BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 46


__ADS_3

“Kakak yang mana? Kapan?”


“Jacob.” Rolan meringis ketika melihat reaksi Jose yang muram. Kedua anak itu tidak pernah akur sejak dulu. Jacob terlalu mengatur dan Jose terlalu senang memberontak. “Yah, ibumu butuh teman bicara. Kalau saja kau tidak bandel dan sedikit lebih penurut.”


“Itu memang ciri-ciri Jacob. Mustahil menginginkan itu dariku.” Jose memberi cengiran nakal ketika mengantar Rolan ke luar kamar.


Dokter muda itu berjalan pergi meninggalkan kamar Jose dengan lega. Ternyata firasat anehnya barusan memang benar, Jose menyembunyikan soal melihat hantu untuk ketiga kalinya. Persoalan penting itu disembunyikan hanya karena Jose melihat hantunya di sebelah selatan Bjork. Mungkin karena takut dimarahi Marco. Rolan teringat kembali pada buku yang disembunyikan di balik bantal sofa, kemudian ia mengedikkan bahu dan segera melupakannya. Itu cuma buku kliping yang tidak penting.


Di dalam kamar, Jose memastikan pintunya sudah terkunci, kemudian menarik bantal sofa. Ia tersenyum mendapati buku bersampul kulit di situ sudah berubah posisi secara vertikal. Bahkan bagian depan belakangnya juga berbeda dari saat ia menaruhnya terakhir kali. Ternyata Rolan memang mengambil dan melihatnya sewaktu ia lengah. Mungkin saat ia menutup pintu untuk pertama kalinya.


Maaf Paman, ucap Jose dalam hati, aku tidak sebodoh itu.


Ia mengambil buku tua di atas sofa, kemudian mengembalikannya ke dalam rak buku yang menempel di dinding dekat meja kerja. Buku bersampul kulit itu disusupkan ke sela deretan buku bersampul kulit lainnya, ke jajaran di mana ia menyimpan semua kliping serba-serbi nautikal.


Setelah menggeser penutup kaca kembali ke tempat semula, Jose berjalan mengitari meja kerja, menarik laci sampai terbuka separuh, dan mengeluarkan buku lain dari dalam situ. Buku biru dengan sampul dilapis mika. Pada bagian sampul tertera jelas tulisan “Kliping Peristiwa di Bjork”.


Jose membuka kembali buku itu pada halaman delapan belas, kemudian mengamati wajah yang tertera di sana. Itu jelas-jelas Sir William. Rasanya tidak masuk akal melihat pria itu dalam foto yang tua. Ia tidak mau memberi tahu hal ini pada Rolan karena masih ingin menyelidiki sendirian. Lagi pula kedua pamannya terlalu mencurigakan. Ada banyak hal yang tidak mereka katakan. Jose tidak bisa memercayai orang yang juga tidak mau percaya padanya.


Jose mengetuk-ngetuk foto monokrom pada kliping itu dengan jari telunjuk. Matanya menyorot bingung melihat wajah suram yang terpotret. Orang itu memang mirip Sir William, tetapi kelihatan agak lebih tua. Jose mengeluarkan kaca pembesar dari dalam laci dan memperhatikan foto dengan lebih detil. Ada gurat-gurat halus pada wajah dalam foto, tetapi Jose sulit memutuskan apakah itu memang kerut pada wajah atau tekstur kertas. Bagaimanapun juga, yang sedang ditatapnya sekarang adalah kliping koran lama.


Mungkin memang Tuan Bannet yang terdahulu, pikir Jose. Habisnya, mana mungkin ada orang yang tidak bertambah tua?


Jose membolak-balik kliping dengan bosan. Sudah puluhan kali ia membaca artikel yang memuat foto itu. Tidak ada nama William atau Bannet tertera di sana. Jose menyadari bahwa ia tidak akan sampai pada kesimpulan mana pun kalau hanya memandangi foto seharian. Ia harus bertanya pada seseorang. Orang yang tahu banyak tentang segala arsip. Jose mengusap rahangnya pelan-pelan, nama Nina tertera jelas dalam kepalanya.


Ia akan menemui gadis itu. Mungkin besok.

