BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 146


__ADS_3

Xavier Hastings sebenarnya cukup menarik andai saja ia mau berbenah. Namun pria itu selalu saja kelihatan seperti gelandangan yang dipaksa mengenakan baju perlente. Rambut cokelat lurusnya jarang disisir, wajahnya pucat, dan dari tubuhnya selalu tercium bau minuman keras. Kalau tidak sedang mengekori sepupunya, Charles, ia biasa ditemukan di pub atau di rumah bordil.


Jose tahu sedikit banyak mengenai pria itu berdasar catatan yang diberikan Krip padanya. Ia membaca buku catatan Krip setiap malam, memastikan tidak ada informasi atau fakta yang terlewat olehnya.


Namun bahkan dalam catatan Krip pun, tidak ada sesuatu yang penting tentang Xavier yang belum Jose ketahui.


Jose diam di ambang bukaan ruang tamu, memperhatikan Xavier yang masih mondar-mandir gelisah tanpa menyadari keberadaannya.


Pria itu tampak kumal, hanya mengenakan kemeja serta rompi vest lusuh yang meski kelihatan sudah dibersihkan, tetap tidak bisa menutupi bekas tanah yang menempel di sana. Mungkin Xavier sempat jatuh di suatu tempat, atau habis merangkak-rangkak di tanah karena bagian lutut celananya juga kotor. Jose masih memperhatikan agak lama sampai Xavier akhirnya menoleh karena merasa diawasi.


"Argent!" serunya cepat sambil bergegas mendekat. Jose justru bergeser satu langkah karena waspada dengan gerakan tiba-tiba itu, membuat Xavier jadi berhenti. "Aku tidak akan kasar," katanya perlahan sambil menaikkan kedua tangannya, memperlihatkan bahwa tak ada apa-apa di sana. "Kau tidak perlu takut, Argent."


Jose menaikkan sebelah alis. "Apa ketika singa berhenti untuk membiarkan seekor kelinci lewat, kau juga akan mengira singa itu takut pada kelinci?"


"Maksudmu kau singanya dan aku kelincinya?" Xavier memandangi Jose yang berjalan masuk ke ruang tamu dan duduk duluan sebelum mengibaskan tangan untuk mempersilakannya.


"Hanya kelinci yang melompat mondar-mandir dengan gelisah di sarang singa." Jose mengangguk. "Duduklah, aku tahu kau bukan datang untuk membahas rantai makanan denganku. Silakan, Xavier."


Xavier sebenarnya ingin menegur Jose yang memanggilnya langsung dengan nama depan, tetapi ia membatalkannya karena merasa itu hal sepele dibandingkan dengan yang mau ia bahas. "Seseorang ingin membunuhku, tapi aku yakin itu bukan Charles," katanya. "Aku memberimu kode di pesta! Tapi kau tidak menelepon! Kau harus menolongku! Aku tidak mau jadi golem!"


Jose masih tersenyum sopan, tidak memperlihatkan bahwa tak satu pun kata-kata yang diucapkan Xavier terdengar masuk akal baginya. "Xavier," panggilnya lembut. "Berapa gelas yang kau minum pagi ini?"


Xavier bangkit berdiri dan menghantamkan kedua tangannya ke lengan kursi Jose. Ia membungkuk di depan pemuda itu dengan wajah merah yang garang, mengancam, mengurung Jose di kursi dengan tubuh besarnya. "Aku serius!" geramnya dengan napas memburu. "Aku mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan pamanmu! Argent selalu membayar hutang budi. Benar, kan? Hm?!"


Jose memicingkan mata, seperti berusaha mengintip ke dalam jiwa. "Berapa gelas yang kau minum pagi ini?"


"Empat!" Xavier mendengus. Ia mencengkeram lengan kursi Jose lebih erat, makin gemas karena pemuda itu tidak kelihatan gentar, bahkan mengedip pun tidak. "Aku harus pura-pura mabuk untuk bisa sampai ke sini!"


Dia mencari keberanian dari minuman, pikir Jose.


Xavier bisa menangkap apa yang dipikirkan pemuda itu, dan rasa malu yang memukulnya justru membuat ia makin emosi. "Maaf saja, aku memang bukan tuan muda kaya yang dilindungi berlapis-lapis pengawal! Tak punya pengikut setia yang menjilat sepatuku tiap aku melangkah! Hanya bir yang tidak berkhianat padaku, yang mampu membuatku bertahan sampai detik ini!" Ia bersendawa keras, bangkit menjauh dari Jose dan berdiri berkacak pinggang di hadapannya. "Kau boleh saja mengkritik atau mengasihaniku dari tahtamu yang tinggi itu, Tuan Jose Argent! Lakukan sesukamu kalau itu bisa membuka mata manjamu, membuatmu sadar tidak semua orang dilahirkan beruntung sepertimu! Bagiku, bagi kami, untuk bisa selamat tiap hari saja sudah anugerah!"


