
Mereka ada di bawah puri kapel, menurut Marco. Ia ingat bahwa di gunung Bjork ada satu puri yang dibangun untuk ditinggali bangsawan yang suka menyepi, Duke Ashington. Puri itu kemudian dirombak jadi kapel ketika sang Duke memutuskan untuk menampung misionaris yang mengungsi dari perburuan orang Kristen di masa itu.
Marco bisa melihat lambang keluarga Duke tersebut terpatri di banyak tempat, bahkan di ruang bawah tanahnya.
Mereka keluar dari ruang penjara dengan aman. Tidak ada seorang pun yang berjaga di depan pintu. Lorong panjang tanpa penerangan menyambut mereka. Marco berjalan lebih dulu dengan langkah mengendap, Nolan di belakangnya. Satu-satunya senjata yang mereka miliki adalah pisau Marco. Nolan sempat berpikir untuk mencari senjata sendiri, tapi ia tidak melihat apa pun yang berguna. Mereka dikungkung koridor batu panjang yang lusuh dan dingin.
Lorong batu itu berbelok ke kanan, kemudian mereka menghadapi elevator tua sebagai satu-satunya jalan ke atas. Elevator tersebut tidak memiliki pintu. Bentuknya terlihat seperti sangkar logam. Dua obor api ditempatkan di sisi kanan dan kiri elevator. Ada tuas besar dan panjang di sisi kanan tembok batu yang Marco tebak berfungsi sebagai pengatur sistem katrol. Duke Ashington memang orang yang eksentrik.
Nolan memandangi elevator itu dengan kening berkerut. Ia tidak suka melihat bentuknya yang menyeramkan, dan ia juga tidak tahu mereka sedang menghadapi alat apa. Bingung karena mereka hanya berdiam diri di depan elevator, Nolan bermaksud mencari jalan lain. Ia berbalik, berhadapan langsung dengan moncong senjata.
Marco membalikkan tubuh begitu merasakan hawa keberadaan orang lain.
Ceroboh, rutuknya dalam hati. Seharusnya begitu melihat bahwa elevator kosong tersebut berhenti di lantai ini, ia menyadari bahwa siapa pun yang turun dengan elevator tersebut pasti belum kembali ke atas.
Marco mengulurkan sebelah tangan ke depan Nolan, membuat anak itu mundur sampai ke belakang punggungnya. Di depan mereka kini ada sepucuk revolver, dan di belakang revolver tersebut, Inspektur Robert menatap mereka dengan masam. Ia tidak mengenakan seragamnya, hanya mengenakan pakaian biasa di balik jubah hitam panjang yang menutupi tubuhnya.
"Bagaimana kalian bisa kabur?" geramnya.
Marco melirik ke kiri dan kanan, mencari hawa keberadaan orang lain. Apakah Robert hanya sendirian?
"Angkat kedua tangan di samping kepala, jangan ada gerakan mencurigakan. Kembali ke penjara," perintah Robert dingin.
Marco mengangkat kedua tangannya dengan patuh, kemudian meletakkannya di belakang kepala. Ketika melakukan itu, ia menggerakkan jarinya, memberi tanda pada Nolan yang ada di belakangnya.
Nolan menangkap tanda itu, dan langsung menerjang maju tanpa ragu. Ia menjerit, menubrukkan puncak kepalanya ke perut Robert.
Di saat yang sama, Marco merebut senjata dari tangan Robert. Konsentrasi inspektur itu pecah ketika hendak memutuskan akan mengurus yang mana dulu. Ia keburu ditabrak jatuh oleh Nolan. Mereka bergumul di lantai batu. Nolan memukul, mencakar, menjambak dengan liar. Robert menempeleng anak itu hingga berguling, sementara Marco tergelak. Revolver sudah berpindah ke tangannya.
"Hey, ini senjataku," katanya, masih tertawa geli. "Kau mengembalikannya? Baik sekali."
__ADS_1
Nolan berguling di kegelapan, merayap mundur pelan-pelan ke belakang Marco. Pipinya merah karena habis ditempeleng. Ia melotot dengan tatapan memusuhi pada Robert—yang berdiri dengan napas terengah-engah dan menatap mereka berdua dengan jengkel.
"Nah, Robert, kondisi berbalik sekarang." Marco tersenyum.
"Aku baru tahu seorang Marco Argent akan berteman dengan anak kumuh dari Selatan!" Robert meludah.
"Aku bahkan akan berteman dengan iblis kalau perlu," sahut Marco tenang. Moncong revolver ditodongkan hati-hati pada Robert. Matanya mengawasi gerakan pria itu. "Bukan iblis yang kalian buat, maksudku."
Robert menggeleng pelan. "Kau mengacaukan semuanya, kau tahu itu?"
"Jujur saja, aku tidak tahu. Dan sebaiknya kau jelaskan apa yang sedang terjadi di sini."
"Tembak saja dia, lalu kita pergi!" provokasi Nolan dengan suara serak. Ia sudah membenci pria itu sejak mendengar Robert menyebutnya 'Anak Kumuh dari Selatan'.
Robert meringis. Ia mengusap pipinya yang terluka karena cakaran Nolan. "Dia tidak akan melakukan itu, Nak. Kau tahu kenapa? Karena suara tembakannya akan mengundang kecurigaan orang lain. Semua orang akan tahu Marco Argent ada di sini. Kalian mungkin bisa menembakku, tapi di atas ada lebih banyak orang lagi yang akan kalian hadapi. Dan mereka tidak sebaik aku."
