BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 80


__ADS_3

Selagi Jose sibuk mengantar Nolan dan meneliti pusat arsip, Marco sudah sampai ke rumah.


Ketika sampai di rumah, hal pertama yang dilakukan Marco adalah berjalan cepat ke lantai dua. George melihatnya di tengah jalan, lalu bergegas mengikutinya dari belakang.


"Kami belum mengubah apa pun dan tidak menyentuh benda-benda di ruang kerja Tuan," ucapnya dengan nada setenang mungkin.


"Hans dan Gerald masih di dalam sana juga?" Marco tidak habis pikir bagaimana bisa keadaan jadi berada di luar kendali dalam sekejap. Padahal ia hanya pergi sebentar.


"Tidak, mereka ada di kamar lain. Tidur."


Marco menoleh pada George. Kedua alisnya yang sedikit keperakan melengkung sempurna dalam tanya. "Hebat!" ucapnya sinis. "Apakah tidur mereka nyenyak?"


"Tuan, keduanya saya temukan dalam keadaan tak sadarkan diri," George berkata. Langkahnya berhenti. Mereka berdua sudah berada di depan pintu kayu besar yang mengunci ruang kerja Marco.


"Kau mengunci pintunya?" Marco mengeluarkan kunci master dari dalam saku.


"Tentu, Tuan, saya mencegah ada yang memasuk ke dalam." George berkata pelan, "Pasti akan ada keributan besar."


Setelah pintu kamar terbuka, Marco baru menyadari maksud perkataan George.


Kamar kerjanya kini kelihatan seperti kamar-kamar yang digambarkan dalam novel misteri. Dengan segala buku tua, perabotan dari kayu berpelitur yang mahal, wangi kopi yang berasal dari dua cangkir milik Gerald serta Hans, semuanya tergolek berantakan.


Marco menarik napas pelan-pelan melihat kekacauan ini. Kakinya melangkah melewati tumpukan buku, kertas-kertas, serta pecahan kaca yang berceceran. Wallace masih terikat pada kursinya seperti terakhir Marco meninggalkan. Wajahnya kini pucat seperti kapas. Matanya membuka, seperti menyalahkan. Lidahnya terjulur ke luar.


Wallace sudah tidak bernyawa.


Marco tidak perlu menyentuh leher dan memeriksa nadi Wallace untuk memastikan hal itu. Urin serta bau feses yang menguar sudah cukup membuktikannya.


Marco mengibaskan tangannya di depan hidung, kemudian berjalan menuju set sofa yang berada di kamar itu. Bau busuk sudah memenuhi kamar, tetapi ia tidak peduli. Marco mendaratkan tubuh pada sofa tunggal, kemudian menggerakkan tangannya memanggil George. "Ceritakan apa yang terjadi, dari awal sampai akhir."

__ADS_1


George mendekat, sama sekali tidak terganggu dengan sifat aneh Marco. Orang biasa pasti akan terkejut, takut, atau panik melihat mayat di ruang kerjanya sendiri. Namun George sudah bekerja menjadi kepala pelayan di rumah keluarga Argent lewat dari dua puluh tahun. Meski ia tetap saja terkejut kalau mendapati satu, mayat bukan hal baru baginya.


"Ketika Tuan pergi, Gerald dan Hans meminta dibawakan dua cangkir kopi hitam yang kental dan panas. Pelayan biasa tentu saja tidak bisa masuk ke kamar Tuan, jadi saya yang mengantar. Ketika saya meletakkan cangkir-cangkir itu, keduanya mengatakan hal yang aneh. Mereka merasa mendengar suara-suara yang aneh, mereka juga berkata bahwa Tuan Wallace mengatakan hal-hal yang gila. Keduanya meminta saya mengunci kamar ini dari luar, mencegah siapa pun masuk tanpa diundang."


Marco mengerutkan kening.


"Hari masih siang, Tuan, saya pikir mereka hanya terlalu hati-hati karena tegang. Tapi tentu saja saya mengabulkannya kalau itu membuat mereka lebih tenang. Jadi, saya mengunci pintu dari luar. Saya ingat, waktu itu sempat mendengar Tuan Wallace berteriak bahwa apa yang kami lakukan adalah percuma. Saya tidak tahu siapa yang dia bicarakan, siapa 'beliau' yang dimaksud oleh Tuan Wallace, tetapi menurutnya, 'beliau' itu akan datang membebaskannya."


"Apa yang dilakukan Hans dan Gerald waktu itu?" Marco menyela.


"Mereka masing-masing berjaga di sisi kiri dan kanan Tuan Wallace. Hans menggenggam pisau buah, Gerald mengepalkan kedua tangannya dalam posisi siap memukul. Mereka seperti mencari sesuatu. Saya tanyakan pada mereka, apa yang sebenarnya terjadi, tetapi mereka meminta dengan sangat supaya saya tidak menanyakan apa-apa agar tidak ada yang mendengar. Mereka cuma minta supaya pintu dikunci dari luar."


"Lalu?"


