BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 147


__ADS_3

Xavier berdiri di dekat jendela ruang baca yang mengarah ke jalan utama. Ia tidak menyentuh kopi yang disediakan untuknya di meja, tetapi sudah kelihatan jauh lebih tenang dari ketika pertama datang. Meski tidak akan mengakui hal ini, tetapi kesediaan Jose menerimanya membuat Xavier merasa lebih tenang. Setidaknya, saat ini ia aman dari apa pun yang membuntutinya.


"Pertama," mulai Xavier, tetap tidak mau beranjak dari jendela yang terang. Ia lebih suka berdiri daripada duduk. Duduk membuat kakinya yang gemetaran kelihatan jelas. "Kau akan melindungiku."


Jose melipat kedua tangannya di dada, menyandarkan sisi pinggangnya pada meja baca besar yang terbuat dari kayu jati tua. Tiga sisi dinding dipenuhi dengan rak buku raksasa yang memanjang sampai hampir menyentuh langit-langit kamar. Sofa nyaman ditata membentuk lingkaran di tengah ruangan, dengan karpet bulu tebal mengalasi lantai kayunya. Di sisi dinding yang berjendela, meja jati besar diletakkan dengan kokoh, dipenuhi kertas serta alat tulis milik Marco—yang sebelumnya sudah pernah dibongkar-bongkar oleh Jose untuk mencari petunjuk di mana pria itu berada.


"Kedua," Xavier meneruskan.


"Pertama," sahut Jose tenang, "bukan begitu caranya bicara dengan seorang Argent."


Xavier tertawa mengejek. "Lalu bagaimana? Kau ingin aku menggonggong?"


Senyum Jose mengembang kecil, merasa deja vu. "Kalau cuma itu usaha terbaik yang bisa kau lakukan, silakan saja."


Pintu kamar menguak terbuka dan Rolan masuk, memotong balasan yang ingin dilontarkan Xavier. "Jose, kau tidak akan percaya ini, aku tahu apa yang mereka lakukan! Okult sialan! Mereka membuat—" Ia berhenti ketika melihat ada orang lain di ruangan itu. "Oh, masih ada Hastings," katanya heran, "kau belum pulang?"


Jose mendekati Rolan, berbisik pelan padanya. Dokter itu mengangguk, kemudian berjalan keluar tanpa mengatakan apa pun.


"Apa?" tanya Xavier waspada. "Kau menyuruhnya membawa tukang pukul lagi?"


"Jangan paranoid begitu. Aku cuma memintanya pergi karena kita akan membicarakan hal yang serius," sahut Jose. "Aku bisa menjanjikan bahwa tidak akan ada hal buruk terjadi padamu selama kau ada di rumah ini, dan selama kau tidak melewati batasanmu sebagai tamu."


"Hanya sebagai tamu?" Xavier mengerutkan kening. "Hanya hari ini saja dong! Sama saja omong kosong! Lalu bagaimana dengan makhluk yang menggangguku?!"


Jose menjentikkan jari. Ia berjalan mendekat. "Aku akan mendengarkan cerita monstermu nanti dulu. Sekarang, ceritakan dulu soal pamanku. Apa maksudmu, kau mencoba membebaskan dia? Kau membebaskannya dari apa?"


Xavier menatap Jose lurus-lurus. "Bersumpah dulu kau akan memberiku suaka."


"Akan kupertimbangkan setelah mendengar ceritamu," sahut Jose keras kepala. "Aku tidak suka membeli kucing dalam karung."


"Apa jaminannya kau tidak akan menipuku?" Xavier tertawa. "Kau bisa saja pura-pura sudah tahu apa yang akan kukatakan, lalu mengusirku pergi dengan alasan tidak ada hal baru yang kau dapat dariku?"

__ADS_1


Jose menegakkan punggung. Ia menatap Xavier tajam. "Kau datang ke sini untuk menghinaku?" tanyanya. "Kalau kau tidak percaya pada kata-kata yang kuucapkan, silakan saja pergi dari sini. Bukan aku yang sedang membutuhkan bantuan."


Xavier menelan ludah. Ia mengangkat kedua tangannya ke sisi kepala dengan lagak menyerah. "Jangan tersinggung," katanya, "aku benar-benar pusing saat ini."


"Duduklah." Jose mengedikkan kepala ke arah sofa. "Minum kopinya. Berhenti melihat-lihat ke luar jendela supaya kau tidak cemas. Manor ini aman."


***


Maria baru saja hendak memutuskan untuk istirahat ketika pintu kamarnya diketuk. Susan beranjak dari sisinya dan membuka pintu, bicara sebentar dengan pelayan di luar, kemudian kembali ke sisi Maria yang sedang merayap ke ranjang.


"Nona, ada tamu untuk Nona di luar."


"Bilang saja aku mati," keluh Maria sebal. "Aku benci tamu. Aku ingin tidur."


Susan diam saja, tahu Maria tidak akan merajuk terlalu lama. Benar saja, setelah berguling ke kiri dan ke kanan dengan malas di atas ranjang, Maria bangkit. Ia menoleh pada Susan dengan ekspresi penasaran. "Siapa yang datang?"


"Lady Spencer."


"Istri Baron Spencer, dia datang sendirian." Susan menatap Maria dengan saksama.


"Flora? Untuk apa dia ke sini?"


"Katanya ada undangan yang ingin disampaikannya secara langsung. Kalau Nona tidak berkenan, saya bisa bilang bahwa Nona sedang tidak enak badan."


Maria mendengus. "Bantu aku merapikan rambut," katanya sambil duduk di depan kaca rias. "Undangan itu cuma alasannya saja. Dia pasti datang untuk mengolok-olokku soal kejadian semalam!"


