BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 198


__ADS_3

Segala hal terjadi begitu cepat di mata Rolan. Ia melihat Sir William terbanting jatuh ke tanah, tapi iblisnya justru meluncur keluar dari gumpalan asap hitam yang makin besar. Kini asap itu membubung tinggi hingga dua meter, dengan lebar satu lengan orang dewasa. Iblis berkepala binatang tadi memiliki torso manusia. Lengan dan dadanya diselimuti bulu seperti beruang cokelat. Bagian pinggang ke bawah tenggelam dalam material hitam yang beterbangan. Rolan masih menganga saat Jose meluncur ke arahnya secepat desingan peluru. Sedetik lalu keponakannya itu masih jauh di persimpangan, detik selanjutnya sudah berada di sampingnya dan menariknya berdiri.


Dengan kekuatan dan kecepatan yang tak terduga, Jose mengayunkan senapan di tangan dan menghajar muka si ayam jantan dengan popor senapan, kemudian menggeret Rolan lari.


Apa itu tadi? Apa itu tadi? Ayam kambing apa itu tadi? Rolan tidak sanggup berpikir. Kakinya terasa berat. Segala hal berjalan lambat dalam kepalanya. Ia melihat banyak wajah melongok pada mereka dari celah-celah kota, dari jendela-jendela dan pintu rumah, tapi Rolan yakin itu bukan manusia. Ia tidak mau menengok untuk memastikan.


Mereka lari beriringan, tapi Rolan tidak tahu harus pergi ke mana. Mereka berpisah di cabang jalan. Ia mendengar Jose mengumpat, kemudian lengannya ditarik ke belakang.


"Rumah di sana!" Rolan menunjuk bingung.


"Kita tidak ke rumah!" seru Jose, kini mendorong punggung Rolan hingga pria itu berlari di depannya. "Selatan! Cepat!"


Debum keras menggema di Bjork. Tanah bergetar dan udara berubah jadi berat, membuat mereka sulit bernapas. Jalanan seakan menyusut seukuran garis lurus. Mereka pontang-panting berlari ke arah kantor pajak. Rolan merasa punggungnya merinding hebat. Ia hendak menoleh, tapi Jose lagi-lagi menghardik, "Jangan lihat belakang!"


Ada suara lolongan panjang di belakang mereka, lolongan binatang yang bukan dari bumi. Pasir beterbangan dengan ribut, menampar wajah dan membuat mereka kelilipan. Rolan berlari sambil menahan napas. Jantungnya berdegup kencang dan menyakitkan. Tenggorokannya panas. Setiap kali ia melambat, Jose mendorong keras punggungnya, membuatnya selalu hampir terjungkal jatuh. Rolan setengah berterima kasih tapi juga setengah jengkel. Ia sendiri heran bagaimana ia masih bisa merasa jengkel dalam situasi ini. Kaki dan tangannya bergerak otomatis di luar perintah otaknya. Rolan menyadari, tubuhnya ingin hidup.


Lewat sudut matanya, Rolan melihat tubuh-tubuh merangkak dari tanah, membatukkan pasir, dan berjalan terhuyung. Itu cuma ilusi. Cuma ilusi! Ia berlari makin kencang meski pinggangnya sakit seperti teriris dan paru-parunya seperti terbakar. Jose mendorongnya lagi dari belakang, Rolan mengutuk dalam hati. Jose bisa berlari lebih cepat darinya. Ia tahu keponakannya yang berhati mulia sengaja lari di belakang dan secara berkala memberi dorongan kasar untuk menjaganya tetap waras, agar tidak terlena bentuk-bentuk mengerikan di sekitar mereka. Namun tetap saja Rolan benci didorong-dorong.


Kalau dia mendorongku sekali lagi, pikirnya sambil terbatuk karena debu pasir, aku akan mencekiknya.


Apakah iblis itu masih mengejar? Rolan tak tahan untuk menoleh. Tengkuknya meremang begitu melihat apa yang mengejar mereka.


Bukan makhluk aneh, bukan siluman, bukan iblis. Yang mengejar mereka adalah gulungan material hitam yang membuat langit jadi gelap. Bentuknya seperti gulungan awan mendung, hanya saja lebih pekat dan bergerak-gerak aneh seperti ribuan lebah.


Udara di sekitar mereka anjlok hingga muncul keping-keping es dan membuat napas mereka beruap putih. Jauh di belakang mereka, ada lolongan panjang yang kedengarannya seperti berasal dari ujung bumi.


Jose berlari ke sisi Rolan, menarik lengannya, kemudian tanpa bicara segera membawanya terjun ke dalam sungai.


