
Keterangan Shakranim membuat semuanya jadi masuk akal. Partikel hitam yang melesap dari tubuhnya sejak berada di kereta tadi jelas sebuah pertanda bahaya, sama seperti sekarang. Kabut hitam ini ingin melindunginya. William menggertakkan gigi menahan marah. Beraninya seorang manusia berusaha menjebakku!
Jose mencengkeram talisman erat-erat dan sedang berseru tergesa di depan Shakranim, "Kau terikat untuk patuh pada pemilik cincin ini. Dalam nama Tuhan yang berkuasa sepanjang masa, aku memerintahkanmu untuk kembali pada Shakran dan diam di neraka sampai akhir dunia. Kiranya Tuhan menghardik engkau! Semoga—"
Jose tidak sempat menyelesaikan ucapannya. William sudah maju menerjang, mematahkan tangan lelaki itu dan merebut kembali kalungnya. "Keparat kecil!" serunya ketika Jose hampir lepas menghindar. Ia menjegal kaki lelaki itu dan menginjak, mematahkan satu tulang keringnya, menikmati jerit kesakitan Jose. Suara tulang retak terdengar seperti batu pecah, memantul pada dinding kantor pajak. "Harusnya aku tidak percaya padamu! Harusnya aku tidak percaya manusia!"
Ia membanting Jose ke tanah dengan kepala duluan, membiarkannya berbaring di sana untuk sementara. Sekarang yang penting adalah Shakranim. Setan itu miliknya. Setan itu pemberian gurunya. Harusnya tak ada orang lain yang bisa memutus ikatan mereka. "Shakranim!" serunya keras-keras, mulai menyadari kenapa perintah pertama Jose tadi adalah meminta nama. Nama adalah kunci identitas. Nama adalah hal yang sakral. Dengan mengetahui nama setan tersebut, Jose punya kuasa memerintahnya, terlebih dengan talisman Salomo di tangan. "Shakranim, kembali! Aku memerintahkanmu untuk kembali!"
William baru berpikir untuk menggunakan nama Tuhan seperti yang dilakukan Jose, tapi Shakranim keburu memudar dan hilang. Rasa kehilangan merasuk seperti sulur hidup dalam diri William. Rasanya seperti kehilangan separuh jiwanya. Ia tahu bahwa perintah yang sudah diberikan tak akan bisa ditarik kembali. Shakranim akan berdiam di neraka sampai akhir zaman nanti, sesuai permintaan Jose.
Aneh rasanya merasa kehilangan sesosok setan, tapi memang itu yang dirasakan William sekarang. Bagian tubuhnya seperti ada yang dipotong lepas dan dibuang jauh darinya. Meski awan gelap di atas mereka masih terus memuntahkan shelédbolis, semuanya tetap saja terasa berbeda sekarang.
Ada suara orang menarik napas di belakangnya. William menoleh untuk memberi Jose pelajaran, tapi lelaki itu keburu berseru lantang, "SEKARANG!!"
Kemudian William merasakannya lagi, rasa peluru metal menekan tubuhnya, melesak masuk menembus fiber mantel, menembus kulit, membuatnya seperti diledakkan dari dalam.
Tubuhnya terlontar jatuh. Suara ledakan menyeru bersahut-sahutan dari Selatan, memaksanya tetap jatuh di tanah. Warna merah mengambang di matanya, di mana-mana, menari dalam bintik aneh yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Aroma karat dan besi merebak di udara, memenuhi rongga hidungnya. William menyadari bahwa sejak awal inilah yang ingin dicapai Jose. Lelaki itu ingin memisahkannya dari Shakranim, menghilangkan setan itu dengan harapan bisa membunuhnya.
Sialan!
***
Lady Chantall menembak sekali lagi. Tepat sasaran. Monster aneh itu jatuh setelah tengkoraknya diledakkan peluru. Makhluk apa itu? Mereka jatuh dari langit? Ini kiamat? Aku masih dalam mimpi? Lady Chantall menyumpah-nyumpah dalam hati, mengutuk takdir yang tak mengizinkannya berduka barang sebentar. Sambil terus mengawasi jarak tembak, sebentar-sebentar matanya melirik tubuh Marco. Ia menggeret dan menempatkan Marco di antara mobil dan dirinya agar terlindungi, juga menyelimuti tubuh itu dengan mantel dari Simon.
