
Perempuan di depannya jelas bukan Maria. Jose baru sadar. Maria mengenakan gaun berwarna pastel dengan hiasan bustle di bagian pinggul dan rambutnya yang cokelat madu diikat dengan jalinan kepang gaya Perancis; sementara perempuan di depannya saat ini, yang masih berdiri diam menatapnya, mengenakan gaun gaya lama yang mengembang dan berimpel di sana-sini, dengan leher rendah yang memamerkan belahan dada. Rambut ikalnya terurai menutupi bahu putihnya yang terbuka.
Jose masih tercekat. Jarinya masih menekan medalion yang terasa panas. Ia ingat foto yang ada dalam medalion tersebut. Ia ingat inisial yang terukir di sana. Jose merasa gelombang rasa ngeri sekaligus kelegaan melandanya. Ia merasa seperti bertemu kawan lama yang sudah lama terpisah. "A-Arabella?"
Perempuan di depannya membuka kipas di tangan dan menyembunyikan senyum di baliknya, tetapi mata biru itu masih menatap Jose lekat.
"Kita tidak seakrab itu sampai kau bisa memanggil namaku," suaranya begitu manis seperti gemerincing lonceng. "Aku tidak mengenalmu."
Jose meminta maaf dengan tulus, tapi tidak memperkenalkan diri. Ada suara dalam kepalanya yang menjerit-jerit melarangnya menyebutkan nama. Nama adalah identitas diri, semacam gerbang pertama individu tersebut. Kalau ia memberi tahu namanya pada orang yang harusnya sudah tidak ada di dunia ini, apa yang akan terjadi? Jose memejamkan matanya agak lama, menghitung sampai lima, kemudian membuka mata dengan harapan perempuan cantik di depannya akan hilang. Ia berharap perempuan itu hanya ilusi.
Namun ketika membuka matanya, Jose masih melihat Arabella. Gadis itu menatapnya dengan wajah penuh ketertarikan. "Kau sedang apa sih barusan? Pusing?"
Jose tidak tahu apa yang harus ia katakan. Sosok di depannya terlihat begitu natural, benar-benar seperti manusia. Jose tidak tahu apakah saat ini ia memang dalam ilusi atau Arabella sama seperti Sir William yang tidak bisa menua.
"Aku harus kembali," Jose mengatakannya dalam bisikan pelan. Namun kakinya tidak mau beranjak. Ia merasa tidak ingin berpisah dengan gadis itu. Perasaan yang aneh dan membuatnya bingung. Namun Jose mencengkeram tangannya sendiri sekuat tenaga sampai buku-buku jarinya memutih dan kukunya menancap di telapak tangan. Rasanya sakit, tapi itu membuatnya tetap sadar. Perasaan tidak ingin berpisah ini, rasa rindu yang demikian hebat ini, kemungkinan bukan perasaannya melainkan perasaan dari kalung yang sekarang ia kenakan.
"Kembali ke mana?" Arabella menurunkan kipasnya, sudah setengah berbalik menuju ke cabang koridor. "Ke pesta?"
Jose mengangguk kaku.
__ADS_1
Gadis di depannya tertawa lagi dalam suara yang menyerupai gemerincing lonceng. Lengan putihnya terentang ke arah kamar master. "Pestanya di sini, kan? Lihat, semua orang sudah menunggu!"
Menunggu siapa? Jose ingin menanyakan itu, tapi lidahnya kelu.
Arabella berputar memunggunginya, tetapi perempuan itu menoleh kembali pada Jose dan menggerakkan kepalanya dalam gestur mengundang.
Samar-samar terdengar suara lantunan lagu dan gelak tawa ringan, seolah pestanya berada tepat di samping mereka dan hanya terhalang dinding.
Tanpa benar-benar menyadari apa yang terjadi, Jose melangkah mengikuti perempuan itu menuju ke arah kamar master.
***
Mereka sudah menemukan beberapa lantai yang bisa turun kalau diinjak dengan seluruh berat tubuh. Marco memperkirakan pasti ada mekanisme tertentu dalam kastil ini yang bisa menakar berat seseorang. Duke Ashington memang eksentrik, tapi dia bukan orang yang iseng. Segala hal pasti ada tujuannya.
Marco menoleh. Ia terlalu asyik berpikir sampai lupa bahwa ia tidak sendirian di tempat itu. "Cuma melihat bagaimana lantainya dari atas," katanya. "Aku masih ingat letak lantai-lantai mana yang turun tadi. Mungkin kalau dilihat dari atas, aku bisa mendapat sesuatu."
