BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 123


__ADS_3

Jose berhasil meluncur masuk ke lantai tiga setelah mencongkel satu jendela yang terkunci. Tidak ada orang di lantai tiga. Semua pelayan ada di lantai satu. Namun Jose tidak bisa menghilangkan rasa tidak nyaman yang menyelubunginya. Ia merasa seolah sedang diawasi. Namun setiap kali ia menoleh untuk memastikan, tidak ada apa pun di belakangnya.


Jose masih hapal pada denah puri ini. Ia melangkah hati-hati di koridor yang berlapis karpet beludru merah. Karpet ini menyamarkan suara tapak sepatunya, tapi juga akan meredam suara orang lain, jadi Jose tetap bersikap sewaspada mungkin. Sesekali ia menoleh ke sekitar, memastikan posisinya aman. Dalam kepalanya sudah tersusun alasan apa yang akan digunakannya kalau kepergok. Ia bisa bilang bahwa ia ingin ke toilet dan tersesat. Ia bisa pura-pura mabuk dan mengaku salah jalan.


Ujung koridor terbagi jadi dua cabang. Ke kiri akan menuju kamar-kamar tamu dan perpustakaan sementara ke kanan akan membawanya ke ruangan luas yang menuju kamar master. Jose berhenti melangkah beberapa meter sebelum persimpangan. Ia menyentuh dadanya sendiri, yang barusan terasa panas.


Rasa panas itu bukan berasal dari dalam melainkan dari luar, rasanya seperti ada logam panas menempel di kulitnya.


Awalnya Jose ingin mengabaikan itu, tapi kemudian ia memutuskan untuk memeriksa. Jarinya meraba tux yang ia kenakan. Jarinya menyentuh sesuatu yang keras di dada.


Ah.


Jose baru ingat ia mengalungkan medalion misteriusnya sejak siang tadi. Rolan begitu khawatir medalion itu akan mengundang makhluk supranatural, tapi Jose sangsi. Namun karena tidak mau benda itu hilang, ia mengalungkannya dan menyembunyikannya di balik kemeja. Sekarang, mata kalung medalion itu terasa panas. Ia menunduk, meraba kalungnya dari balik pakaian. Sangat panas.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Jose hampir meloncat kaget. Ketika mengangkat wajah, mata hitamnya bertatapan langsung dengan mata biru jernih Maria. Gadis itu ada di depannya, menatap dengan raut penasaran. "Apa yang kau lakukan di sini?" ulangnya.


Jose membuka mulut dengan bingung. Maria mendekat selangkah. Gaun putihnya berdesir lembut menyapu karpet. Maria menelengkan kepala, matanya masih menatap penasaran. "Hey, hey, apa yang kau lakukan di sini?"


Begitu mendengar pertanyaan itu dilontarkan untuk ketiga kalinya, Jose baru sadar. Perempuan di depannya bukan Maria.


***


Marco dan Nolan akhirnya sampai di lantai dasar. Ruangan itu berbentuk lingkaran. Temboknya melengkung mengurung mereka. Hanya ada satu pintu di sana, tapi tertutup rapat. Tidak ada jendela.

__ADS_1


Marco mengelilingi ruangan dengan penasaran. Tempat ini punya ventilasi udara yang baik. Dinding-dinding batunya menjaga suhu ruangan sehingga tidak pengap. Marco menebak, mereka kini ada di dasar menara puri kapel. Puri kapel punya dua menara, satu di sisi barat dan satu lagi di timur. Yang sebelah timur berisi kamar untuk bersantai Duke Ashington sementara yang di barat puncaknya dihiasi lonceng untuk keperluan religius. Atapnya dibuat terbuka agar suara lonceng kedengaran keras.


Ketika Marco dan Nolan bicara tadi, suara keduanya bergema dalam jenis khas gema ruang berkubah. Marco menebak mereka pasti ada di menara timur. Dan kalau mereka ada di timur, maka penjara mereka barusan tidak berada di bawah tanah. Kemungkinan ada di lantai satu, di belakang puri. Untuk bisa ke permukaan tanah, mereka harus naik lagi.


Selagi Marco memeriksa pintu tanpa kenop yang menempel di dinding, Nolan mengunci pandangannya ke tangga batu tempat mereka turun, waspada kalau-kalau pintu rahasia tadi terbuka lagi dan ada orang jahat turun.


Marco menempelkan telinga ke daun pintu berusaha mendengarkan. Tidak ada suara apa pun.


"Bagaimana kalau didobrak?" usul Nolan pelan.


Marco menggeleng. Pemilik kastil ini menyukai trik. Mendobrak pintu mungkin malah akan membawa petaka. Pintu di depan mereka tak memiliki handle, juga tidak ada rel untuk menggeser. Mungkin ada mekanisme lain. Mungkin pintu itu bahkan bukan jalan keluar.


Marco meraba dinding, mencari tuas atau kenop. Nolan ada di belakangnya, mencontoh apa yang ia lakukan—meraba dinding, menekan, mencari, tapi di tempat yang dilewatkan oleh Marco.


