
Maria menutup rapat pintu-pintu kamar dan jendela. Ia juga mengusir Susan meski dayangnya itu memohon dengan sangat untuk diizinkan berjaga di dalam. Maria menolak keras.
Sekarang pukul sebelas malam. Jantungnya berdetak lamban, bahkan meski ia sedang tegang. Maria tahu ada yang salah dengan tubuhnya, atau dengan kepalanya, dan dokter tidak akan bisa membantu. Jadi ia akan mencari tahu sendiri. Ia memutuskan untuk menyelam ke dalam suara-suara aneh di kepalanya demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Mungkin aku akan jadi gila, pikir Maria, tapi setidaknya aku akan gila setelah berjuang melakukan sesuatu**.
Ia merapatkan jubah tidurnya dan menoleh ke sana kemari, mencari tempat yang enak. Ranjang adalah pilihan terbaik. Ia tidak akan terbentur atau terbanting dengan keras kalau-kalau, dalam skenario terburuk, mengalami kejang.
Maria baru beringsut naik ke ranjang ketika telepon kabel di kamarnya berdering.
Dering itu terasa aneh dan asing bagi Maria karena biasanya tidak ada yang menelepon selarut ini. Ia cepat-cepat mengangkatnya karena tidak mau mengganggu orang lain. Biasanya kepala pelayan akan mengangkat telepon dan meneruskannya pada siapa pun yang dituju. Maria cuma ingin dering itu cepat-cepat berakhir.
"Garnet," bisiknya pelan.
"Maria?"
"Jose?" balas Maria kaget. Tanpa sadar ia membetulkan jubah tidurnya dan merapikan rambut. Hal yang kemudian dirasanya menggelikan karena lelaki itu toh tidak bisa melihatnya. "Kenapa? Kau dalam masalah?"
"Bukan aku, tapi kau."
"Maksudmu?"
"Begini ... akhir-akhir ini ... kau susah tidur?"
"Susan yang memberi tahu?" Maria langsung curiga. Ia memutar bola matanya dengan kesal, heran kenapa dayangnya begitu mudah membocorkan kondisinya pada orang lain.
"Bukan. Kau punya garam kan di rumah?"
Maria tidak mengerti. "Yah, di dapur pasti ada. Kenapa? Kau mau minta? Keluargamu kekurangan garam sampai kau harus menelepon di luar jam malam?"
"Bukan untukku. Kalau kau punya garam murni, taburkan di sekeliling ranjangmu setiap malam waktu kau mau tidur. Dan di jendela, serta ambang pintu."
Maria tertawa keheranan. "Tidak ada ular di rumahku, tenang saja."
"Bukan untuk mengusir ular, tapi untuk mengusir mata jahat."
"Mengusir apa?"
__ADS_1
Hening.
"Mengusir apa?" Maria mengulang, tapi tidak mendapatkan jawaban. Ia menatap kap transmiter telepon dengan heran. Tidak ada suara dari sana. Bahkan tidak ada dengung apa pun. "Jose?" panggilnya lagi. Ia meletakkan telepon dengan heran, lalu mengangkatnya lagi. Tetap tidak ada dengung atau bunyi apa pun.
Maria menatap telepon lama-lama, memikirkan semua kejadian yang ia alami serta peringatan Jose akhir-akhir ini. Ia membuka kunci pintu kamarnya dan melongok ke luar, bersyukur melihat Susan masih ada di sisi dinding. Dayang itu menatapnya cemas.
"Akhirnya Nona membuka pintu!" serunya. "Saya benar-benar takut, saya sampai berniat memanggil kepala pelayan!"
"Hush!" desis Maria. Ia melebarkan daun pintu dan meminggirkan tubuh, mempersilakan Susan masuk. "Teleponnya rusak. Coba kau periksa."
Susan tidak mengerti apa pun soal teknologi, tetapi ia tetap mencoba memeriksa sesuai perintah Maria. Ia mengamati telepon dengan saksama, lalu menoleh. "Rusaknya sebelah mana, Nona?"
"Tidak berdengung. Tidak tersambung ke mana pun. Coba kau angkat dan dengarkan. Besok bilang pada Dale untuk memanggil tukang."
Susan mengangkat gagang telepon yang hitam ramping dan menempelkan kapnya ke telinga, mendengarkan. Ia mengerutkan kening. "Maksud Nona bunyi tut-tut-tut itu tidak ada?"
Maria mengangguk, menyilangkan kedua tangan di bawah dada. "Tidak ada, kan?"
"Ada, Nona. Coba dengarkan." Susan menyerahkan pegangan telepon.
Maria mendengarkan, dan memang benar ada bunyi dengung listrik. Ia meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya, lalu menarik napas perlahan. "Kau tadi dengar bunyi telepon tidak dari luar? Dering telepon masuk?" tanyanya.
Maria menggigit bibir. "Aku pasti sudah gila," gumamnya. "Ambilkan garam dari dapur, Sue. Yang banyak."
"Garam?"
"Cepat!" desis Maria tak sabar, membuat Susan segera bergegas keluar.