Marco menaikkan sebelah alisnya, menangkap makna ganda dari ucapan Robert. "Oh? Jadi kalau kami menggunakan elevator ini untuk naik, kami akan tertangkap?"
Marco menatap Robert lama. "Omong kosong," katanya. "Di atas hanya ada dua atau tiga orang kan? Aku punya revolver dengan tiga butir peluru di sini. Satu untukmu, satu untuk yang menunggu di atas, satu lainnya untuk monster ciptaan kalian."
"Itu bukan ciptaanku!" sergah Robert marah. Wajahnya memerah dan napasnya makin cepat. "Dalam revolvermu cuma tinggal tiga peluru! Dan orang-orang di atas ada lebih banyak dari yang kau tahu!"
"Jadi maksudmu, lebih baik aku diam di sini?"
"Membusuk sana di penjara," dengus Robert.
Marco tertawa. Ia menyimpan revolvernya ke balik ikat pinggang. "Baiklah, kembalilah sana pada majikan barumu."
Robert menegakkan punggung. Matanya berkilat marah. "Aku Robert Dawson!" bentaknya. "Dan aku bukan budak siapa-siapa!"
__ADS_1
Marco tersenyum, tapi tidak mengatakan apa pun. Ia membiarkan Robert berjalan melewatinya. Robert mengawasi sekitar dengan waspada, siap menyambut kalau Nolan menerjang lagi. Namun anak itu diam saja di samping Marco, meski wajahnya kusut dan bingung. Begitu Robert berada dua langkah di belakangnya, Marco berbalik dan menjitak keras kepala Robert.
"Itu," kata Marco saat Robert berbalik padanya dengan raut jengkel dan menuntut. "Itu karena kau tidak mengatakan apa pun padaku sebelumnya."
Robert mendengus. Ia menurunkan tuas elevator. Gerigi dalam puri bergerak, membuat sangkar elevator terguncang pelan. Robert melompat masuk ke dalamnya, membiarkan dirinya dikerek naik.
"Kenapa kau membiarkannya pergi?" tanya Nolan bingung.
"Karena di atas bahaya," sahut Marco tenang. Ia meraih salah satu obor di dinding dan memeriksa ruang kosong yang ditinggalkan oleh elevator. "Kalau kita naik menggunakan elevator, yang akan kita hadapi adalah orang-orang yang lebih jahat daripada yang menangkap kita. Aku bisa dibuat cacat dan kau bisa mati. Memangnya kau tidak menyimak tadi?"
"Itu kan cuma bualannya saja!" Nolan terbatuk karena tenggorokannya sakit.
"Tidak. Dia berkata benar." Marco mengetuk-ngetuk dinding, mencari sesuatu. Apa pun. Duke Ashington adalah orang yang eksentrik dan menyukai ruang rahasia, mekanisme aneh, serta puzzle. Mungkin saja mereka akan menemukan jalan keluar lain. "Dia memberi kita banyak informasi barusan. Memangnya kau tidak bisa menangkapnya?"
Nolan mencebik. "Tentu saja aku dengar!" suaranya serak, tapi ia masih ngotot bicara karena tidak ingin diejek oleh Marco. "Dia bilang peluru di senjatamu tidak akan cukup, jadi orang di atas pasti ada lebih dari tiga, dan mereka semua sebenarnya tidak tahu kita ada di sini. Kalau mereka tahu, itu gawat karena mereka jahat dan akan membunuhku kalau kita naik pakai sangkar bodoh tadi untuk naik. Dia membantah monster itu ciptaannya, jadi dia tidak ikut-ikut dengan pembuatan hantu hitam. Dia bilang dia bukan budak siapa pun, yang berarti dia tidak bertuan. Dia bukan bagian dari kelompok apa pun yang menangkap kita ini! Kau pikir aku bodoh?"
Marco menoleh heran. Wajahnya terlihat takjub. "Wah. Tidak kusangka kau bisa menggunakan logika dengan baik. Salut pada keluarga yang mengajarimu."
Nolan membusungkan dada dengan bangga, tapi tetap mempertahankan ekspresi jengkel. "Bagaimana kalau dia turun dan membawa banyak orang ke sini? Kenapa kau percaya padanya?"
Marco tertawa. Ia masih meraba dan mengetuk dinding batu. "Percaya? Aku Marco Argent. Aku tidak percaya pada siapa pun kecuali diriku sendiri."
Nolan menyilangkan tangan di depan dada dengan kesal. Apa semua orang Utara harus menyebut nama lengkapnya kalau ingin mengatakan sesuatu?
Ia masih ingat bagaimana Jose menyebut namanya sendiri dengan nada yang sama ketika menyatakan bahwa ia bisa memanggil polisi ke Selatan karena ia adalah Jose Argent. Lalu barusan, pria yang bernama Robert juga menyebut nama lengkapnya saat menyatakan diri.
Aku akan mencobanya juga lain kali, batin Nolan. Ia menyusun kata-kata yang akan diucapkannya dalam hati.
Aku? Aku Nolan da South, pikirnya dalam hati. Aku akan menyeruduk jatuh siapa pun yang berani menghina dan menyebutku anak kumuh!
__ADS_1
Ia tidak punya nama belakang, jadi menggunakan nama tempat tinggalnya: da South atau dari Selatan.
Setelah memikirkannya lagi, Nolan jadi merasa gagasan itu konyol.