BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 24


__ADS_3

Marco sepertinya menangkap hal tersebut karena dengan cepat segera membalas, “Tidak semua orang sanggup menerima kejujuran.”


Jose memilih diam. Ia beralih kembali pada Nolan, “Untuk apa mencariku?”


“Oh. Aku menemukan ini di dekat rumah dan bermaksud mengembalikannya.” Nolan memasukkan tangannya ke dalam saku, merogoh-rogoh ke dalam kantong celana. “Pasti punyamu karena aku melihatnya di jalan waktu pulang dari mengantarmu tadi.”


“Kau sengaja datang malam-malam untuk mengembalikannya? Kenapa tidak datang besok pagi?” tanya Jose heran. “Malam hari sangat bahaya!”


“Kalau kusimpan di rumah, mungkin saja nanti hilang. Ini kelihatan seperti benda berharga.” Nolan melirik pada Marco dengan tatapan mencela ketika berkata, “Dan aku menghindari kemungkinan dituduh sebagai pencuri. Kami mungkin kelihatan kotor, tapi tidak akan menyimpan barang yang bukan hak kami.”


Nolan mengulurkan telapak tangannya ke arah Jose dan membukanya, menampakkan seuntai liontin keemasan. Jose mengerutkan kening dengan heran, tidak pernah merasa meninggalkan liontinnya. Sebenarnya, ia malah tidak memiliki satu liontin pun. Namun untuk memastikan, Jose mendekat dan mengambilnya. Matanya mencermati dengan lekat mata liontin itu.


Bentuknya bulat sempurna, bisa disembunyikan dalam genggaman tangannya. Liontin itu berpintu dua dengan sisi yang saling menangkup. Ada kait serupa engsel di bagian ujung rantai kalung. Bagian belakang dan depan bandul dilingkari dengan ukiran halus berpola dedaunan yang menjalin bagai rantai. Dedaunan itu melingkari sebuah lambang yang aneh, simbol yang tidak diketahui Jose.


“Ini bukan milikku,” ucap Jose heran.


“Eh? Tapi ... ada huruf A di situ, itu bukannya milik Argent?” tanya Nolan heran, kini wajahnya ikut resah. “Aku menemukannya di jalan, tidak mungkin milik tetanggaku. Kalau bukan punyamu, lalu punya siapa?”


Lambang keluarga kami tidak ditulis dengan huruf A,” Marco menyahut lembut. “Keluarga kami memiliki lambang dua pedang yang bersilang.”


“Lalu, itu punya siapa?” Nolan bertanya lagi.

__ADS_1


“Entahlah, tapi aku tidak punya kalung liontin.” Jose merasa ikut sedih melihat Nolan kecewa. Anak itu bahkan sampai dipukul karena ingin menyerahkan benda yang dianggap sebagai milik Jose. “Maafkan aku, sepertinya ini milik orang lain. Padahal kau sudah susah payah mengantarkannya ke sini,” kalimat terakhir dikatakan Jose sambil melirik tajam pada pamannya.


Marco balas menatapnya dengan pandangan lurus, kemudian mengulurkan tangan pada Jose. “Kemarikan kalungnya, aku ingin melihat itu.”


Jose memberikan dengan sopan. Sejengkel apa pun ia pada Marco, tetap saja tidak mungkin ia melemparkan benda itu ke wajah pamannya.


Marco mengamati bandul kalung dengan heran, jarinya menelusuri ukiran yang timbul dalam gurat emas. Ia merasa mengenal kalung itu. “Apa aku boleh menyimpannya?” tanyanya pada Nolan.


“Untuk apa? Itu punyamu?” balas anak itu galak.


“Bukan, tapi aku akan mencari siapa pemilik kalung ini. Dan benda ini akan lebih aman dan cepat sampai kalau berada di tanganku.”


Itu kedengaran masuk akal. Lagi pula Nolan sudah capek bolak-balik menyeberangi perbatasan Bjork. Ia juga tidak mau membahayakan nyawanya lebih jauh cuma demi sebuah kalung. Maka Nolan mengangguk pelan.


Alasan itu diterima oleh Edgar, tetapi tidak dengan Jose. Ia bisa saja mendebat pamannya seharian dan mengulik-ulik kesalahan itu sepanjang malam, kalau saja tidak ada bahasan lain yang lebih penting dan harus mereka diskusikan.


George datang bersama dengan makan malam yang panas untuk Nolan. Selagi anak itu melahap segala makanannya tanpa malu-malu, George menceritakan pada para majikannya tentang apa yang terjadi pada kedua dayang Nyonya Argent.


“Mereka sepertinya mengalami trauma,” kata kepala pelayan mereka dengan suara berat yang anggun. “Dokter Rolan sedang dalam perjalanan ke sini, beliau bilang setengah jam lagi pasti akan sampai di sini.”


“Dia seharusnya kita suruh tinggal di sini saja,” Edgar mengusulkan.

__ADS_1


“Aku setuju, rasanya merepotkan kalau dia harus mondar-mandir seperti itu. Kamar di sayap timur masih banyak yang kosong,” Renata menambahkan.


Pembicaraan soal kamar mengingatkan Jose tentang apa yang baru saja ia lihat, menyebabkannya bergidik lagi.


“Kami memberi mereka berdua minyak dan juga anggur supaya mereka jadi hangat," George masih bicara. "Keduanya menggigil terus meski tetap tidak bisa diajak berkomunikasi. Sepertinya mereka habis melihat sesuatu yang sangat mengejutkan.”


Punggung Jose meremang. Ia tahu bahwa orang-orang dalam ruangan itu juga merasakan hal yang sama. Mereka pasti merasa ngeri.


Marco meminta George memanggil Gerald. Pria besar bercambang hitam itu datang tergopoh-gopoh. Malam ini dingin luar biasa, tetapi kulit Gerald yang kecokelatan bercahaya karena keringat. Jose tidak bisa menentukan apakah itu keringat karena gerah atau keringat dingin.


“Kami sudah menyisir rumah, Tuan, tetapi tidak ada yang mencurigakan. Para pekerja sekarang ada di tempat-tempat yang lain, maksud saya seperti loteng, tempat penyimpanan makanan, gudang anggur, serta ruangan-ruangan pelayan.”


“Baiklah, lanjutkan. Setelah selesai, kau atur para pekerja untuk berjaga dan berpatroli di dalam rumah.”


“Di dalam, Tuan?” Gerald mengulang perintah Marco. Tangannya yang berbulu tergantung heran di sisi tubuh. “Bukan di luar?”


“Kau dengar kataku, Gerald. Di dalam rumah.” Marco menukas, mempertimbangkan keamanan mana yang lebih penting. “Bagi jadi dua atau tiga kelompok, lalu kalian berjaga."


“Itu untuk menjaga kalian dari apa?” celetuk Nolan di antara kunyahan roti.


“Diamlah, Nolan,” Jose mulai tidak sabar pada kelakuan gadis itu.

__ADS_1


“Tidak, katakanlah, kalian sepertinya panik sekali. Apa ini soal hantu itu?”


Semua orang menatap Nolan dengan tajam, membuat gadis itu tertawa dalam kekehan kecil. “Kalau ini soal pencuri, kalian pasti tidak akan berwajah sangat tegang, kan? Waktu aku diikat di bawah sana, para pekerjanya bicara soal hantu yang mengendus dan juga pengurus kuda yang mati. Jadi itu yang membuat kalian semua panik semalam ini?”


__ADS_2