
Ah. Aku kembali ke sini, pikir Jose.
Ia melihat kerlap-kerlap keunguan di langit, tetapi tidak ada suara guntur. Pucuk-pucuk daun bergoyang tanpa ditingkahi desir angin. Dunia begitu sunyi dan gelap, seolah permukaan langit ditutupi abu hitam yang mematikan seisi bumi. Ia melihat bola-bola arwah berpendar dingin memenuhi hutan.
Tidak ada tubuh fisik, juga tidak ada sensasi apa pun yang ia rasakan. Jose merasa dirinya seolah jadi satu dengan alam yang dingin itu. Mungkin saat ini bentuknya juga sama seperti semua hal di sekitarnya, hanya pendar dingin yang melayang di udara.
Ia tidak melihat Dave. Ia juga tidak menemukan paman-pamannya atau rombongannya di gunung Bjork. Gunung Sakral Bjork, Jose ingat sebutan itu. Gunung yang menjadi kuburan orang-orang zaman dulu. Pohon-pohon adalah nisan mereka. Jose merasa ada sesuatu memperhatikannya. Sesuatu yang sangat kuno, sangat purba. Sesuatu yang dingin dan penuh pertimbangan. Sesuatu itu seperti memperhatikannya dengan penuh penilaian, seperti menunggu kesempatan untuk menghakiminya.
Perlahan tapi pasti, dengung psikis yang sempat menerornya kembali bisa ia rasakan, meski kini tidak terlalu mengganggu. Suaranya seperti sayap-sayap ribuan lebah beterbangan ribut mengelilingi kepala. Jose mengerjap, dan menemukan dirinya berada di tempat lain, di zaman yang lain.
Seorang gadis berambut cokelat madu berlarian melewati pandangannya, bergelayut manja pada lengan seorang pria berambut pirang emas. Jose mengenali rambut itu. Ia mengenali senyum lebar yang terpasang di wajah pria itu.
Itu Sir William. Namun gadis yang bersamanya bukan Arabella.
Ia menggeser pandangannya, dan melihat lingkaran-lingkaran sigil bertebaran, disusul hujan darah dan rangkaian peristiwa dari tempat dan zaman yang berbeda-beda. Rasanya seperti berada dalam mimpi berwarna sephia. Ia melihat orang-orang—enam orang yang menderita. Wajah kesemuanya berbeda-beda, tetapi mereka berada dalam situasi yang sama persis: diikat oleh bayang-bayang gelap yang membelit seperti gurita, yang memaksa mereka semua diam di atas lingkaran sihir dan musnah.
Kemudian Arabella muncul dalam kepingan-kepingan ingatan. Jose seperti menonton kolase foto ditampilkan di depan mukanya. Ia melihat serpihan peristiwa dalam kelebatan sinematik, juga pemandangan jelas matahari cincin di beberapa tempat dan zaman. Suara-suara terdengar hilang timbul, kemudian serbuan energi muncul dalam gelombang demi gelombang yang mendengungkan bunyi seperti lebah. Di tengah semua deru itu, suara-suara lain bercampur aduk, bicara berbarengan seperti diucapkan ratusan manusia.
kau yang m̶̼̯̈͒̉͑ȩ̵̹͉͎̣͑͜ṋ̸̫̌̓̾̃̐͒͒ẏ̴̧̡̬̦̫̏͠e̸̗̬̣̋͌́̔͜ͅb̷̢͍̳̓̌̚ḛ̸̛̍̀͝r̴͈̝̽̇́à̵̫̗̙̣̃̊n̷͕̼̗̞̱̜̱̻̗͚̈̄͋̉͊̎̚g̷̮̜̝͈͙͙͔͔̤̀͜
kau harus bisa harus ḩ̶̡͔͍͎̪̲̩͕̑͒͊̏̆̌͠ͅa̵̪̹͕̯͒̕ŕ̷͔̩̝̮̌̀̄̀̿͒͑͘͝u̸̹͊̔̓̽͗͠s̸̢̱̱͓̿̌̔͌̏ ̸̧̢̢͉̱̥̫͇̤̅͋̌͐̾̿ḇ̶̙͗͗̓͊͆͆̓͝͝͝i̷͍͉̺̰̪̪̗͌ŝ̶͉̮͛a̶̡̖̽ ̸͕̑̇̓̽̓b̶̜̬̬͠i̴̧͕͙̱̗̜̭̻̟͑̈́̓̈́̃̚̕͜͝͝s̸͎̱̰̲̗̫̳̱̪͑̂̈͒̎a̶̧̮̗̥̹̥̪̱͊ ̴͇̥̮̻̳͕̪̜̇̀̾̇͒b̶̦̜͖̥͇͔͖͊͐̒̎̑̾̇̚͘ì̶̡̨͓̝͎͙̊̏̾̒͂͘̚͠ͅs̷̥̥͉̔̊͆͆͠ä̵͉̮̘̫̯͇́̐̉̿̌̒̿̎̕ ̵̡̲̥̥̦͇̓̀̈͠ḅ̸̋ï̶̱̺̦̣̘͚̯̈́̑̃̚ͅs̴̛̘̾͐͑̊̆͛͊͘͝a̵͚̭̱̼̤͈̬̥̗̿̂̓ hentikan
kau bawa dia
pada kami
dia yang m̴̨͓̬̪͔̭̍̓̾̆̿̔̊̃̊͜ͅͅę̸͙̟̜͉̹͍̳͖̱͊̂̒͒̿̀̂̚͝͝ř̴̡̺̰̲̫̰̄̔͐̅u̷̜̩̒̽͜s̷̮̻̲̰̜̫̫̜̽͊͛͛͆̈͆͆̉͆ä̵̛͇̜̻͓́͐̇͝k̶̨͇͓͍͉̤̖̞̫̆͆̐̓̐͠
Suara-suara itu berbisik berbarengan, suara yang dirindukannya. Jose merasakan ledakan rindu yang aneh menguasai dirinya. Suara itu persis dengan yang didengarnya ketika ia di ruang baca, kini nadanya memerintah, mendesak.
