
Kesalahan pertama Marco adalah ia tidak membereskan mayat dua pemuda di lorong.
Kesalahan keduanya, ia meremehkan lawan.
Yang ia hadapi memang hanya sipil biasa tanpa keterampilan berkelahi yang memadai, tetapi bahkan seekor kucing pun akan dibuat repot kalau lawannya seratus tikus.
Para pemuda berjubah rahib mengejarnya dengan ketat sampai aula utama. Dan kini di sinilah ia, di depan altar batu di ujung aula, menggenggam pedang pendek yang agak rompal dan sudah berlumur darah.
Di hadapannya ada belasan lelaki berjubah Scholomance, dan di belakang orang-orang itu ada kumpulan manusia sipil dengan pakaian biasa. Setengah dari mereka mabuk dan tiduran di meja-meja panjang di aula sementara setengahnya lagi merubung penasaran.
Namun Marco tidak sendirian. Ia membawa satu orang yang berjubah paling bagus bersamanya. Ujung pedangnya menempel di leher pria itu, siap mengiris.
Siapa pun yang jubahnya paling bagus pasti pemimpinnya, Marco bertaruh pada tebakan itu dan ia benar. Para pemuda berjubah rahib di depannya membeku. Meski ujung-ujung pedang mereka terhunus ke arah Marco, tetapi tidak ada yang berani bergerak.
"Perintahkan mereka mundur," kata Marco tenang. Bilah pedangnya ia tekan lebih dalam ke leher sanderanya. Matanya mengawasi para pemuda di depannya, menaksir umur mereka. "Suruh mereka jatuhkan senjata dan mundur, atau kita akan buat kolam dari darahmu."
Sanderanya menelan ludah. Alis pria itu menurun tajam. "Ja ... jangan jatuhkan senjata!" jeritnya. "Jangan biarkan kurbannya lolos! Aku akan kembali lagi jika kalian jadi Tuhan!"
"Oho ...," Marco cukup terkesan. "Orang yang mabuk agama memang selalu berani."
"Kita akan membuka gerbang Eden dan hidup kekal sebagai Tuhan! Kita akan membawa kesetaraan di bumi! Lupakan soal aku dan tangkap kurbannya! Demi kemuliaan yang lebih besar!"
Ketika para pemuda berjubah rahib jadi makin berani dan menderap maju, Marco menggorok leher sanderanya tanpa ragu, membiarkan tubuh pria itu jatuh ke lantai ke antara ia dan para rahib. Kesiap dan pekikan keras terangkat ke udara. Ada yang menjerit dan pingsan.
__ADS_1
Mereka semua orang-orang rumahan, Marco menyadari. Seorang pemuda berteriak kalap dan menusukkan pedangnya pada Marco, yang dengan sigap meloncat naik ke atas altar batu di belakangnya. Pemuda tadi jatuh tersandung menimpa mayat atasannya dan menjerit-jerit ngeri.
"Jadi menurut kalian aku pantas jadi kurban karena aku tidak beriman?" tanya Marco lantang. "Jadi tidak beriman menjadikan seseorang jahat?"
"Tentu saja!" balas seseorang dalam seruan yang tak kalah lantang. Marco tidak bisa menentukan siapa yang bicara. Orang-orang mengasak ke arahnya. Mata mereka penasaran dan juga marah. "Tidak percaya sama saja menghina Tuhan! Kau pikir kau bernapas atas kehendak siapa? Mati saja sana kalau tidak percaya Tuhan!"
Marco tertawa. "Tuhan macam apa yang membiarkan kejahatan ini terjadi?" tanyanya, menuding mayat sanderanya dengan ujung pedang. "Kalau eksistensiku memang kejahatan, kalau yang kulakukan barusan adalah kejahatan, kenapa Tuhan kalian membiarkan itu terjadi?"
Ia mengibaskan pedangnya, menjauhkan dua pemuda yang sempat mendekat. "Kalau Dia menganggapku jahat tapi tidak mampu mencegahku, Tuhan macam apa itu? Atau dia mampu mencegahku, hanya saja tidak mau? Atau dia tidak mampu dan tidak mau? Kalau begitu apa bedanya Tuhan dengan manusia?"
Tidak ada yang menjawab, jadi Marco melanjutkan dengan tenang, "Kalau Tuhan memang ada tapi tidak bisa mencegah semua kejahatan di dunia ini terjadi, tidak bisa mencegah kematian orang yang kalian kasihi, tidak bisa mencegah kelaparan dan tidak bisa mengabulkan doa yang tiap malam kalian lantunkan," suaranya turun satu oktaf, "memangnya kalian sendiri akan bisa melakukan apa saat jadi Tuhan?"