Lady Chantall menodongkan moncong revolvernya ke sekitar. Jemarinya terasa beku dan pergelangan tangannya sakit hingga ia tidak yakin akan bisa menembak lebih lama.
"Ke mana polisi patroli ketika dibutuhkan?" Lady Chantall mengumpat dalam bahasa Skot, menembak satu makhluk yang merambati dinding Bjork dan menggedor salah satu jendela rumah. Dari kejauhan juga terdengar letusan-letusan tembakan. Di atasnya gumpalan hitam aneh berpusar memayungi Bjork, mengumandangkan suara pekik dan kikik panjang yang mendirikan bulu roma. Aku tidak punya waktu untuk melindungi semua orang, pikirnya, tapi tetap menembak satu makhluk lagi yang sedang mendobrak-dobrak pintu rumah warga. Lady Chantall ingin menangis lagi mengingat untuk apa sebenarnya ia datang ke sini.
Ia harus mencari cara untuk menaikkan tubuh Marco ke dalam otomobil dan membawanya pergi dari Bjork. Aku bisa membawa tubuhnya ke motel di luar Bjork lalu memakamkannya besok pagi. Kalau besok pagi masih ada, batinnya sambil kembali menembak makhluk yang mendekat. Lady Chantall bergidik melihatnya. Monster itu bentuknya seperti manusia, tapi tubuhnya hanya terdiri dari tengkorak yang dilapisi kulit tipis. Tempat di mana harusnya ada soket mata ditutup halus dengan kulit wajah. Gigi-giginya kuning tak rapi, dan bertaring. Makhluk itu bisa menempel di dinding dan merayap serta meloncat seperti bajing.
__ADS_1
Satu meloncat ke arahnya. Lady Chantall menembak. Kepala makhluk itu pecah di udara. Tubuhnya jatuh dalam sentakan keras ke belakang. Isi tengkoraknya hanya cairan hitam seperti ter.
Revolvernya makin panas. Udara penuh aroma mesiu yang bercambur bau bacin, aroma yang terakhir berasal dari bangkai makhluk-makhluk terkutuk di sekitarnya.
Setelah memastikan bahwa sekitarnya aman, Lady Chantall berbalik untuk menarik Marco ke dalam mobil, tapi yang dilihatnya membuat ia tersentak kaget dan mengeluarkan suara seperti cegukan dari tenggorokan.
Marco bangun.
Pria itu duduk di paving batu, sebelah tangan mencengkeram bodi mobil saat terbatuk-batuk. Dia meludahkan darah hitam ke permukaan jalan lalu mengusap bibir dengan punggung tangan. Mata hitamnya terangkat, menatap Lady Chantall yang masih membeliak kaget.
"Marco?" bisiknya lemah. Ada ledakan kegembiraan yang membuat Lady Chantall merasa pening. Ia berlari kencang menghampiri, menyentuh pipi Marco yang menghangat, lehernya, serta dadanya yang kini berdenyut. "Aku tahu kau masih hidup!" Ia tertawa sambil menangis di saat bersamaan. Tenggorokannya sakit. Matanya panas. Tapi semua itu justru membuatnya gembira. "Aku berdoa berulang kali!"
Marco bangkit berdiri, menyapukan pandangan ke sekitar seperti menilai situasi, kemudian meraba tubuhnya dan terlihat lega mendapati pistol yang terselip di belakang pinggangnya masih ada. "Kau bisa menyetir?" tanyanya sambil melongok ke dalam mobil. Tangannya menyiapkan pistol, memastikan senjata itu siap tembak.
Lady Chantall mengangguk cepat, tangannya menerima mantel yang diulurkan Marco dan memakainya. "Aku yang mengendarai itu ke sini! Aku mencarimu!"