"Saya melakukannya, lalu turun untuk melanjutkan pekerjaan di bawah. Hanya lima belas menit Tuan, saya merasa tidak tenang dan ingin melihat apa yang dilakukan tiga orang itu di atas. Ketika saya mau mengetuk pintu, saya mendengar suara berisik seperti laci dibuka dan ditutup. Karena saya berpikir mereka berdua sedang melakukan sesuatu yang lancang, saya segera membuka pintu dengan kunci serep." George meraba pinggang, menimbulkan bunyi gemerincing yang lembut. Rangkaian kunci selalu ia bawa dan simpan di sana. "Waktu saya berusaha membuka kunci, justru terdengar suara pecahan gelas dan juga barang-barang yang jatuh."


"Makin keras, Tuan, seperti ada yang ingin menghancurkan kamar ini. Dan memang itulah yang saya lihat ketika pintu kamar dibuka, keadaannya seperti ini," George menatap ke sekeliling kamar dengan sedih. Kelihatan lebih sedih karena kamar yang berantakan daripada karena mayat terikat di kursi. "Hans dan Gerald saya temukan terkapar di lantai. Mereka pingsan, sepertinya. Ada benjol di kepala Gerald. Hans sendiri sepertinya tidak terluka."


"Dan Tuan Wallace?"


"Tuan Wallace sudah seperti itu keadaannya. Saya mencari dengan seksama ke setiap sudut kamar, tetapi tidak menemukan siapa pun."


Marco diam sejenak. Keningnya mengerut selagi ia berpikir keras. "Apakah jendelanya masih tertutup?" ujarnya saat melihat jendela kamar yang terkunci. Kunci jendela itu ada di kantong Marco.


"Ya, Tuan, masih. Segalanya tetap seperti sekarang, kecuali Gerald dan Hans yang sudah saya pindah ke kamar sebelah."


"Ketika memeriksa kamar ini, kau tidak mendengar bunyi-bunyi tertentu? Aroma tertentu? Apa yang kau rasakan? Ceritakan semuanya padaku."


George berusaha memahami pertanyaan itu sebelum menjawab dengan hati-hati, "Saya tidak mendengar bunyi yang mencurigakan atau bunyi sesuatu yang dijatuhkan. Tetapi saya mendengar suara napas. Tuan bisa menganggap bahwa ini cuma lanturan orang yang sudah tua, tetapi saat memeriksa kamar, saya merasa bahwa saya tidak sendirian."

__ADS_1


Marco mengangkat kedua alisnya.


"Ya, memang benar bahwa ada Gerald dan Hans di tempat ini. Dan saya juga tahu, mungkin saya merasa tidak nyaman karena adanya mayat itu. Tetapi waktu itu saya merasa seperti sedang diperhatikan. Kalau Tuan bertanya soal aroma, saya mencium bau-bau yang sama dengan sekarang, hanya saja ...."


"Hanya saja?" desak Marco.


"Saya mencium bau darah, Tuan. Samar, tetapi jelas itu bau darah. Saya sampai melihat Tuan Wallace dari dekat, tetapi tidak ada luka terbuka sepertinya. Hans dan Gerald juga tidak terluka. Mungkin penciuman saya sedang kacau karena kaget."


"Tidak, jangan meremehkan apa pun yang kau saksikan, rasakan, atau cium, George." Marco berkata dengan tajam. "Itu kebiasaan yang buruk. Tidak semestinya kau lakukan, Kepala Pelayan Keluarga Argent. Semua yang kau alami harus selalu jadi catatan penting yang kau ingat."


George tergesa menundukkan kepalanya. "Maafkan saya, Tuan."


Marco menatap Wallace dari tempatnya duduk. Bahkan setelah mati pun, pria itu tetap saja membuatnya repot. Tetapi mungkin saja ada hal-hal tertentu yang didengar oleh Hans dan Gerald. Kedua pekerjanya berkata bahwa Wallace mengucapkan hal-hal gila. Marco ingin tahu apa yang diucapkan keduanya. Bisa saja merupakan petunjuk penting.


"Saat memeriksa kamar, kau tidak menutup pintu?"


Kali ini George diam agak lama. Pria itu menarik napasnya dalam, kemudian berkata dengan suara rendah, "Saya menutupnya waktu memeriksa kamar, tetapi membiarkannya terbuka pada saat mengangkat Hans dan Gerald keluar."


"Sudah kuduga," Marco menjentikkan jari. Senyum di bawah kumisnya mengembang dalam bentuk seringai.


"Maafkan saya, Tuan? Tuan sudah menduganya?"


"Ya, kau memang tidak sendirian, George. Ada orang lain pada saat kau memeriksa ruangan. Sudah kubilang, jangan remehkan nalurimu sendiri. Ada orang lain di kamar ini, dan yang jelas, dia datang dan pergi lewat pintu."


"Bagaimana mungkin? Saya sudah memeriksanya, Tuan. Saya berusampah tidak melihat—"


"Kau tidak melihat," potong Marco cepat. "Itulah intinya, George. Bagaimana kalau orang itu memang tidak bisa kau lihat?"


***

__ADS_1


__ADS_2