BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 34


__ADS_3

“Yah, Jose itu ... menyenangkan,” ucap Maria setelah mencari padanan kata yang tepat. Jose cukup populer di kalangan kawan-kawannya, ia tidak mau merusak citra itu. “Sifatnya tidak mudah ditebak, jadi kadang aku seperti memiliki adik.”


Untunglah Lidya hanya mengangguk saja menerima pendapat itu. “Dave kadang bercerita juga soal Tuan Jose Argent, dan memang katanya Mr. Argent yang ini sama sekali sulit ditangkap.”


“Tentu, karena dia belajar parkur, kan?” Maria tergelak.


Lidya ikut tertawa, tetapi meneruskan dengan suara lembut, “Dave menelponku waktu dia mau pergi dengan Mr. Argent. Katanya, ini pertama kalinya Mr. Argent tertarik pada tren masa kini seperti Gedung Diskusi, makanya ia tidak akan melewatkan malam itu. Dave berpikir pasti akan seru melihat perdebatan atau diskusi dari orang yang tidak tertarik sama sekali dengan keadaan sekitar.”


Maria ingin tahu ke mana arah pembicaraan Lidya, jadi ia tetap diam dan mendengarkan saja.


“Dave orang yang menepati janjinya, apalagi kalau dia sedang tertarik pada sesuatu. Dan bisa kubilang, kemarin itu dia benar-benar tertarik dengan apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya, Mr. Argent. Bisa kubilang ... tidak mungkin mendadak dia mengingkari janji lalu menghilang begitu saja tanpa sebab.”


Maria mengangguk pelan. “Tentu, aku juga berpendapat begitu. Tapi polisi sudah bergerak untuk mencarinya, bukan? Mereka akan menemukannya dengan segera.”


“Yah, itu membuatku sedikit lega memang,” Lidya menarik napas, membuat bahunya turun dengan lemas ke bawah. “Oh ya, omong-omong, aku mendengar sesuatu yang pasti akan mengejutkanmu.”


“Apa itu?”


Mereka berdua secara otomatis saling mendekatkan kepala, seperti mau bertukar informasi rahasia. Ketika Lidya selesai membisikkan kabar yang dibawanya, Maria memekik kaget.

__ADS_1


“Kau pasti tidak serius!” serunya dengan binar di mata.


“Tidak, tidak, aku mendengarnya sendiri dari teman-teman.” Lidya berusaha meyakinkan. “Kau tahu? Untuk mendapatkan informasi soal Dave, aku bepergian ke sana kemari. Perempuan adalah sumber informasi yang hebat, kan? Kita tinggal datang ke satu orang dan dia pasti bisa menyebutkan dengan detail kabar-kabar terbaru. Karena itu aku bepergian mengunjungi banyak teman. Mereka pasti bisa membantuku menemukan Dave. Jaringan kabar—eh, kenapa aku malah melantur? Sampai mana tadi? Ah, ya, pokoknya dari situlah aku mendengar kabar ini!”


“Yah, kita sama-sama tahu apa yang sering dibicarakan orang-orang,” Maria berusaha menahan senyum. “Kalau ada seseorang melihat kacang, dalam gosip orang itu bisa jadi dibicarakan sedang melihat singa. Seperti itu lah kekuatan isu.”


“Kurasa bukan begitu. Kau kan termasuk perempuan yang diajak berdansa dengannya saat di pesta.”


Maria mengulum senyum, kembali teringat aroma mawar yang semerbak di dalam rumah Sir William. Waktu itu ia juga diperkenankan berdansa satu lagu dengannya. Dansanya sangat terampil, membuat tubuhnya seperti melayang di udara, rasanya seolah Sir William sudah terlatih menarikan dansa itu selama ratusan tahun sehingga begitu menghapal tiap lekuk gerak yang harus dilakukan.