Rolan bahkan tak sadar mereka sudah sampai di sungai perbatasan. Ia hanya sempat mendengar bunyi cebur yang teredam, kemudiam segala hal jadi sunyi. Telinganya pekak. Arus dingin menabrak dadanya, membuat bibirnya terbuka hingga air sungai masuk ke tenggorokan. Rolan tersedak, gelembung udara keluar dari mulut dan hidungnya. Perih. Ia mengepakkan tangan dan mengayuh dalam air, berusaha menepi, tapi arus sungai begitu deras. Jose tidak terlihat.


***


"Rolan tidak kembali." Renata memijit pelipisnya, berputar cemas dalam kamar Marco. Dayangnya berjaga di luar kamar, di ambang pintu yang terbuka. "Jose juga tidak kembali. Sekarang sudah malam, tidak mungkin mereka tidak pulang tanpa memberi pesan! Pasti terjadi sesuatu! Apa kau bisa meminta polisi menggeledah Bjork?"

__ADS_1


"Jose menyelinap ke kamarku," kata Marco, sama pusingnya. "Dan dia mengambil kalung Arabella. Aku yakin dia justru mencari Sir William sendiri. Rolan mungkin mencegahnya. Mereka pasti bersama sekarang."


"Tapi di mana? Apa kau bisa memastikan?"


"Kita akan menemukannya secepat mungkin," Marco menukas yakin. "Kau istirahat saja."


"Kalau kau pikir aku bisa istirahat sementara adik dan anakku tidak jelas keberadaannya, kau pasti sinting."


Marco tersenyum tawar. "Tak ada yang bisa kau lakukan, Renata. Mondar-mandir tidak akan memberi jalan keluar."


"Lalu apa yang memberi jalan keluar?" balas Renata dingin. Matanya menyipit. "Mengurung diri di kamar bersama pacar barumu?"


Lady Chantall, yang juga berada di kamar tersebut, segera bangkit dengan marah. "Aku berkeliaran di luar sana mencari petunjuk seharian ini! Dan aku membawa hasilnya!" Tangannya mencengkeram dua bendel berkas yang ditemukannya tersembunyi di bawah tingkap resapan air. Bukan kebetulan ia menemukannya di sana. Tingkap itu memang tempatnya bertukar informasi dengan Krip atau Tuan Stuart selama ini. "Yang kau lihat kami mengurung diri dalam kamar? Setidaknya itu karena kami mencari solusi, bukan hanya merengek berpangku tangan."


Renata membelalak. "Beraninya kau," desisnya. "Apa kau sadar sedang bicara dengan siapa?"


Marco mendehem pelan. "Jeanne, jangan kurang ajar. Kau sedang bicara dengan adikku, nyonya rumah di sini." Ia bangkit dari sofa dan mengusap pundak Renata, menatap matanya yang bergetar basah. "Kau lelah," katanya lembut. "Kembali ke kamarmu, istirahatlah. Aku janji Rolan dan Jose akan selamat. Kau tahu Rolan, dia tidak akan membiarkan sehelai rambut pun jatuh dari Jose."


Marco mengusap kepala Renata dengan sayang, kemudian menunduk untuk berbisik singkat di telinganya dalam nada penghiburan, tapi tidak ada yang bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakannya kecuali Renata. Wanita itu mendengarkan, kemudian mengangguk pelan. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Renata berbalik keluar kamar diikuti para dayang. Pintu kamar menutup dalam bunyi klap ringan.


Lady Chantall masih berdiri kesal, tangannya terlipat di bawah dada. "Aku tidak akan minta maaf!" katanya defensif begitu Marco menoleh. Meski begitu, dalam hati ia merasa takut kalau pria itu marah padanya. "Aku tidak salah, tapi kalau kau meminta, aku akan minta maaf!"


Marco mengulurkan tangan ke arah Lady Chantall, menjentikkan jarinya ke kening wanita itu. "Kau tidak mengerti," katanya.


"Apa?" balas Lady Chantall heran sambil mengusap kening.


"Renata tidak sungguh-sungguh marah. Dia hanya pura-pura, agar kelihatan seolah punya alasan untuk datang ke sini dan memberiku ini." Marco menunjukkan lipatan kertas di tangannya, memberikannya pada Lady Chantall. "Dia perlu repot-repot melakukan ini karena curiga ada penyusup dalam rumah."


"Penyusup?"


"Seseorang memberi info gerakan kita pada orang luar. Kemungkinan ada yang bekerja untuk Spencer atau Hastings. Renata sedang mencari siapa orangnya."


