
Jose menatap ke sekeliling, melihat orang-orang berkumpul dengan rasa penasaran melekat di wajah mereka. “Kalian semua, sebaiknya jangan ada yang ke sungai di seberang sana!” serunya sambil menunjuk ke arah hutan. “Tempat itu berbahaya!”
Orang-orang saling memandang satu sama lain, kemudian malah tertawa terbahak-bahak.
“Kami ke sana setiap hari.”
“Memangnya kau lihat apa, Tuan Muda? Lintah? Pasti mengerikan sekali, ya?”
“Untuk orang yang tidak pernah keluar rumah, arus sungai memang terlihat bahaya!”
Satu demi satu malah melontakan ejekan. Jose berusaha menjelaskan bahwa ada makhuk asing yang mengendus-endus dan berbahaya, tetapi mereka justru makin keras tertawa, mengira Jose melihat musang.
“Nolan, kau juga melihatnya, kan?” Sekarang Jose menoleh pada gadis di sampingnya.
Nolan berganti-ganti menatap mata Jose, kemudian pada orang-orang di sekelilingnya yang masih tertawa. Adik-adiknya juga ada di situ. Teman mainnya, tetangganya. Mereka semua menanti dengan mata penasaran sekaligus geli.
“Nolan!” seru Jose lagi, mengembalikan mata gadis itu padanya.
Nolan menelan ludah. Ia kembali teringat pada sosok hitam yang menggapai padanya, seperti hendak menangkap. Waktu Jose menggendongnya, makhluk itu sudah menceburkan diri ke dalam sungai untuk mengejar. Ia bahkan masih bisa mengingat suara kecipak air itu di telinganya.
“Jangan bilang, Nolan juga takut pada musang?” seru orang-orang itu dengan nada geli.
“Itu bukan musang!” ketus Jose. Lelaki itu menghadap padanya, menyentuh bahunya dengan lembut, “Katakan pada mereka, Nolan! Aku tidak salah lihat, itu memang ... memang ... entahlah, sesuatu yang mengerikan! Makhluk yang berbahaya!”
Tidak akan ada yang percaya, Nolan menyadari itu. Meski ia mendukung pernyataan Jose dan menjelaskan detail rupa makhluk itu serta sensasi ngeri yang ia alami barusan, tidak akan ada yang percaya pada mereka. Justru Nolan malah akan diolok-olok dan ikut dikucilkan. Bisa-bisa ia dituduh tertular pengecut karena kedapatan bersama-sama dengan orang dari Bjork bagian utara.
__ADS_1
Nolan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, lalu menggeleng pelan. “Kau cuma melihat musang, Jose.”
“Apa?” Jose mengeluarkan rentetan protes, tetapi suaranya kalah oleh tawa geli dan olok-olokan tentang tuan muda kaya yang datang ke tempat keras.
Nolan menggigit bibir, merasa bersalah karena sudah membuat Jose jadi bahan tertawaan. Ia menolehkan kepala pada hutan, melihat bahwa tempat itu masih seperti biasanya.
Pepohonan di sebelah selatan terlihat jarang. Rumput-rumputnya hijau, agak tinggi di bagian yang tidak pernah dilewati oleh manusia. Tidak terlihat tanda-tanda bahaya sama sekali. Namun hutan itu kini jadi terasa aneh bagi Nolan. Ia tidak yakin bisa melihatnya dengan cara yang sama lagi.
Asap yang berwarna putih menyusup samar-samar keluar dari sela-sela pohon, membuat Nolan terkesiap kaget.
“Kabut!” serunya cepat. “Kabut sudah datang! Semuanya mengungsikan diri!”
Orang-orang ikut melihat ke arah hutan, kemudian segera bubar sambil saling meneriakkan peringatan tentang kabut. Anak-anak digeret pergi dari permainan mereka dan orang-orang dewasa membereskan peralatan kerja. Semuanya dilakukan dengan tenang dan tanpa ketergesaan karena sudah biasa menghitung berapa lama kabut butuh waktu untuk melingkupi seluruh tempat.
Seringnya kabut datang terjadwal, namun ada juga saat-saat di mana kabut datang tak menentu.
“Kenapa ada kabut?” tanya Jose heran. Dia menatap pada arloji kulit yang melekat di pergelangan tangannya. “Sekarang masih jam tiga sore.”
