
O, ALFA DAN OMEGA
Mereka memasuki lingkaran pertama. Jose mendengarkan baik-baik suara tapak kaki di belakangnya. Stabil. Tidak ada keraguan. Sir William tidak curiga. Mereka menyusuri lorong lebar yang menuju pada bukaan tanah kosong di samping kantor pajak, di depan sungai.
"Aku tidak mau menyeberang." Suara langkah di belakangnya berhenti.
Kau tidak bisa, bukan tidak mau, komentar Jose dalam hati. Ia memutar sedikit tubuhnya ketika bicara, "Kita tidak menyeberang. Cuma berdiri di depan sungai."
Sir William kembali mengikutinya. Jose cepat-cepat berbalik lagi supaya tidak kelepasan memperlihatkan wajah lega.
Angin menyapu dingin begitu mereka menyusuri jalan tanah di samping kantor pajak. Dari kejauhan hanya terlihat samar lampu-lampu temaram dari kumpulan rumah sempit di Selatan. Karavan sudah dipindah dari lapangan rumput. Jose bersyukur Rolan sudah bergerak cepat.
"Apa kau pernah menyentuh Maria?" Jose tahu ia harusnya diam, tapi pertanyaan itu meloncat tanpa sempat difilter.
Sir William terkekeh. "Itu yang kau cemaskan?"
"Ya," sahut Jose. Ia bisa mendengar nada suaranya naik. Ketenangannya buyar. "Apa pun yang membuat Maria tidak tenang juga menggangguku."
"Kenapa tidak tenang? Dia kelihatan menikmatinya."
Jose berhenti dan memutar penuh kakinya ke belakang. Ditatapnya pria itu dengan saksama. Sir William balas menatapnya dalam tantangan yang sama, senyum mengejek tergores di bibir itu.
"Itu tadi pengakuan, Sir?" tanya Jose.
"Anggap saja begitu. Apa bedanya?"
"Tentu saja ada bedanya. Aku akan tahu seberapa jauh kau menyayangi Arabella. Itu akan membuatku tahu apakah kau akan tetap diam dalam ritual nanti," Jose mengarang asal-asalan. Pelipisnya berdenyut karena amarah yang mengamuk dalam dirinya. Ia tidak akan terlalu peduli kalau masalahnya sesepele Maria pernah bercinta dengan pria lain sebelumnya. Namun yang terjadi adalah hal yang beda, Maria mengaku dilecehkan. Jose tidak bisa memaafkan pelakunya. "Aku tidak mau bertaruh nyawa sia-sia."
Pria itu maju selangkah demi selangkah dengan kemarahan yang makin lama makin jelas. Mata birunya menyorot dingin. "Jangan banyak omong," bisiknya. "Aku bisa membunuhmu di sini sekarang juga, Argent."
"Lakukan saja, kau akan menyia-nyiakan kesempatan bertemu Arabella lebih cepat dan mudah."
Timbangan sudah setara. Jose tahu ia berhasil membuat posisi mereka ada dalam level tawar-menawar yang sama. Tidak ada yang lebih kuat hingga bisa mengintimidasi yang lain. Kelihatannya Sir William juga tahu posisinya, pria itu menarik diri dan berjengit.
"Aku tidak menyentuh Maria secara fisik," dia mengakui. Iris birunya berubah lebih gelap. "Selama dia belum menjadi Bella, aku tidak mungkin menyentuhnya."
Tidak secara fisik? Jadi memang hanya ilusi? Jose tidak meneruskan. Sebelum kehilangan lebih banyak lagi waktu, ia kembali berjalan menuju lingkaran berikutnya, lingkaran transparan yang tak terlihat oleh Sir William. Lingkaran air suci yang menggabungkan dua Bjork jadi satu dengan sungai sakral di tengahnya.
TETRAGRAMMATON
Sir William berhenti lagi. "Kau tadi butuh apa? Kalung dan iblisku?"
Jose mengangguk tanpa menoleh. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Sir William bisa mendengarnya. Mereka sudah berada pada lingkaran inti. Ia harus hati-hati. "Aku akan menggunakan kekuatan iblismu untuk menarik Arabella dari tempat penantian."
"Memangnya bisa menggunakan kekuatan setan?"
