BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 248


__ADS_3

Ketika George datang memeriksa, Jose ternyata sudah bangun. Tuannya itu bahkan sudah selesai mandi dan berpakaian rapi tanpa bantuan pelayan. Jose memang selalu melakukan segala hal sendirian, hal yang justru membuat beberapa pelayan merasa kecewa karena merasa tidak dipercaya melayani.


"Jika Tuan Muda memanggil, saya bisa membantu Tuan berpakaian," ungkap George dengan nada menyesal karena tidak datang lebih cepat dan membantu lelaki itu.


"Aku bisa berpakaian sendiri, George," kata Jose lembut, masih mematut diri di depan cermin yang menempel ada dinding kamar. Ia tidak suka merepotkan orang lain untuk hal-hal kecil, tapi wajah George terlihat begitu kecewa, jadi Jose mengulurkan sisir padanya. "Rapikan rambutku, deh. Ada yang ngotot mencuat, aku tidak bisa membuatnya jadi rapi."


George menerima tugas itu dengan senang hati. Ia menyerahkan lipatan koran Daily Bjork yang dibawanya pada Jose, lalu mengulangi apa yang sudah ia sampaikan sebelumnya pada Marco.


A Horde of Undead.


Jose membaca rubrik milik Hubbert dengan cermat. Ada pengaruh Lady Chantall di sana dan sini, ia mengenali gaya suntingan wanita itu. Pola yang tertulis dalam artikel tersebut bukan lagi sepenuhnya milik Hubbert.


Jose suka mengamati gaya tulisan orang lain. Ia tahu Hubbert biasanya lebih provokatif. Tulisan lelaki itu ibarat kobaran api, mampu membuat seseorang yakin pada kebenaran argumennya meski dengan menggunakan diksi-diksi sederhana. A Horde of Undead sendiri masih ditulis dengan gaya yang sama, kalau dilihat sekilas. Namun kini ada ketenangan dan keteraturan dalam tiap pergantian paragraf. Setiap kalimat ditata saling terkait tanpa pengulangan yang membosankan. Tulisan Hubbert masih membakar, tapi dengan cara yang lebih elegan. Itu ciri khas Lady Chantall, yang berarti wanita itu sudah berhasil menaklukkan Hubbert—orang yang sejak dulu membuat Marco jengkel.


"Tulisan ini sudah melewati meja sunting Lady Chantall." Jose melipat koran itu dan meletakkannya di nakas di bawah cermin. "Padahal Daily Bjork sangat membenci wanita itu. Aku penasaran bagaimana reaksi orang-orang di sana. Tidak mungkin mereka tidak sadar bahwa tulisan Mr. Decker dipengaruhi Lady Chantall."


"Masyarakat menggunakan judul artikel Mr. Decker untuk menyebut peristiwa semalam," George menambahkan. "Undead digunakan untuk merujuk keluarga ini. Tuan Besar berkata bahwa beliau akan menggunakan julukan itu semaksimal mungkin."


"Senang rasanya mendengar Paman Marco sudah kembali membuat rencana-rencana aneh. Kota ini akan sepi tanpa kegilaannya." Jose menghela napas. "Bagaimana kondisi orang-orang kita? Gerald? Finnian?"


"Semuanya baik-baik saja." George tersenyum bangga begitu selesai dengan hasil karyanya. Tidak ada rambut nakal yang mencuat tak sopan. Jose kelihatan tampan seperti selayaknya seorang Argent. "Polisi patroli, pekerja Argent, prajurit Earl Clearwater dan Lord Marsh, semuanya sudah pulih," sambungnya sambil menyimpan sisir, kemudian meneliti apakah ada kerut di jas yang dikenakan Jose. "Bahkan tidak ada yang mengalami trauma karena shelédbolis. Rasanya yang semalam seperti hanya mimpi belaka. Ah, Lord Dominic sudah bertolak ke kediamannya pagi ini."

__ADS_1


Jose mengangguk. "Ada kabar dari Xavier?"


"Tuan Hastings hanya menitipkan salam melalui Hans, dia berkata akan mengirim surat begitu sudah menetap."


"Bagus. Kalau ada surat darinya langsung berikan padaku, jangan sampai Paman Marco atau Ibu melihatnya." Jose melirik dari cermin. "Kau mengerti maksudku, kan?"


"Sangat mengerti, Tuan." George puas setelah tidak menemukan ada cela pada setelan tuannya. "Tuan Muda akan turun untuk sarapan? Tuan Besar meminta Tuan untuk sarapan bersama. Semua orang juga menunggu di bawah."


Jam di atas perapian menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Sarapan masih setengah jam lagi. Jose menjawab pelan, "Aku akan turun bersama Maria kalau dia sudah bangun."


