
Bunyinya seperti gemuruh longsoran tanah.
Maria baru saja duduk di dalam kursi kereta ketika ia mendengar suara deru itu. Jantungnya berdegup kencang seperti loncat dari dada. Lututnya terasa panas dingin. Baik Marco maupun Jose tidak menyusulnya masuk. Ketika ia melongok ke luar melalui pintu kereta yang masih terbuka, langit dipenuhi kegelapan dari sebelah timur Bjork.
"Sepertinya kita tidak jadi ke rumahmu, Garnet," kata Marco. Ada ketegangan dalam nada suaranya. "Kau bawa senjatamu?"
Maria mengangguk. Ia menepuk tas tangannya. Marco berbalik dan berseru pada Finnian, menyuruhnya pergi memeriksa apa yang terjadi di sebelah timur.
Bunyi derap langkah, logam senjata yang dikokang dan disiapkan, seru-seruan para pekerja, dengus dan ringkik kuda, semua itu bersahut-sahutan di halaman, berputar ribut seperti badai.
"Mary?" Jose menahan agar pintu kereta tidak terayun menutup. Angin dingin bertiup kencang menerpanya, membuat mantelnya yang tidak dikancingkan berkelepak liar di belakang tubuh. "Pergilah ke Selatan. Pakai kereta ini saja. Aku akan minta pekerja menemanimu, Susan juga. Ibuku akan menyusul ke sana nanti. Keluargamu akan dihubungi."
"Kau sendiri?" Maria sudah melompat turun, mencengkeram erat jemari Jose. Ini terlalu tiba-tiba. Ia tidak bisa berpikir. Gerhana masih besok siang dan Sir William belum sampai Bjork. Harusnya mereka masih punya waktu. "Kau juga akan menunggu di Selatan, kan? Rencananya begitu ..."
Jose tidak menatapnya. Lelaki itu sedang bicara dengan Clearwater dan Marsh, meneriakkan sesuatu yang tidak bisa didengar Maria. Ia tidak bisa mendengar apa pun, hanya ada bunyi deru angin dan gemuruh aneh di kejauhan. Bunyinya seperti gempa bumi, atau tanah longsor, atau gulungan petir. Maria menatap sekitarnya, para pekerja Argent bergerak dalam gerakan terlatih, tapi wajah-wajah mereka tegang. Ketika Maria mengangkat wajah untuk memandang ke kejauhan, matanya terpaku pada gulungan hitam jauh di langit, jauh di sebelah timur Bjork. Itu bukan gulungan awan mendung. Warna hitam itu sangat tak manusiawi, terasa jelas bukan dari bumi. Saat melihatnya, Maria baru benar-benar menyadari bahwa lawan mereka bukan manusia. Apa yang bisa dilakukan senjata kecil dan manusia-manusia kecil di hadapan kengerian semacam itu? Tepat sebelum seluruh keberaniannya rontok, tubuh Maria terayun jatuh dan ia mendadak merasa hangat.
Jose memeluknya erat. Ia bisa mendengar degup jantung lelaki itu menekannya, menggetarkan tubuhnya dalam tempo konstan, membuatnya relaks. Topinya jatuh ketika pinggangnya ditarik barusan, tapi Maria tidak peduli. Ia tak peduli apa pun lagi.
"Tenang saja," Jose berbisik, terdengar selembut dan sekalem biasa, memberi denyar menenangkan bagi yang mendengar. "Kau akan selamat."
Maria mengangguk dalam dekapan. Keningnya disandarkan pada sisi leher Jose. Ia membalas pelukan itu erat-erat, kecewa ketika akhirnya mereka harus memisahkan diri.
"Tunggu." Maria menahan lengan Jose, mendadak ingat apa yang ingin dikatakannya tadi. "Aku tadi mau memberitahumu apa yang terjadi, kan? Kau pikir aku sakit ... saat kita mau pergi ke pesta waktu itu. Lalu setelah mendengar soal darah para mayat yang hilang, Susan pikir darahku mungkin juga diisap, mungkin aku menjadi semacam ... vampir atau makhluk seperti itu. Tapi itu salah."
"Mary, tenanglah. Bicara pelan-pelan," kata Jose yang kelabakan mendengar rentetan cerita itu.
Maria tidak bisa bicara perlahan, merasa tidak mungkin bisa bersikap tenang dengan keributan di sekitarnya. Ia menggenggam erat lengan Jose, takut lelaki itu akan pergi tanpa mendengarkannya. "Aku jadi semacam ... kepompong. Aku cuma ingin tidur, tapi aku bisa mendengar dan merasakan banyak hal, bahkan suara dari jauh. Dan matahari membuatku sakit kepala. Aku sadar bahwa proses yang kualami memang semacam menjadi kepompong, entah bagaimana dia membuatku begini. Jadi kupikir ... mungkin asal aku tidak tidur, mungkin dia tidak akan berhasil muncul. Maksudku Arabella mungkin tidak bisa muncul. Yang kurasakan ini adalah sakitnya proses metamorfosis, semacam itu."
