
Wanita itu berambut ikal cokelat, kulitnya seputih susu. Usianya pertengahan tiga puluhan. Gaun malamnya yang hitam gelap dilapisi jubah wool cokelat khas Scholomance.
"Namaku Jeane de Chantall," katanya tegas dengan suara jernih. Matanya memandang tegas pada tiga lelaki yang mengurungnya bagai pilar besi. "Aku adalah tamu istimewa Baron Hastings, jadi sebaiknya kalian tidak macam-macam."
Tiga pria di sekelilingnya—yang mengenakan jubah rahib berwarna cokelat—hanya tertawa pelan. Itu bukan suara tawa yang ramah.
"De Chantall," kata salah satu pria yang paling perlente yang berdiri tepat di depan wajah Lady Chantall, jubahnya hanya ia kenakan sekenanya dan tudungnya bahkan tidak ia pasang, membuat wajah tirus dan mata sayunya terlihat jelas. "Bangsawan Skot?"
Lady Chantall mengangguk, senang karena ada yang mengetahui nama serta asalnya. Manik hijaunya menatap sekitar dengan waspada.
"Tapi di sini Scholomance," kata pria yang lain. "Tidak ada kelas di sini. Gelar tidak berarti. Kau, aku, kita sama. Kita cuma lelaki dan perempuan biasa."
Cara pria itu menjilat bibirnya sudah cukup membuat Lady Chantall tahu apa yang mereka inginkan. Alarm tanda bahaya dalam kepalanya berteriak kencang, menyuruhnya lari. Ia mundur dua langkah, punggungnya membentur tembok, menghentikannya.
Ketika ia menoleh untuk memandang sekitar, seseorang meraih pergelangan tangannya, menariknya hingga jatuh. Sebelah lutut Lady Chantall membentur lantai dengan keras hingga membuatnya hampir memekik. Ia mencoba bangun, tetapi tangan-tangan menyentuh bahunya, mendorongnya tetap di bawah. Dengan keras kepala Lady Chantall mengangkat wajah, menumpukan seluruh berat tubuhnya pada ujung kaki. Sepatunya sudah hilang entah ke mana, tetapi setidaknya mereka tidak akan bisa membuat lututnya menyentuh lantai lagi.
"Kalian tidak akan bisa membuatku berlutut!" geramnya dalam bahasa Skot, bahasa ibunya, sembari menatap nyalang pada wajah-wajah yang terpilin menyerupai ekspresi burung nasar.
"Dia bicara apa?" tanya orang yang memegangi pundaknya.
Yang lain menggeleng. Salah satu dari mereka menarik lepas jubah putih Lady Chantall dan menyelipkan bilah pisau dingin ke antara belahan dada wanita itu. Dalam satu tarikan kuat, pisau itu mencabik pakaian dalam mahal dan gaun malam Lady Chantall, membebaskan kulitnya yang seputih susu dari balutan korset.
"Seperti yang kuduga, Scholomance cuma komunitas mesum yang busuk!" Lady Chantall menggertakkan gigi menahan marah. Pipinya panas sampai ke telinga. Tenaganya terkuras untuk menahan diri agar tidak jatuh berlutut, membuatnya tidak bisa berontak. Sanggulnya sudah terurai hingga sebagian rambut menutupi wajahnya. "Jika aku tidak kembali, semua orang akan tahu ada masalah di Bjork, kalian semua akan dibumihanguskan!"
"Perempuan ini berkicau dalam bahasa yang aneh," kata yang berpakaian perlente tadi. Ia meraih cawan emas di atas meja persembahan yang berisi cairan merah beraroma manis, menyodorkannya paksa ke bibir merah Lady Chantall yang terkatup rapat. "Minum ini, Manis. Kau akan merasa lebih baik setelahnya, dan kicauanmu mungkin akan terdengar lebih manis lagi."
Seseorang melangkah masuk ke tengah mereka dan merebut cawan itu.
Baik Lady Chantall maupun ketiga pria di ruangan itu hanya memperhatikan dengan mulut terbuka bagaimana isi cawan ditenggak habis tanpa sisa, bahkan tak ada setetes pun yang tumpah mengenai cambangnya yang putih.
Mengambil kesempatan dari kekagetan mereka, Lady Chantall menjejak lantai untuk bangkit, kemudian dengan satu seruan marah menghantamkan keningnya keras-keras ke hidung lelaki di sebelah kanan. Rasanya sakit. Lady Chantall mengaduh, mengusap keningnya yang terkena darah mimisan lawan. Ia menoleh untuk menghantamkan keningnya ke pria yang lain, tetapi pria itu sudah tersedak darahnya sendiri, dengan pedang pendek menembus jantung.
__ADS_1
Wanita terhormat tidak menjerit-jerit. Rasa dingin menyebar ke seluruh tubuh Lady Chantall, membuatnya membeku. Namun ia tidak bisa menahan diri untuk memekik ketika pedang yang menancap tubuh pria itu dicabut. Darah menyembur. Yang bisa dilihat Lady Chantall hanya kilat logam berlumur darah yang memantulkan cahaya api. Lalu senjata itu menusuk melewatinya. Ia bisa mendengar bunyi deguk darah serta mencium bau anyirnya.
Tubuh di belakangnya jatuh dengan bunyi debuk ringan, meniup angin ke tumit telanjang Lady Chantall, membuatnya tergemap. Tungkainya melemas hingga ia sedikit limbung.
Namun pria di depannya, yang masih memegang cawan emas, segera menahan lengan Lady Chantall dan menegakkannya. "Katamu tidak ada yang bisa membuatmu berlutut, kan? Tegakkan punggungmu."
