
Nolan mendengar suara orang ribut dan tertawa dari arah muka manor, tapi ia terlalu sibuk untuk mencari tahu asal suara. Ia duduk di samping Lady Chantall, di sisi rumah tempat Rolan tadi sempat menariknya. Setiap interval pilar batu diisi oleh bangku batu yang panjang. Mereka mengambil tempat di samping koridor ada area taman penuh dengan bunga-bunga kecil keunguan. Nolan tidak tahu apa namanya, itu tidak penting. Yang penting baginya sekarang adalah cerita yang keluar dari bibir Lady Chantall.
Awalnya Nolan merasa sedikit kecut ketika mengetahui bahwa ayahnya bekerja untuk Lady Chantall. Ia pikir wanita itu pasti tidak akan mau memberi tahu apa-apa atau mungkin malah akan mempersulitnya. Namun setelah mendengar apa yang dicari Nolan, Lady Chantall sama sekali tidak menolak memberi tahu informasi mengenai ayahnya. Tidak ada syarat aneh-aneh, tidak ada trik. Wanita itu memberi tahu semuanya.
"Dia sering cerita bahwa dia melatih putrinya," Lady Chantall mengakhiri cerita sambil tersenyum manis, seolah mengenang kawan lama. "Dia selalu membanggakanmu, katanya kau cepat belajar dan menyerap banyak pengetahuan seperti spons. Sayangnya, kau tidak suka diajari menulis atau membaca."
Nolan tertawa. Ia mengusap ujung matanya yang basah dengan sapu tangan sutra—Lady Chantall memberikan itu ketika melihat Nolan menghapus air mata dengan ujung lengan kemeja.
"Aku punya fotonya di rumahku," wanita itu meneruskan dengan lembut. "Agak tidak jelas, karena waktu itu aku cuma sedang mencoba-coba menggunakan kamera. Tapi aku yakin hasilnya masih kusimpan, mungkin di loteng. Kalau kau mau, aku bisa mencarikannya jika sempat."
"Sungguh?" Nolan bertanya serak. Ini perkembangan yang tidak ia duga.
"Tapi jangan terlalu berharap ya, aku cuma akan mencarinya kalau sempat." Lady Chantall tersenyum. Pandangannya jatuh ke lantai travertine yang dihamparkan memanjang melapisi permukaan lorong. "Aku memintanya mencari tahu mengenai kasus hilangnya orang-orang ... tapi dia tidak kembali. Maafkan aku, tapi aku tidak tahu di mana dia berada."
Nolan menggeleng keras, tersentuh dengan ketulusan pada suara itu. "Tidak apa. Apa boleh buat. Nasib orang tidak ada yang tahu." Ia tersenyum lemah. "Bahkan aku sampai di sini pun karena nasib. Aku ... hanya kebetulan menemukan kalung itu, kupikir Jose menjatuhkannya. Dipikir lagi, aneh juga awal-awal kami bertemu."
Lady Chantall menyimak cerita Nolan dengan tekun, sama sekali tidak memotong maupun terlihat bosan. Setelah Nolan selesai menceritakan awal pertemuannya dengan Jose dan bagaimana ia bisa terlibat sampai sejauh ini dengan Keluarga Argent, Lady Chantall mengusap singkat lengan gadis itu.
"Kau pemberani," katanya lembut. "Marco tidak percaya takdir, tapi aku percaya. Dan kau tahu? Menurutku keterlibatanmu dengan semua ini juga sudah digariskan." Ia kembali menggigit bibir bawahnya, tampak sedikit malu. "Aku belum mengatakannya, tapi maafkan aku ya sudah membentakmu waktu pertama kita bertemu. Aku merasa bersalah sudah memperlakukan orang yang menyelamatkan Marco sampai sekasar itu."
Nolan menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi. Ia tidak menyamgka akan melihat wanita yang selalu disangkanya menyeramkan itu bisa menundukkan kepala dalam-dalam seperti sekarang. Sekali lihat saja, Nolan tahu bahwa Lady Chantall adalah perempuan angkuh yang tidak mungkin sembarangan meminta maaf. Ini jelas kejadian langka.
"Eh, sudahlah, angkat kepalamu!" Nolan justru jadi jengah. "Aku tidak memikirkan itu, kok!"
__ADS_1
Lady Chantall mengangkat kepala. Mata hijaunya bercahaya. "Sungguh?" Ia tersenyum. "Lalu kenapa kau selalu lari setiap melihatku?"
"Karena kau selalu melotot!" Nolan menjawab defensif. "Kau selalu kelihatan marah padaku."
"Apa? Oh!" wanita itu tertawa malu. Ia menunjuk matanya sendiri. "Penglihatanku buruk, Nolan. Aku harus mendekatkan wajah, melotot atau menyipitkan mata kalau ingin melihat sesuatu dengan jelas. Kadang itu membuat orang salah paham, mereka pikir aku sedang marah."
Nolan tertegun. "Benarkah? Matamu kelihatan bagus."
"Ya, dari luar kelihatan baik-baik saja. Tapi beberapa penyakit kan memang begitu." Lady Chantall mengedikkan bahu putihnya yang terlindungi tile. Kali ini ia mengenakan gaun berkerah dengan kancing berbaris rapi di bagian dada, semuanya ditutup rapat. Bahunya yang polos dihias lapisan-lapisan tile. Wanita itu duduk menumpuk kaki dan menyandarkan pipi pada kepalan tangan, membiarkan anak rambutnya yang ikal dipermainkan angin.