Kau kan bisa menyetir? Lady Chantall berpikir heran. Tapi ia masuk ke dalam mobil dengan patuh dan menyalakan mesin. "Tenang saja." Ia membersut hidung dan menghapus air mata. "Kita sudah dekat, cuma tinggal maju sedikit."
Marco mengangguk. Ia mengeluarkan jam saku dari kantung celananya dan menatap jarum yang berdetak dari balik kaca. Mereka melaju ngebut. Lady Chantall mengerem beberapa kali saat mereka hampir menabrak makhluk tengkorak itu.
"Tabrak saja!" seru Marco.
"Aye aye, Captain!" Lady Chantall tertawa. Kalau ini mimpi, aku tidak ingin bangun, pikirnya riang. Terjebak dalam mimpi buruk di mana ia menabrak banyak makhluk semi manusia bukan masalah baginya asal ada Marco di sana. Asal pria itu tetap hidup dan bicara dengannya. Segala hal selalu terlihat jadi lebih baik dan aman jika Marco ada di sana. Pria itu seperti selalu bisa mengendalikan situasi, membuatnya baik-baik saja.
"Aku mencintaimu!" serunya keras ketika menabrak satu makhluk.
"Siapa? Aku atau monster yang kau tabrak?"
Lady Chantall tergelak mendengar Marco tetap bersikap menyebalkan seperti biasa. "Tentu saja kau, Sayang! Aku berdoa sepenuh hati tadi, aku harap kau kembali meski barang semenit saja!"
__ADS_1
Marco tersenyum, tapi tidak memberi tanggapan apa pun. Itu sudah cukup, pikir Lady Chantall. Senyum itu saja sudah cukup.
***
Pasukan penembak muncul dari arah mulut hutan tempat mereka sembunyi, makin lama makin mendekat sambil terus berganti posisi dengan lapis selanjutnya, persis seperti yang dilakukan para pekerja Argent sebelumnya.
Begitu pasukan penembak kehabisan amunisi, mereka menghunuskan pedang-pedang dan bayonet dari senapan dan terus berjalan. Clearwater dan Marsh memimpin mereka menyeberang jembatan. Derap langkah orang-orang itu mengisi kegelapan Bjork.
"Jose!" Rolan yang pertama menyeberang. Pria itu segera berlari menghampiri keponakannya, disusul Clearwater dan Marsh berurutan.
Jose masih tersengal di tanah, tak bisa bangun. Kakinya sakit. Tangannya juga. Apa aku bisa menyembuhkan diriku sendiri? Selagi memikirkan itu, ekor matanya menangkap hal yang mengerikan.
Sir William belum mati.
Pria itu bangkit dengan gerakan ganjil seolah seseorang menarik benang dari kepalanya dan menariknya bangun. "Beri aku kekuatan," gumamnya berat.
Jangan! Jose ingin berteriak memperingatkan semua orang, tapi terlambat.
Dalam sekali pandang oleh Sir William, mereka semua berubah jadi serpihan abu, hancur terburai dengan mudah dan hilang diterbangkan angin, meninggalkan denting senjata yang jatuh ke tanah.
"Paman!" Jose berteriak dan menggeliat di tanah untuk bangkit. Tangannya gemetar hebat. Sesuatu menggelegak panas dalam tubuhnya, membuatnya pening seakan barusan dipukul dengan godam. "Luke! Adie!!"
Tidak ada yang menjawab. Semuanya sudah lenyap, bahkan Gerald yang sebelumnya bisa selamat. Sir William jadi lebih kuat, Jose menyadari.
"Nah, Argent. Yang tadi itu memang mengagetkan." Sir William beranjak mendekat sambil menepuk-nepuk mantelnya yang koyak. Kalung emas Cincin Salomo sudah kembali ke tangannya. "Jadi kau mencoba menipu seorang penipu? Kau tidak benar-benar bisa membangkitkan Arabella?"
Pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan membuat kepala Jose berdentum dalam denyut kuat. Rasanya seolah ada tangan-tangan dingin merambati tubuhnya, mencengkeram jantungnya, mengirim getar elektrik ke kepala.
***
__ADS_1