BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 23


__ADS_3

“Kenapa tidak cerita padaku sejak awal?” Marco menukas tajam.


“Kenapa tidak cerita apa pun pada Ibu?” Sekarang Renata yang menuntut dengan pandangan jengkel. “Keadaan kota sedang tidak aman dan kau berjalan-jalan sendirian malam-malam ke tempat kumuh itu! Mengerikan sekali! Untung saja Marco meminta polisi patroli menjemputmu!”


Jose melirik sekilas pada pamannya yang menegakkan tubuh dengan sikap bangga. Itu membuatnya sedikit kesal. “Bu, tidak ada yang terjadi. Nyatanya memang tidak ada apa-apa. Untuk apa aku menceritakan itu kalau cuma akan membuat kalian cemas?”


“Harusnya kau tetap cerita! Apa pun yang sedang terjadi!” Renata masih bersikeras.


Edgar mengangkat tangan, menghentikan teriakan melankolis yang masih akan diserukan istrinya. Ia menatap pada putra bungsunya dan berkata, “Soal ini kita bahas nanti dulu, coba ceritakan apa yang kau lihat dari pondok Higgins?”


Istrinya tidak begitu setuju. Topik tentang putranya jauh lebih menarik bagi Renata, tetapi para pria memang lebih suka membicarakan misteri. Jadi, ia hanya menautkan kedua tangan di atas pangkuan, berusaha menjaga ketenangan wajahnya selagi mengikuti pembicaraan tiga orang dalam kamar tersebut.


“Aku melihat waktu bulan tidak tertutup awan,” Jose memulai. “Aku melihat sosoknya dari jendela, dia masih melakukan hal yang sama dengan waktu kulihat di pondok Higgins. Dia mengendus-endus ke atas dan ke bawah, juga ke samping. Tangannya bergerak seperti meraba-raba, dan pundaknya membungkuk ke depan. Dia jangkung, tapi ... tubuhnya aneh.”


“Lelaki atau perempuan?” Marco mengajukan pertanyaan yang pertama. Sebenarnya ada banyak hal lain yang lebih penting yang ia ajukan, tetapi pertama-tama identitas penyusup itu harus dipastikan dulu.


Sayangnya Jose tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Pemuda itu menggeleng pelan dan berkata, “Tidak tahu, Paman. Kurang jelas, aku lupa membawa teropongku.” Jose diam sebentar, berusaha mengumpulkan kembali memorinya saat ia berada dalam pondok Higgins. Yang ia dapatkan hanya rasa dingin yang menjalari punggung tanpa ampun. Ia menggigil pelan.


Selama setengah jam ke depan, empat orang dalam ruangan tersebut hanya membahas soal penampilan fisik penyusup yang dilihat Jose. Anehnya, tidak ada yang mau membahas soal status penyusup tersebut—apakah manusia atau bukan. Jose sendiri tidak mau mengajukan pilihan tersebut karena ia merasa takut sendiri pada jawaban yang akan datang. Malam selalu membawa rasa ngeri tersendiri pada diri tiap manusia.

__ADS_1


Pintu diketuk lagi dari luar dan Nolan diantar masuk ke dalam kamar oleh George. Nolan masih terlihat sama dengan terakhir kali Jose melihatnya: kucel, dekil, tidak kelihatan seperti anak perempuan.


Rambut pirangnya dipotong sependek anak lelaki, penampilannya juga mengesankan hal serupa. Anak itu hanya memakai celana kain lusuh warna cokelat dan kemeja berlapis jaket dari bahan denim yang sudah pudar. Tingginya tidak sampai sepundak Jose, tetapi Nolan mengangkat dagu lebih tinggi dari siapa pun di kamar itu. Mata birunya yang berkilat marah tertuju pada Marco.


Renata mengabaikan penampilan. Fakta bahwa anak tersebut adalah seorang gadis yang baru saja mendapat perlakuan kasar sudah cukup untuk mengetuk hati keibuannya. Ia bertanya dengan suara lembut, “Namamu Nolan?”


“Ya,” jawab gadis itu pendek dan tegas. Matanya menatap ke sekitar dengan penuh rasa curiga. Pipi dan bibirnya masih terasa kebas karena pukulan di gudang. Ia yakin besok wajahnya pasti akan bengkak dan biru. Dan segala hal ini ia salahkan pada Jose.


