BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 204


__ADS_3

Jose menengok ke belakang, mengira Rolan bertanya pada orang lain. Tidak ada apa pun di belakangnya. Mayat-mayat masih terseok-seok mendekati mereka dari seberang jembatan. Ia memperkirakan butuh waktu sekitar tujuh sampai sepuluh menit hingga mayat yang terdepan sampai. Itu kalau mayatnya tidak mendadak meloncat atau berlari.


"Aku bertanya padamu, Jose! Siapa kau?!"


"Lho? Paman sudah menyebut namaku. Kenapa masih bertanya?"


Rolan baru sadar pertanyaannya bodoh, tapi ia tidak menurunkan belati. Ditatapnya pemuda berambut hitam kusut itu dengan tajam. Angin membuat ujung mantel mereka berkelepak ringan menampar betis. "Karena aku tidak punya keponakan yang bisa sihir! Dan kau bersikap aneh sejak tadi!"


"Itu tadi bukan sihir," kata Jose muram. "Aku hanya berdoa."


"Apa setiap kali kau berdoa, sungai akan menyala seperti lampion?!" Rolan berseru gusar. "Apa rambutmu bakal berkobar dilahap api? Apinya ungu! Astaga, api macam apa itu? Dan kau belum pernah masuk ke hutan ini, tapi sejak tadi kau memimpin jalan dengan yakin—kelewat yakin, seolah kau melewati hutan ini tiap hari atau," ia melanjutkan dalam desis rendah, "atau ada yang menuntunmu."


"Secara teknis, pernah." Jose melangkah pelan, tapi segera berhenti begitu Rolan menaikkan belatinya lebih tinggi. Ia menelan ludah, ingat betapa cepat dan dinginnya pria itu waktu membunuh Torfin di Puri Ashington. Manusia bukan makhluk yang gampang dibunuh, tapi Rolan melakukannya semudah mengerjapkan mata. "Aku pernah masuk hutan beberapa kali bersama Nolan," lanjutnya hati-hati. "Dan kita berdua kan juga masuk ke hutan bersama waktu menjemput Paman Marco. Tapi aku berjalan dengan yakin karena dengar suara sungai, Paman. Aku mengandalkan suara sungai sebagai panduan."


"Omong kosong! Kau melihat sesuatu. Kau kadang tersentak dan mengalihkan mata dengan cepat, seolah baru saja melihat hal mengerikan, padahal yang ada di depanmu hanya semak atau pohon." Rolan menggeser langkah dengan waspada. Matanya mengawasi dengan lekat, tidak berniat melewatkan gerakan sekecil apa pun. "Kau Jose atau bukan? Mengakulah sebelum aku menyakitimu."


Jose menarik napas panjang. Paman panik. Dia tidak akan mau mendengar, pikirnya. Kedua belatinya terangkat naik dalam posisi siaga. "Paman, aku peringatkan bahwa kalau Paman menyerang, aku pasti membalas. Paman mungkin cepat, tapi aku tidak pernah kalah cepat dari siapa pun saat serius." Tatapannya setajam pisau. "Tidak pernah!"


Rolan mengerjap, kemudian perlahan menurunkan belati. "Nah, muka sombong itu baru Jose," ucapnya lega. Keningnya masih berkerut. "Sejak kapan kau bisa sihir? Atau tadi itu namanya mukjizat? Aku bahkan tidak tahu kau pernah masuk seminari. Dan apa yang ..." Ia menunjuk hutan, menggerakkan tangannya dengan gelisah karena tidak bisa mengungkapkan apa yang dipikirkannya dengan jelas. Ia masih penasaran apa yang dilihat Jose di hutan. "Kau ini apa?" akhirnya hanya itu yang bisa ditanyakan.

__ADS_1


"Aku memang tidak pernah masuk seminari." Jose ikut menurunkan belatinya dan mendekat dengan kesal. "Jangan bercanda begitu lagi! Aku kaget sungguhan tadi, kupikir harus membuat Paman pingsan agar tidak diserang!"


"Kau pikir aku tidak kaget?" sembur Rolan sambil mencekal lengan Jose dan menggeretnya mendekat. "Aku tidak bercanda! Aku benar-benar berpikir kau siluman atau semacamnya barusan dan bakal menyerang andai senyum dan sikapmu tidak searogan itu! Senyum khas Argent!" Ia membersut. "Apa itu tadi, ha? Bagaimana caramu menyalakan sungai seperti lampion? Memangnya ada kenop saklar di sana?! Dan mayat itu—"


"Aku hanya berdoa," potong  Jose, lagi-lagi mengerutkan kening seperti menahan sakit. Mereka berdua menghadap ke arah jembatan dengan waspada, mengawasi sosok-sosok hitam yang mulai mendekat. Bulan bersinar cukup terang, membantu menampakkan wujud mereka.


"Apa kalau aku yang berdoa, sungainya juga bisa menyala?" Rolan menjilat bibirnya yang kering dan beku.


"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah," Jose mengutip ayat dalam Injil. "Kita adalah citra Tuhan Allah, verba yang kita ucapkan memiliki kekuatan yang besar. Doa memiliki kekuatan besar. Terutama di dekat hutan sakral ini. Ada potensi yang bisa kita manfaatkan. Aku hanya mencoba memanfaatkan itu."