Maria terengah ketika selesai menjelaskan tanpa jeda. Uap napasnya membentuk awan-awan putih kecil. Anehnya, Jose tidak kelihatan heran atau kaget. Wajah lelaki itu tenang seolah sudah mengetahui semua yang terjadi. "Aku mengerti," katanya. "Tapi kau tetap harus istirahat. Tidur. Jangan paksakan dirimu berjaga. Minta Susan membangunkanmu seperti biasa kalau kau tidur sambil jalan lagi. Ya?"
"Ya." Maria menjelajahi wajah Jose dengan tatapan menyelidik, penasaran sejauh mana yang diketahui lelaki itu sebenarnya.
Kuda-kuda sudah disiapkan untuk Clearwater dan Marsh, keduanya memanggil Jose dari dekat gerbang utama. Maria melihat ke sekeliling untuk terakhir kalinya, lalu berjinjit dan menyentuhkan bibirnya ke bibir Jose. Hanya sekejap, ia segera melepaskannya. Rasanya panas. Ia tidak tahu bibir manusia bisa sepanas ini. Maria menunduk menatap sepatunya, bertanya-tanya sendiri dari mana keberanian ini datang. Mungkin karena ia sempat melihat bagaimana Lady Chantall dan Marco berciuman barusan, mungkin ia hanya ingin seperti mereka yang begitu terang-terangan dan percaya diri menyatakan afeksi untuk satu sama lain. Atau mungkin ia hanya ingin mengenyahkan perasaan tak nyaman yang menderanya, yang terus meyakinkannya bahwa ia tidak akan melihat Jose lagi setelah ini. Ciuman barusan hanya semacam azimat.
"Kau harus selamat," katanya agak keras untuk mengalahkan bunyi angin dan suara di sekitar mereka. Ia masih menatap sepatu. "Berjanjilah kita akan bertemu lagi di Selatan!"
__ADS_1
Jose menyentuhkan jarinya ke bawah dagu Maria, mengangkatnya hingga mereka bersemuka. "Aku janji," ucapnya lembut, kemudian mendekatkan wajah.
Sesaat, yang bisa dilihat Maria hanya mata hitam kelam itu. Ia mencium seberkas aroma wiski. Dunia serasa berhenti. Maria memejamkan mata ketika bibir mereka bertemu dengan lembut.
Setelah saling menyatakan perasaan tadi pagi, mereka sempat berciuman satu kali, meski sedikit canggung. Mereka juga berciuman barusan.
Namun sekarang Maria jadi tahu apa bedanya kecupan dan ciuman. Semua yang ia alami sebelumnya hanya kecupan semata. Sekarang, saat bibir mereka bertemu dalam kelembutan yang mendidih, ia tahu bagaimana rasa ciuman yang sesungguhnya. Maria mencengkeram mantel Jose, merasa seakan terjerat dalam benang laba-laba yang lengket. Ia merasa ingin merosot jatuh, tapi juga yakin itu tidak akan terjadi. Tengkuknya ditahan dari belakang dan pinggangnya dirangkul dengan kokoh. Segala keriuhan di sekelilingnya mendadak senyap, seolah hanya ada mereka berdua di dunia ini.
Jose menyesap lembut bibirnya, kemudian mempertemukan ujung lidah mereka. Rasanya seperti ada aliran listrik menghantam sangat keras. Kembang api meledak dalam kepala Maria. Tubuh mereka merapat, saling mencuri napas, memuaskan dahaga satu sama lain, kemudian ritmenya kembali melembut. Maria tidak ingin berhenti, tapi Jose menarik diri.
Ketika bibir mereka berpisah, Maria masih merasa seolah jiwanya ditarik keluar dan dibiarkan mengambang di atas awan. Ia membuka mata, menatap wajah Jose yang tersenyum padanya. Suara-suara kembali muncul. Ia mulai menangkap suara derap langkah, seru-seruan, daun pintu yang membentur kereta diayun angin, serta bunyi dengus kuda, tapi tidak ada yang bisa mengalihkan pandangannya dari mata hitam Jose.
"Jose," gumam Maria, pelan-pelan melepaskan cengkeramannya dari kerah mantel Jose. Ia menarik terlalu kencang sampai salah satu kancing yang teratas mau lepas. Maria menata napas, berusaha agar tetap kelihatan seperti seorang gadis ningrat alih-alih ikan yang dikeluarkan dari kolam. Itu akan membuatnya kelihatan konyol. Mata birunya yang lentik melirik agak jengkel. "Berapa cewek yang kau kencani sampai bisa mencium seperti itu?"
Tawa Jose meledak.
***
"Aku tidak pernah bisa tidur di rumah ini, tidak pernah!" gerutu Rolan sambil mencuci muka di dapur. Ia menerima handuk dari tangan pelayan yang menawarkan, lalu pergi ke lantai dua sambil memanggil-manggil nama Renata.