“Duduklah di sini, kami ingin dengar ceritamu,” Renata menepuk kasur di sisinya dengan gaya mengundang.


Marco menatap Edgar dan Edgar melemparkan pandangan pada Jose, yang hanya menjawab semua kode tersebut dengan gelengan samar. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dan tidak mau mencegah. Kalau Nolan mengatakan hal yang kasar pada Renata selaku Nyonya Argent, yang akan terjadi sudah sangat jelas. Anak itu akan ditendang keluar oleh Edgar sendiri.


“Jadi, kudengar kau datang untuk menemui Jose?” tanya Renata lembut. Ia ingin membelai rambut pirang anak di depannya, memberi wewangian dan menyisir rambutnya seperti yang seharusnya didapatkan oleh gadis seusia Nolan. Tetapi sepertinya anak itu akan menolak dengan kasar, jadi Renata menahan diri. Dia hanya memberi pandangan lembut, menunggu jawaban.


Nolan menatap ke sekeliling sekali lagi, kemudian berkata, “Aku lapar dan kedinginan!”


Jose diam-diam ingin menjitak kepala anak itu.


Marco baru membuka mulut untuk menghardik, tetapi Renata segera mengangkat telepon dan menghubungi pelayan di bawah untuk meminta makanan dan minuman hangat.

__ADS_1


“Mungkin kau mau mandi juga? Mandi air hangat?” tanya Renata segera setelah teleponnya ditutup.


“Renata,” tegur suaminya pelan. Kadang-kadang ia masih sulit memahami suasana hati wanita itu.


Yang ditegur segera menyadari kekeliruannya, tetapi ia cepat-cepat memasang ekspresi tenangnya saat berkata, “Katanya dia kedinginan, aku tidak tahan melihat gadis kecil kedinginan.”


“Aku bukan gadis kecil!” Nolan menyahut, hampir berteriak. “Umurku sudah tujuh belas tahun ini! Aku sudah dewasa!”


Matanya lagi-lagi berkilat dalam kobaran amarah; hal yang membuat Marco merasa kesal, tetapi bagi Renata malah menggemaskan. Renata mengangguk-angguk sambil tersenyum, mengatakan betapa salahnya ia dalam menaksir umur dan bahwa kadang ia emang keliru menebak umur anak gadis. Ia juga menambahkan bahwa Nolan terlihat lebih muda dari usianya dan itu adalah hal yang bagus untuk anak perempuan.


Ajaibnya, wajah Nolan berubah melunak mendengar penjelasan tersebut dan ekspresinya jadi jauh lebih ceria. Dia malah memberi pujian dengan santai, “Ternyata tidak semua orang kaya itu brengsek.”


Jose menepuk keningnya dengan lelah, tahu bahwa Marco pasti akan marah. Namun sebelum pamannya sempat mengatakan apa pun, lagi-lagi ibunya mengambil alih suasana dengan mengatakan bahwa kata-kata kasar tidak sepantasnya diucapkan.


“Kenapa tidak?” bantah Nolan penuh semangat. Sekarang kedua mata birunya berbinar. “Semua yang kukatakan itu jujur, dan bukannya itu yang terpenting? Kejujuran! Dengan melapisi sebuah kalimat dengan pujian penuh bunga, sama sekali tidak akan mengurangi niat aslinya! Kalau maknanya tidak berubah, bukankah lebih baik terus terang saja?"


Renata kehabisan kata-kata dan menoleh pada Marco untuk mencari bantuan.


“Kejujuran tidak sama dengan ketidaksopanan, dan bukan hal yang bisa digunakan secara sembarangan,” pria tua itu menukas. “Kadang ada banyak hal yang lebih baik disimpan sendiri.”

__ADS_1


“Tidak,” bantah Jose cepat. Matanya ikut mengarah tajam pada pamannya, kemudian berpindah pada ayahnya. “Tentu saja Nolan benar, yang penting itu jujur. Apa baiknya membohongi orang lain, apa lagi untuk hal yang sangat penting!” Ia bermaksud menyindir pamannya soal orang-orang hilang yang ditemukan tanpa darah.


__ADS_2