
“Kurasa begini sudah cukup. Sederhana saja, biasa saja," Maria berkata sambil mematut bayangannya di cermin. Rambut cokelat madunya diikat manis dengan satu kepang gaya Perancis, menyisakan dua untai ikal di tiap sisi telinga. Terusan yang dipakainya membalut manis tubuh ramping Maria, tidak terlihat murahan ataupun kuno. Ia menatap mata birunya sendiri lewat cermin, kemudian menarik napas untuk menenangkan diri.
Ini hanya tamu, bisiknya pada diri sendiri. Mungkin dia cuma mau menyampaikan undangan, atau apa.
Setelah selesai memastikan bahwa tidak ada yang cacat pada penampilannya, Maria beranjak turun ke bawah untuk menemui Sir William.
Pria itu mencium ujung jarinya dengan sopan, bertanya apakah kedatangannya mengganggu serta basa-basi lainnya, dan menanyakan apakah Marquis dan Marchioness Garnet ada di rumah.
Tahu bahwa kemungkinan besar kunjungan itu adalah soal yang berkaitan dengan tanah atau lainnya, Maria segera memupuskan harapannya yang mulai mengawang barusan. Ia merasa konyol karena termakan juga dengan bualan Lady Lidya. Percakapan mereka berlangsung manis karena Sir William ingat kedatangan Maria ke pestanya tempo hari. Pria itu memberi ucapan terima kasih yang tulus karena sudah membantu memeriahkan acara. Dalam sekejap saja keduanya sudah berjalan-jalan di taman rumah sambil mengobrol dengan akrab.
“Dan saya dengar, dua hari lagi kota ini akan mengadakan pesta?” Sir William bertanya, matanya berbinar penuh ketertarikan.
Maria, yang senang melihat pendar di mata biru itu, segera mengangguk antusias. “Ya, ada festival tahunan. Biasanya orang-orang akan turun ke jalan, menyalakan kembang api, yah seperti itu.”
“Orang-orang turun ke jalan? Semuanya?”
“Tentu saja, tahun lalu seperti itu. Ada banyak bazar dan panggung! Mungkin akan ada yang bermain teater lagi.”
“Kembang api?” William mengusap rahang pelan-pelan, kelihatan sangat tertarik. “Berarti festivalnya akan diadakan malam hari?”
Tanpa sadar mereka sudah berjalan mengelilingi kebun dan kembali ke tempat semula. Maria menoleh pada Sir William dan mengedikkan bahu dengan lemah. “Tahun lalu diadakan malam hari, tetapi untuk sekarang ini entahlah. Mungkin tidak akan seperti itu mengingat Bjork sedang dalam kondisi makin mencekam. Polisi pasti tidak mengizinkan festival dilaksanakan terlalu larut.”
“Dan kalau mereka tetap mengizinkannya?” Sir William menampilkan seulas senyum yang tipis, hampir terlihat seperti sedang main-main.
__ADS_1
“Kalau mereka mengizinkannya?” Maria tertawa. “Apa Anda sedang menawarkan diri untuk menemani saya?”
Pertanyaan itu begitu langsung, dan mungkin saja akan terdengar kurang ajar kalau yang mengucapkan bukan gadis berparas manis seperti Maria. Sir William memberi anggukan singkat, segera sadar bahwa pertanyaan terus terang barusan adalah sebuah tanda yang diberikan Maria untuk menegaskan bahwa gadis itu tidak menyukai basa-basi dan permintaan yang berputar-putar.
“Saya akan merasa sangat senang kalau Anda bersedia menemani saya,” ucapnya.
“Kalau festival itu jadi diadakan,” Maria berkata.
“Tentu, kalau festivalnya diadakan.” Sir William mengangguk lembut. Mata birunya berkilat lebih redup, tetapi hal tersebut luput dari penglihatan Maria.
***
Nolan baru saja menyusun kayu bakar dengan rapi di dalam gudang menjadi tumpukan berbentuk piramida. Ia menatap susunan barunya dengan puas, senang karena berhasil mendapat lebih banyak dari rata-rata yang biasa didapatnya.
