BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 113


__ADS_3

Sejak kapan Jake di situ? Apakah dia mendengar pembicaraan di dalam kamar?


Jose yakin kamarnya cukup kedap suara. Pintunya kokoh, terbuat dari kayu tebal yang padat dan kuat. Harusnya tidak akan ada suara meresap keluar. "Kakak ada perlu?" tanya Jose curiga. Ia tidak akrab dengan kakak pertamanya itu, jadi tidak mungkin Jacob datang untuk hal sepele.


"Ayah memanggilmu," kata Jacob. "Aku hendak memanggil, tapi George berkata bahwa kau minta jangan ada yang mengganggunya. Lucu ya. Kupikir kau sedang belajar. Tak tahunya Tuan Kecil sedang rapat kecil."


Jose tersenyum menanggapi sindiran yang terakhir. "Kau sebenarnya bisa meminta George menyampaikan pesan dari Ayah, Jake. Tapi aku senang kau merasa perlu merepotkan diri sendiri untuk mengantarkan pesan itu. Nah, permisi, Tuan Kecil ini mau lewat untuk menghadap Ayah."


Ia melewati Jacob tanpa menatap wajahnya. Rolan mengikuti di belakang, kemudian menyusul Kripp, Hans, dan Gerald.


"Kau membuatnya kesal," bisik Rolan sambil menjajari langkah Jose.


"Memangnya aku tidak kesal?" balas Jose. Keduanya tertawa pelan.


Jacob tidak pernah suka pada gelar Tuan Kecil yang disematkan pada Jose. Sekilas, kelihatannya sebutan itu memang hanya sebutan biasa untuk Argent paling kecil, tapi Jacob selalu merasa bahwa menyebut diri sebagai Tuan Kecil sama halnya dengan mengatakan bahwa ialah penerus Argent berikutnya.


Secara teknis, seharusnya yang dipanggil sebagai Lord Argent setelah Marco meninggal adalah Edgar. Kemudian jika Edgar meninggal, gelar itu adalah milik Jacob. Bisa dimengerti kenapa Jacob gusar, tapi Jose merasa kakaknya itu konyol. Jacob toh sudah minggat dari Bjork karena tidak ingin segala kesuksesannya dikaitkan dengan kuasa Argent. Kakaknya itu tidak mau orang menggampangkan pencapaiannya dengan berkata, "Pantas saja, tidak mungkin Keluarga Argent tidak membantunya."


Anak kedua dan ketiga pun sama saja. Mereka muak kehidupan mereka terus-terusan dikaitkan dengan nama keluarga. Jika mereka berhasil, tidak ada kata selamat karena orang berpikir bahwa sewajarnya seorang Argent berhasil. Malah ada yang berpikir keberhasilan mereka adalah berkat nama itu, bukan karena usaha mereka. Jika mereka gagal, orang akan mencibir nama keluarga mereka dan berkata bahwa mereka adalah bibit buruk dalam keluarga.


Mengikuti jejak Jacob, anak kedua dan ketiga Argent segera pergi ke luar Bjork begitu lulus sekolah tingkat atas. Mereka kabur ke tempat di mana nama keluarga mereka tidak berarti dan mereka hanya dipandang sebagaimana adanya mereka. Jose ditinggalkan sendiri menanggung beban kakak-kakaknya. Namun Jose tidak keberatan. Ia suka tinggal di Bjork. Ia suka berlarian dan berloncatan di genting merah rumah-rumahnya. Ia suka kabur dari kejaran Marco. Ia suka bermain biola untuk menghibur ibunya yang kesepian karena ditinggalkan tiga anaknya. Ia suka berkuda di jalanan dan menggoda gadis-gadis di Bjork demi meramaikan suasana. Yang tidak ia sukai hanya teror yang menyelubungi kota ini.

__ADS_1


Jose mengetuk kamar ayahnya, kemudian masuk setelah dipersilakan.


Edgar hanya sendirian di sana. Begitu melihat putranya masuk dengan wajah bandelnya yang biasa, ia menghela napas lega.


"Kudengar kau sakit," kata Edgar sambil bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Jose. Ia menangkupkan kedua tangannya di pipi anak itu. Seberapa pun dewasanya umur Jose, di mata Edgar yang tampak adalah anak manis berumur empat tahun dengan rambut hitam ikal yang selalu tertawa saat digendong di pundak. Ia melihat bahwa sesuatu berubah di mata Jose. Ada pengetahuan, kelelahan, juga kengerian di sana. Pemuda itu juga lebih tenang dan dewasa sekarang, emosinya tidak lagi meledak-ledak. Edgar menepuk-nepuk pipi Jose. "Kau sudah tidak apa?"


