BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 108


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jose menyerapnya dengan mudah seperti spons menyerap air.


"Tapi apa Paman harus menenggelamkanku dalam bak mandi seperti itu?" tuntut Jose kesal. Ia sudah ganti baju. Rambutnya sudah kering, tetapi berantakan karena ia hanya mengeringkannya dengan handuk, dan tidak mau repot menyisirnya.


Rolan memanggil George untuk memamerkan hasil karyanya: pulihnya Jose. George hanya tersenyum lega, kemudian turun lagi untuk memanggil Gerald dan Hans yang benar-benar cemas.


Tidak seperti George yang tenang, Gerald dan Hans bahkan sampai memeluk Jose karena begitu senang. Padahal pemuda itu masih belum benar-benar pulih. Sekali ini, Rolan tidak merasa yang mereka lakukan berlebihan. Ia juga ingin meloncat-loncat senang melihat keponakannya kembali.


Kini mereka berempat sudah lebih tenang. Pintu kamar ditutup, dan mereka berpesan pada George supaya jangan ada yang mengganggu. Gerald dan Hans duduk di karpet, Jose bersila di atas ranjang, dan Rolan di kursi di depan Jose.


"Aku takut kau tidak bisa kembali," Rolan memberi senyum penuh penyesalan, menjelaskan alasan kenapa ia perlu menenggelamkan keponakannya. "Akan susah bagiku kalau tidak ada seorang Argent yang bisa membantu. Ayahmu tidak cukup punya kekuatan, kakakmu tidak tahu apa-apa. Sayang sekali, aku bukan keturunan Argent, tapi terlibat penuh dalam urusan aneh ini. Aku tahu sesuatu, tapi tidak punya kekuatan apa pun."


"Setelah Paman Marco kembali, minta saja untuk diangkat jadi anak," Jose menyahut ketus, kelihatan jelas masih tersinggung pada perlakuan yang diterimanya. Meski begitu, matanya terlihat lebih tenang.


"Ide bagus. Tapi simpan itu untuk lain kali. Aku sedang ingin membahas hal yang lebih serius denganmu," ucap Rolan. Ia menatap pada Gerald dan Hans, lalu melempar pertanyaan, "Mulai dari mana kita?"


Yang ditanya tentu saja jadi bingung. Mereka juga tidak tahu sebaiknya memberitahu Tuan Kecil itu mulai dari mana.


"Apa ... yang sebenarnya terjadi?" Jose menyingkirkan rambut depannya yang jatuh ke kening. "Sejak kapan Paman Marco hilang? Kupikir Paman cuma pergi seperti biasa."


Rolan menggeleng. "Ini bukan hal yang biasa. Dia pergi sendiri. Bahkan tidak memberitahuku." Ia memejamkan mata, mengingat wajah Marco yang berpikir keras saat terakhir mereka bicara. "Lalu aku bertemu dengan seseorang. Lord Greyland."


"Greyland?" Jose mengerutkan kening, mengenal nama itu. Ia sering mengunjunginya bersama dengan Marco. Ia juga lumayan dekat dengan kedua putra Greyland. "Kenapa dengannya? Tumben sekali dia ada di pusat Bjork."

__ADS_1


"Lord Greyland dan Marco punya suatu kode untuk memastikan satu sama lain baik-baik saja. Marco akan menelepon Lord Greyland secara rutin sebagai tanda. Ketika tidak ada telepon atau pesan darinya, Lord Greyland curiga. Dia datang untuk memastikan. Ketika bertemu denganku, dia sempat membantuku."


"Tenang, Paman Marco tidak akan kenapa-napa," ucap Jose begitu melihat ekspresi wajah tegang dua pekerja di depannya. Ia menarik napas panjang, merasa lebih segar sekarang. "Kalau begitu, Greyland pasti juga sudah bergerak mencari tahu di mana Paman Marco. Aku bisa menghubunginya untuk memastikan, tapi dia tidak akan suka. Kita harus menunggu dia menghubungi terlebih dulu. Sejak dulu begitulah caranya."


Rolan mengangguk pelan, bersyukur tidak jadi menuruti saran Krip untuk bertanya pada Greyland.


"Begini saja, ceritakan dulu padaku soal William. Sir William, maksudku," Jose segera meralat sendiri. Ia mengangkat wajah, menatap pada Rolan. "Paman tahu sesuatu soal dia. Kalian berdua sangat berhati-hati. Aku perlu tahu apa yang harus aku waspadai darinya. Omong-omong, aku mau pergi ke pestanya nanti malam."