Jose menggerakkan tangan kanannya yang sejak tadi terulur ke luar, melambai pelan dalam gerakan mengusir, lalu mengembalikannya ke lengan kursi.


Xavier mengerutkan kening melihat itu. Ia memutar torsonya, membeku di tempat melihat tiga pria bertubuh raksasa melotot garang padanya.

__ADS_1


Gerald, Finnian, dan Harold mengepalkan kedua tangan mereka. Seluruh otot di tubuh mereka menegang marah. Mereka sudah mengawasi Xavier sejak sebelum Jose datang, dan tidak suka karena melihat bahwa pria itu setengah mabuk. Namun Jose tidak mau mundur dan tetap menyuruh mereka berjaga di tempat yang tersembunyi.


"Aku tidak mau dia jadi waspada dan menutup-nutupi tujuan kedatangannya," Jose memberi alasan, dan alasan itu mereka terima.


Namun ketika Xavier menghambur maju dan menghantam kursi Jose, Gerald memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyian. Hanya tangan Jose yang mengambang kaku dalam pose 'berhenti'-lah yang menghentikannya. Namun mereka tetap berjaga di situ, di ruang tengah, mengawasi Xavier dengan marah.


Xavier mengembalikan wajahnya pada Jose, yang masih menatapnya tanpa berkedip dengan kepala ditopang di ujung kepalan tangan. "Aku sudah membantumu, tapi ini yang kau berikan?" semburnya sambil menunjuk ke arah para pekerja. "Jadi begini etika Argent?!"


Jose tersenyum dalam cara yang lebih mirip seperti hyena menyeringai. "Seperti katamu, aku ini tuan muda manja yang tak mengenal dunia. Aku hanya tahu satu cara untuk menarik kebenaran dari seorang pemabuk: biasanya aku akan menggeret mereka ke bawah tanah dan merendam mereka terbalik dari kepalanya. Tapi jangan cemas. Seperti yang kau tahu, aku selalu membayar hutang budi." Ia berhenti sebentar, matanya menatap dengan sorot tertarik. "Masalahnya, hutang budi apa yang kau maksud? Kau bertaruh nyawa menyelamatkan pamanku dari apa? Di mana dia sekarang? Mari kita duduk dengan tenang untuk membicarakan soal itu dulu."


"Kau harus menolongku dulu!" Xavier menukas. "Mulutku terkunci rapat sampai kau bersumpah melenyapkan orang yang mengikutiku!"


Jose bangkit dari kursi, sudah bisa menangkap apa yang terjadi berdasar ocehan tamunya itu. "Xavier yang malang," katanya, "kau tidak dalam posisi bisa bernegosiasi denganku. Pilihan yang kau miliki sekarang hanya antara kau mengatakan semua yang kau tahu, atau aku sendiri yang memberikan mayatmu pada siapa pun yang mengejarmu di luar."


Xavier tidak mau digertak. "Lakukan saja. Kau tidak akan tahu di mana pamanmu berada. Kau tidak akan tahu siapa yang sedang kau hadapi!"


"Ada banyak cara untuk membuat manusia bicara."


"Tidak akan mempan padaku. Kau tahu kenapa aku menelan harga diri dan minta suaka padamu?" bahkan mengucapkan itu pun membuat Xavier tersendat dan tersedak, tetapi ia merasa tidak punya pilihan. "Bahkan mati di tanganmu pun lebih baik daripada jadi golem!"


Xavier menautkan kedua alisnya dengan bingung. Mata merahnya yang berair menatap Jose saksama. "Masa kau tidak tahu? Harusnya kau pernah melihat salah satu golem atau paling tidak mendengar tentangnya. Makhluk itu kan pernah datang ke rumah ini."


Dalam benak Jose segera terbayang sosok mengendus hantu hitam yang dilihatnya seminggu lalu. Bulu kuduknya meremang.


"Nah, kau tahu." Xavier meringis melihat reaksi itu, terhibur melihat ekspresi selain keangkuhan dari wajah Jose.


Tadinya Jose ingin menangkap Xavier dan memaksanya bicara bahkan meski harus menggunakan kekerasan. Namun setelah bicara dengannya, Jose tahu pria itu bersungguh-sungguh dengan semua yang diucapkannya. Sama sepertinya yang memiliki kebanggaan sebagai seorang Argent, Xavier tidak lupa bahwa ia memiliki darah ningrat dan menjaga integritasnya.