"Kenapa kau santai begini? Tidak dengar suara ribut tadi?" tanya Rolan gemas sambil lari menghampiri.
"Aku dengar. Itu suara petir, kan?" tanya Renata waswas.
"Tidak. Kelihatannya bukan." Rolan meraih lengan kakaknya, menuntunnya berjalan lebih cepat. "Aku curiga itu ada hubungannya dengan Sir William. Seseorang sudah pergi untuk memeriksa. Kau sebaiknya pergi ke Selatan bersama Maria."
"Lalu rumahnya?"
"Rumah ini tidak penting!" Rolan membentak. Ia menoleh, menyadari teriakannya mengagetkan Margie dan dua dayang Renata. Ia meneruskan lebih lembut, "Rumah bisa dibangun kembali. Tapi nyawamu tidak. Pergilah berlindung. Kumohon. Sudah tidak sempat untuk pergi dari Bjork, tapi setidaknya pergilah ke Selatan."
Renata mengangguk kaku. "Aku akan menyusul turun sebentar lagi, aku harus memastikan semua pelayan baik-baik saja."
"Renata ..."
"Mereka sebaiknya berlindung di ruang bawah tanah yang di samping gudang anggur," katanya pada Margie. "Tempat itu seperti bunker, dan stok makanan juga ada di sana."
__ADS_1
"Renata, kita tidak punya waktu!"
Renata menepis tangan Rolan. "Aku punya tanggung jawab di sini, Dik," katanya tegas, terkendali. Wajah itu sama sekali tidak kelihatan takut. "Aku nyonya rumah. Kalau bisa, aku tidak ingin meninggalkan mereka, tapi aku tahu aku harus pergi. Karena itu setidaknya aku harus memastikan mereka semua aman!"
Tidak ada kata aman karena kita berhadapan dengan iblis! Rolan menatap mata cokelat Renata, tahu bahwa tidak akan ada yang bisa menggoyahkan keputusan wanita itu. Ia mengangguk lemah. "Aku akan ke bawah menemui Marco."
***
Begitu melihat gulungan hitam yang aneh itu, seluruh tubuh Lady Chantall merinding hebat seperti barusan merangkak keluar dari kolam es. Muncul dorongan kuat untuk pergi ke satu sudut gelap dan meringkuk menyembunyikan diri di sana. Ia merasa seperti dilempar ke masa lalu ketika melihat kepala suaminya menggelinding jatuh dari tatakan penggal. Seluruh tubuhnya menggigil. Kepalanya panas. Tungkainya melemas.
Lady Chantall menoleh ke sana-kemari, mencari pegangan, mencari kekuatan. Ia mendapati Marco berjalan ke arah Gerald dan memberi petunjuk. Marco tidak menoleh ke arahnya sama sekali, itu membuat Lady Chantall agak kecewa, tapi hanya sekejap. Ia menepuk pipinya sendiri keras-keras untuk meneguhkan hati, lalu memaksa kakinya melangkah ke salah satu kereta yang sudah disiapkan untuknya. Sang sais membantunya naik. Meski tangan pria itu dingin karena ngeri, dia tidak kabur. Itu patut dipuji.
Dan aku juga tidak akan kabur, pikir Lady Chantall. "Ke Daily Bjork," katanya sebelum pintu ditutup. Ia melihat sais itu mengangguk sopan.
***
Gulungan hitam itu bergemuruh dari timur, terlihat jelas dari antara garis-garis bangunan Bjork. Raymond Stuart baru saja berpisah dari Robert dan hendak mampir ke pub untuk makan siang sekaligus mengatur info dengan para pembisik.
Tadinya ia pikir yang didengarnya adalah bunyi geledek, tapi ketika melihat gulungan awan kehitaman yang berarak terlalu cepat, Stuart tahu bahwa bentuk itu bukan fenomena alam. Itu jelas pertanda buruk. Ia mendengar suara anak-anak menangis. Orang-orang di sekitarnya berjalan makin cepat dan jendela-jendela rumah mendadak ditutup rapat. Semua orang merasakan ketidaknyamanan yang sama. Insting binatang mereka mengambil alih.
Stuart menoleh ke sekeliling, bimbang apakah sebaiknya ia ikut pulang dan bersembunyi di rumah atau meneruskan pekerjaannya. Ini bukan negaranya. Ini bukan kotanya. Ia bekerja pada Marco karena pria itu membayar dengan baik dan ia juga menyukai gaya kepemimpinannya. Stuart tahu ia tidak harus bertaruh nyawa demi emas atau demi tanah orang lain.
"Aku ini cuma informan," gumamnya putus asa, tapi tetap saja memutar mobil ke arah sabana. Ia harus memastikan apa yang sedang terjadi dan memberi tahu Marco secepatnya.
***
__ADS_1
catatan: nama panggilan Maria sekarang kuseragamkan jadi Mary, bukan Marry. Tapi revisinya emang bertahap.