"Energi bersifat netral, Sir. Tidak ada yang baik dan tidak ada yang jahat selama tidak bermanifestasi dalam bentuk yang memiliki ego." Jose sampai di pinggir sungai. Suara gemericik arus memenuhi malam. Ia menoleh untuk menatap langsung pada mata biru yang menantinya. "Tidak ada bedanya meski aku menggunakan kekuatan iblis atau malaikat, yang kubutuhkan cuma energinya."
"Lalu untuk apa orang-orang banyak di sekitar kita ini?" Sir William bertanya geli.
Ketahuan? Jose menelan ludah, bisa merasakan kegelisahan orang-orangnya yang menunggu dalam gelap di Selatan. "Mereka jaminanku," katanya perlahan, mencoba agar tidak kedengaran waswas. "Kalau kau tidak segera pergi dari kota ini setelah Arabella kembali, mereka akan memastikan tidak ada yang mendapatkan apa pun dari perjanjian kita. Kau harus ingat, meski aku bisa mengembalikannya, Arabella cuma manusia biasa."
__ADS_1
Hawa dingin bertiup kencang dari arah utara menerpa mereka. Pucuk-pucuk daun di hutan bersentuhan, menimbulkan suara berbisik mengerikan.
"Kau mengancamku, Argent?" suara Sir William terdengar seperti berasal dari kerak neraka.
"Aku hanya mengingatkan. Bagaimanapun juga aku tidak akan ada di sini nanti untuk menagih janji. Harus ada orang lain yang melakukannya untukku. Tawaranku adalah memberimu Arabella asal kau mau pergi dan tidak menyentuh kota ini lagi, atau bahkan negara ini. Terima atau tidak?"
Sir William mengangguk.
"Berdirilah di sini, di sampingku." Jose menunjuk beberapa langkah di sisinya, tepat di tepian sungai. Ujung jarinya sedikit gemetar, jadi ia segera mengepalkannya lagi. Malam begitu dingin dan gelap, tapi bintang-bintang dan bulan memberi penerangan cukup. Ia bisa melihat wajah Sir William dengan jelas, melihat cahaya harapan di matanya, melihat rambut pirangnya yang berkilau keemasan ditimpa sinar bulan.
"Kalungmu?" Jose mengulurkan tangan. Mimik mukanya lempeng.
"Kenapa kau membutuhkan kalung yang kau tembak?"
Dia masih marah, pikir Jose. "Itu bukan kalung biasa. Itu adalah cincin raja Salomo. Kau mengencerkannya dengan emas lain dan membuatnya jadi kalung, tapi meski benda itu dihancurkan, esensinya tidak berubah. Kalung itu tetap piranti yang tepat untuk perantara evokasi. Aku menembaknya cuma untuk mengalihkan perhatianmu," tuturnya dengan nada meminta-maaf. Meski begitu, Jose tidak akan mengucapkan kata maaf. Ia sama sekali tidak menyesal.
Sir William memejamkan mata dan menarik napas. Partikel kehitaman yang seperti serpihan abu melesap keluar dari tubuhnya, dari pori-porinya. Kemudian partikel itu berkumpul dalam gumpalan-gumpalan awan hitam di belakang punggung Sir William. Aroma darah mengental di udara. Suhu anjlok jauh di bawah nol derajat.
Jose merinding hebat. Tengkuknya seperti dirambati lipan raksasa hingga ia perlu mengusap leher untuk memastikan tidak ada serangga di sana. Apa aku ketahuan? Dia akan menyerangku?
Aroma darah perlahan berbaur dengan aroma lemak gosong, seperti bau lilin padam. Bersamaan dengan munculnya bebauan tersebut, kegelapan pekat di belakang Sir William terbelah menjadi dua dalam satu garis tajam, kemudian dari celahnya muncul monster mengerikan yang pernah dilihat Jose sebelumnya. Namun bentuknya agak lain.
Makhluk itu berkepala empat sekarang, masing-masing kepala menghadap ke arah empat mata angin yang berbeda. Kepala kambing jantan bertanduk, kepala ular tua, kepala singa dan kepala kuda. Meski kepalanya binatang, tubuhnya seperti manusia. Bulu-bulu putih halus tumbuh menghiasi dada dan lengan makhluk tersebut.
