
“Demi Tuhan,” gumam Rolan. “Apa ini salah satu dari beberapa urusan yang tidak boleh kutahu?” tanyanya pada Marco. Ia tahu bahwa beberapa kali, kepala Keluarga Argent tersebut mencampuri urusan politik di Bjork. Kalau ini adalah salah satu langkah Marco dalam mengatur tatanan dunia depan Bjork, Rolan tidak mau ikut campur. Ia lebih suka tidak tahu apa-apa.
“Tidak, ini urusan kita,” sahut Marco sambil mengangguk pada Wallace. “Kalau Anda mau tenang, Anda tidak akan diikat. Kita bisa bicara baik-baik. Anggukkan kepala kalau setuju.”
Wallace menoleh ke kanan dan kiri dengan gugup. Dua orang yang mencekal tangannya memasang tampang mengerikan, membuat ia gemetar, kemudian mengangguk lemah.
“Bawa dia ke kamar kerjaku,” perintah Marco, kemudian mengedikkan kepala pada Rolan, meminta dokter itu mengikutinya.
Dua pekerja mematuhinya dengan segera. Wallace dipapah tanpa perlawanan lebih lanjut. Mereka bertiga berjalan duluan menuju kamar kerja Marco, sementara dua majikan mengikuti dari belakang. Ruang tamu berada dalam kendali George, yang menelepon ke ruang pelayan untuk meminta bantuan.
“Sebenarnya, ada apa sih ini?” bisik Rolan sambil melihat pada Wallace yang didudukkan paksa di atas kursi. Mereka kini berada di kamar kerja Marco di lantai dua. Marco dan Rolan berdiri berdampingan di depan Wallace, yang berwajah sembap. Rolan menelengkan kepalanya dan berbisik, “Dia itu Direktur Pusat Arsip, kan? Tuan Wallace?”
Marco mengangguk dan balas berbisik, “Kau sudah temukan semua hal yang kuminta cari tahu?”
Rolan mengerutkan hidungnya. “Mana sempat! Aku sedang sibuk berjubel dengan begitu banyak dokumen dan kau menelepon. George bilang, ada hal yang sangat penting, dan waktu aku datang, kau sudah meringkus tokoh di Bjork! Ini urusan sangat pentingnya?”
“Tentu saja, dan info tentang ritual darah itu kuperlukan untuk hal penting ini.”
“Oh, hebat sekali. Kau menyuruhku ini itu seperti seorang tiran. Kau ini seorang Argent atau Napoleon?” gerutu Rolan sebal. “Tapi aku tahu kau memang menyebalkan, jadi aku sudah membawakannya. Hanya sedikit yang kutemukan karena kau menyela di tengah-tengah pencarian.”
Marco memutar bola mata. Pintu kamar kerja sudah dikunci rapat. Dua pekerjanya berjaga masing-masing di samping kiri dan kanan Wallace. Direktur itu masih menjerit-jerit dan menangis selama beberapa saat, meracau marah, dan juga mengamuk, jadi Marco memerintahkan Gerald untuk mengikatnya di kursi.
Rolan menyuntiknya dengan obat penenang dan Wallace sekarang tidur. Pria itu tidur dengan wajah pucat dan kelihatan ngeri. Kepalanya tergolek lemas di atas bahu. Pelipisnya memar, sedikit berdarah karena dijejak oleh Marco.
“Oke, karena kita berempat ada di sini, itu berarti orang ini ada hubungannya dengan misterimu?” tanya Rolan. Matanya menatap pada Hans dan Gerald yang duduk masing-masing pada sisi kursi Wallace, layaknya penjaga. Bedanya, dua pekerja itu tidak menjaga Wallace dari bahaya, melainkan menjaga agar Wallace tidak membahayakan majikan mereka.
__ADS_1
Marco mengangguk. Dia memasukkan tangan ke dalam saku jas, mengeluarkan kaleng pipih yang berisi empat buntalan kecil berwarna putih. Buntalan itu cuma seukuran ujung jari kelingking orang dewasa, teksturnya kenyal seperti permen karet. Marco mengambil empat buntalan tersebut dan memberikannya pada Hans dan Gerald, masing-masing dua.
Kedua pekerjanya sudah tahu apa yang harus mereka lakukan dengan karet tersebut. Mereka menyumpalkannya ke dalam lubang telinga.
“Pintar,” komentar Rolan, sudah sering melihat tata tertib tersebut dilakukan. Para pekerja, juga beberapa polisi anak buah Inspektur Robert sering menerima penyumbat telinga untuk menghalangi mereka mengetahui informasi penting yang akan dibicarakan dalam ruang tertutup. Bahkan pada anak buah intinya pun, Marco tetap tidak mau menaruh kepercayaan seratus persen. Rolan bertanya-tanya pada diri sendiri, berapa persen kepercayaan yang diberikan Marco padanya.
Setelah yakin bahwa kedua pekerjanya tidak mendengar apa yang mereka katakan, Marco berpaling pada Rolan, memunggungi Wallace. “Pria itu tahu apa arti kalung kita.”
“Kalung kita?” ulang Rolan, sedikit sumbang. “Sejak kapan kalung itu jadi milik kita, atau bahkan kau secara pribadi?”
“Benda itu toh memang ada di tangan kita.” Marco mengedikkan bahu tidak peduli. “Dia kelihatan sangat panik, berulang kali mengatakan bahwa sebaiknya aku mengembalikan kalung itu ke tempatku memungutnya. Dia juga kelihatan sangat kaget dan tidak percaya saat kubilang, bandul kalungnya sudah berhasil kubuka dan aku tahu apa yang ada di dalamnya.”
