BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 121


__ADS_3

Pembicaraan dengan Clearwater tidak bisa diteruskan karena semua tamu sudah datang dan acara sudah dimulai. Maria kembali ke sisi Jose. Wajah gadis itu kebingungan.


"Acaranya sedikit ... unik," bisik Maria.


Jose setuju. Pesta ini hanya terdiri dari dansa dan makan-minum biasa. Tidak ada permainan, bahkan tidak ada sambutan dari Sir William. Tanpa aba-aba apa pun, musik dimulai dan Sir William sudah mengajak salah seorang gadis berdansa. Beberapa pasangan lain mengikuti dengan kebingungan.


Jose mengulurkan tangannya pada Maria. "Kau bersedia?"


Gadis itu menyambut uluran tangannya, dan mereka melangkah ke lantai dansa diikuti tatapan hampir seluruh tamu. Adrian Marsh bersuit dengan kurang ajar dari sudut ruangan.


"Tunggu, ini waltz!" Maria berbisik ketika mereka mengikuti pasangan-pasangan lain yang sudah berjajar.


"Kenapa? Kau tidak bisa?"


"Aku bisa. Tapi kau?" Maria melirik ngeri pada kawannya. Ia berbisik dengan nada penuh persekongkolan, "Kalau kau menginjak kakiku atau berhenti tiba-tiba karena lupa gerakan selanjutnya, aku akan langsung pura-pura pingsan. Lalu kau akan bilang bahwa korsetku terlalu kencang, karena itu aku pingsan. Lalu kita kabur, oke? Aku tidak mau kehilangan muka di sini."


Jose tertawa, bisa memahami kekhawatiran Maria. Ia memang selalu membolos kursus dan jarang menghadiri pesta. Namun bukan berarti ia tidak bisa berdansa.


***


Nolan sudah menelan habis cokelatnya dan kini merasa lebih tenang. Ia juga tidak kedinginan lagi karena mantel yang diberikan Marco menjaganya tetap hangat. Tubuhnya tenggelam dalam pakaian itu. Ujung mantelnya bahkan menutupi kaki dan menyentuh lantai batu.


Marco ada di depannya, masih memeriksa dinding-dinding batu dengan menggunakan lampu minyak.


"Kau mencari apa?" tanya Nolan, yang bosan melihat pria itu diam di depan dinding.


Marco menoleh. "Lampu ini terang," katanya. "Robert tidak menggunakan mantel atau jas yang tebal."


"Lalu?" balas Nolan heran.

__ADS_1


"Ketika kita menuju ke sini, aku tidak melihat cahaya apa pun selain dari dua obor di pintu elevator. Tapi dia berhasil mengendap dari belakang kita, membawa lampu. Menurutmu dari mana dia muncul?"


"Jalan rahasia?" tanya Nolan bersemangat. Kemudian wajahnya berkerut bingung. "Bukannya dia muncul dari el ... el-vator itu?"


"Dia datang dari elevator," Marco mengangguk. "Tapi dia bersembunyi di suatu tempat ketika menunggu kita. Dia tahu kita akan lewat, atau mungkin dia mendengar suara langkah kita dan lalu bersembunyi. Tapi dia sembunyi di mana? Aku tidak mendengar suara apa pun ketika dia muncul. Jasnya terlalu tipis untuk bisa menutupi sinar lampu. Kalau dia cuma sembunyi dalam kegelapan, kita pasti menyadarinya."


Nolan mengangguk setuju. Ia ikut memeriksa dinding, mengetuk-ngetuk dan meraba seperti yang dilakukan Marco.


"Hey," Nolan berkata pelan. Suaranya bergema dalam lorong yang sunyi itu.


Marco mendekat dengan lampunya. Ia berjongkok di sisi Nolan. "Menemukan sesuatu?"


Nolan menggeleng pelan. Rambut pirangnya tampak lebih terang tertimpa cahaya lampu. Ia menunduk, membuat setengah wajahnya tenggelam dalam selubung mantel yang dikancing rapat. "Maaf," katanya pelan.


"Kenapa?" Alis Marco berkerut.


Nolan yang biasanya tidak akan mengaku salah, tapi ia benar-benar lelah dan ketakutan. Lorong gelap ini mengintimidasinya. Ia sadar kalau ia sendirian, ia pasti tidak akan selamat. Ia mungkin gila.


Marco diam selama beberapa lama. Memang benar bahwa mereka ketahuan karena Nolan. Ia berbuat bodoh dengan menyelamatkan gadis itu ketika di hutan. Harusnya ia bisa bersikap lebih dingin dan kejam dengan membiarkan saja gadis itu tertangkap. Namun Marco tidak terlalu menyesali keputusannya. Ia cukup senang bisa menemukan beberapa fakta dalam kondisi ini. Xavier Hastings ketakutan dan bergantung padanya—bahkan dalam kondisi seperti ini. Lalu Robert Dawson ternyata bukan pengkhianat. Setidaknya, pria itu tidak berada di pihak lawan. Marco merasa dua fakta tersebut sudah cukup untuk membayar semua yang ia lalui hari ini.