Lady Chantall membuka kertas yang diserahkan Marco, membaca tulisan tangan yang tertera dalam huruf kursif di sana.

__ADS_1


Ada yang mencurigakan dari para dayang. Mungkin karena itu Anna dan Linda yang diincar pertama. Kau tahu golem-golem itu dibuat oleh Hastings. Aku akan bergerak sendiri, tidak perlu cemas.


"Oh." Lady Chantall menganga. Ia bertanya dalam rasa bersalah, "Apa aku mengacaukan segalanya?"


"Tidak. Renata memang ingin memancing reaksi itu darimu." Marco tersenyum. "Rolan akan menjaga Jose, tak peduli di mana pun mereka berada. Aku dan Renata tahu itu. Kami tidak terlalu mencemaskannya. Yang perlu kita pikirkan sekarang adalah penyerbuan ke kapel besok."


"Besok? Besok masih hari Rabu. Gerhana kan hari Jumat siang?"


"Milady, kau ingin menungguku benar-benar dikurbankan?"


"Tapi rencanamu awalnya—"


"Rencana yang itu akan tetap berjalan," sahut Marco tenang. "Tapi kau jelas tahu bahwa tidak ada kemenangan dalam satu pertarungan final yang bersih. Kemenangan diraih dari menghantam lawan berulang kali tanpa ampun."


Lady Chantall mengalihkan wajah, menyadari kebenaran hal itu. Bahkan almarhum suaminya pun jatuh bukan karena satu kali jebakan melainkan berulang kali tersandung dalam tipuan dan fitnah hingga tak bisa lagi menyelamatkan dirinya.


Marco mendekat, menarik berkas catatan dari tangan Lady Chantall. "Tadinya aku heran kenapa Duke Ashington meminta Hastings sembunyi tujuh tahun, ternyata itulah batasnya. Ada tujuh kali ritual penggantian tubuh untuk membuat jiwa Arabella abadi di dunia. Setiap ritual akan membuka satu gerbang dari tujuh dosa manusia, dia sudah melakukan enam kali ritual sebelumnya, membuka enam gerbang yang mewakili enam dosa manusia. Ini ritual terakhirnya. Gerbang terakhir yang belum ia buka. Dengan kata lain, ritual puncaknya. Jika dia berhasil, Arabella akan sama sepertinya, terantai abadi di dunia. Menjadi Yang Kekal."


"Itu kedengaran seperti hukuman," komentar Lady Chantall. Ia menarik lengan Marco, menggeretnya berbaring di ranjang.


"Mungkin baginya itu bentuk cinta." Marco menanggapi sementara Lady Chantall menghujaninya dengan kecupan. "Mungkin Arabella juga menginginkannya—meski aku ragu kalau mengingat cerita Jose dan Nolan. Gadis malang, dia sepertinya tidak ingin berada lebih lama lagi di dunia ini. Jeanne, berhenti. Aku sedang serius."


"Aku gemas melihatmu serius," Lady Chantall tertawa malu-malu.


Tadinya ia pikir hanya mendapat kepastian saja sudah cukup, tapi setelah perasaannya diterima, ia jadi menginginkan ciuman. Kemudian ia pikir satu kecup saja cukup, tapi ternyata tubuhnya merindukan rasa tubuh pria itu di dalamnya. Dan sekarang ia tidak bisa bertahan lama tanpa menyatukan kulit mereka. Keserakahan ini menyiksanya, tapi Lady Chantall tidak ingin menahan diri. Ia wanita yang tahu apa yang diinginkannya, dan akan berjuang untuk mendapatkan itu.


"Maaf, maaf," katanya buru-buru, tidak mau membuat Marco sampai berpikir telah salah memilih wanita. "Aku bisa berhenti kok kalau hanya semenit." Ia duduk dengan manis di atas ranjang. "Menurutmu dia bisa dimusnahkan dengan menghalangi ritualnya? Bagaimana kalau dia justru mengulang lagi dari awal, membuka gerbang dari nomor satu lagi?"


"Yang itu kita tidak tahu. Aku ingin melihat dulu apa yang akan terjadi besok." Marco meletakkan berkas Krip di atas nakas dan berbaring di sisi Lady Chantall. Bersama wanita itu anehnya membuat rasa sakitnya berkurang, bahkan kadang tidak terasa.


Seharusnya aku membunuh Sir William sejak dulu. Marco memejamkan mata. Apa pun yang terjadi, aku harus memusnahkannya kali ini.


***

__ADS_1


__ADS_2