
Lady Chantall memberi Nolan petunjuk apa saja yang harusnya ia katakan: "Setengahnya harus jujur, setengahnya dibengkokkan mendekati benar. Hindari berbohong, tapi gunakan bahasa yang ambigu."
"Maksudmu ambigu yang bagaimana?" Nolan benci dibuat bertanya. Ia merasa wanita itu sengaja menggunakan kata-kata sulit untuk membuatnya merasa bodoh.
"Apa kau perempuan, Nolan?"
"Ha?" Nolan mengerutkan kening. "Tentu saja!"
"Ambigu adalah ketika kau menjawab: aku sering memakai rok. Biarkan orang lain menafsirkan sendiri kalimatmu sesuai yang kau inginkan, usahakan buat jawaban yang membuatmu bisa berkilah."
Nolan bisa melakukan itu. Ia mengangguk.
"Aku tidak akan menuntun apa yang harus kau katakan. Jangan tersinggung, tapi kurasa kau belum cukup ahli bersandiwara. Kau orang yang jujur, jadi kita gunakan saja itu sebagai senjata. Yang kau lakukan cuma hindari memberi info yang salah. Jadi aku akan memberimu petunjuk hal-hal apa saja yang boleh kau katakan serta apa yang dilarang." Lady Chantall membuka catatannya dan mulai menerangkan.
Nolan masih mengingat dengan jelas apa yang dikatakan wanita itu. Meski Nolan benci mengakuinya, tapi Lady Chantall punya suara yang enak didengar. Setiap kata yang diucapkannya begitu jelas, aksen Skot-nya tidak mengganggu, intonasinya membuat orang kepengin terus-terusan mendengarkan. Wanita itu ahli di bidangnya.
Begitu sampai ke Selatan, Nolan segera diserbu banyak orang. Bibinya menangis melihatnya hingga adik-adiknya jadi ikut menangis juga. Ibunya memberi satu pelukan lembut dan mengusap-usap punggungnya dengan sayang, tapi tidak berhasil membawanya masuk tanpa keributan.
Orang-orang terus datang ke rumah mereka, menanyakan banyak hal pada Nolan, juga bercerita soal apa yang terjadi semalam. Nolan mendengarkan cukup banyak, lalu mulai bercerita apa yang dialaminya.
Satu, suara Lady Chantall bergema dalam benaknya, katakan bahwa kau diculik oleh orang yang membuat golem.
Nolan bercerita mulai dari saat ia mengikuti Gladys, melihat orang mencurigakan membuat golem, lalu tertangkap bersama Marco.
Dua, jangan sebut-sebut keterlibatan Inspektur Robert. Citra kepolisian diperlukan untuk Bjork ke depannya.
Nolan tidak menerangkan bahwa yang menyerangnya adalah polisi, tapi ia menceritakan soal tertangkapnya ia oleh polisi yang mengiranya gelandangan. Ia juga bercerita apa yang dilakukan Jose untuk membebaskannya, menekankan dengan jelas nama Argent karena:
Tiga, tekankan pada mereka bahwa Argent adalah lawan dari monster itu dan mereka bisa menghadapinya.
"Aku dengar ribut-ribut di Utara, mereka sebenarnya masih memaksaku tinggal di rumah besar itu," Nolan agak berseru karena ingin suaranya menjangkau banyak orang yang ribut karena tidak mendengar di belakang. "Tapi aku lari ke sini karena merasa perlu menceritakannya pada kalian cepat-cepat! Monster itu akan datang lagi! Orang-orang di sana sudah ribut ingin berlindung!"
__ADS_1
Empat, tekankan bahwa rumah mereka aman dan mereka tidak perlu pergi ke mana pun. Tunjukkan orang-orang Utara yang berlindung ke Selatan. Tekankan bahwa kau tahu semua ini hanya dari mendengar orang lain bicara. Orang Selatan cenderung lebih percaya pada fakta yang didengar secara tak sengaja.
Setelah mendengar ceritanya, orang-orang ribut. Mereka semua heboh. Banyak yang langsung menerima ceritanya karena tidak ada lagi kabut sejak kemarin. Nolan juga membawa beberapa koran terbitan Utara yang namanya kredibel untuk dibaca oleh kepala desa mereka dan orang-orang yang dituakan di sana. Koran yang dibawanya mendukung apa yang ia ceritakan. Jelas saja karena koran itu terbit di bawah pengawasan Lady Chantall.