"Tidak usah dipikirkan," akhirnya Marco berkata. Ia bangkit dan mengangkat lampu untuk menerangi lorong, mengira-ngira di mana Robert bisa bersembunyi tadi. "Yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana kita bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup. Kita berdua."


Nolan mengangguk, tapi ia masih berjongkok di lantai. "Kau tidak akan meninggalkanku sendirian, kan?" tanyanya dengan suara serak. Nadanya kedengaran sedih sekaligus jengkel di saat bersamaan. Nolan tidak suka menghiba.


Marco tidak bisa menahan tawa. "Tidak, Nak," katanya. "Aku tidak sekejam itu. Bahkan meski kau anak paling tak sopan di Bjork, aku tidak akan meninggalkanmu di tempat berbahaya ini."


Nolen tersenyum kecil. Ia mengusap bekas air mata di pipinya dengan punggung tangan. "Aku bukan anak-anak. Umurku tujuh belas tahun, dan aku juga bisa sopan kok kalau aku mau," katanya. Ayahnya adalah orang yang sangat keras dan disiplin. Nolan tahu ia bisa bersikap lebih sopan dan ningrat daripada bangsawan asli di Bjork, ia hanya memilih tidak melakukannya.


"Masa?" sahut Marco. "Aku ingin lihat bagaimana caramu sopan kalau kau mau."

__ADS_1


Nolan menerima tantangan itu. Ia bangkit dan menegakkan punggungnya, kemudian berjalan mendekati Marco dengan langkah kecil yang anggun. Bahunya tegak, matanya lurus, dan langkahnya terayun teratur. Ketika sampai di depan Marco, ia menekuk satu kaki dan menundukkan pandangan, kemudian memberi hormat dengan sopan. "Lord Argent," sapanya dengan senyum manis. "Rakyat jelata menghadap."


Marco menatap Nolan tanpa berkedip. Anak itu kelihatan seperti orang lain. Seperti gadis ningrat dari Bjork Utara. Pembawaan dirinya barusan seperti berubah.


"Mengagumkan," Marco mengakui dengan jujur. "Curtsy yang sempurna. Caramu memberi hormat sangat benar, bahkan orang Utara tidak banyak yang tahu lutut sebelah mana yang harusnya ditekuk dan kaki mana ditaruh sebelah mana. Kau juga memanggilku dengan gelar yang benar. Siapa yang mengajarimu? Bukan Jose, kan?"


"Ayahku," sahut Nolan pendek. "Kata orang, dia dari Utara. Dia sudah lama meninggal, tapi dulu dia mengajariku banyak hal. Sudah kubilang, aku bisa bersikap sopan dan sesuai etiket kalian."


"Kalau kau mau," kata Marco.


Nolan mengangguk. "Kalau aku mau." Pipinya sedikit merona karena pujian tadi. Ia diam. Rona di pipinya memudar. Hidungnya mengendus udara. "Kau mendengarnya?"


"Apa?"


Nolan gelisah. Giginya gemeletuk. Ia kembali ingat monster yang dilihatnya di hutan tadi. "Suara geleser ... suara aneh itu."


Marco tidak mendengar apa-apa awalnya, tapi ia kemudian juga mendengarnya. Suara itu makin kencang. Suara logam berderak. Suara elevator.


"Kita harus sembunyi," kata Nolan panik, tapi tidak bisa bergerak. "A-aku harus cari senjata!"


Marco berbalik ke pintu elevator untuk memeriksa. Ia melongok ke dalam, melihat bahwa ada dasar sangkar logam yang turun. Mereka tidak salah. Elevatornya yang bunyi. Ia meraih obor di sebelah kiri dengan niat memberikannya pada Nolan agar gadis itu juga punya penerangan dan bisa menggunakannya sebagai senjata, tetapi karena tidak melihat, tangan Marco justru menarik logam tempat penyangga obor alih-alih tongkat obornya.


Ada bunyi klek ringan ketika benda itu bergerak turun ke bawah dan memicu suara-suara geleser roda gigi dalam dinding batu puri kapel.


Marco menoleh ke belakang. Nolan ada dua meter di belakangnya, menatap ngeri pada dinding di sebelah kanannya yang bergeser membuka, menampilkan bukaan selebar dua kali dua meter.


Mereka sudah menemukan ruang rahasianya.


***

__ADS_1


__ADS_2