***
Menemukan puri kapel yang dimaksud ternyata membutuhkan waktu lebih lama dari yang Jose kira. Mereka perlu membangun jembatan buatan karena harus menyeberangi sungai Bjork yang melintang membagi hutan lindung jadi dua. Jose hanya mengandalkan ingatan dari penglihatannya, berharap ia benar dalam menentukan arah. Melihat segalanya dari atas langit dan berjalan langsung melintasi hutan jelas merupakan pengalaman yang berbeda. Bahkan dibantu oleh kompas pun tidak membuat segalanya jadi lebih mudah.
Kalau itu hanya orang biasa, Jose mungkin tidak akan seheran ini. Namun orang yang dilihatnya punya tinggi sekitar empat meter. Orang itu bertubuh rata tanpa lekuk, tetapi seperti mengenakan jubah berlubang-lubang. Posturnya dari samping membuat Jose teringat pada jamur tudung pengantin.
Jose menelan ludah. Tanpa mengatakan apa pun, ia berputar balik dan memilih rute lain. Semua orang mengikutinya dalam diam, ikut merasa resah. Hutan ini membuat mereka merasa tak nyaman.
Aku cuma berhalusinasi, pikir Jose. Atau itu cuma pohon.
Namun lewat sudut mata, ia seperti merasa melihat raksasa itu menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Jose mempercepat jalan. Rolan meliriknya, terlihat seperti ingin menanyakan sesuatu, tetapi tidak ada yang terucap.
Jose baru merasa lega ketika ia melihat jalan setapak mulai melebar dan ada bekas jejak manusia. Mereka sudah dekat. Ia bahkan bisa melihat aula depan puri itu sekarang. Ia menoleh pada Gerald, yang segera memberi kode agar para pekerja berkumpul dalam grup masing-masing.
Puri itu dikitari oleh pagar dinding tinggi, tetapi bagian depannya hanya berupa bukaan tanpa pintu. Mungkin dulu pernah ada pintunya, yang jelas sekarang tidak ada. Jarak antara pintu dengan aula depan ada lima belas meter. Tidak ada penerangan di halamannya, tetapi ruangan di dalam puri terlihat cukup terang. Meja-meja panjang diatur dalam tiga baris urut. Makanan dan minuman bergelimangan di sana, tetapi hanya sedikit yang duduk di meja.
Jose membawa teropong hadiah Natal-nya. Ia menggunakan benda itu untuk mengintip, dan pemandangan yang dilihatnya membuat mulutnya terbuka lebar.
Marco ada di sana, dikerubuti begitu banyak orang. Ada dua orang yang mencoba membuat lingkaran sihir dengan kapur di lantai. Mayat dua orang tergeletak di samping lingkaran tersebut. Yang satu adalah pemuda tanggung berjubah wool cokelat sementara yang satu pria berumur tiga puluhan dengan jubah yang lebih bagus lagi.
Jose menyerahkan teropongnya pada Gerald, yang ikut terkesiap. Rolan merebut teropong itu dengan cepat karena sudah terlalu penasaran.
"Marco!" desisnya. "Ah, dia jatuh!"
Gerald mengepalkan kedua tangannya. Ia menatap Jose lekat-lekat, meminta perintah. Jose menatap Gerald dan mengangguk singkat. Gerald memberi komando, membawa serta empat puluh orang bersamanya. Sepuluh orang menyebar dan menunggu di depan gerbang dinding, sementara yang tiga puluh bergerak bersama Gerald dan Finnian masuk ke dalam puri. Hans dan sepuluh orang pekerja tinggal bersama Jose dan Rolan, berdiam di balik pepohonan tak jauh dari bukaan gerbang.
Rolan mencekal erat-erat lengan Jose, seolah takut keponakannya itu akan memimpin para pekerja di tempat paling depan.
Jose menepuk punggung tangan pamannya untuk menenangkan. Memimpin pasukan mungkin kedengaran heroik. Ia yang dulu akan ingin melakukannya. Tetapi saat ini, tidak. Jika melihat Gerald, Marco pasti akan langsung bisa mengambil alih situasi dan mengendalikan para pekerja. Dua kapten dalam satu kapal tidak akan berakhir bagus. Kalau ia juga ikut maju, fokus para pekerja akan terbelah.
Lagi pula harus ada yang mengawasi dan memberi keputusan dari luar.
Jose menoleh karena merasa diperhatikan. Jantungnya hampir copot melihat raksasa jamur tadi berdiri diam tak jauh dari mereka.
__ADS_1
Mustahil, pikirnya kalut. Dia mengikuti?
***