Jose mengerjap untuk melawan, tetapi diserang gelombang psikis yang membuatnya mual.
jangan tolak
__ADS_1
jangan tolak kami
c̵̰͍̈͛͛̈́̌̂͛͛̄͝u̷̜̫͛͝c̸̨̺͎̘̣̜̲̔͆̾̓̾̔̅̍ȗ̴̢̟̪̻͉̗̓͆̏͋ ̵̡̛̮͎͕͖̲̬͂̀͜c̷̗͕͛̌͂͋̔͒́̊̔ḯ̴̫̩̻̘̜̣̙̫̠̀c̷̨͕̼̤̑̏̅̍̉̄̈́͛͆i̷͕̳̠̤͈͙̫̣͙͔͐̅͠t̵̟͚̫͉̝͚̓͋̃̽ͅ ̴̯̣̹̓͐̒̈́̊͛͠ͅb̷̛̫͕̈̐́̅̄̏͠͝ȕ̵͚̲́̋̀ỵ̶͇̩͇̗͓̞̘̑ͅu̷̠͓̖̩͙̝̟̼̎̍͆̑̐̈́t̵̢͚̎̎
terima kami, lakukan perintah ɒuƚɘƚ
imɒʞ imɒʞ ʜɒƚᴎiɿɘq p̸̪͕̤̱̬̭̘̥̒̐͌e̷̝̔͑̃͊͗͘͠͝r̵̩̰͔̹̰͓̱͇̈́̇͋̈́͊̿̒̍̅͝ḭ̶̰͖͈̪̫̆̕n̷̗͎̮̗͈̠͖̚͜t̷̨̛̟̐̄̀͋͌̉͐̔a̴̹̎͋͂̂h̴̨͉̙͔͖̩̹͔̦̀̂̃ ̷̘̠͈̱̯͖̰̀̃͐͘k̸̰̘͈̼̊a̸͎̺͉̟̯̗̓́͐̔̾͗͝ͅm̶̢̙̠͈̜͈̬͍̉͒͒̊͗̐͘̕ͅi̷̧̡̥̥̻͆̀̄͐͊́̎͌͑ ̶͇̙͓̼̰̌̐̔͑̓͊̃̕͠͠k̸̡̩̱̈́̆á̵̗͎̤͍̄̐͒̚m̵̡̢̯̮̜̣̰̗͖̫͒̐͋́̓͘͝i̴̩̤̣͈̜͆́̆̍̒̓͂ ̷̡̓ţ̴̡̧̗̟̮̙͈̳̻͗͒͑̈́͛e̷̡͇̤̗̪̙͂t̶̛͚̞̫̣̙̄̂͆̈́̚͝u̷̧̠̲̤̱̠̘̖̳̒ą̵͈̫̥͚̩̽̓̄̿̑̎͜͝ kami
Jose mengerti sekarang. Ia memahami semuanya. Dan dalam pemahamannya, datang juga gelegak amarah.
Diam, ia berteriak sekuat tenaga tanpa suara. Kesunyian menelan suaranya. Ia sudah terlempar dalam dunia gelap tanpa cahaya. Dunia yang terasa nyaman dan membuatnya mengantuk, entah bagaimana membuatnya ingat pada rahim seorang ibu. Begitu hangat. Begitu mengantuk. Namun Jose melawan sebisanya.
Namaku Jose Argent!
Tidak ada yang bisa memerintahku!
Jika ada yang mau minta tolong, berlututlah dan memohon!
¡ɓuɐɔuɐ˥
Lagi, Jose merasa jiwanya dibanting kasar ke dalam tubuhnya. Ia tersedak, menarik napas panjang-panjang, lalu tersedak lagi, persis bayi baru lahir. Ia bahkan ingin menangis rasanya. Paru-parunya terasa sakit. Kepalanya sakit. Tulang-tulangnya sakit.
"Aku bersumpah Jose," kata sebuah suara dengan gemetaran, "kalau kau kabur lagi, tangan dan kakimu akan kucencang kuat-kuat!"
Jose membuka mata, merasa kedinginan dan basah karena banjir keringat. Ia mengerjap pelan, bayang-bayang mulai terbentuk lebih jelas. "Paman?" bisiknya serak, mengenali rambut cokelat Rolan dan wajah tirusnya. "Dave?"