Semua ini terasa aneh, tetapi suara Jose yang didengarnya di telepon barusan tidak kedengaran jahat atau ganjil. Siapa pun atau apa pun yang mencoba menghubunginya, Maria bertaruh pada sosok itu. Ia sudah merasa cukup bingung sehingga pertolongan apa pun yang datang akan ia sambut.
Ada bunyi ketukan di jendela. Maria menoleh, mengerutkan kening. Bunyi itu mirip suara kerikil memukul kaca. Namun kamarnya ada di lantai dua, jadi tidak mungkin ada kerikil nyasar. Yang mungkin adalah seseorang melempari jendelanya.
Tapi siapa?
Maria menoleh pada pintu kamar yang masih membuka, memutuskan untuk menutupnya karena kegelapan di lorong rumah terasa menakutkan. Ada dorongan kuat untuk menghampiri jendela dan memeriksa siapa yang mengetuk-ngetuk kaca jendela kamarnya di balik tirai, tetapi Maria takut ia akan melihat hal yang menyeramkan.
Ia menyalakan semua lampu kamar, lalu meloncat ke ranjang dan berlindung di balik selimut.
__ADS_1
"Bapa kami yang ada di surga," bisiknya pelan, gemetar. "Dimuliakanlah nama-Mu."
Datanglah kerajaan-Mu, sebuah suara ikut berdoa bersamanya. Suara yang berasal dari luar jendela, nadanya mencemooh. Aroma mawar dan darah merebak di kamar. Jadilah kehendak-Mu, suara itu melanjutkan sambil terkikik, di atas bumi seperti di dalam ...? Dalam surgaa ...
Maria menutup mulut dengan kedua tangannya dari balik selimut, menahan pekik ngeri. Ia tidak bisa mengingat apa lanjutan doanya.
Bebaskanlah kami dari yang jahat, pikir Maria sambil memejamkan mata rapat-rapat, meraba doa dalam batinnya yang gelap. Bebaskanlah kami dari yang jahat!
***
Jose menatap Xavier. Kondisinya mengerikan. Pria itu pucat pasi. Dua ujung jarinya hilang seruas.
Atas perintahnya, Xavier sudah dipindahkan ke salah satu kamar tamu yang hangat dan diberi makanan serta minuman. Pria itu kelihatan takut, tetapi matanya masih bersinar keras kepala. Semangat belum padam dari sana.
Jose duduk di kursi kayu di sisi ranjang. Mereka hanya berdua dalam kamar itu, tetapi Hans dan Finnian berjaga di balik pintu di luar. "Aku minta maaf atas perlakuan kakakku," ucapnya pelan, dingin. "Dia memang sedikit posesif dan temperamennya buruk. Kalau dilihatnya ada orang asing mengacak-acak rumah, dia akan langsung mengamuk."
Xavier membersit hidung dengan sapu tangan, tidak menanggapi sindiran yang terakhir. Bagian bawah matanya merah bengkak karena menahan sakit. Ia berada di bawah pengaruh obat bius untuk mengurangi sakit, tapi masih bisa diajak berkomunikasi. "Kau berhasil menjemput Marquis?"
Jose mengangguk. "Paman bercerita bahwa kau memang mencoba membebaskannya ketika dia di penjara, aku berterima kasih untuk itu. Tapi sejujurnya aku masih bingung dengan sikapmu. Kau agak ... plinplan, ya? Apa yang kau inginkan, Xavier? Kau ingin lari, tapi juga ngotot bertahan di lumpur yang sama."
"Seseorang harus menghentikannya," sahut Xavier muram. "Tapi aku tidak bisa."
"Menghentikan siapa?" Jose bertanya hati-hati. "Sepupumu? Baron Spencer? Duke Ashington? Sir William?"
Setiap kali satu nama diucapkan, bibir Xavier membuka lebih lebar. Kening lelaki itu berkerut dalam. "Kau tahu?" bisiknya.
Jose mengangguk. Ia membuka kancing kedua teratas kemejanya dan menarik rantai talisman dari balik pakaian. "Ini yang kau cari, kan?"
Xavier tercengang, kemudian tawanya meledak, panjang dan geli. Lama kelamaan tawa itu makin terdengar menyedihkan dan ia tersedu. "Kembalikan itu padanya Argent," katanya, mendadak serius. "Kau tidak akan bisa melawannya."
"Siapa bilang?"
Xavier memandangi jari-jarinya yang buntung dan sudah dibebat perban. Ia mengusap titik basah di ujung mata dengan jemari lain yang masih utuh. "Kau pernah melihat iblis?" tanyanya parau.
Jose memikirkan golem dan raksasa jamur yang pernah dilihatnya, lalu menggeleng. Mereka bukan iblis.
"Yah, aku pernah, Argent." Xavier tersenyum lemah. "Yang mengikutiku bukan golem dengan bentuk tak beraturan yang selalu menjerit-jerit menyebutkan namamu. Aku melihat makhluk yang lebih meneror. Makhluk yang setiap kali ia membuka mulut, ratusan kepala gundul keluar dari sana dan menghakimi dosa-dosaku. Aku melihat bayangan mengerikan. Dan itu ... " Ia bergidik. "Itu bukan sesuatu yang bisa kau lawan Argent."
__ADS_1
Jose menggeleng tegas. "Aku tidak akan melawannya. Aku akan memusnahkannya."
***