"Nona Garnet?"


Jose menunjuk ke arah tempat tidurnya yang tertutup lemari partisi. Maria ada di atas ranjang, terlelap. "Waktu aku bangun tadi kulihat dia ketiduran di kursi, jadi kupindah ke ranjang," terangnya cepat sebelum ada kesalahpahaman.


"Tidak, jangan. Biarkan saja. Nanti Maria malah bangun. Dia pasti kelelahan," Jose beralasan. Ia masih ingin melihat wajah Maria lebih lama lagi. "Terima kasih George, kau bisa pergi."


George undur diri dengan sopan. Begitu kepala pelayan tersebut pergi, Jose mengempaskan tubuhnya ke sofa di ruang duduk. Seluruh tubuhnya masih sakit. Sendi-sendinya nyeri dan tulangnya linu. Namun dengung aneh dalam kepalanya sudah hilang. Ia tidak lagi bisa menangkap bunyi-bunyi atau suara yang memberi banyak pertanda. Sekeras apa pun ia berkonsentrasi, ia tidak bisa lagi mengetahui cara menyembuhkan diri sendiri. Ia tidak tahu lagi cara melakukan transmutasi atau mengaktifkan sigil. Segala pengetahuannya yang berasal dari Sang Ilahi sudah lenyap tanpa bekas.


Keluarga dan teman-temannya kembali, tapi Higgins tidak. Krip juga tidak kembali. Ia tidak bisa mengembalikan ayah Nolan. Linda dan Anna tidak selamat; kedua dayang itu mengembuskan napas terakhir mereka kemarin sore, terlupakan hiruk-pikuk dan kesibukan semua orang. Ada banyak yang tidak bisa ia lakukan. Setengah negosiasinya gagal.


Jose menarik napas dalam-dalam untuk menjernihkan pikiran. Tidak ada gunanya menyesal. Setidaknya Sir William sudah musnah, dari debu kembali menjadi debu. Sekarang ada masalah lain yang harus ia hadapi.

__ADS_1


Masalah besar.


Terbawa perasaan dan ketegangan, ia bersikap kurang ajar pada ayah Maria sampai pria itu memukulnya kemarin. Membayangkan malam itu membuat Jose ingin menghilang karena malu. Harusnya ia tidak mengatakan semua itu pada Albert Garnet.


Jose belum punya apa-apa untuk ditawarkan. Meski seorang Argent, ia tidak akan menjadi seorang lord. Ia juga belum punya pekerjaan, padahal semua temannya sudah punya usaha sendiri-sendiri di usia belia. Jacob bahkan punya perusahaan sendiri dan membangun rumah pribadi di umur dua puluhan awal selagi Jose menghabiskan waktu bermain-main sepanjang hari. Saat ini barulah Jose memahami kenapa Marco selalu memaksanya memikirkan soal cita-cita dan pekerjaan. Sekarang barulah ia sadar betapa pentingnya memiliki sebuah ambisi.


Ia tidak punya apa-apa tapi sok berkata soal cinta dan melamar putri tunggal Marquis Garnet. Benar-benar arogan. Pantas saja pria itu meninjunya. Jose membungkuk dalam-dalam dan menutup wajah dengan kedua tangan. "Benar-benar tak tahu diri," gumamnya dengan kepala panas. "Aku tidak akan sanggup menatap wajahnya nanti."


"Menatap wajah siapa?"


Jose menurunkan tangan dan menoleh, mendapati Maria sudah bangun dari ranjang. "Kau sudah bangun? Sejak kapan? Aku tidak dengar suara apa-apa."


"Bukan hanya kau yang tahu caranya menyelinap." Gadis itu menyunggingkan senyum manis yang agak mengantuk, lalu berjalan menghampirinya. "Wajah siapa yang tidak berani kau tatap?"


Wajah ayahmu. Jose tidak bisa mengatakan itu. Ia bangkit dari sofa, menemui Maria di tengah ruangan. Gadis itu secantik malaikat. Kehadirannya menebarkan aroma wangi yang segar ke seluruh kamar. Ia mengira Maria adalah malaikat saat mereka pertama bertemu. Sampai saat ini pun ia masih berpikir begitu. Diraihnya kedua tangan Maria. Kedua pipi gadis itu bersemu kemerahan karena tersipu.


"Mary ... aku ingin mengatakan sesuatu."


"Apa?" Maria menatap penuh perhatian. Senyum tidak lepas dari bibir tipisnya.


Jose menarik napas, membulatkan tekad. "Aku akan meninggalkan Bjork bulan ini."

__ADS_1


***


__ADS_2