Kedua mata Lady Chantall menyipit. Ia menarik pakaiannya yang robek di dada hingga merapat. "Jadi kau memang di sini, Argent?"
"Tidak dengan sukarela," pria itu bicara dalam bahasa Skot yang fasih. "Tapi kau jelas tahu apa yang terjadi di sini."
"Aku mencarimu!" sahut Lady Chantall gemas, tahu Marco sengaja bicara dalam bahasa Skot untuk meledeknya yang barusan sempat kelepasan menjerit-jerit dalam bahasa asalnya. "Apa kau tahu yang terjadi di luar sana? Hanya dua hari kau hilang, tapi semua orang membuat aliansi diam-diam! Semua orang ingin jadi pemimpin menggeser kau, banyak yang langsung siap berpindah posisi sementara kau bermain di sini!"
"Aku kelihatan sedang bermain-main?"
Sebelum Lady Chantall sempat menanggapi, suara jeritan seseorang memotong. Jeritan itu kedengaran dari depan pintu.
Keduanya menoleh bersamaan, hanya untuk mendapati makhluk kehitaman dengan pipi peyot mengadang pintu. Tangan-tangan manusia mencuat dari punggungnya, menggapai dan mencengkeram udara.
Marco mengumpat. Ia beranjak mencabut gagang pedang dari mayat di lantai, tetapi Lady Chantall lebih cepat. Ia menarik botol kaca kecil dari balik gaunnya di bagian paha, kemudian mencipratkan isinya pada makhluk itu.
Sunt mala quae libas! Ipse venena bibas!"
Marco cukup mengenal bahasa latin untuk tahu bahwa wanita itu berdoa dengan bahasa tersebut. Vade retro satana, yang berarti enyah kau setan.
Makhluk aneh di ambang pintu menjerit lagi, meliuk aneh dan terpilin, kemudian menyeret tubuhnya mundur sambil menjerit-jerit. Gema pekiknya terdengar makin menjauh.
"Oh," kata Marco takjub. Hanya itu yang bisa diucapkannya.
Lady Chantall masih mencengkeram bagian depan gaunnya yang tercabik di dada, napasnya terengah karena ketegangan yang lepas. Kepalanya pening menghadapi kejadian berturut-turut yang barusan dialaminya.
Marco memungut jubah wool wanita itu, yang tergeletak di lantai di dekat mayat, kemudian memakaikannya pada Lady Chantall dengan hormat. "Aku baru tahu kau seorang eksorsis."
__ADS_1
Lady Chantall menggeleng. "Tentu saja bukan. Aku dapat air suci itu dari seorang Jesuit. Kupikir efeknya akan lebih bum atau blar seperti dinamit, tapi ternyata hanya bisa seperti tadi. Sialan, Argent! Ini semua gara-gara kau!" sambil mengomel dengan suara gemetaran, ia merapatkan tali jubahnya, mati-matian mengalihkan matanya dari tubuh yang barusan meregang nyawa di lantai.
Aroma busuk urin dan feses bercampur darah berhamburan memenuhi ruangan. Keluarga Chantall selama ini membantu di bagian publikasi, mengurus media. Ia sadar harusnya tidak turun langsung dan beraksi seperti ini.
Ia menoleh, menatap Marco yang sedang menengok ke luar kamar untuk memastikan situasi. "Terima kasih," ucapnya. "Aku lengah dan mengikuti orang-orang ini karena mereka bilang mereka tahu di mana kau atau siapa kau. Setelah kupikir lagi, mereka jelas bohong. Anggur yang kau minum tadi ... ada sesuatu di dalamnya, kan? Aku mencium bau manis memuakkan, itu bukan murni anggur."
Marco mengangguk. "Ada obat biusnya. Tidak ada pengaruhnya untukku, aku sudah kebal." Ia berjalan masuk ke kamar, menggeledah mayat untuk mencari senjata, tetapi pada akhirnya harus puas dengan pedang pendek yang ia gunakan sebelumnya. "Kau masih punya air ajaib tadi?"
"Air suci," koreksi Lady Chantall. "Masih. Masih ada dua botol lagi."
"Bagus. Kau hapal letak pintu keluar, kan? Kau sangat tenang melihat makhluk itu, yang berarti kau tahu banyak hal. Selagi kita jalan, ceritakan semua yang kau tahu."
Lady Chantall mengangguk. "Aku mendapatkan banyak info dua hari ini, aku mati-matian menguras banyak uang demi kau. Makhluk tadi namanya golem!"
Mereka baru keluar beberapa langkah ketika berpapasan dengan enam pemuda berjubah rahib muda yang berlari dengan wajah penasaran.
Salah satu dari mereka melihat Marco dan berteriak menghentikan yang lain. "Itu kan kurbannya!"
Marco mendecak, kemudian berlari. Lady Chantall dengan luwes menjatuhkan diri ke lantai dan menangis, pura-pura ketakutan dan mencari perlindungan dari para rahib.
Marco tidak keberatan. Wanita itu tahu bahwa dirinya hanya akan mengganggu kalau mereka bergabung.
***
🐧
🐧
🐧
🐧
__ADS_1
🐧
ps: kalau ada yang heran kenapa likes dan komen kalian hilang di bab Notes 3: Trivia, ada kesalahan sistem di MangaToon. Bab itu sempat hilang dari tampilan. Waktu dimunculkan lagi sama Tim MangaToon, likes dan komen kalian nggak nyangkut ke bab itu lagi 🥺🥺 aku sedih. Tapi komen kalian masih ada kok kalau diliat di menu semua komen. Cuman ngga nempel di bab itu aja.