
Ada yang memindahkan mayatnya?
Marco mulai membayangkan tentang mayat yang bisa berjalan sendiri dalam cerita-cerita kuno. Rasanya Bjork juga punya mitos semacam itu. Dalam kepalanya terlintas juga bayang-bayang mayat kering yang telah ia temukan sebelumnya, yang kesemuanya ia kuburkan dalam makam-makam tanpa nisan.
Marco tidak pernah meneliti apakah mayat itu sudah lama berada di sana atau baru dipindahkan. Saat menemukan mayat, cuaca selalu dalam keadaan buruk, seolah alam ikut mengutuk siapa pun yang sudah membunuh manusia sedemikian kejinya.
"Panggil Robert," bisik Marco, "suruh anak buahnya tutup mulut soal ini."
"Mana bisa? Kau bisa lihat sendiri polisi dan petugas penyelamat datang berbondong-bondong dengan kendaraan. Semua orang tahu ada sesuatu terjadi di sini!"
"Soal bisa atau tidak bisa, itu urusan Robert untuk dia pikirkan, bukan urusanmu."
Rolan menghela napas menyerah. Ia baru saja berbalik untuk memanggil Robert ketika matanya menabrak mata cokelat tua inspektur tersebut. Robert ternyata sudah menatap ke arahnya, entah sejak kapan. Pria itu itu tidak mengalihkan pandangannya atau mengangguk, atau memberi salam lainnya. Robert hanya menatap pada Rolan dengan lurus, membuat dokter itu menelan ludah dengan gugup.
"Dia sudah melihat ke sini," gumamnya pada Marco. "Aku tak suka caranya menatap."
"Kalau caranya menatap malah bikin orang lain suka, dia tidak akan jadi polisi," tukas Marco tak peduli.
Saat Rolan melangkah menjauh, Robert otomatis berjalan mendekat. Bukan ke arah Rolan, melainkan pada Marco.
"Ada mayat lagi," gumam sang Inspektur dengan nada tak bersahabat, seolah munculnya mayat di Bjork adalah tanggung jawab Marco. Matanya memang kelihatan menuduh. Meski selalu membantu keluarga Argent dari belakang, hal itu sama sekali tidak ia lakukan dengan senang. Ia hanya merasa tidak punya pilihan. Argent menancapkan kuku-kukunya terlalu dalam ke kota Bjork. "Seseorang menaruhnya di sana, menaruh mayat tersebut, entah untuk tujuan apa."
"Terlalu banyak orang di sini, Rob," gumam Marco tak senang. "Kesepakatannya adalah, hal semacam ini harusnya jauh dari mata dan telinga orang sipil."
"Kau berharap bagaimana? Ponakanmu sendiri yang menelpon petugas patroli serta Damkar! Suruh saja dia diam! Lagi pula mayatnya beda jenis, tidak akan bikin geger."
"Aku tidak mau tahu. Kondisi mayat itu tidak boleh terbongkar. Jose urusanku. Urusanmu adalah hal publik."
__ADS_1
Mayat yang berbeda tapi memiliki modus operandi yang sama.
Mayat yang seperti baru saja diletakkan di tempat kejadian.
Darahnya masih ada.
Marco masih sibuk memikirkan semua misteri barunya ketika matanya menangkap sosok seseorang yang berlari menyibak hutan, mendekat ke arahnya. Seorang lelaki kurus yang mengenakan topi pet merah. Kurir pesan keluarga Argent.
"Tapi kejadian ini ada bagusnya," lanjut Robert. Kedua tangannya dilipat di depan dada sementara matanya mengawasi kedatangan bagian foto dan laten. Kebanyakan orang sipil berhasil dijauhkan sedikit. "Maksudku, kita kan memang sudah sejak dulu ingin menyisir hutan bagian selatan ini. Kalau saja kita tidak harus merahasiakan hal ini, aku pasti sudah mengerahkan satuan khusus untuk mengobrak-abrik isi hutan. Dari dulu aku sudah gatal ingin tahu ada apa di balik kegelapan yang menyelimuti daerah kumuh ini."
Marco mengucapkan permisi dengan sopan, mengabaikan wajah tersinggung Robert. Ia berjalan menemui pesuruh yang terhalang petugas polisi.
"Selamat sore, Tuan," sapa lelaki itu sambil buru-buru melepas topi pet yang ia kenakan. Marco mengajaknya menepi, menjauhi keramaian.
