BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 51


__ADS_3

“Ah, aku tidak sedang mendebat, kok.” Jose berkata lembut. “Kudengar kau aktif di Gedung Diskusi, tanpa sadar aku jadi bersikap tidak sopan.”


“Ya, tempat ini punya budaya yang menarik. Suara satu orang bisa didengar seluruh kota dengan adanya tempat seperti itu.”


“Ah!” Jose tersenyum. “Kau ingin suaramu didengar?”


“Siapa yang tidak?” tangkis William. Senyumnya masih selebar biasa.


“Rasanya agak kontras dengan prinsipmu untuk hidup membaur dan tidak mencolok.”


“Hidup membaur bukan berarti tidak bisa mengeluarkan suara. Tentu saja maksudku bukan berarti kita harus diam dan jadi budak yang patuh tanpa alasan pada kehendak mayoritas masyarakat.”


Jose mengangguk pelan. “Kau bilang tidak datang dari Downfall. Jadi, dari mana asalmu?”


“Kalau kau tidak keberatan, Tuan Argent, aku pindah ke sini karena ingin mengubur kenangan dari tempat lama.” William menampilkan wajah sendu dan senyum yang sedih.


Jose tersenyum simpatik. “Soal cinta? Ah, tidak mungkin.”


“Kenapa tidak?”


“Bahkan di sini pun kau bisa menggaet gadis paling populer.” Jose menyandarkan tubuhnya pada rak kayu. Penampilannya saat ini benar-benar biasa dan juga seenaknya. Sepatu yang ia pakai bahkan agak bulukan. Namun Jose menampakkan wajah tenang dan penuh martabat, membuatnya tetap kelihatan seperti ningrat sejati meski sedang duduk di atas tong berisi beras. “Rasanya sulit percaya orang sepertimu bisa punya masalah cinta.”


Krip tersenyum kecil. Ia bisa saja menimpali di sana-sini untuk membantu Argent yang paling muda ini menggali informasi dari Sir William, tetapi Krip lebih suka memperhatikan dari samping. Ia ingin tahu bagaimana Jose bergerak.


“Tidak juga, aku tidak pernah bisa bertahan lama dengan satu gadis.” William tersenyum. Mata biru mudanya berkilat tajam, dan Jose menangkap sorot dingin itu meski hanya lewat sekejap.


“Oh, rupanya kau gampang bosan?”

__ADS_1


Sebuah gelengan. “Tidak, tidak. Justru para gadis itu yang meninggalkanku. Sangat cepat.”


Mendadak Jose merinding. Perutnya terasa mual dan ia ingin muntah. Aroma seng dan mawar itu makin kuat.


“Senang sekali bisa bertemu dengan Anda, Tuan Argent, tetapi sebaiknya aku pergi sekarang.” William meraih kue jahenya dan mengedipkan sebelah mata dengan jahil. “Kalau aku tidak segera kembali, bisa-bisa aku ditinggalkan lagi.”


Jose tertawa dan membalas pamitan itu dengan sopan.


Ketika pria populer barusan sudah benar-benar pergi dari toko, Jose menarik napas panjang-panjang dan mengembuskannya kuat-kuat. “Apa kau menciumnya, Krip?” tanyanya segera, masih dengan tangan di depan mulut seperti orang menahan muntah.


“Mencium apa, Tuan?”


“Wangi parfumnya! Wangi mawar! Aromanya kuat sekali! Hidungku sakit rasanya.”


Krip menatap tuannya dengan heran. “Wangi mawar?”


“Ya, dan sesuatu yang seperti karat.”


“Tentu saja tidak, Krip. Maksudku bukan aroma tokomu!” Jose menukas. Tangannya mengibas-ngibas udara di depan hidung, berusaha mengusir aroma busuk yang masih melekat dalam hidungnya. “William Bannet. Apa kau tidak menciumnya? Aroma mawar yang bercampur seng. Ya Tuhan, seperti di kuburan saja.”


Krip mengerutkan kening. “Saya mencium aroma mawarnya Tuan Kecil, tentu saja saya menciumnya. Tapi aromanya samar. Lagi pula hanya itu saja yang saya cium.”


“Kau flu?” Jose bertanya heran.


“Sehat walafiat.” Krip memamerkan otot bisepnya, meski itu jelas tidak ada hubungannya dengan flu.


“Mungkin hidungmu tersumbat.”

__ADS_1


“Tidak, saya bahkan bisa mencium tetangga sebelah memanggang bolu. Baunya seperti bolu marmer.”


Jose menyipitkan mata karena tidak percaya. Ia tidak mencium bau kue apa pun selain kue-kue kering yang dijual Krip di toko ini.


“Saya memang menciumnya!” Krip menukas, mengerti bahwa pemuda di depannya ragu.


Jose menghela napas, tidak mau memperpanjang masalah. “Ya sudah, lupakan saja. Kembali pada topik semula, apa yang kau tahu soal Sir William barusan?”


“Selain bahwa dia punya senyum yang menyenangkan?”


“Apa kau tahu siapa relasinya? Apa dia pernah punya keluarga di sini?” Jose mengabaikan candaan soal senyum.


Krip menggaruk pipinya dengan heran. “Tuan Kecil ingin tahu soal Sir William?”


“Tidak, aku ingin tahu bagaimana caranya membudidayakan tanaman hidropolik!” Jose melotot kesal. “Ya iya, lah! Segera cari tahu segalanya soal Sir William. Aku minta secepatnya.”


Krip mengerucutkan bibirnya. Ia tahu beberapa hal soal Sir William. Ia juga tahu bahwa Jose seharusnya menjauh dari perkara ini. Jika Marco sampai tahu bahwa keponakannya berjalan menapaki rute yang gelap, jika dokter Rolan sampai menyadari bahwa Jose mengetahui hal-hal yang kelam, Krip tahu bahwa hidupnya sama saja sudah hancur. Namun bisakah ia membohongi Tuan Kecil dengan penciuman tajam dan kemampuan mendebat yang tinggi ini? Krip pesimis.


Ia memutuskan untuk melaporkan saja gerak-gerik Jose pada Marco. Meski begitu, selayaknya seorang penjual yang baik, Krip mengangguk pada Jose. “Saya akan berbuat sebisa saya, Tuan Kecil.”


Jose mengangguk puas, kemudian meloncat turun dari tong kayunya. Krip baru saja mengira pemuda itu akan pergi, tetapi Jose berhenti dan menengok ke arah Krip. “Kau punya daftar nama penduduk Bjork tiga puluh tahun lalu?”


Krip menggeleng. “Pusat Arsip pasti punya, Tuan Kecil. Anda akan ke sana?”


Jose berpikir sebentar. “Tidak, besok saja. Ambilkan aku alat pancing yang paling bagus, Krip.”


“Anda mau memancing?” Krip benar-benar tidak bisa menduga perangai majikannya.

__ADS_1


“Tidak,” Jose menggeleng. “Untuk ganti rugi.”


***


__ADS_2