“Jam tiga sore kadang kabut keluar.” Nolan menggigit bibir, sekarang paham kenapa tidak ada orang-orang di sekitar sungai tadi. Ia lengah karena beberapa hari terakhir tidak ada kabut dari pukul dua sampai enam sore.
Saat kabut mau keluar atau setelahnya, orang-orang dilarang mendekati hutan. Biasanya hanya dikatakan bahwa bisa repot kalau tersesat dalam kabut.
Kini Nolan tahu apa sebabnya secara detail. Mungkinkah makhluk aneh itu yang membawa orang-orang pergi? Makhluk itu ... manusia atau bukan?
Nolan menggeleng pelan, bertekad untuk melupakan sejenak masalah itu meski kakinya masih gemetar dan kulit tangannya masih dingin karena takut. “Pulanglah Jose, sebelum kabut mulai tebal.” Ia menengok ke sekitar dengan malu, melihat anak-anak sebayanya menunjuk-nunjuk mereka berdua dengan terang-terangan. “Dan sebaiknya kau jangan ke sini lagi.”
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Jose heran. “Karena aku meninggalkan ikanmu? Aku minta maaf, tapi waktu itu—“
“Pulang!” Nolan berseru sambil menunjuk ke arah jembatan yang menghubungkan dua wilayah.
Jose menatapnya dengan wajah tersinggung, kemudian berbalik pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.
***
Jose langsung kembali ke tengah kota. Tidak seperti selatan Bjork yang hawanya dingin serta orang-orangnya kelihatan suram, sebelah utara benar-benar kebalikannya. Ia hampir-hampir merasa lega melihat orang-orang berpakaian warna-warni, mengenakan riasan, dengan rambut disisir dan tertata rapi. Udara terasa hangat dan tidak ada kabut di sini. Yang terlihat menyesakkan hanya satu: keberadaan polisi patroli.
Para polisi mengenakan seragam biru donker, membawa senjata api dinas. Mereka diharuskan mengitari tiap sudut kota dalam waktu yang sudah dijadwalkan. Jose tidak tahu apakah ada larangan bagi mereka untuk mengobrol, ia hampir tidak pernah melihat polisi patroli mengobrol satu sama lain saat sedang bertugas.
Ia mengangguk sekilas pada keduanya saat lewat, dibalas dengan salam serupa. Jose tidak ingin pulang ke rumah ataupun pergi ke kampus. Saat sedang berpikir ke mana harus pergi, matanya menangkap gedung Pusat Arsip.
Bangunannya terlihat tua dan bergaya Yunani kuno. Dua pilar menyangga bagian depan gedung, disusul dengan pintu kaca putar yang indah. Pusat Arsip memang tidak pernah jadi tempat tujuan wisata atau tempat bermain.
Kali ini Jose memutuskan untuk mengunjungi tempat itu.
Setelah mengisi buku tamu, yang ternyata dijaga oleh satu orang petugas berpakaian polisi, Jose menerima kartu tanda pengunjung dan memasukkannya ke dalam saku. Ia tidak punya rencana tertentu mau mencari apa di dalam Pusat Arsip, tetapi memutuskan untuk masuk hanya supaya ia tidak perlu bertemu dengan Marco.
Seingatnya orang-orang sudah hilang sejak lama, jauh sebelum Sir William datang.
Mungkin Sir William memang tidak ada hubungannya dengan orang-orang ini? Jose mengendapkan pertanyaan itu dalam hati. Ia mengambil dua buah buku koran secara acak. Buku koran adalah kumpulan kliping koran dengan kategori tertentu, misalnya berita kriminal, pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, kasus kombinasi, semua itu disusun secara rapi oleh petugas di Pusat Arsip.
Aroma buku yang dibawanya menguar jelas. Bau kertas lama dan juga jamur bubuk. Jose membuka-buka artikel kliping secara sembarangan saja. Ia sudah membaca kebanyakannya di rumah kemarin.
__ADS_1
Satu berita menarik minatnya, membuat jarinya berhenti pada halaman delapan belas. Berita tentang peresmian Gedung Diskusi. Ada foto Marco memegang gunting. Juga ada pita panjang yang putus, terkulai di tanah. Namun yang menarik perhatian Jose bukan pamannya, bukan juga orang-orang yang tersenyum riang pada foto, melainkan gambar satu orang lewat yang secara tidak sengaja tertangkap oleh kamera.
***