"Dave saja yang kau pikirkan!" Rolan menyahut ketus. Ia duduk di tanah dengan kepala Jose di pangkuannya. Para pekerja mengelilingi mereka, menerangi jalan dengan obor. Finnian sudah berlari kembali ke puri untuk mengabari bahwa mereka sudah menemukan Jose.
Jose menoleh pelan ke kiri dan kanan, mencari Dave. Ia mengembuskan napas lega ketika melihat kawannya sudah dibawa oleh para pekerja dengan tandu darurat yang dibuat dari dua bilah bambu dan jaring tali.
"Kau bisa bangun?" tanya Rolan khawatir begitu melihat Jose memaksa dirinya bangkit.
"Kita harus segera kembali," kata Jose, masih agak mabuk dengan segala perpindahan dimensi yang dialaminya. Kepalanya pusing. Dunia masih berputar aneh baginya. "Maria ... dalam bahaya. Paman Marco juga."
__ADS_1
"Aku juga, Jose! Aku juga dalam bahaya kalau kau tiba-tiba menghilang!" Rolan menyahut galak, membantu keponakannya berjalan.
***
"Namaku Jacob Argent, putra pertama Keluarga Argent!" kata Jacob lantang di depan kumpulan manusia. Ia membuka gerbang rumahnya lebar-lebar, tetapi menyiagakan orang-orang Clearwater sebagai pagar hidup di belakangnya. Kedua tangan Jacob dilipat di belakang punggung, menggenggam revolver berlaras panjang dalam kondisi siap tembak. "Apa yang kalian inginkan?"
Manusia-manusia itu saling pandang, seperti bingung. Kemudian salah satu yang di belakang berteriak, "Keadilan!"
"Kejujuran!" sahut yang lain.
"Kami ingin keluarga kami!"
"Dengar, aku tidak tahu apa maksud kalian!" Jacob berseru. "Siapa pimpinan aksi? Maju ke sini dan katakan apa maksud kalian!"
Tidak ada yang maju. Mereka justru makin ribut meneriakkan soal kejujuran dan kebenaran. Satu telur busuk melayang ke arah Jacob, tetapi ditangkap cepat oleh seorang prajurit bayaran Clearwater dan dilemparkan kembali pada pelakunya. Aroma busuknya tercium sampai depan gerbang.
Jacob mengangkat sebelah tangannya yang menggenggam revolver, menembakkan peluru ke udara. Orang-orang di depannya terkesiap kaget dan buru-buru bergerak mundur, panik. Yang di depan mendesak mundur, yang di belakang panik mendengar suara tembakan tapi merangsek maju karena penasaran. Pada akhirnya beberapa orang itu saling mendesak dan jatuh, kericuhan terjadi.
Jacob menembak sekali lagi. Seekor kelelawar jatuh ke depan kakinya. Beberapa orang yang ada di depan gerbang lari tunggang langgang ke belakang, beberapa ada yang kabur.
Dua tembakan, itu tanda bersiap. Orang-orang Clearwater menyiapkan pedang mereka. Desing pedang dan gemeretak logam menambah suasana jadi makin mencekam.
"Marquis Argent yang membangun Bjork hingga jadi semaju ini," kata Jacob dingin. "Toko-toko, tempat hiburan, jalan-jalan, kincir air dan angin, siapa yang memasangnya di sana-sini untuk kalian nikmati? Dan kalian percaya bahwa dia juga yang menghancurkannya dengan menculik orang-orang? Apa kalian mendapat sumbernya dari koran picisan yang ditulis oleh Hubbert, orang yang sama dengan yang menulis dongeng monster rawa?"
Orang-orang saling berbisik. Keraguan muncul di beberapa wajah.
Jacob melanjutkan makin keras, "Pulang! Pulanglah kalian ke rumah kalian yang hangat, pulang ke pelukan anak dan istri kalian! Berapa pun yang dibayarkan pada kalian tidak setimpal dengan nyawa yang akan melayang malam ini! Aku bisa membasahi jalanan dengan darah kalian karena telah membahayakan keluarga Marquis!" Ia menurunkan revolver, menarik satu anak kecil yang ikut dibawa dalam aksi. Umurnya mungkin dua belas tahun. Anak itu menjerit ngeri, ayahnya mengulurkan tangan untuk melawan, tetapi pengawal Clearwater menahan lehernya dengan ujung pedang.
"Nak," kata Jacob sambil mengelus rambut hitam anak itu. "Siapa namamu?"
"G-Gus, Tuan."
"Gus." Jacob mengangguk. Ia kembali menatap manusia-manusia yang kini menanti dengan cemas apa yang akan dilakukannya pada anak itu. "Gus akan menghitung mundur! Jika dalam sepuluh detik kalian tidak menjatuhkan senjata dan pulang, aku akan menganggap kalian melakukan perlawanan dan orang-orang Clearwater di sini akan diizinkan bertindak!" Ia menatap mata Gus yang basah, berbisik, "dan mereka akan mulai dari ayahmu. Nah, sekarang mulai hitung."
__ADS_1
***