BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 137


__ADS_3

Jose baru saja mau berbalik masuk ke dalam rumah ketika ia melihat seorang polisi patroli berjalan ke arahnya dari arah jalan besar. Langkah pria itu teratur, tetapi agak bergegas.


George, yang sejak tadi mengawal Jose ketika mengantar Clearwater pergi, segera berjalan duluan menghampiri polisi itu tanpa perlu diperintah. Kedua pria itu bicara dengan serius di luar gerbang. Kemudian George berbalik menghadap Jose.


"Tuan Muda, pria itu adalah Sersan Gordon. Dia ingin bicara. Dia bilang seorang gelandangan ditangkap ketika masuk ke Bjork Utara."


"Kenapa dengan gelandangan itu?" Jose mengerutkan kening, tidak mengerti kenapa polisi patroli harus melaporkan itu padanya. Ia bertanya-tanya sendiri apakah Marco juga selalu mendapat laporan untuk hal remeh temeh seperti ini.


"Sersan Gordon bilang, gelandangan itu mungkin teman Tuan Muda. Sersan ingin memastikan, karena orang yang mereka tangkap bersikeras bahwa ia adalah teman Tuan. Apa Tuan mengenal nama Nowah?"


"Aku akan mendengarkan ceritanya." Jose berjalan meninggalkan George untuk menemui polisi patroli yang dimaksud. Di tengah jalan ia baru sadar bahwa harusnya ia tinggal menyuruh polisi itu mendekat, tetapi kemudian Jose menyingkirkan penyesalannya. Tidak ada waktu untuk bersikap bangsawan sekarang. Semua detik begitu berharga.


Gordon melepas topinya dengan sopan begitu Jose menghampiri.


"Selamat pagi Tuan, maaf saya mengganggu. Saya hanya—"


"Selamat pagi, Sersan Gordon," potong Jose cepat. Matanya mengamati pria itu, tatapannya berhenti pada bekas luka di pipi sang polisi. Bekas luka baru. Kelihatan seperti bekas cakaran. "Aku dengar kau menangkap seorang gelandangan. Bagaimana rupa gelandangan yang kau maksud? Apakah namanya memang Nowah atau Nolan?"


Gordon merapatkan bibir tipisnya, kelihatan setengah takut dan setengah cemas. Ia mencemaskan hidupnya, tahu bahwa salah satu langkah saja maka kariernya pasti habis. "Saya yakin namanya memang Nowah. Dia bicara tidak jelas, Tuan, tapi dia menyebut namanya seperti itu. Dia bilang dia perlu bertemu Tuan. Saya sebenarnya tidak ingin mengganggu pagi Tuan, tapi dia memakai mantel mahal yang punya emblem pedang Argent. Saya ... saya tahu bisa saja itu curian, tapi saya hanya ingin memastikan saja. Maafkan saya telah mengganggu. Jika gelandangan itu berbohong dan mantel itu curian, saya akan memastikan dia dihukum berat."


"Apa dia anak perempuan dengan rambut pirang jagung, mata biru, dan mulut sangat kasar hingga yang keluar dari bibirnya cuma makian?"


Gordon menelan ludah. Ia mengusap pipinya yang berdarah dengan gugup. "Benar, Tuan."


Jose menoleh melewati pundaknya, ke arah George yang sudah sedia tiga langkah di belakangnya. "Siapkan kereta, George. Suruh Hans dan Gerald menyiapkan diri. Mereka akan menemaniku."


"Tuan?" Gordon meremat topinya di dada, tampak gugup. "Anda tidak perlu repot ke mana pun. Saya bisa membawanya ke sini, jika itu teman Tuan."

__ADS_1


Jose tidak ingin ambil risiko terjadi hal tidak diinginkan di jalan. Ia tidak percaya pada siapa pun sekarang. Namun ia hanya tersenyum sopan dan meminta Gordon menunjukkan jalan pada sais nanti.


***


Nolan memporak-porandakan kantor polisi. Ia menendang dan mencakar berkas-berkas di meja, menggelinding ke sana-kemari, dan kali ini terpojok seperti tikus di depan kucing. Punggungnya bersandar di sudut ruangan, kedua tangannya memegang tongkat polisi hasil rampasan, mengacungkan benda itu ke depan, ke arah tiga polisi yang mengepungnya dengan marah. Beberapa polisi lain malah menonton dan menyoraki mereka sambil bersiul, menganggap hal ini adalah hiburan baru. Nolan benci mereka. Mereka membuat ia yang baru saja berubah pikiran tentang orang-orang Utara jadi berbalik benci lagi. Ia benci orang Utara. Ia benci orang kaya. Ia benci anjing pemerintah. Marco dan Jose membuatnya sempat merasa bahwa Orang Utara tidak terlalu buruk, tetapi saat dikembalikan pada kenyataan seperti sekarang, Nolan tahu ia yang benar. Kebenciannya benar.


Begitu sampai di Bjork Utara dan melewati pasar yang terletak di samping kantor pajak, Nolan berpapasan dengan dua orang polisi patroli yang segera menanyakan alasan kedatangannya, identitasnya, serta kenapa penampilannya begitu aneh.