Begitu membaca dan mendiskusikan isinya beberapa jam dengan para tetua lain, kepala desa segera memanggil Nolan dan memintanya bercerita lagi apa yang ia alami. Nolan menceritakannya dengan lengkap, ceritanya bersesuaian dengan keterangan beberapa orang tua yang mendapati putra-putra remaja mereka selalu pergi selama beberapa jam ke tempat yang tidak diketahui. Nolan juga menunjukkan luka di lengannya sebagai bukti. Tabib di Selatan memeriksa, meyakinkan mereka bahwa luka itu memang karena pedang.
Nolan kembali bercerita pada orang lain yang berbeda. Ceritanya konsisten karena ia memang hanya mengatakan kebenaran. Kepala desa mencocokkan ceritanya dengan isi beberapa koran, mendiskusikan banyak hal sambil berbisik-bisik dengan para lelaki, beberapa ada yang menyebut mayat dan sungai bersinar.
Saat matahari terbenam, semua orang sudah mendengar cerita Nolan dan akhirnya setuju bahwa ceritanya memang benar. Kondisi genting di Bjork dan mereka harus membantu Argent—dengan berdoa.
Memang hanya itu yang diminta Lady Chantall. Jika gunung Bjork bertambah kuat jika ada yang percaya, maka orang-orang Selatan yang lebih dekat dengan gunung adalah pihak yang tepat untuk dimintai tolong.
Suruhan untuk diam di rumah dan berdoa serta menerima kalau ada orang Utara yang datang segera disebar. Karena yang meminta adalah para tetua desa, tak ada yang melawan. Ia bahkan tak perlu berbohong. Semua orang percaya. Semua orang patuh.
Nolan menelan ludah melihat begitu mudahnya semua orang dipengaruhi melakukan sesuatu yang tadinya tak terpikirkan oleh mereka.
Wanita yang bermata hijau di luar, namanya Jeanne de Chantall, kata-kata Marco kemarin terngiang jelas di telinga Nolan. Dia bisa membuat seisi Bjork memusuhimu dalam semalam.
Tadinya Nolan pikir itu hanya bualan.
***
Tidak ada yang bicara. Masih lima kilo lagi hingga mereka sampai Bjork. Mereka semua memacu kuda dengan kecepatan tinggi dan bersenjata lengkap. Senjata api untuk jarak jauh. Senjata tajam jika peluru habis.
Marco adalah orang yang penuh perhitungan dan berkepala dingin, ia tahu itu. Sahabatnya bukan orang yang bisa salah melangkah. Jika pria itu berkata bahwa mereka akan bisa mengalahkan iblis dengan menggunakan pedang dan senjata api, maka ia memercayai hal itu. Greyland tidak meragukan kawannya sedikit pun.
Ada desing panjang terdengar. Greyland mengangkat wajah, melihat ada garis putih vertikal naik ke langit di kejauhan. Garis itu meledak jadi bulatan kemerahan yang menghilang dengan cepat. Greyland menoleh, melihat Edgar juga sama terkejutnya. Itu suar buatan Rolan. Suar tersebut hanya memiliki satu arti: tanda bahaya.
"Lebih cepat!!" Greyland berseru lantang sambil menggesek sanggurdi.
***
__ADS_1
Lady Chantall juga melihat suar itu dari jendela kantor Daily Bjork. Ia menggigit bibir, mati-matian berdoa untuk keselamatan Marco.
"Ma'am?" Hubbert memanggil, menyodorkan kembali kertas catatannya yang barusan diperbaiki. Sejak tiga jam lalu mereka mengobrolkan jadwal siaran di radio yang akan dilakukan pukul tujuh sore setelah siaran doa, itu satu jam lagi. "Begini sudah benar?"
Lady Chantall menerima konsep yang disodorkan lalu membaca dengan cepat satu kali dan mengulangnya lagi lebih saksama. Bibirnya tidak bergerak. Hanya mata hijaunya yang sedikit mengedip dan bergeser ketika membaca. "Aku merasa pembukaannya kurang persuasif ... kurang bam! Kau tahu maksudku?"
Hubbert tidak tahu. Ia bisa menulis hal-hal yang kontroversial. Ia bisa membuat hal remeh kelihatan lebih besar dari kelihatannya. Namun sejak tadi Lady Chantall menolak drafnya, ia tidak tahu apa yang ada dalam kepala wanita itu.
Lady Chantall berpikir sangat lama. "Kita tidak punya waktu. Pakai ini saja. Ini lebih baik daripada tadi. Tanpa musik!"