Kalau ayahnya masih hidup dan tahu bahwa ia berani membentak dan mengata-ngatai orang terpandang dari Bjork sebelah utara, Nolan tahu ia pasti akan dimarahi. Ayahnya adalah orang yang sangat menjunjung etika dan tata krama. Orang-orang bilang pria itu orang Utara. Nolan diajari banyak tentang cara berbicara dan bertutur yang sopan. Kalau mau, Nolan bisa saja betutur dan berlaku lebih santun daripada nona-nona kaya di sebelah Utara, tetapi ia lebih suka bicara dengan menggunakan adat lokal. Itu membantunya untuk tetap mengingat dari mana dia berasal dan apa yang tidak boleh hilang darinya: kesadaran bahwa orang miskin selalu diperlakukan tidak adil.
Ia masih ingat dengan jelas tatapan menghina yang didapatnya dari Nyonya Argent. Kalau mau diakui, yang memberinya sikap paling baik memang Nyonya Argent, tetapi Nolan berpendapat bahwa itu tidak tulus. Wanita itu hanya menghibur dirinya sendiri alih-alih menolong Nolan. Wanita itu merasa derajatnya terangkat naik dengan mengasihani orang lain. Nolan justru lebih menghargai penolakan terus-terang dan tatapan tanpa belas kasihan dari Marco.
Mengingat pria tua yang dingin itu, Nolan kembali ingat pada kalung yang dibawanya pada keluarga Argent. Ia menemukannya ketika pulang dari mengantar Jose ke jembatan. Kalung itu ada di dekat rumah, tepat di tempat mereka bertabrakan.
Jose memang bilang bahwa dia tidak mengenal kalung itu. Dan penjelasan soal emblem yang berbeda terasa masuk akal di telinga Nolan, tetapi ia sendiri tahu bahwa Marco bukannya tidak tahu sama sekali soal kalung yang ia temukan.
Nolan ingat sorot mata yang melintas di mata Marco waktu itu. Ada sesuatu yang aneh, hal yang mungkin hanya diketahui oleh pria itu sendiri.
__ADS_1
Nolan memikirkan itu untuk beberapa saat, kemudian menggeleng pelan. “Enggak ada gunanya mikirin itu. Sudah bukan urusanku lagi.”
“Apanya yang bukan urusanmu?”
Suara itu terdengar penasaran dan polos, membuat Nolan berbalik kaget. “Sejak kapan kau di situ?!” serunya kesal ketika melihat siapa yang ada di belakangnya.
Jose. Kali ini pemuda itu mengenakan kemeja hitam polos dipadu jas bergaya kasual yang tidak dikancing serta celana kain yang kelihatan mahal. Nolan mencibir penampilan itu dalam hati. Ia selalu benci pada orang kaya yang berusaha berpenampilan sederhana tetapi tetap terlihat kaya.
“Apa kau selalu bicara sendiri saat sedang melamun?” Jose memberi cengiran lebar yang kelihatan lucu.
“Apa kalian orang kaya selalu muncul seenaknya di daerah orang lain?” balas Nolan sengit.
“Hmm apa kau bisa berhenti bicara soal kaya atau miskin?”
“Bisa saja kalau kau bukan orang kaya.”
“Apa kau ada trauma tertentu atau semacamnya?” selidik Jose sambil berjalan mendekat. Suara sol sepatunya teredam rerumputan hijau yang dia injak. “Mungkin kau pernah diperas oleh keparat kaya?”
“Kau datang untuk mengorek-ngorek kehidupanku?” sahut Nolan pedas. Namun ia segera menyesali kepedasan kalimatnya. Meski tidak menyukai orang kaya, tetapi ia cukup merasa nyaman di dekat Jose.
Lelaki itu seperti mengeluarkan aura yang menenangkan. Menurut Nolan, itu mungkin karena sifat santai dan juga penampilannya yang tidak terlalu heboh. Jose tidak kelihatan tersinggung dengan kritikan Nolan barusan. Malahan, lelaki itu semakin mendekat dan melihat-lihat isi gudang penyimpanan kayunya dengan tertarik.
***
__ADS_1