
Jose ingat umurnya masih sebelas tahun saat pertama kali dibawa ke desa perdikan milik Argent. Tanpa memberinya penjelasan apa pun, Marco memberinya satu tongkat kayu dan bantal perisai, lalu menyuruhnya bermain matrak dengan anak-anak kampung penggembala nangui dan kambing.
Itu pertama kalinya ia pergi ke perdikan dan mengenal wilayah di luar Bjork, pertama kalinya ia bermain matrak, dan pertama kalinya ia dihajar sampai babak belur.
Entah kenapa kenangan itu yang muncul di benak Jose saat ini, ketika ia menebas leher busuk makhluk yang menerjang ke arahnya. Ia masih ingat bagaimana bilur-bilur di tubuhnya berubah warna setiap hari. Dari biru tua menjadi ungu tua, kemudian memarnya membengkak merah dan lalu mengempis. Ketika semua memarnya berubah warna jadi kuning, Marco membawanya kembali ke tengah kampung dan melemparnya ke tempat yang sama, menyuruhnya kembali bermain matrak.
Saat itulah baru Jose sadar bahwa yang ia lakukan bukan permainan. Ia sedang dinilai. Menang atau kalah bukan hal yang penting, yang penting adalah bagaimana ia bisa tetap bersikap sebagaimana seorang tuan di hadapan semua orang. Kalem, tidak terbawa emosi, tidak gentar, tidak merengek.
Yang sedang ia hadapi saat ini bukan anak-anak kampung jorok kutuan yang mencemooh gaya bicaranya atau pakaiannya yang rapi, melainkan mayat hidup yang setengah tubuhnya sudah busuk tetapi tetap bisa bergerak. Namun Jose merasakan sensasi yang sama seperti dua belas tahun lalu saat bermain matrak untuk kedua kalinya, ia merasa bisa menang.
Tidak seperti saat pertama melihat wujud Gladys, Jose saat ini merasa dirinya begitu tenang dan bisa berpikir lebih jernih. Mungkin, pikirnya sambil menjejakkan sepatu bootnya ke punggung mayat hidup itu, yang masih meronta dan mengeluarkan suara kertak seperti tulang beradu. Mungkin karena aku sudah melihat hal yang jauh lebih menyeramkan.
Lagi, dengung psikis itu menguat di kepalanya hingga terasa menyakitkan. Jose mengerutkan kening. Penglihatannya sekilas kabur, keseimbangannya goyah. Ketika ia mengerjap dan semua hal jadi lebih jelas, Jose mendengar suara Maria meneriakkan namanya.
Ia mengerti alasannya ketika melihat kakinya kini hanya menjejak rumput basah.
Mayat hidup itu sudah merayap lolos, kini merangsek sekuat tenaga ke arah Maria.
***
“Jose hilang?” Marco mengerutkan kening ketika menerima laporan Rolan. George, yang memberi kabar, masih menunggu perintah selanjutnya dari belakang pintu perpustakaan yang tertutup rapat.
“Pasti ke rumah Garnet,” gerutu Rolan. “Kenapa dia tidak bisa tenang dalam situasi begini, sih?”
Marco mendesah. “Kalau dia bisa tenang, namanya pasti bukan Jose. Suruh Gerald dan Hans pergi ke Selatan.”
“Bukan ke rumah Garnet?”
__ADS_1
“Dia pasti ke hutan itu.” Marco mengurut pangkal hidungnya, mengusir pening. “Seperti ngengat yang terbang ke api, Jose juga selalu datang langsung ke tempat-tempat yang bahaya.”
“Wah, benar-benar persis dengan seseorang yang kukenal!” sindir Rolan dengan suara sepelan mungkin supaya tidak terdengar baik oleh Tuan Stuart maupun Dave yang masih ada di ruangan itu. “Aku kenal orang yang keras kepala hilir mudik ke sana kemari padahal sudah kuminta diam di kamar demi kesehatannya sendiri.”
“Misteri ini tidak akan terpecahkan dengan sendirinya, kan?” sahut Marco tenang. “Dan aku termasuk pihak yang terlibat.”
“Tumbal yang terlibat,” gumam Rolan sambil menegakkan tubuh dan keluar ruangan untuk meneruskan perintah tadi pada George.
Marco mengembalikan pandangan pada Dave. “Bagaimana kondisimu sekarang?”
“Sudah jauh lebih baik, my lord.”
“Dan lehermu?” Marco bertanya tepat ketika Rolan kembali. “Dokter Rolan bilang ada bekas luka di lehermu. Bekas luka yang … mencurigakan. Benar, Dokter?”
Rolan mengangguk, kembali ke tempatnya semula di seberang Dave. Kemudian ia mulai menceritakan secara singkat mengenai penemuan beberapa mayat kering serta jejak yang ditemukan pada Gladys, pelayan Sir William yang berubah menjadi mayat hidup dan menyerang Jose.
"Ada satu jejak yang sama dengan beberapa mayat kering yang kami temukan," terangnya." Dan jejak itu ada di leher Anda.” Ia tersenyum simpul melihat Dave dengan panik menyentuh dan meraba lehernya sendiri, mencari jejak yang dimaksud. “Jejak itu seperti luka tak berarti, tapi saya curiga itu ada hubungannya dengan mayat-mayat kering yang berdatangan serta apa yang terjadi dengan Gladys. Saya curiga itu ada hubungannya dengan Sir William. Apa yang sebenarnya terjadi pada orang-orang itu, Anda mungkin tahu jawabannya. Bagaimanapun juga, Anda punya jejak yang sama."