Asmodeus? Jose membeliak melihat bentuk itu. Asmodeus adalah iblis yang mewakili satu dari tujuh dosa besar manusia, nafsu. Dialah iblis yang dalam buku Tobit diceritakan membunuh tujuh suami Sarah dan kemudian diusir oleh malaikat Rafael. Bentuknya digambarkan memiliki banyak kepala dalam beberapa naskah kuno.
Apa harusnya aku membakar hati ikan trout? Jose memutar otak, menyesal tidak mempersiapkan segala penangkal iblis dengan lebih baik. Tapi inilah buruknya rencana yang disusun mendadak, selalu ada celah.
Kepala iblis itu semuanya memakai mahkota emas. Liur yang mengalir dari celah mulut mereka berwarna hitam, tetesannya membentuk kepala-kepala manusia gundul yang tampak menyedihkan, menjeritkan ratapan kesakitan.
Gelombang energi memuakkan menekan Jose, memaksanya untuk memalingkan mata tapi di saat yang sama juga membuat tatapannya lengket ke arah iblis itu, ke arah ratusan suara kecil maupun besar yang mengecam dan meneriakkan semua dosanya.
Sir William menadahkan tangan ke arah iblisnya. Kepala ular meliuk turun dan membuka mulut, memuntahkan medalion emas ke telapaknya. Sir William membersihkan basah kehitaman di sana dengan lengan mantel lalu memberikan benda itu pada Jose, yang masih terpana menatap wujud sang iblis.
Wujud itu begitu purba, begitu primitif, menatap mata-mata kuning mencolok itu membuat Jose merasa jiwanya seperti ditarik keluar. Ia bahkan menahan napas sangat lama. Rasanya mereka pernah saling mengenal dulu. Sesuatu dalam diri makhluk itu terasa akrab baginya.
"Argent, aku tahu setan ini sangat cantik, tapi kita punya urusan lain yang harus diselesaikan, kan?" Sir William menjentikkan jari di depan wajah Jose.
Jose segera sadar. Ia mengalihkan mata dengan cepat dan menerima kalung emas dari tangan Sir William. Kalung Cincin Salomo. Kalung itu ada di tangannya sekarang. Ia melirik kembali pada sang iblis, yang setengah badan bagian dalamnya masih berada dalam gumpalan kabut partikel hitam. "Kau bisa memintanya keluar? Aku perlu melihat wujud utuhnya."
"Untuk apa?"
"Kalau dia masih menempel pada neraka, akan sulit meminjam energinya," Jose menjelaskan dari sela gigi.
Sir William kelihatan curiga, tapi sepertinya pria itu merasa tidak akan ada yang bisa melukainya meski kemungkinan terburuk muncul. Ia mengibas, membuat iblisnya keluar dari kepulan asap.
Ketika makhluk itu keluar, langkahnya dibarengi angin ribut dan pekik mengerikan dari tempatnya berasal. Jose menutup telinga dengan kedua tangan supaya tidak tuli. Rambutnya berantakan diacak angin. Gelombang demi gelombang kengerian menerpanya beberapa kali, membuatnya hampir jatuh berlutut.
Iblis itu berdiri dengan dua kaki kambing yang memiliki telapak macan. Tingginya hampir menyamai Sir William.
Jose menurunkan tangan perlahan. Napasnya memburu karena tegang. Ia mengarahkan kalung pada makhluk itu kemudian menarik napas untuk menenangkan diri. Bisikannya agak gemetar di awal, "Dalam nama Tuhan yang berkuasa atas awal dan akhir, surga dan bumi dan seisi dunia, aku memerintahkanmu untuk ...," Jose tercekik. Matanya menatap sekitar dengan cemas. Ia merasa udara seperti menipis. "Untuk bicara dalam bahasaku, untuk memberiku jawaban yang jujur, dan menjawab semua pertanyaan yang kuajukan: siapa namamu?"
__ADS_1
๐๐ผ๐โ๐ธ๐พโ๐ธ๐๐๐ธ๐๐โ
Bisikan itu bergema keras begitu Jose selesai bicara. Gema suara barusan memenuhi Bjork, meninggalkan kesan dingin di tengkuk. Sir William bahkan menoleh ke sana-kemari, mencari asal suara yang kedengaran menyerupai bisikan pohon.