"Marco," panggil Nolan pelan.


Suara orang lain akan naik begitu tinggi saat marah, tapi Marco selalu menurunkan suaranya beberapa oktaf sehingga yang kedengaran adalah suara berat yang seperti berasal dari dasar bumi.


"Namamu Marco Argent, kan?" balas Nolan heran.


"Tuan," koreksi Marco galak. "Tuan Argent!"


Ia sudah cukup sabar setiap kali Nolan berkau-kau dengannya, ia mencoba menoleransi mengingat gadis itu berasal dari tempat kumuh yang tidak tahu adat. Namun memanggil nama depannya tanpa embel-embel apa pun jelas penghinaan. Ia berjalan mendekati Nolan dengan amarah yang dingin, siap menempeleng kepala bocah itu hingga menangis. "Bagus sekali kita terjebak di sini. Akan kuajarkan tata krama langsung padamu, kau harus berterima kasih Marquis Argent ini sudi mengajarimu!"


Nolan menyembunyikan senyum jahilnya dan memasang ekpresi menyesal. "Sudahlah, itu tidak penting. Coba lihat kakiku."

__ADS_1


Marco menggerakkan lampu minyak yang dibawanya untuk menerangi lantai. Permukaan ruangan diselimuti tegel hitam putih seperti papan catur yang masing-masing kotaknya memiliki sisi tiga puluh senti. Kedua kaki Nolan berdiri di satu kotak hitam yang sama. Tegel itu melesak sedalam lima senti.


"Menurutmu ini apa?" tanya Nolan, tahu bahwa apa yang ia temukan pasti menarik bagi Marco dan akan bisa dipecahkan pria itu.


Marco mengangkat lampunya lebih tinggi, membuat sinar menjangkau tempat yang lebih luas lagi. "Tunggu di situ!" perintahnya sambil berjalan tergesa ke salah satu dinding ruangan, kemudian berjalan lurus ke sisi dinding yang di seberang sambil menghitung jarak. Nolan mengamati bagaimana Marco kelihatan mirip kunang-kunang yang diburu sesuatu.


Setelah menghitung lagi dari sisi yang lain, Marco kembali ke sisi Nolan dan mengamati kotak hitam itu. "Coba menyingkir," katanya.


Nolan menyingkir dengan patuh, dan perlahan ubin tadi kembali ke level semula. Marco menjejaknya dengan satu kaki, tapi tidak ada perubahan. Lalu ia berdiri dengan kedua kakinya di tegel tersebut, dan seperti yang ia harapkan: tegelnya bergeser turun.


"Kodenya bukan berada di dinding," Marco mengangguk puas. "Temuan bagus. Sana, cari lagi lantai yang bisa kau injak turun."


Nolan meringis. "Bagaimana dengan pelajaran tata kramanya tadi?"


Ia sebenarnya hanya meledek saja, tapi Marco jadi ingat kembali pada kejadian barusan. Marco berbalik tegas dan mengulurkan tangan tiba-tiba, membuat Nolan terkesiap kaget. Gadis itu memejamkan mata dan merapatkan bibir, mengira ia akan dipukul.


Namun Marco hanya menepuk kepala Nolan dua kali dengan pelan, gestur yang hampir seperti mengusap alih-alih menepuk. "Nanti," katanya serius. "Saat kita sudah kembali ke Bjork Utara, aku pasti mendidikmu sampai kau akan berharap lebih baik aku meninggalkanmu sendirian di sini sekarang."


Nolan membuka mata dan mengerjap-ngerjap pelan. Ia mengusap rambut ikal pirangnya yang barusan diusap. Selama beberapa detik, ia hanya diam di tempat. Nolan mengangkat muka untuk mengatakan sesuatu, tapi kemudian segera membatalkannya. Marco sudah berjalan menjauh darinya, sibuk meneliti lantai. Lampu minyak diletakkan di lantai agar sinarnya menerangi mereka dengan adil.


"Kalau ..." Nolan berkata pelan. Ia bicara dengan suara cukup lirih, tapi karena ruangan itu kosong dan hanya ada mereka berdua di sana, suaranya kedengaran cukup keras. Ia meremat jari-jarinya dalam lengan mantel. "Kalau aku menemukan hal bagus lain ... itu akan membantumu?"


"Itu akan membantu kita," koreksi Marco tanpa menoleh. Ia menebak gadis itu pasti ketakutan sekarang setelah ia mengungkit soal meninggalkan Nolan sendirian di sini. "Mau tahu apa yang akan membantuku? Kalau kau bersikap sopan!"


Bukan itu yang ingin didengar Nolan. Tapi gadis itu menggeleng pelan dan menepuk-nepuk pipinya, berusaha meneguhkan diri sendiri.

__ADS_1


Aku pasti cuma sedang bingung, pikirnya, menahan kuat-kuat emosi yang saat ini berpusar dalam dadanya. Yang penting sekarang adalah keluar dari sini. Jangan pikirkan hal lain, Nolan!


__ADS_2