"Anda curiga aku adalah mayat hidup?"
Rolan menggeleng. "Anda tamu di sini. Mana berani saya mencurigai Anda," katanya. "Saya tahu mungkin akan sulit bagi Anda, tetapi saya minta Anda mencoba mengingat kembali apa yang terjadi ketika Sir William datang mengunjungi Anda. Apa yang dilakukannya? Dia menyentuh Anda? Dia menggigit Anda?"
"Dia tidak menggigit—“
"Ya?" Rolan menelengkan kepala ketika Dave berhenti. Wajah lelaki itu mengerut, seperti sedang mengingat. "Dia tidak menggigit, tapi dia pasti melakukan sesuatu? Ancaman apa yang dilontarkannya? Apa yang ia katakan?"
Tuan Stuart berdehem pelan, mengingatkan Rolan bahwa mereka bukan sedang menginterogasi Dave. "Apa pun yang Anda ingat," katanya, mengambil alih dengan suara lembut, "akan sangat membantu kita. Mayat hidup yang ditemui Master Jose adalah makhluk yang tidak punya akal maupun pikiran, benar-benar manusia yang sudah mati tapi bisa bergerak. Anda masih hidup, jantung Anda masih berdetak, Dokter Rolan yang paling tahu soal itu karena dialah yang merawat Anda. Tidak ada yang mencurigai Anda sebagai mayat hidup di sini."
__ADS_1
Dave mengangguk pelan, kelihatan lebih lega. "Bagian ancaman itu ... saya rasa saya tidak perlu menceritakannya. Isinya hanya ucapan keji yang tak pantas. Tapi saya ingat satu hal ..." Ia kembali mengusap kembali lehernya. "Waktu itu dia mengulurkan tangannya pada saya ... saya lupa apakah tangan kiri atau tangan kanannya, tapi mungkin ... entahlah, mungkin itu yang membuat luka ini? Saya merasa ada rasa sakit tajam, tetapi saya tidak menganggap itu hal yang berarti."
Dave bicara lambat-lambat dan kadang berhenti begitu lama, masih sukar baginya untuk mengungkapkan apa yang ia anggap sebagai aib. "Maksud saya, waktu itu saya dalam keadaan memalukan, bersimpuh di depannya ..." Ia membersit hidung. "Dan seluruh tubuh saya terasa lumpuh, jadi saya juga tidak yakin benar dari mana sakit itu datang, apakah memang secara fisik ada atau ... atau hanya di pikiran. Yah, begitulah .... Lalu dia bilang ... saya sebaiknya ... eh, dia menyuruh saya ke hutan ... yah, saya rasa mungkin karena itu juga saya kepikiran ke sana, selain karena bunga itu. Karena terpengaruh dia, mungkin. Katanya, saya harus coba menyeberangi sungai ... saya tidak tahu apa maksudnya, saya juga lupa sisa perkataannya, lalu dia menarik tangannya sendiri dan hilang. Benar-benar hilang."
Marco mengerutkan kening. "Dia justru menyuruhmu ke hutan sakral itu?"
"Dan bukankah mayat itu juga ada di hutan Bjork?" Tuan Stuart mengingatkan.
Rolan mengusap dagunya sendiri. "Dia ingin ke sana," katanya pelan. "Tapi dia tidak bisa ke sana, karena itu tempat sakral. Makanya dia membuat budak tak hidup, mengendalikannya. Mungkin sama seperti Scholomance membuat golem dengan suatu misi, Sir William juga membuat mayat hidup dengan suatu misi. Dia pergi sebelum berhasil menyelesaikan tujuannya—apa pun yang ingin dia lakukan itu pada Anda milord, makanya Anda tidak terlalu terpengaruh, dan ketika akhirnya benar-benar terpengaruh untuk pergi ke hutan itu, tidak ada yang Anda lakukan selain mondar-mandir di sana karena misi yang diberikan memang belum lengkap."
"Tapi aku ke sana berdasar kemauanku sendiri," Dave membantah, mulai bingung.
"Mungkin Anda merasa bahwa itu keinginan Anda?" balas Rolan. "Mungkin Anda hanya tidak sadar bahwa pikiran Anda sudah dipengaruhi?"
Marco mengangguk setuju. "Aku ingat bahwa kebanyakan mayat kering itu ditemukan di sungai. Tapi mayat kering, bukan mayat hidup."
"Mungkin mereka makhluk-makhluk percobaan?" Rolan mengajukan dugaan lain. "Mungkin dia bereksperimen mana yang akan bisa menyeberang ..."
"Yah, itu akan menjelaskan kenapa mayat yang ketiga hilang." Marco menatap Rolan lekat-lekat. Matanya bersinar ceria, seperti menemukan kepingan puzzle terakhir. "Kau ingat ada mayat kering yang hilang, kan?"
"Yang berambut pirang." Rolan mengangguk pelan. "Yang kondisinya tidak sekering yang lain. Eh, itu berarti kemungkinannya dia juga ada di hutan Bjork?"
Marco mengusap wajah dan mengesah kesal, mengerti apa yang menjadi pokok perhatian Rolan. "Suruh lebih banyak lagi pekerja menyusul Jose. Bawa minyak dan pemantik. Jangan nyalakan sejak dari rumah, kita tidak mau membuat Bjork lebih resah dari sekarang."
***
Perdikan: wilayah/desa/tanah feodal.
__ADS_1
Matrak: permainan tarung dengan satu pedang/tongkat dan satu perisai. Berasal dari Turki.
Nangui: b a b i. Mau nulis b a b i teenyata disensor sama MT jadi **** , jadi pake nangui. 😂