Kedua polisi tersebut curiga ia habis mencuri begitu melihat mantel lelaki yang ia kenakan. Tanpa menunggu jawaban darinya, Nolan diseret ke kantor polisi dan diinterogasi lebih lanjut. Nolan sudah berusaha menjelaskan bahwa ia harus bertemu dengan Jose Argent—ia menyebut nama itu dengan lengkap karena seingatnya orang Utara benci kalau ia hanya mengucapkan nama depan.


Begitu mendengar nama Argent, mata para polisi jadi makin teliti dan waspada. Mereka melihat lambang pedang bersilang yang dijaga dua singa di mantel tersebut, dan segera berkesimpulan bahwa Nolan memang pencuri.


"Kalian akan menyesal kalau tidak memanggil Argent ke sini! Aku teman Jose dan Marco, kalau dia tahu kalian mengasariku, kalian semua akan habis!" Nolan menyerukan itu sambil berlari-lari dari kejaran para polisi yang ingin merampas mantelnya. Ia tidak mau melepas mantel itu. Marco meminjamkan mantel itu untuknya. Ia bahkan masih menyimpan bungkus kertas cokelat yang dimakannya semalam di kantung mantel. Bahkan meski ia dipukuli, ia akan menjaga apa yang dipinjamkan padanya dengan baik.


Sekarang, Nolan terpojok. Beberapa orang yang tidak berpakaian polisi mencoba membujuknya dari jauh dengan suara dibuat-buat seperti sedang bicara dengan anak kecil, beberapa yang lain justru sambil tertawa menyuruhnya melawan.


Nolan mengayunkan tongkatnya ke kanan dan ke kiri. Orang-orang itu tidak membuatnya takut. Tidak ada lagi yang bisa membuatnya takut setelah kejadian semalam. Yang ia rasakan sekarang hanya jengkel. Ia harus menemukan celah untuk kabur dan berlari ke rumah Jose.


Seorang polisi berjalan maju. Nolan mengayunkan tongkatnya dengan kalap, yang segera ditangkap oleh polisi yang kedua. Sementara itu polisi ketiga merenggut lengan Nolan dan memuntirnya ke belakang, membuat gadis itu memekik sakit karena yang dipilin adalah lengannya yang terluka.


"Lama sekali menangkap monyet satu saja!"


"Makanya kau harus olah raga, jangan hanya duduk, Smith!"


"Lepas mantelnya, cek apakah memang milik Argent. Dasar maling kecil!"


Seru-seruan muncul dan saling menimpali. Nolan tidak mendengarkan. Ia sibuk menggigit bibir menahan sakit. Rasa sakit itu menusuknya begitu kuat sampai kepalanya pening dan matanya pedih. Ia hampir saja menangis ketika merasakan tangan-tangan yang mencekalnya perlahan lepas. Pertama tangan di kepalanya lepas, kemudian yang di lengannya. Suasana juga mendadak hening. Harapan Nolan melambung naik.

__ADS_1


Jose sudah datang?


Nolan terhuyung hingga hampir jatuh. Jantungnya berdegup kencang karena lega. Ia mengangkat wajah, bersiap untuk memelesat pergi, tetapi seluruh tubuhnya membatu. Bahunya merosot. Tatapan Nolan membentur mata hitam lelaki yang berdiri di ambang pintu.


Robert Dawson.


Nolan berjalan mundur dengan gemetar.


Ia salah.


Ia harusnya melawan lebih kuat. Ia harusnya berteriak seperti orang gila di jalanan agar bisa bebas. Ia lupa bahwa salah satu orang yang dibuntutinya waktu itu adalah polisi, dan sekarang di sinilah ia, di sarang polisi. Sarang musuh.


"Inspektur! Anda terluka, Sir?" tanya salah seorang opsir yang menghampiri.


"Oh, ini?" Robert melepas cengkeraman tangannya dari bahu kiri, memperlihatkan darah yang membasahi telapaknya. Pria itu tersenyum agak miring. "Hanya luka kecil. Seorang bandit mencoba merampas senjataku. Bandit kelaparan. Aku berhasil melumpuhkannya."


Nolan merasa perutnya melilit sakit. Ia tahu siapa bandit yang dimaksud pria itu. Nolan membuka mulut untuk memaki, tetapi ia hanya bisa mengeluarkan bunyi seperti tercekik.


Suaranya habis. Tidak ada yang keluar.


"Di mana banditnya sekarang, Sir?" tanya yang lain.


Robert tidak menjawab. Ia melangkah mendekati Nolan, yang bersimpuh di lantai dengan wajah bingung, masih mencoba bicara.


"Itu akibatnya kalau kau terus menjerit," bisik Robert dingin. Ia menoleh pada salah satu anak buahnya dan memberi perintah, "Lempar dia ke sel. Marco kehilangan mantelnya ketika di festival kemarin lusa. Kita sudah menemukan malingnya sekarang."


Nolan masih mencoba melawan, tetapi ia tidak berdaya. Seluruh tubuhnya lemas.

__ADS_1


***


__ADS_2