“Memangnya bisa kau buka?” Rolan menaikkan kacamatanya yang sempat melorot.
“Sebentar, coba ceritakan lebih dulu, bagaimana bisa tiba-tiba Tuan Wallace tahu tentang kalung di tanganmu?”
Marco menceritakan pencarian lambang dan simbol dalam buku resmi yang terdaftar. Ia juga menceritakan kunjungannya kemarin ke Gedung Diskusi, kemudian percobaannya memancing informasi dari Wallace di sana. Rolan mengomentari tindakan Marco sebagai “Hal yang Gegabah”, tetapi pria tua itu hanya tertawa renyah. Cerita kemudian dilanjutkan pada kedatangan Wallace yang tidak terduga, serapahnya di ruang tamu, serta ketakutan pria itu tentang sesuatu. Mereka berdua juga mendengarkan kembali rekaman suara dari recorder Marco.
“Bisa disimpulkan,” Rolan berpikir, “Pemilik kalung itu bukan Tuan Wallace.”
“Kalian … tidak tahu betapa mengerikannya benda itu,” suara itu lemah dan gemetar, datangnya dari belakang Marco.
Rolan dan Marco menoleh pada Wallace yang mulai sadar. Hans dan Gerald sudah berdiri dengan siaga, menatap Marco untuk menunggu persetujuan. Setelah Marco mengangguk, keduanya melepas penyumbat telinga dan mulai bersiaga penuh.
“Jadi, Anda memang tahu apa arti kalung itu,” Marco berkata. Dia mendekat selangkah pada Wallace, mengirimkan aura yang mengancam. “Aku bisa saja melemparkan Anda pada para tukang pukul, tapi Tuan Wallace, mari kita bicarakan semuanya secara baik-baik. Ceritakan semua yang Anda ketahui tentang kalung itu. Ceritakan tentang pemiliknya.”
__ADS_1
Wallace menatap Marco dengan pandangan memusuhi. Rolan menebak pria itu pasti akan bicara, tetapi dia salah. Wallace hanya tertawa. Tawa panjang yang keras. Seperti orang kesurupan.
Wallace akhirnya berhenti tertawa saat Marco mengguyurnya dengan air dalam jambangan bunga. Hal yang tidak bisa dipahami Rolan adalah betapa cepatnya Wallace berubah emosi. Dari yang awalnya tersedu sedan, sekarang jadi begitu abai dan dingin, seperti sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Ketika Marco mengancamnya dengan hukuman fisik dan juga sel penjara, Wallace justru memberi tatapan mencemooh.
“Hukuman dari kalian sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan yang bisa dilakukan beliau pada saya.”
“Siapa itu beliau?” Rolan mengambil alih.
“Orang sepertimu tidak perlu tahu!” Kedua bola mata Wallace berkilat penuh kemarahan. “Untuk Marco Argent menemukan kalung itu, aku masih bisa terima, tetapi kau? Dokter gelap, tikus selokan! Aku dengar kau bahkan bereksperimen dengan istrimu sendiri kan?! Ha! Lacur kecil itu! Pantas saja dia mati!”
Hanya sekejap.
Dalam jarak waktu demikian cepat, Rolan sudah menyambar pena kecil di sakunya dan menempelkan benda itu ke leher Wallace, tepat pada arteri besarnya. Kedua bola mata Rolan menyipit. Warna cokelatnya tidak lagi memancarkan keramahan.
“Sedikit saja aku bergerak, darah akan menyembur dari lehermu. Menyembur sampai habis,” bisiknya pelan dan gelap. Tubuh Rolan membungkuk, sebelah tangan menumpu pada lututnya yang menekuk. Pria itu kelihatan lain dari biasanya. “Pada saat itu, apa yang terjadi? Rasa sakit yang hebat. Kepalamu seperti mau pecah, pelipismu berdenyut, otak meminta darah. Napasmu akan pendek-pendek. Darah yang panas membasahi kulit serta bajumu, membuat lengket. Pandanganmu buram, lalu kau akan ... mati.” Kalimat terakhir diucapkan sambil menggores ujung pena yang tajam mengitari leher Wallace.
Wallace menelan ludah dengan susah. Keringat dingin mengalir pada punggungnya. Lehernya basah. “Kau ... tidak akan berani,” bisiknya parau. Ia sudah mendapat pencerahan ketika pingsan. Baginya sama sekali tidak masalah meski ia harus masuk penjara. “Lagi pula, kau tidak akan dapat apa-apa dari membunuhku!”
“Tidak,” Rolan menggeleng. “Aku tidak akan memberimu kematian menyenangkan seperti barusan. Sebaliknya, karena kau begitu mengenalku, kau pasti tahu caraku menangani masalah.” Bola matanya meredup. “Akan kupotong kecil-kecil, mulai dari ujung kuku, sampai ujung rambut. Bahkan gigimu pun akan kutanggalkan lebih dulu. Kucabut satu demi satu. Ah, pasti sangat menyenangkan! Apa yang akan kugunakan? Tang? Gunting? Aku akan melakukannya dengan sangat perlahan, kau akan menikmatinya.”
Hans dan Gerald saling melirik dengan ngeri. Diam-diam menelan ludah, bertekad tidak akan mau membuat dokter keluarga Argent marah pada mereka.
***
__ADS_1