"Baiklah." Jose mengangguk. "Kau berhasil membuatku tertarik. Gerald, bawa Tuan Hastings ke kamar baca di atas. Minta George buatkan kopi untuknya agar ia bisa berpikir lebih jernih."


Xavier tersenyum penuh kemenangan. "Anak pintar," pujinya, meledek. Ia mengikuti Gerald, yang mengantar dengan wajah keras karena menahan marah.


Jose menghela napas begitu semua orang pergi dari situ. Ia menangkupkan sebelah tangan ke kening, mengusap wajah dengan lelah. Ketika mengangkat wajah, Jose baru melihat ada seseorang yang mengawasinya dari ambang pintu yang menuju ke koridor taman.


Renata.

__ADS_1


"Ibu," sapa Jose sambil menatap ke sekitar, mencari Jacob. Biasanya kakaknya itu tidak beranjak dari ibu mereka. Ia mendekati Renata, mengecup singkat pipinya. "Maaf, akhir-akhir ini aku tidak sempat memainkan biola untuk Ibu."


Renata menggeleng ringan. "Ibu tahu kau sibuk," katanya.


"Sejak kapan ibu di sini? Habis dari taman? Jake di mana?"


"Jacob menemani istrinya jalan-jalan pagi. Aku sejak tadi di sini."


Jose membeku. "Sejak tadi?"


"Kau terlalu fokus pada Hastings sampai tidak menyadariku di sini?" Renata tersenyum, dan Jose segera tahu bahwa ibunya melihat dari awal semua yang ia lakukan.


"Kuharap Ibu tidak kecewa melihatku sedikit jahat," kata Jose pelan, menyunggingkan senyum polos untuk merayu ibunya. "Ini hanya sementara. Kalau Paman sudah kembali, aku akan punya waktu untuk memainkan Vivaldi lagi di taman."


Renata mencubit ujung hidung putranya dengan gemas. "Barang siapa memakai mahkota akan dikendalikan oleh mahkota itu, barang siapa duduk di singgasana harus bersiap dikemudikan oleh singgasananya, tetapi diberkatilah orang yang bisa bersikap seolah ia yang memegang kendali. Sebab dialah sang raja."


Jose ingat ada prosa yang berbunyi demikian di Bjork. Ia mengamati wajah halus ibunya, mencoba menelusuri maksud yang ingin diutarakan wanita itu.


Renata melanjutkan pada bait kedua, "Jikalau singgasana bisa memaksa orang yang duduk di sana berubah dari manusia menjadi iblis, apakah singgasananya atau orangnya yang jahat?"


Jose mengerjap, menyadari ibunya sedang menanggapi bagian jahat dari ucapannya di awal tadi. "Mungkin tidak ada yang jahat dan tidak ada yang baik," sambungnya, mengutip paragraf selanjutnya pada hikayat tersebut.


Renata menelengkan wajah, menaikkan sebelah alis dan menarik sudut bibirnya hingga membuat senyum cerdasnya terlihat tak simetris. "Apakah ketika badai merusak rumah maka alam jadi jahat? Tidak. Tidak semua yang destruktif adalah jahat. Menurut Ibu, kau jadi jahat kalau kau menghancurkan sesuatu hanya demi kesenanganmu sendiri. Selama kau hanya melakukan hal yang semestinya kau lakukan, kau tetap putraku sayang yang manis."


Bibir Jose menekuk dalam senyum gembira. Ia memeluk ibunya erat-erat, mencium pipinya sekali lagi. "Terima kasih, Bu," katanya, melepas pelukan. "Ibu membuatku lega. Tamuku sudah menunggu di atas, permisi dulu ... jika diizinkan."


Renata mengangguk mengizinkan, memandangi punggung putranya yang berlari kecil ke lantai dua.


Marco bermaksud memutus tradisi keluarga Argent yang mengurusi dunia bawah dengan cara tidak menikah dan tidak mengangkat anak. Namun Marco suka membawa Jose bepergian ke mana-mana, memperkenalkannya dengan banyak manusia dan mengajarinya bermacam hal. Renata sudah lama menebak bahwa pada akhirnya, Jose akan menjadi kartu cadangan Marco. Ia bisa mengerti, itu memang konsekuensinya masuk ke dalam keluarga ini, tetapi tetap sulit baginya untuk menerima kenapa putranya harus memikul beban seberat itu.


Apakah singgasananya atau orangnya yang jahat?


Bait itu kembali terngiang dalam benak Renata.


Keduanya, ia menyimpan jawaban pribadinya dalam hati. Keduanya akan saling mengkontaminasi, menjadi jahat.

__ADS_1


***


__ADS_2