BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 43


__ADS_3

Rolan mengetuk pintu kamar Jose. Terdengar suara gemerisik buku ditutup dan suara langkah kaki. Telinga Rolan sudah terlatih untuk menangkap suara sesamar apa pun.


“Siapa?” tanya Jose dari dalam.


“Aku,” Rolan menyahut enteng. “Aku datang membawa kabar, buka pintunya.”


Tanpa banyak bicara, pintu oak besar yang dicat kemerahan itu terbuka lembut.


“Kau habis berguling-guling di tanah?” Rolan mengerutkan kening ketika melihat kemeja dan celana Jose terkena noda lumpur kering.


Jose menunduk, kemudian mengedikkan bahu. “Aku cinta alam.” Ia tidak perlu mempersilakan Rolan masuk karena dokter itu sudah berjalan sendiri ke dalam dan duduk di salah satu sofa putih yang menempel pada dinding.


“Kabar apa, Paman?” Jose mengambil tempat di seberangnya.


Sebagai orang yang berkecimpung dalam urusan gelap, Rolan sudah bisa membedakan dan mengendus mana saja orang yang memiliki rahasia kelam. Ia bahkan bisa mengukur tingkat rahasia yang dimiliki oleh seseorang hanya dengan melihat langsung pada matanya atau memperhatikan gerak-geriknya.


Marco memiliki rahasia lain yang lebih gelap, itu sudah bisa diduga oleh Rolan sejak lama. Maria tidak memiliki rahasia yang berarti. Edgar punya rahasia kotor, tetapi tidak gelap. Renata kakaknya tetap semurni biasa.

__ADS_1


Kali ini, saat mengetuk kamar Jose dan memperhatikan wajah pemuda itu ketika menatapnya, Rolan mengendusnya. Sebuah rahasia.


Ia menyadari Jose mungkin menemukan rahasia lain yang sedikit kelam.


Rolan menatap ke sekeliling kamar dengan curiga. Kamar itu punya tata letak yang sama dengan kamar Jose di sayap barat. Para pelayan sudah mengatur sedemikian rupa sehingga tidak ada satu senti pun benda yang bergeser dari denah awal. Mereka memindahkan tiap karpet dan menyusun letak-letak dasar tiap benda persis pada lekuk yang membekas.


“Aku tidak melihatmu pulang,” Rolan berkata, mengembalikan pandangan ke depan.


“Aku memang tidak mengumumkan diri waktu pulang,” sahut Jose tangkas. “Ada perlu apa?”


“Biasanya orang bicara karena ada perlu.” Jose mengangkat bahu. Ia tidak menutup pintu kamar. Sebuah tanda yang sangat jelas bahwa kehadiran Rolan tidak dikehendaki. “Kalau Paman cuma ingin iseng, sebaiknya ganggu Paman Marco saja.”


Rolan menyeringai. Ia menyandarkan punggung di bantalan sofa yang empuk, kemudian mendesah perlahan. “Kau tidak ingin menanyakan sesuatu padaku, Jose?”


“Soal kenapa Paman datang ke sini? Sudah, kan? Barusan.”


“Bukan soal itu,” Rolan menggeleng. Dia menarik dan menegakkan tubuhnya, kemudian melayangkan tatapan kritis pada Jose. “Kau dengar apa yang kami bicarakan di taman tadi. Soal mayat itu.”

__ADS_1


Seperti yang sudah ia duga, Jose memang mendengarnya. Terbukti dari perubahan waut wajah pemuda itu dari datar menjadi tegang. Pandangan matanya juga kelihatan waswas, berpindah-pindah dari wajah Rolan, kemudian ke arah pintu.


“Kau bisa menutup pintunya kalau ingin bertanya lebih lanjut.” Rolan berdehem. “Kita sama-sama tidak mau ada pelayan atau orang yang tidak diinginkan mendengar pembicaraan kita, kan?”


“Pembicaraan apa, Paman?” sahut Jose dingin. “Memangnya kalau pintu kamar kututup, Paman akan bicara sesuatu?”


“Sesuatu,” janji Rolan sambil mengangguk. Tangannya terjulur ke samping, menunjuk pada pintu dengan gerakan mengayun, memberi kode untuk menutupnya.


Jose masih menatap Rolan agak lama dengan pandangan menilai, kemudian mengangguk perlahan dan berjalan menutup pintu. Rolan mencuri kesempatan untuk menyambar benda yang disembunyikan Jose di balik bantal sofa yang lain.


Aha, buku! Rolan berseru gembira dalam hati ketika meraih benda itu.


Buku yang sudah tua. Sampulnya terbuat dari kulit. Ekor mata Rolan menangkap gerakan tangan Jose yang menutup daun pintu, sementara itu tangannya bergerak cepat membuka buku langsung pada halaman tengah. Halaman tengah selalu lebih baik daripada halaman pertama. Lebih banyak memberi informasi.


Rolan menatap buku itu dengan kening berkerut, kemudian segera menutupnya tanpa suara dan mengembalikannya ke tempat semula ... tepat pada saat Jose melepas tangan pada gagang pintu dan membalik tubuhnya.


***

__ADS_1


__ADS_2