๐น๐ผ๐๐๐ธ๐๐โ
Jose mengulaskan senyum simpul, mengerti bahwa gunung Bjork membantunya menerjemahkan doa tadi dan menyampaikannya pada si iblis yang kini menatap lekat padanya. Iblis itu akhirnya berhenti berliur atau mengeluarkan suara jerit kecaman.
โ๐ธ๐๐๐. โโ๐ธ!
Bersamaan dengan menghilangnya gema mantra terakhir, makhluk itu membuka keempat mulutnya lalu bicara bersamaan, "Kami adalah Shakranim, bentuk lain dari Shakran."
Bukan Asmodeus, Jose bersyukur ia tidak tergesa tadi. Menggunakan nama yang salah bisa berbahaya. Matanya melirik Sir William, mendapati pria itu membeliak kaget menatap iblisnya.
"Dia bisa bicara?!"
"Kau tidak pernah mengajaknya bicara?" balas Jose heran.
"Tentu saja aku mengajaknya bicara, tapi dia tidak pernah menjawab!"
"Kau tidak pernah memerintahkannya dalam nama Tuhan?" Jose menebak.
Sir William menatapnya lama dengan sorot mata orang terbuang, kemudian menggeleng. "Tidak pernah."
Begitu kalimat terakhir meluncur dari bibirnya, suara gemuruh keras menggelegar di langit dan seluruh tubuh Sir William seperti pecah jadi butiran hitan. Jose membeliak kaget. "Apa yangโ" Ia berhenti ketika menyadari bahwa Sir William tidak terburai pecah. Partikel hitam yang terlihat seperti pasir melesap keluar dari tubuhnya, bergerak ribut membubung ke atas langit.
"Apa yang terjadi?" Sir William menjerit kaget dalam gerumut partikel hitam. Ia mundur beberapa langkah. "Apa yang kau lakukan?!"
"Aku tidak melakukan apa pun!" seru Jose ngeri. Pasir hitam itu menakutkan, rasanya seperti melihat ratusan bola mata mikro. "Apa ini yang terjadi kalau iblismu keluar neraka?"
"Tentu saja tidak!" Sir William berseru marah dari tengah kerumunan bintik hitam yang mengelilinginya seperti lalat bangkai. Dia mengibas, mengumpat dan menyumpah. "Ini juga terjadi tadi!"
Jose terpaku di tempatnya. Bahkan keberadaan Shakranim pun tidak membuatnya terganggu sekarang dibandingkan kabut hitam yang mengamuk ini. Warna hitam tersebut membubung tinggi memayungi langit Bjork. Sesuatu jatuh dari langit tepat di samping Jose, membuat lelaki itu meloncat mundur dengan waspada.
Sesuatu tadi bentuknya seperti tengkorak yang terbungkus kulit tipis, mengingatkan Jose pada mayat Krip dan Higgins. Makhluk itu mengkeret lalu merenggangkan tubuhnya, membuka rahang lebar-lebar dan memekik keras ke arah Jose, bunyinya seperti kikik monyet.
Makhluk itu menekuk kepala dan meloncat menyerang. Jose menendangnya ke dalam sungai, yang segera menghanyutkannya ke hilir. Makhluk itu juga jatuh seperti hujan ke seluruh sudut Bjork, memekik dan berteriak seperti monyet.
"Shakranim!" seru Jose. "Makhluk apa ini? Apa yang terjadi pada Sir William?"
"Mereka adalah shรฉledbolis," jawab sang iblis dengan ratusan suara bertumpuk. "Tengkorak neraka, budak Shakran Yang Agung, pelindung untuk Solomonari terpilih. Mereka melindungi Solomonari dari bahaya."
Sir William berhenti mengibaskan tangan. Mata birunya menatap Jose tajam dengan pandangan menusuk ketika menyadari arti dari menggilanya partikel hitam itu. "Kau ... menipuku, Argent?"
***
ยฌtempat penantian: dalam doktrin Katolik ada yang namanya tempat penantian/limbo/api penyucian/tempat transisi antara yang hidup dan yang belum mendapat tempat di neraka atau surga.
ยฌshรฉledbolis: gabungan dari shรฉled: tengkorak. Bolis: meteor.
ยฌDalam kitab Tobit, malaikat Rafael yang menyamar menjadi Azarya bin Ananias menyuruh Tobias membakar hati dan jantung ikan trout untuk mengusir Asmodeus yang menghantui Sarah.
__ADS_1