"Aku menyukai Marco dalam cara yang ... agak posesif," terangnya agak tersipu, "karena itu tiap kali ada seseorang bersamanya, aku tidak bisa menahan diri. Aku ingin tahu dengan siapa dia berada sejak dari kejauhan. Karena itu mataku selalu kelihatan seperti memusuhi orang, padahal aku cuma sedang mencoba melihat. Hanya itu. Kalau sudah tahu, itu sudah cukup buatku. Aku tidak mungkin melakukan hal yang tidak disukai Marco."
Nolan mengangguk pelan, merasa bersalah karena sudah menghindari wanita itu sejak kemarin berdasar prasangka. Ia pikir Lady Chantall ingin mengerjainya. "Aku juga minta maaf sudah menggodamu waktu itu."
"Yah, aku sengaja memeluk Marco di depanmu." Nolan mengangkat bahu. "Aku cuma ingin membuatmu jengkel saja karena kau tiba-tiba membentakku pagi itu."
"Hmm begitu?"
"Aku dimaafkan?"
Lady Chantall terkikik. "Kau anak manis, Nolan," katanya. Mendadak nada suaranya berubah jadi lebih tegas, tidak selembut dan semanis barusan. Ia menegakkan tubuh. Satu jarinya terangkat naik menunjuk ke langit-langit koridor. "Lihat di dekat lintasan ornamen bunga itu?"
Nolan melongok tak mengerti. Ia tidak melihat apa-apa kecuali pahatan gipsum bunga mekar di langit-langit lorong.
__ADS_1
"Di sana ada laba-laba kecil berkaki tujuh." Lady Chantall mengedipkan sebelah mata.
"Masa?" Nolan menengok keheranan, masih tidak mengerti kenapa tiba-tiba wanita itu membahas laba-laba. Beberapa detik kemudian ia baru sadar. "Kau bohong padaku soal matamu?"
"Tepat. Mataku masih bagus. Jika aku kelihatan seolah memelototi orang yang mendekati Marco, itu bukan seolah. Aku melakukannya karena memang kesal pada orang itu, bukan karena ingin melihat wajahnya." Lady Chantall bangkit berdiri dengan anggun dan berputar menghadap Nolan. Sebelah tangan masih menggenggam buku catatan sementara yang satu diletakkan di sisi pinggang. "Kau terlalu gampang percaya pada orang lain, Manis."
"Aku tidak menyangka kau akan mengarang cerita!" balas Nolan kesal. Kepalanya panas. Buku-buku jarinya sampai memutih karena ia mencengkeram sapu tangan terlalu kencang. "Kenapa kau bohong?"
"Bohong? Pekerjaanku memang membuat orang percaya pada kebenaran yang ingin kutunjukkan." Lady Chantall tersenyum dalam sentuhan angkuh. Tidak ada sorot malu-malu atau kelembutan tersisa dari garis bibirnya. "Tadinya kau antipati padaku, tapi begitu mendengar penjelasanku yang masuk akal, kau jadi bersimpati. Kau percaya." Ia mengibaskan debu dari roknya. "Itu tadi pelajaran pertama dariku, Manis. Kebenaran, keadilan, semua itu bisa dimodifikasi dengan mudah. Bahkan kenyataan pun punya banyak sisi yang berbeda, tinggal kau pilih mau lihat yang mana. Jangan pernah percaya hanya satu sisi. Fakta selalu berbentuk prisma."
"Pelajaran pertama?" Nolan tak mengerti. Ia merasa dipermainkan. Kini ia jadi ragu seberapa jauh wanita itu mengatakan yang sebenarnya. "Pelajaran apa?"
"Lho, kau belum sadar? Ayahmu melatihmu untuk bekerja denganku. Untuk jadi penggantinya." Lady Chantall menarik kembali bibirnya dalam satu lengkung manis. "Dia melatihmu segala tata krama orang Utara dan bagaimana menjadi lady sejati, kan?"
Nolan menganga, tidak pernah memikirkan hal itu sedikit pun. "Kau cuma mempermainkanku," katanya ragu.
Wanita itu mengangguk puas, gerakannya mirip bunga bakung ditiup angin. "Bagus. Kau belajar dengan cepat. Ragukan orang lain. Ragukan motif semua orang. Itu benar. Tapi aku serius. Satu-satunya kebohonganku barusan cuma soal mataku yang rabun." Ia berhenti untuk menarik napas. "Begini saja. Aku akan mencari dan membawakan foto ayahmu. Sementara itu, pikirkan jawabanmu, ya? Kau bisa memberiku jawaban saat foto ayahmu sudah kubawakan. Tentukanlah apakah kau ingin berada di sisi ini dan menjadi salah satu staff-ku, atau tetap menjadi Nolan orang Selatan."
Nolan diam. Ia bisa menebak bahwa ayahnya bukan pedagang biasa. Bahwa ayahnya adalah informan bangsawan di Utara, itu juga tidak membuatnya kaget karena terasa masuk akal. Namun soal ia dilatih oleh ayahnya menjadi seorang pembisik, itu membuatnya bingung. Tata krama, cara mengikuti orang dari belakang tanpa ketahuan, cara bersikap dan berpikir seperti orang Utara ... Nolan merasa semua hal berputar dalam benaknya. Apakah itu semua keahlian untuk jadi seorang pembisik?
Sebelum semua informasi tadi sempat mengendap di kepala Nolan, Lady Chantall sudah meneruskan lagi, "Ah omong-omong, aku mencarimu sejak pagi untuk hal lain." Ia membuka halaman pada buku catatannya. "Kau belum bisa membaca, jadi aku akan mendiktekannya untukmu. Peranmu sangat penting di sini. Kau akan sangat membantu Jose dan Marco kalau mengikuti setiap petunjuk dariku."
Nolan melengkungkan bibirnya tak senang, tapi memutuskan untuk tetap mendengarkan.
__ADS_1
***