"Butler George mengutus saya," lanjut pria itu lagi, meremat topinya di dada.
Bukan hal yang aneh bagi George untuk menghubungi Marco. Biasanya kepala pelayan itu memang sering mengirim pesuruh saat ingin menyampaikan pesan penting.
"Ada, Tuan. Tapi Butler George tidak memberi tahu saya apa pun, hanya meminta saya datang memberi tahu bahwa ada hal penting terjadi."
Jantung Marco berdegup lebih kencang. "Apakah Hans dan Gerald baik-baik saja?"
"Keduanya baik-baik saja, Tuan, tapi yang bersama mereka tidak baik. Kata Butler George, ini berkaitan dengan tamu Tuan."
Jawaban itu membuat Marco ingin meledak di tempat. "Apa maksudmu?" tanyanya, masih mencoba tenang. Ia menghirup udara dalam-dalam, mengharapkan ketenangan dari aroma dedaunan, tetapi yang ia cium malah sedikit bau busuk kayu yang lembap.
"Tuan memasrahi Hans dan Gerald untuk menjaga seorang tamu," ucap pesuruh di depannya dengan nada pelan dan sabar. Meski begitu, suaranya memang sedikit bergetar. "Saya ikut merasa malu harus mengatakan ini, tetapi, keduanya gagal melaksanakan tugas. Hanya itu yang saya tahu."
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Saya sungguh tidak tahu, Tuan. Butler George hanya minta saya mengatakan itu dan saya tidak boleh tahu lebih lanjut. Tuan tahu bahwa saya hanya pembawa pesan. Saya tidak pernah mengurangi atau menambah pesan yang saya bawa."
Marco paham. Ia mengangguk, kemudian melambaikan tangan, meminta pria itu pergi. Ketika ia kembali untuk bicara dengan Robert. Inspektur polisi tersebut segera memberondongnya dengan pertanyaan.
"Kenapa? Itu tadi pesuruhmu, kan? Apa yang terjadi? Aku dengar nama Hans dan Gerald!" Robert tahu bahwa Hans dan Gerald adalah dua pekerja Argent yang mengetahui soal mayat-mayat kering.
Marco tidak menanggapi satu pun pertanyaan Robert. Ia perlu pulang secepatnya. "Aku perlu bicara denganmu nanti. Datang ke rumahku tengah malam."
"Mana bisa?" bantah Robert cepat. "Kau tidak ingat sekarang hari apa? Festival! Kami pasti akan sibuk!"
Marco berhenti. "Festival?"
Ada festival tahunan di Bjork.
"Kenapa kau ini? Kita kan sudah membicarakan ini sebelumnya? Kau sendiri yang memintaku untuk meningkatkan pengamanan sampai maksimal karena festival tahunan tetap diadakan," Robert mengerutkan kening. "Bukankah katamu, karena para pemimpin dagang meminta, makanya festival tahunan tetap dibuka?"
"Aku tahu," sahut Marco. Ia memang melihat sendiri persiapan-persiapan festival yang dilakukan sejak kemarin sore. Ia juga sudah membahas hal ini dengan beberapa dewan kota. Entah bagaimana, sepertinya semua ingatan itu sempat terlupakan sejenak. Marco berusaha meyakinkan diri bahwa itu pasti karena berbagai macam kejutan yang datang beruntun padanya hari ini, tetapi di sisi lain, Marco sendiri merasa heran. Biasanya ia tidak pernah melupakan apa pun.
Mengabaikan Robert yang masih mengajukan pertanyaan lain, Marco berjalan cepat ke tempat Rolan. Dokter itu sedang bicara dengan salah satu petugas forensik. Melihat Marco datang, Rolan segera menyudahi percakapannya dan melipir ke tempat yang lebih sepi.
"Wajahmu muram sekali. Orang akan mengira yang mati itu adalah putrimu sendiri," seloroh Rolan sambil bersandar pada mobil forensik.
"Kau yakin sudah melihat William Bannet keluar dari wilayah kita, kan?" Marco menembak langsung.
Rolan mengedikkan bahu. "Maksudmu saat kita pergi tadi? Aku memang melihat mobilnya berbelok menikung. Kalau kemudian dia kembali lagi setelah kita pergi, itu bukan tanggung jawabku, kan? Memangnya ada apa?"
__ADS_1
Marco menarik napas. Ia menatap kedua mata Rolan dalam-dalam dan berkata, "W sudah lewat."
Rolan membeliak. "Tuan Wallace? Bagaimana bisa?"