"Tunggu, kalau Anda tidak menyukainya, saya juga tidak mau menggunakan ini!" Hubbert ikut bangkit dari mejanya begitu Lady Chantall berdiri. Ia tahu wanita itu sibuk, tapi siaran dengan radio sangat penting. Apalagi Bjork sudah diwanti-wanti untuk mendengarkan radio, mereka semua menunggu kabar. "Apa itu bam? Saya tidak mengerti apa yang Anda inginkan. Setidaknya beri tahu saya salahnya bagaimana!"
"Tidak salah," Lady Chantall berkata. Lagi-lagi ia menatap keluar jendela dengan cemas. "Hanya saja menurutku kurang menarik. Tapi itu hanya masalah selera saja."
"Kalau Anda yang membuat, Anda akan menjadikannya seperti apa?" Tidak ada kelancangan dalam pertanyaan itu. Hubbert benar-benar hanya ingin mencari referensi.
Lady Chantall memaksa otaknya berpikir. "Pembukanya tidak lebih dari lima puluh kata dan harus menceritakan apa yang sedang terjadi di Bjork. Jangan bertele-tele di kasus orang hilang, kita bukan sedang mendongeng. Fokus kita bukan di situ, kita bisa gunakan itu sebagai repetisi saja. Buat mereka tahu apa kondisi kita sejelas-jelasnya. Siapa musuh kita, siapa yang bisa kita andalkan, apa yang harus kita lakukan, bagaimana caranya untuk tetap aman, sampai kapan ini akan berlangsung, apa risiko yang akan kita alami, terangkan bagaimana cara Argent mengalahkan musuh nanti. Mereka harus percaya kita akan menang."
"Tapi kita tidak tahu bagaimana hasilnya," protes Hubbert. "Itu namanya bukan fakta. Aku cuma menyajikan fakta."
"Kau cuma menyajikan fakta, karena itu tempatmu di sini." Lady Chantall mengangkat tangan dengan jengkel ke sekitar, ke kubikel mungil Hubbert yang kotor. "Sementara aku membuat fakta. Aku menjadikan sesuatu sebagai kebenaran. Kau mau percaya pada insting pekerjamu atau pada perhitunganku?"
Telinga lelaki itu memerah. Wajahnya kelihatan tersinggung, tapi Hubbert masih berusaha sopan. "Ma'am, saya punya prinsip bahwa saya tidak akan mengarang berita. Saya mungkin menyajikannya dengan agak bombastis, tapi tidak pernah menulis propaganda."
"Propaganda," kesah Lady Chantall sambil tertawa. Ia menghela napas. "Apa kau tahu orang-orang bayaran dari Jorm menyerbu rumah Argent tempo lalu? Mereka menggunakan tulisanmu sebagai acuan. Mereka pikir Argent ada di balik hilangnya orang-orang ini. Dan bukankah kau sendiri juga berpikir begitu?"
"Itu dulu."
"Ya, kebenaranmu berubah. Fakta yang kau percayai berubah. Itulah yang terjadi kalau kau hanya menjadi konsumen buta." Lady Chantall menyilangkan tangan di bawah dada, tapi cepat-cepat menurunkannya lagi. Dulu ia selalu menggunakan trik itu untuk menggoda lawan bicara, mendistraksi mereka dengan lekuk tubuhnya dan membuat mereka setuju dengannya dalam kebingungan. Namun ia tidak akan melakukannya lagi. Ia hanya akan melakukannya untuk merayu Marco seorang. Hanya satu pria itu saja. "Dengar, aku bukannya ingin mengkritik prinsip moralmu," katanya lembut. "Mungkin aku salah mengatakannya padamu. Yang kumaksud adalah buat mereka memiliki harapan bahwa ini semua akan berakhir baik. Kau tahu kenapa kita di sini? Kita menjaga agar masyarakat Bjork tenang. Ketenangan mereka dan kepercayaan mereka akan membawa kita pada kesuksesan. Begitulah cara kepercayaan bekerja. Kau tahu apa yang terjadi kalau ada yang tidak percaya pada kita, curiga pada kita? Keos. Dan kita akan punya masalah baru yang harus kita redam."
Hubbert diam. Lady Chantall tahu lelaki itu mencerna kata-katanya. Ketika berjalan melewatinya, ia berhenti dan menepuk lembut pundak lelaki itu. "Ada waktu dan tempat untuk segalanya, Hubbert," bisiknya. "Kadang kita menggunakan jari tengah, kadang kita harus menyembunyikan itu dan menggunakan jari kelingking."
__ADS_1
***
¬Laksa: sepuluh ribu