Jose mengangguk. "Paman Rolan mengawasiku," katanya dengan nada merajuk. "Bagaimana mungkin aku bisa sakit kalau Paman mengekor seperti ini?"


Edgar menoleh, baru melihat bahwa Rolan juga ada di situ, di belakang putranya. Ia tersenyum tipis. "Jose tidak apa-apa?"


"Ayah lihat sendiri aku tidak apa-apa," Jose tertawa. Ia melepaskan tangan Edgar dari wajahnya. "Tahu dari mana aku sempat sakit?"


Edgar mendengus. "Bahkan tembok pun bisa bicara di sini, Jose. Katanya kau mendadak jadi bodoh dan tidak bisa bicara."


Mendengar nama kakaknya, pundak Edgar merosot. Ia sudah mengutus orang untuk menyebar di Bjork, namun sampai saat ini belum ada kabar mengenai keberadaan Marco. Ia benar-benar berharap kakaknya hanya sedang melakukan penyelidikan rahasia. "Duduklah. Kau juga, Rolan. Lalu ceritakan apa yang kau lihat saat berkuda, Jose. Apa yang membuatmu sakit?"


Khas seorang Argent. Jose tahu ayahnya pasti sudah menebak apa yang membuatnya sempat shock. Mungkin seseorang melaporkan pada Edgar bahwa begitu pulang dari berkuda, kondisi Jose sama seperti Linda dan Anna—dua dayang Renata yang masih syok.


Edgar menelepon ke bawah, meminta pelayan membawakan mereka brendi dan makanan ringan. Rolan tampak senang. Ia baru menyadari bahwa ia benar-benar kelaparan. Semua masalah yang mendatangi mereka membuat nafsu makannya hilang dan ia belum makan apa-apa sejak pagi. Semua stress ini datang hanya karena Marco tidak pulang semalaman.


Ketika pelayan akhirnya datang membawa minuman dan kue-kue, Rolan melahap sepertiga bagian. "Aku lapar sekali," katanya malu-malu sambil menggigit roti.

__ADS_1


"Dan aku ngantuk sekali," Jose menguap.


"Tidurlah setelah cerita apa yang terjadi," kata Edgar. Ia menuang brendi untuk putranya. "Kau pamit hendak melakukan sesuatu yang diminta Marco, tapi yang kudengar kau berkuda ke Bjork Selatan. Kau tahu bahwa di sana bahaya, kan? Ibumu sudah memintamu untuk tidak ke sana. Marco juga."


Jose meneguk brendinya, merasa lebih nyaman setelah rasa panas itu menjalar dari tenggorokan ke seluruh tubuhnya. "Paman Marco menyuruhku mengurus kuda dengan benar, dan aku hanya mengajak Run jalan-jalan," kilahnya. Ia menghela napas. "Baiklah, Yah. Aku memang benar-benar hanya ingin jalan-jalan. Aku sendiri tidak tahu kenapa ke Bjork Selatan. Aku cuma ingin jalan yang jauh."


Edgar menatap tajam tanpa bicara, memperhatikan mata putranya untuk memeriksa apakah anak itu berani berbohong padanya. Sejauh ini ia melihat Jose kelihatan jujur.


"Lalu aku membiarkan Run merumput di Tebing Curam."


Rolan melotot. "Kenapa kau ke sana?"


"Aku tidak berpikir apa-apa waktu jalan-jalan," sahut Jose. "Lagi pula rumput di sana hijau, kupikir Run akan suka."


"Teruskan," kata Edgar. "Lalu kau melihat apa?"


Jose ragu sejenak. Ia masih bisa melihat wajah itu. Ia seolah masih bisa mencium baunya. "Gladys," katanya pelan. "Aku melihat Gladys."


Baik Rolan maupun Edgar mematung. Mereka tahu nama itu.


"Gladys siapa?" tanya Edgar sabar.

__ADS_1


Jose menceritakan pengalamannya dengan lengkap. Mulai dari sosok yang muncul, aroma menyengat, apa yang ia lakukan kemudian bersama Run, kemudian bagaimana ia membeku diam berjam-jam di bawah terik matahari.


***


__ADS_2