BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 37


__ADS_3

Giliran Nolan yang mengerutkan kening. Ia menoleh pada Jose dengan wajah heran. “Jadi dia tidak ada hubungan apa-apa dengan wilayah sebelah Selatan? Dia juga tidak pernah ke sini?”


Jose memberi gelengan sekali dan mengiyakan.


“Lalu, apa yang kau cari di sini?” Nolan menaikkan sudut bibirnya ke atas. “Aku tidak mungkin mengenalnya dan tidak bisa membantumu, meski kau cerita padaku tentang temanmu. Namanya saja aku belum pernah dengar. Siapa tadi? Daf?”


“Dave,” ralat Jose. Ia mengembalikan pandangan ke arah sungai, tahu bahwa Nolan benar. Namun ia datang memang bukan untuk minta bantuan. Ia hanya ingin menceritakan keresahannya pada seseorang. Ia tidak bisa bercerita pada Maria karena tidak mau menambah beban gadis itu.


Lagi pula Maria jelas tidak mengerti apa-apa. Membuat kawannya bingung hanya akan menambah masalah bagi Jose. Ia juga tidak bisa mendiskusikan apa pun pada kedua pamannya karena Jose masih curiga pada mereka. Ada sesuatu yang sedang dilakukan kedua pria itu, sesuatu yang baunya tidak sedap, tetapi Jose tidak akan melakukan apa-apa sebelum tahu pasti apa yang sedang ia hadapi. Ia belum akan mengusik pekerjaan pamannya, tetapi sudah bertekad akan menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.


Kedua orang tuanya juga tidak bisa ia ajak bicara. Mereka jelas ada di pihak kedua pamannya.


Pilihan satu-satunya bagi Jose hanyalah Nolan, gadis yang mungkin mengerti apa yang terjadi. Orang yang keras kepala, berjiwa pemberontak, dan juga sangat terus terang. Kalau bicara dengan gadis itu, Jose berharap bisa menemukan penerangan dalam celetukan-celetukan yang gamblang. Bahkan meski belum bisa menemukan keterangan apa pun, ia berharap bisa membagi rahasia yang disimpannya dengan gadis itu. Nolan kelihatan jelas bukan orang yang penakut. Mana ada orang penakut yang menyeberangi wilayah dini hari dan menyusup ke rumah orang lain untuk mengembalikan barang yang dikiranya tertinggal?


“Menurutku, dia sudah hilang dengan orang-orang lain,” Nolan melanjutkan setelah diam agak lama. “Tidak ada orang yang masih selamat setelah menghilang semalam, kita semua tahu hal itu. Aku tidak tahu soal orang-orang kaya seperti kalian, mungkin saja kalian berpesta semalaman atau apa, tetapi di tempatku sih tidak akan ada yang mengharapkan pulang orang-orang yang semalam saja menghilang.”


Jose menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. “Aku juga tahu itu ... tapi rasanya ... rasanya tidak mungkin. Aku membuat janji dengannya waktu masih sore, waktu itu masih banyak orang. Tempatnya tinggal juga ada di pusat keramaian.”

__ADS_1


Nolan menjentikkan jari, tersenyum menang ketika mengetahui apa penyebab wajah kuyu yang lelah itu. “Bukan salahmu. Orang-orang hilang tiap harinya, dia hanya tidak beruntung.”


“Kau tidak mengerti, dia hilang saat hendak menemuiku!”


“Apa ada yang menyalahkanmu?” Nolan menoleh, menatap lurus ke dalam mata hitam Jose. “Apa mereka mengatakan bahwa hilangnya orang itu karena salahmu?”


“Tidak, tapi ....” Jose membuka dan menutup mulut dengan sukar. “Tidak, masalahnya bukan soal siapa memaafkan siapa,” desahnya. “Andai saja semudah itu, masalahnya bukan itu.”


“Kulihat masalahnya memang di situ, kau kelihatan jelas sedang mencari cara untuk membebaskan diri dari rasa bersalah. Kau ke sini untuk mendengar itu, kan? Mendengarku mengatakan bahwa hilangnya temanmu sama sekali bukan salahmu, bahwa kau tidak ada hubungannya dengan semua itu?”


Nolan sudah mengatakannya. Gadis itu mengatakan dengan jelas dan jujur apa yang dialami dan dirasakan oleh Jose. Orang yang sama sekali asing, tetapi ternyata sangat memahami apa yang ia rasakan. Jose tersenyum lelah, kemudian mengangguk.


“Kau benar, aku memang sedang menyalahkan diri sendiri dan ingin mencari penghiburan.” Lelaki itu merenggangkan tubuhnya, menghirup udara hutan dan bau spora dalam-dalam. “Dalam hati aku terus-terusan berkata bahwa itu salahku. Kalau saja aku tidak mengajak Dave. Tapi semuanya tidak bisa diulang. Bahkan meski Dave tidak kembali lagi.”


“Bagus kalau kau sadar. Aku benci orang yang suka berpura-pura.” Nolan mengedikkan bahu, menarik pancingnya yang kena. Satu ikan air tawar yang besar menggelepar di atas rumput. Ia menarik lepas kailnya dan memasukkan ikan itu ke dalam ember. Wajahnya berseri-seri melihat tatapan kagum Jose.


Ia baru saja mau memberi satu nasihat telak lagi untuk pemuda kaya itu, tetapi telinganya sudah duluan menangkap suara yang aneh. Wajah Jose kelihatan tegang. Sepertinya lelaki itu juga mendengar apa yang didengar Nolan.

__ADS_1


***


Rolan menatap sekali lagi pada jam saku di tangan untuk memastikan waktu, kemudian segera bangkit dan berjalan ke luar kamar. Ia melewati tangga yang baru saja dipelitur serta hiasan-hiasan dinding yang mahal namun sederhana. Kakinya berhenti sesaat di luar kamar kerja Marco untuk merapikan sisiran rambut dan juga setelan kemejanya kemudian mengetuk pintu.


“Masuk,” ucap suara berat dari dalam ruangan.


Kamar kerja Marco selalu disirami cahaya matahari yang lembut, seolah pria itu memesan khusus cahaya untuk dikirimkan melalui jendela kamar kerjanya.


Rolan sudah beberapa kali masuk ke dalam ruangan itu, dan tetap saja terkesan melihat kerapian dan tata letak elegan dari segala barang.


Rolan mengulaskan senyum sehalus dan seramah mungkin. Marco masih terlihat sedingin saat makan siang tadi. Wajahnya tenang dan netral, kumis putihnya tampak rapi dan pas menghias wajahnya yang keras. Rambutnya sudah putih seluruhnya, sedikit keperakan. Marco tidak pernah menyukai semir. Dia hanya menyukai hal yang alami untuk dirinya sendiri.


“Rolan,” sapa pria tua itu dari balik meja. Dia mengangguk pada kursi kosong di depannya, mempersilakan dokter keluarga Argent untuk duduk di sana. “Silakan.”


Rolan mengangguk luwes sebagai balasan, kemudian mendudukkan diri dengan santai di kursi putar. Rasanya empuk dan nyaman, Rolan merasa ia akan betah duduk seharian di sana—kalau tidak ada Marco.


“Bagaimana dengan dua dayang itu?” Marco tidak berbasa-basi.

__ADS_1


__ADS_2