"Jangan!" Nolan berlari mendekat. Kakinya menginjak ujung mantel dan ia tersandung jatuh dengan bunyi sangat keras.
Marco menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran, tapi tidak segera menolong. Ia mengangkat lampu minyaknya tinggi-tinggi, mengamati tempat-tempat di mana lantainya bisa turun, dan menghabiskan waktu satu menit untuk memikirkan apa maknanya sebelum akhirnya mendapat beberapa dugaan. Ia akan segera mencobanya dan mencari tahu mana yang benar.
__ADS_1
Nolan masih berbaring tengkurap di lantai, menahan malu. Marco tidak punya pilihan lain, jadi ia turun menghampiri gadis itu dan dengan sabar membantunya bangun.
Mata Nolan basah dan hidungnya merah. Gadis itu mengusap wajah dengan punggung tangan, tapi air matanya justru bergulir makin deras. "Katamu tadi, kau tidak akan pergi," katanya, masih dengan suara parau. "Jangan naik ke atas."
"Aku cuma pergi ke tangga, bukan mau meninggalkanmu," sahut Marco dingin, masih tidak senang dengan cara Nolan bicara padanya. "Tidak perlu bertingkah terlalu dramatis."
Nolan menggeleng, jengkel sendiri karena tidak bisa mengendalikan air matanya. Ia tidak suka terlihat cengeng, tapi seluruh tubuhnya menggigil ketakutan saat ini. Rasa takut yang menjalar dari ujung rambut sampai ujung kaki, membuatnya tidak sanggup bangkit lagi setelah tersandung jatuh tadi. Ia heran kenapa Marco tetap bersikap santai. Apa pria itu tidak merasakannya? Rasa ngeri ini.
"Aku mencium baunya," Nolan akhirnya berhasil berbisik gemetar. Tangannya mencengkeram lengan kemeja Marco, bertekad tidak mengizinkan pria itu pergi lagi tanpanya. Mata birunya menatap lurus-lurus ke manik mata hitam Marco. "Ini bau yang sama dengan hantu itu ..."
Bulu kuduk Marco meremang mendengarnya. Ia tidak mencium aroma apa pun, tetapi dalam situasi seperti ini tidak mungkin ia mengabaikan petunjuk sekecil apa pun. Ia menatap ke sekeliling ruangan. Tempat ini berbentuk lingkaran dan benar-benar kosong. Hanya ada lantai pualam dan dinding batu yang melingkar mengelilingi mereka. Tidak ada perabot atau benda yang bisa mereka gunakan sebagai senjata atau tempat sembunyi.
"Dari mana baunya?"
Nolan memaksa dirinya bicara. "Dari atas," katanya dengan gigi bergemeletuk hingga suaranya tidak terlalu jelas. Lengannya yang terbungkus mantel terangkat naik, menunjuk ke arah pintu rahasia tempat mereka datang. "Dafi ... maksudku dari arah sana ..."
Marco mengangguk pelan, mengerti kenapa barusan gadis itu begitu panik melihatnya naik tangga. Ia merangkul bahu Nolan, kemudian menggeret gadis itu ke tempat kosong di bawah tangga batu. Hanya di sana satu-satunya tempat mereka bisa berlindung. Marco mengecilkan api lampunya sampai cahaya meredup, kemudian melepas waistcoat yang ia kenakan dan menggunakannya untuk melilit lampu, menutupi nyalanya hingga di sekitar mereka hanya ada kegelapan.
Selama beberapa lama, mereka hanya berjongkok diam di bawah tangga dan mendengarkan. Marco mengeluarkan pisau lipatnya dengan hati-hati. Ia tidak akan menggunakan revolvernya di sini. Terlalu bahaya. Kalau ia hanya sendirian, semua hal akan lebih gampang. Namun ia tidak mau ambil risiko menembak Nolan yang gerakannya terkadang tidak bisa ia prediksi.
__ADS_1
Nolan ada di sampingnya, duduk memeluk lutut dan menekankan bibir ke sana agar napasnya yang gemetaran tidak terdengar. Dalam kepala gadis itu masih jelas terbayang wajah peyot dengan mata kopong yang kulitnya seperti jenang mendidih. Seluruh tubuhnya gemetaran. Tapi ia tidak mau dilindungi. Kali ini ia bertekad untuk jadi berguna.
***