__ADS_1


***


Nolan merapatkan selimut ke bawah dagu. Matanya terpaku pada ventilasi yang berteralis, menatap kabut putih yang meresap masuk melalui sela-sela jeruji. Kabut selalu masuk dari sana sejak ia sudah bisa mengingat, selalu menerornya tiga kali sehari. Kabut selalu turun pada jam-jam yang tidak tentu, tetapi temponya kadang sama. Tiga kali dalam dua puluh empat jam. Dalam kurun waktu itu lah kabut putih menyesap masuk ke celah-celah rumah. Kabut selalu membuat kepalanya bedenyut-denyut ringan, seperti memberi tanda akan keberadaan sesuatu yang asing.


Tidur akan membantu.


Hal itu yang selalu diulang-ulang Nolan ketika kabut datang. Tidur akan membantunya melewati masa ketika kabut datang. Saat ia bangun nanti, kabut pasti sudah hilang.


Nyala api dalam lampu minyak bergoyang lembut karena angin, membuat bayang-bayang ikut bergerak seperti menari.


Nolan membalik tubuhnya, menarik napas dengan berat.


“Enggak bisa tidur?” bisik sebuah suara.


“Kamu sendiri kenapa enggak tidur?” balas Nolan lembut. Tangannya bergerak menyusuri helai-helai tipis rambut Loma. Ia melongok sedikit ke belakang Loma, dua adiknya yang lebih besar tidak terganggu dalam tidur mereka.


"Loma takut sama kabut." Loma memejamkan mata ketika bicara. Wajah kanak-kanaknya diwarnai kegelisahan.


“Kenapa takut? Itu kan cuma kabut biasa. Sudah, merem aja. Nanti kalau Loma bangun, kabutnya sudah hilang.” Nolan menepuk-nepuk pundak adiknya, berusaha menenangkan anak itu meski dirinya sendiri juga gelisah.


Ia masih mengingat dengan jelas sosok yang dilihatnya tadi siang bersama Jose. Sosok hitam yang mengendus ke sana kemari.


Apa itu? Setan atau manusia?


Nolan menggigit bibir, mulai menyesal karena tidak memberitahu siapa pun soal makhluk asing yang berjalan menyeberangi sungai. Namun ia sendiri tidak mengerti apa yang akan ia laporkan. Kalau mendukung pernyataan Jose soal betapa berbahayanya hutan, Nolan tahu yang akan didapatnya hanya cibiran.

__ADS_1


“Kakak yang tadi sore siapa, sih?”


Nolan membuka mata, mendapati Loma masih bangun dan sekarang menatapnya.


“Cuma orang dari seberang jembatan.” Ia tersenyum, tahu bahwa “Kakak” yang dimaksud adiknya pasti Jose. Lelaki itu jadi topik pembicaraan seharian ini. Meski Nolan sudah berulang kali menjelaskan bahwa ia hanya menemani orang Bjork Utara itu jalan-jalan di hutan dan memancing, orang-orang tidak langsung percaya. Ibu-ibu penggosip justru mulai menyemangatinya, mendorongnya untuk merayu Jose.


“Siapa tahu kamu kecipratan kaya,” adalah kalimat yang tiap kali mereka gunakan.


Beberapa orang malah bersikap seolah Nolan sudah kaya dan meminjam ini itu yang tidak dimiliki Nolan.


“Katanya tadi, di sungai itu bahaya, kan?” Loma mencengkeram selimut dalam kepalan tangannya yang kecil. “Memangnya dia lihat apa?”


“Enggak lihat apa-apa.” Nolan berhenti sebentar, berpikir agak lama, kemudian menambahkan, “Tapi mending kamu jangan main ke sungai yang di hutan lagi, deh. Janji, ya? Nanti ada musang!” Kalimat terakhir dibisikkan Nolan sambil melancarkan jurus gelitik.


Loma memekik, mendorongnya sambil tertawa, kemudian mereka berdua justru saling mendesiskan peringatan untuk diam.


“Di sana memang bahaya,” Loma mendesis lembut. “Loma pernah lihat hantu hitam.”


Suara Loma selembut dan selucu anak sepuluh tahun biasa. Namun kali ini mengirim rasa dingin yang lembut, merambatkan getaran dingin pada Nolan, membuat punggung gadis itu meremang.


“Hantu hitam?”


“Loma pernah lihat,” ulang Loma, kini tambah rapat memejamkan mata.


***

__ADS_1


__ADS_2