"Tolong urungkan niat Tuan," Hans dan Gerald menyahut hampir serempak.


"Oh, ya ampun," ucap Jose heran mendengar kekompakan itu. Ia tertawa. "Dari dulu aku sudah bertanya-tanya, jangan-jangan kalian kembar. Apa itu benar?"


"Jose," tegur Rolan sebal. Ia melirik pada dua pekerja yang tertawa dan malah berkelakar di ruangan itu. "Hey, apa kalian serius ingin melayani anak konyol seperti ini?"


"Jangan iri begitu, tidak semua orang bisa jadi putra keempat," Jose bergurau. Ia mengibaskan tangannya untuk membelokkan topik. "Kesampingkan bercandanya, jawab pertanyaanku dengan jujur, Paman."


"Hubungan kerja sama yang diawali dengan kebohongan adalah kesalahan besar, Paman." Jose berkata pelan-pelan. Mata hitamnya menatap dengan sentuhan dingin.


Rolan menelan ludah, sekejap seperti merasa melihat Marco. Saat itulah ia tahu bahwa membohongi Jose tidak akan ada gunanya. Darah Argent mengalir kental dalam tubuh pemuda di hadapannya. Jose mungkin bisa berubah jadi sangat kejam kalau mau. Kalau tidak ada yang mencegahnya.


Gerald dan Hans justru senang melihat Tuan Kecil mereka seperti itu. Mereka sudah lama melihat daya tarik yang kuat di balik sifat suka main-main Jose. Keduanya saling berpandangan, dalam hati setuju bahwa mereka tidak salah memilih Tuan.


"Aku tidak memaksa, Paman." Jose mengalihkan mata, menghentikan mode penuh intimidasinya. "Tapi Paman yang butuh bantuanku, bukan aku. Kalau aku tidak mendapat informasi dari Paman, aku bisa mencarinya di tempat lain. Itu akan makan waktu lama. Karena itu aku akan menghargai bantuan apa pun yang bisa Paman berikan padaku."

__ADS_1


Rolan menghela napas, merasa kalah. "Baiklah. Dulu, tiga puluhan tahun lalu, ada seorang pria yang bernama sama, William Bannet, tinggal di Bjork. Waktu dia datang, penyakit aneh melanda daerah ini."


Jose menyimak dalam diam, dalam hati memasang-masangkan apa yang diucapkan Rolan dengan laporan yang diterimanya dari Krip.


"Orang-orang sakit, seperti kena anemia, lalu makin lama makin lemah dan akhirnya mati. Itu berlangsung selama sekitar tiga bulan. Waktu itu, Marco sudah jadi pemimpin bagian gelap Bjork dan dia mengusutnya. Aku belum bekerja untuk Marco, jadi tidak begitu tahu rincian penyelidikannya. Tetapi yang kudengar adalah, Marco mencurigai William Bannet terdahulu. Dia berpikir bahwa penyakit itu disebarkan oleh Tuan Bannet senior. Tetapi sayangnya Marco tidak mendapat cukup bukti, dan Tuan Bannet senior sudah menghilang sebelum pamanmu bisa menyelidiki lebih jauh." Rolan mengedikkan bahu. "Itu saja."


"Itu saja?" balas Jose dengan kening berkerut.


"Apa lagi yang mau kau tahu?"


"Soal hantu hitam itu?"


"Aku tidak tahu. Aku juga sedang mencari tahu siapa dan apa sebenarnya makhluk itu."


"Dan soal kalung," Gerald mengingatkan. "Dokter sebaiknya katakan pada Tuan Kecil soal kalung itu."


"Kalung apa?" Jose menoleh heran.


"Kalung yang dibawakan oleh teman Selatan Tuan," jawab Hans.


"Ah, ya, itu misterinya." Rolan menepuk kening seolah baru saja ingat.


Dibantu oleh Gerald dan Hans, dokter itu menceritakan pada Jose segala hal soal kalung emas dan simbol yang aneh. Kali ini Rolan tidak keberatan menceritakannya di depan Gerald dan Hans. Larangan membicarakan itu hanya dibuat oleh Marco, sementara sekarang pria itu sedang menghilang.

__ADS_1


"Marco curiga semuanya berhubungan dengan Charles," ungkap Rolan. "Mungkin orang itu terlibat dalam okultisme Bjork."


***


__ADS_2