini sia-sia?" balas William dingin. "Kau lihat sendiri buktinya, kau menikmati sendiri hasilnya!"
"Hasil apa!" Duke berseru. Jari-jarinya gemetaran. Sinar matahari bahkan tak membantu menghilangkan raut pucat di wajahnya. "Aku merasa setiap kali melihatnya ... melihat ritualmu ... aku diingatkan bahwa kita bukan manusia. Kita mengorbankan banyak orang ... banyak nyawa ... untuk hal yang ... entahlah. Aku merasa aku akan gila." Ia mengerjap-ngerjap, membiarkan satu butir air mata mengalir turun. "Bukan hidup yang seperti ini yang kuinginkan. Dan Arabella juga tidak akan menyukainya."
William menarik napas panjang. "Aku datang bukan untuk mendengar ini," katanya sabar. "Kupikir ... kau berhutang maaf padaku."
"Karena menjadikanku seperti ini?!" Duke Ashington mengangkat kedua tangan, memamerkan jari-jarinya yang remuk. Napasnya memburu. Ia melempar cerutu ke arah William, yang menghindar dengan mudah. "Karena mengingatkanku bahwa aku harusnya sudah mati? Setiap kali aku mendapat teman, mereka dengan cepat mati meninggalkanku, mereka ... manusia ... benar-benar pendek umur."
Tak tahu terima kasih. Manusia benar-benar tak tahu terima kasih. William mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Partikel hitam menguap lepas dari tubuhnya dalam bintik samar yang makin lama makin pekat, bergulung dahsyat seperti badai. Bintik itu berkerumun tanpa bunyi, makin lama makin pekat, terbang mobat-mabit sampai ke atap kamar. William mengawasi perubahan mimik muka Duke Ashington. Pelipisnya berdenyut-denyut. Meski ia sudah sering memanggil sang iblis, tetap saja sensasi itu mengganggunya. Rasanya seperti ada plester besar dilepas dari kulit punggungnya. Menyakitkan.
Duke Ashington masih duduk tenang di atas sofa tunggalnya, menyilangkan kaki dengan lagak seorang ningrat. Pria itu melirik gelas-gelas anggur di atas meja. Keningnya berkerut dalam. "Kau bisa membiarkanku saja," ujarnya lirih. Ia mengamati jemarinya yang menghitam dan rekah di ujung-ujung seperti tanah gersang. "Aku toh akan mati sebentar lagi. Mungkin beberapa puluh tahun lagi, kalau kuat."
"Kita hidup dalam repetisi," William mengingatkan dingin. Kepulan partikel tadi sudah membuka gerbang neraka, memunculkan iblis berkepala binatang liar. Ia bisa merasakan napas binatang itu, mendengar bunyi seru-seruan dosa manusia yang diserukan penuh penghakiman, serta sensasi kemunculannya yang mendirikan bulu roma. "Kalau aku membiarkanmu, bukankah mungkin saja kau akan menikamku lagi dari belakang?"
"Setidaknya ... aku ingin mati di tangan sahabat," kata Duke Ashington tanpa menatap ke manapun. Ia menunjuk hiasan pedang di dinding. "Lakukan dengan tanganmu sendiri, Will. Kalau kau pernah menganggapku teman, jangan umpankan aku pada iblismu."
William meringis. Ia pikir ia tidak bisa lagi merasa sakit hati setelah hidup beratus tahun. Namun ia salah. Rasanya seperti disayat dan ditaburi cairan asam. "Aku berharap kau memintanya tanpa menyiagakan seluruh orang-orangmu untuk membunuhku." Matanya menatap gelas anggur kosong di meja, teringat rasa manisnya yang mencurigakan. "Aku berharap kau memintanya tanpa membubuhkan racun pada gelas anggurku."
Duke Ashington menundukkan pandangan. "Willy," bisiknya gemetar, mencoba membujuk.
William berbalik dengan kedua tangan tertaut di belakang punggung. Ia mengangkat dagu tinggi-tinggi. Iblisnya memelesat dalam satu detik yang cepat, hanya meninggalkan tiupan angin dan serbuk hitam seperti abu.
"Willy, aku melakukan ini demi kau!"
Suara gemeretak tulang remuk dan daging dicabik menggema di kamar itu, diiringi jeritan panjang Frederick Ashington.
__ADS_1
William memandang ke luar jendela, lalu pada medalion yang cacat. Mata birunya basah.
***