"Kejadian apa, Nona?"


Maria melirik lewat kaca rias. "Jose memukul Sir William," katanya dengan pipi merona, tidak menceritakan bagian ia dipeluk erat-erat di hadapan semua orang di pesta. "Apa aku belum cerita padamu soal itu? Sekarang aku pasti sedang digosipkan seisi Bjork!"


Susan mengerjap heran. "Kenapa Tuan Jose memukul Sir William?"

__ADS_1


Maria tidak menjawab. Ia memakai kalung hadiah ulang tahunnya, mematut diri sekali lagi, kemudian beranjak menemui Flora.


Gadis itu bangkit dari duduknya dan memberi salam sambil tersenyum sopan ketika melihat Maria datang.


Maria bersyukur ruang tamunya terlindungi dari matahari. Ia benar-benar masih selalu kesakitan setiap kali melihat sinar. Dokter bilang matanya kelelahan dan menyarankan ia menggunakan topi lebar kalau keluar, bahkan meski sore hari.


Flora memberikannya undangan ke acara pertemuan amal yang akan ia adakan. "Aku membangun kapel dan pemandian untuk kaum papa," katanya. "Ada dapur umum juga di sana. Sebentar lagi salju akan turun, dan orang-orang di jalan akan kesusahan mencari tempat bernaung atau tempat makan. Pembukaannya sendiri akan dilakukan dengan misa pemberkatan di kapelnya. Kuharap kau bisa datang. Kita juga bisa menyaksikan gerhana matahari bersama setelah itu."


Gerhana matahari? Maria mengerutkan kening mendengar ide yang tak biasa itu. Ia menatap surat undangan yang ia terima, yang dicetak mahal dengan banyak warna dan gambar buatan tangan, kemudian mengalihkan undangan itu pada Susan agar disimpan. "Baik sekali, Flora," katanya. "Aku akan datang."


"Terima kasih. Semua orang pasti senang melihat putri Garnet yang tersohor ini datang. Aku akan menyiapkan tempat khusus untukmu di misa besok."


Flora mengucapkan setiap kalimatnya dengan nada semanis madu, tetapi Maria tahu ucapan terakhir wanita itu adalah pembukaan dari olok-olok dan sindirannya. Maria menarik napas panjang, tidak mengerti kenapa wanita itu selalu cari gara-gara dengannya padahal sudah menikah dengan Baron Spencer. Ia menoleh pada Susan, menggerakkan kepalanya sedikit, meminta dayangnya pergi.


"Tempat apa yang akan kau siapkan, Flora?" tanya Maria begitu Susan pergi. Meski tidak menyukai Flora, ia cukup punya etika untuk tidak mempermalukannya di depan seorang dayang. Maria menoleh ke samping, ke arah Flora yang duduk di sebelah kanannya. "Aturan di Bjork, para bangsawan memang akan duduk di tempat paling depan, setelah para Diakon. Ini aturan kerajaan, bukan hakmu untuk mengaturnya, cukup patuhi saja aturan dari istana selayaknya rakyat jelata lain."


Pupil mata Flora melebar. Wanita itu membuka mulut tanpa suara, mengatupkannya lagi, kemudian berkata pelan menahan emosi, "Nona Garnet," katanya dengan suara bergetar. "Selama ini aku membiarkan saja setiap kali kau menyebutku rakyat jelata karena mempertimbangkan usiamu yang masih sangat muda. Tapi aku perlu mengingatkanmu bahwa aku adalah seorang baroness, aku bukan rakyat jelata. Kau tidak lupa, kan?"


Maria tersenyum tipis, tahu bahwa Flora sangat sensitif dengan statusnya. Bahkan meski sudah muncul isu penghapusan kasta sosial, tetap saja sampai sekarang para gadis mati-matian menarik perhatian pria bangsawan untuk dinikahi—tak peduli meski bangsawan itu sudah punya istri atau sudah tua. Tidak sedikit yang rela hidup susah menikah dengan seorang baron miskin hanya demi bisa mendapat gelar Lady.


Meski selalu ikut menyuarakan perkara persamaan status dan bersikap seolah ia adalah egalitarian, Flora terobsesi pada status.


"Kau tahu kenapa kami para bangsawan disebut berdarah biru?" Maria menoleh pada Flora, yang memalingkan wajah darinya untuk menjaga emosi. "Ceritanya dari Spanyol sana. Ada istilah yang disebut sangre azul, yang secara literal berarti darah biru. Itu istilah untuk keluarga bangsawan di Spanyol, yang hanya menikah dengan ras yang sama untuk menjaga kemurnian ras mereka, agar garis keturunan mereka murni. Mereka punya kulit yang putih pucat hingga pembuluh darah mereka yang kebiruan kelihatan. Dari situlah idiom darah biru muncul."


"Lalu? Semua orang punya pembuluh vena. Kau mau lihat pembuluh venaku?" Flora mendengarkan dengan napas yang makin cepat, meski tahu ke arah mana topik pembicaraan Maria, tetapi tetap tidak bisa menebak apa yang ingin dikatakan gadis itu.


"Kau tidak mampu menangkap maksudku?" Maria mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, matanya melebar. "Darah biru adalah idiom untuk menggambarkan garis keturunan. Garis keturunan, Flora." Ia menggeleng pelan, membuat rambut ikalnya bergoyang lembut. "Seseorang tidak menjadi ningrat melalui perkamen nikah, melainkan melalui ikatan darah. Melalui kelahiran."


Flora bangkit dengan cepat dengan wajah merah, memberi salam selamat tinggal pada Maria, kemudian bergegas pergi dari sana.


***

__ADS_1


__ADS_2