Rolan menoleh, masih tidak mengerti. "Bukankah tuhannya beda? Seingatku agama lama Bjork adalah animisme, bukan Kristiani. Kau berdoa dengan cara Kristiani."


"Tidak masalah meski beda, Tuhan bukan milik satu atau dua kelompok. Kitalah yang jadi milik-Nya. Tuhan adalah satu kesatuan sistem yang sama, seperti samudera. Agama dan kepercayaan hanya anak sungai menuju ke sana, hanya jalur." Jose menarik napas, memperhatikan tubuh-tubuh beruap yang menggeliat dan berjalan seperti meronta di sisi jalan kantor pajak. Semuanya kelihatan begitu kasihan. Sosok-sosok itu  ingin dibebaskan dari rantai yang membelenggu jiwa mereka. "Manusia membuat jalur yang beda untuk menuju pada sistem tersebut. Jalur bisa melemah dan hilang, sama seperti kesakralan Bjork perlahan hilang tanpa orang-orang yang memercayainya, tapi sistem itu sendiri tetap ada dan menetap di sini. Di antara kita."


"Tidak usah dipikirkan. Aku sendiri juga tidak terlalu mengerti."


"Dari mana kau tahu semua itu? Semua pengetahuan itu. Dari mana kau bisa melakukan sihir itu, doa itu, atau apa pun yang kau lakukan tadi?"


"Pertama kali menyeberang adalah saat Paman mengucapkan mantra yang benar, saat itu pertama kalinya aku melihat alam kematian," Jose memulai ceritanya. "Ada Bjork yang lain yang lebih dingin dan sunyi. Aku melihat Maria dan Paman Marco. Aku melihat banyak hal terjadi pada masa yang sedang berlangsung saat itu. Kedua kali menyeberang adalah saat aku dituntun oleh raksasa jamur itu, yang adalah spirit gunung ini sekaligus leluhur kita semua. Saat itu aku melihat masa lalu. Aku melihat rahasia di balik gunung ini dan juga siapa musuh kita. Ketiga kali menyeberang adalah saat aku tenggelam di sini, aku bertemu dengan entitas paling purba yang mendiami Bjork. Sekumpulan kesadaran. Sebuah kesatuan yang sakral." Ia menatap lurus-lurus ke depan, ke seberang jembatan. "Dan Dia berbisik padaku, memberitahuku bagaimana sistem dunia bekerja. Hanya saja ..." Jose mengerutkan kening lagi dan menyentuh pelipis. "Semua hal terasa samar. Kepalaku selalu sakit tiap mengingat apa yang Dia bisikkan, hanya sepotong-sepotong yang bisa kucerna dalam satu waktu."

__ADS_1


Rolan menatap dengan cemas. "Kepalamu mungkin terbentur, aku akan memeriksanya lebih cermat saat kita pulang."


"Tidak perlu, kepalaku baik-baik saja. Hanya saja rasanya seperti mencoba memasukkan lautan ke dalam ember kecil. Aku ember itu, dan tubuhku tidak kuat." Jose menggeleng pelan, mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan pandangan.


"Karena itu kau sampai mimisan kemarin?" Rolan mulai mengerti, tapi sekarang ia jadi tambah cemas. "Kalau begitu kau tidak perlu mengingat! Bagaimana kalau kepalamu rusak?"


"Yang penting sekarang, ceburkan semua mayat ke sungai. Aku akan berdoa lalu kita serahkan saja sisanya pada Tuhan."


"Baru kali ini aku mendengar orang bicara tentang doa tapi dengan nada penuh ancaman," komentar Rolan.


"Apa boleh buat, Tuhan boleh menegurku setelah semua ini selesai," gumam Jose tegang. Ia menguapi jari-jarinya yang membeku. "Kami bisa berdebat sangat panjang tentang definisi mengancam."


Angin tidak lagi bertiup, tapi udara dingin masih menyelimuti Bjork, membuat setiap tarikan napas terasa begitu sukar dan menyakitkan. Rolan menggerak-gerakkan tungkai, menjaga agar sendi-sendinya tidak kaku. Sepatu daruratnya yang terbuat dari lilitan kemeja hanya sedikit membuatnya hangat. Ia bahkan tidak bisa merasakan ujung-ujung jari kakinya.


Sosok-sosok di depan mereka makin dekat, dan entah kenapa benak Rolan justru melayang kembali pada Yvone. Yvone dan bayi mereka yang masih ada dalam kandungan. Ia merasa masih bisa merasakan kehangatan tubuh istrinya, mencium aroma napasnya, keringat di rambutnya. Rolan memejamkan mata sambil tersenyum, bahagia karena kenangan-kenangan itu tidak terlupakan. Lupa. Hanya itu yang paling membuatnya takut. Jika harus mati, ia ingin mati saat masih mengingat semua kenangan akan Yvone dan kebersamaan mereka yang singkat tapi manis.


"Kau ingat yang kukatakan di hutan tadi, Jose?" Rolan menoleh. Suaranya kedengaran kecil dan kosong. "Kalau aku memperlambat langkahmu atau—"


"Aku tidak akan meninggalkan Paman." Jose menggeleng keras kepala. Matanya tertuju ke depan, ke arah barisan mayat yang mulai menapaki jembatan kayu. "Aku tidak mau."

__ADS_1


***


¬seminari: sekolah untuk menjadi pastor


__ADS_2