“Dia juga berdansa dengan orang lain.” Maria menggeleng, berusaha menyangkal gosip yang mulai beredar. “Ada banyak orang yang diajaknya berdansa. Lagi pula, yang seperti itu tidak bisa dijadikan pegangan. Para pria sering merayu perempuan, tetapi yang membuat mereka jatuh cinta justru tidak akan dirayu. Kadang-kadang mereka begitu, kan? Bisa jadi satu atau dua dansa justru tidak berarti apa-apa bagi seseorang.”


Oh, ya Tuhan, bisiknya dalam hati. Kalau Sir William benar-benar suka padaku, aku pasti sangat beruntung! Semua orang akan menatapku dengan iri!


Meski masih baru di Bjork, Sir William termasuk orang yang paling sering dibicarakan, baik oleh para wanita maupun laki-laki. Kekayaan serta kepiawaiannya dalam melakukan segala hal selalu jadi topik khusus di sela pembicaraan. Maria sendiri tahu bahwa hanya sekadar pernah berdansa satu atau dua kali saja tidak bisa membuktikan kebenaran kata-kata Lidya, tetapi ia menikmati gosip itu sebagai kesenangan pribadi.


Segera setelah Lidya pamit pulang dan Maria baru sampai pintu kamar untuk istirahat, seorang pelayan lagi-lagi datang untuk memberitahu bahwa ada tamu yang mencarinya.


“Ya ampun, hari ini aku capek sekali dan tidak ingin menerima tamu mana pun,” ucap Maria jujur. Makan siang di rumah Keluarga Argent sama sekali bukan kegiatan yang melibatkan aktivitas fisik, tetapi menerima rentetan pertanyaan dan kesinisan dari Marco, ditambah sifat pendiam Jose yang mendadak, semua itu sudah cukup untuk membuatnya merasa lelah. Apalagi ditambah dengan kedatangan Lidya yang terus-terusan membawa keluhan kalau bukan cerita bernada negatif. “Suruh dia kembali lain kali. Minta maaf saja padanya dan bilang bahwa aku sudah tidur.”

__ADS_1


“Anda yakin, Nona?” tanya pelayannya dengan tatapan waswas.


Maria yang jeli segera menangkap arti dari wajah tak percaya itu. “Ya, tentu saja aku yakin. Memangnya kenapa? Siapa yang datang?” Ia mulai berpikir jangan-jangan Jose yang datang. Tetapi kalau Jose, pelayannya tidak akan kelihatan berwajah tegang seperti ini. Mungkin Marco.


Tapi untuk apa orang itu datang?


“Yang datang adalah Sir William Bannet,” jawab pelayannya khidmat.


“William Bannet yang mana? Maksudmu ... maksudmu Sir William?” Maria membulatkan kedua matanya besar-besar.


“Ya, Nona. Beliau saya persilakan menunggu di ruang tamu.”


***


Maria mengintip keluar, dari balik dinding, melihat bahwa memang benar yang datang menemuinya dan sedang menunggu di sana adalah Sir William yang terkenal itu. Orang-orang bilang kekayaannya bahkan melebihi Argent. Cara berbusananya terlihat sangat elegan dan pas pada badannya, seolah pakaian yang dia kenakan memang dirancang khusus untuk dikenakan oleh William. Tidak ada yang tahu kenapa orang kelas satu seperti pria itu datang dan tinggal di kota suram seperti Bjork.


Setelah selesai meyakinkan diri bahwa yang datang memang benar Sir William, Maria cepat-cepat berbalik ke kamarnya dan berganti pakaian dengan yang lebih pantas.


“Ibu tidak di rumah? Bibi Vero juga tidak di rumah?” tanyanya sambil menggeleng, menolak dipakaikan perona pipi. “Kenapa mereka tidak ada di rumah saat kubutuhkan? Aduh, aku jadi harus menemuinya sendirian. Apa yang harus kulakukan?”

__ADS_1


Pelayannya, yang tahu kapasitas dan juga mengerti bahwa tuannya tidak benar-benar sedang meminta pendapat, hanya memberi seulas senyum manis sambil membantu menyikat rambut Maria.


__ADS_2