
Semua berjalan cepat di mata Marco. Pemuda yang tertusuk pisau tadi melempar pedang ke arah Marco—mungkin pemuda itu memang ingin menusuk Marco, atau ingin melemparkan senjata pada kawannya, Marco tidak bisa menebak. Namun pucuknya yang tajam berputar ke arahnya. Nolan menjerit dan berlari dengan tangan terulur seperti ingin menangkap sesuatu. Mantel biru tua yang dikenakannya berkelepak ringan.
Kemudian anak itu terempas jatuh tepat di depan Marco.
"Nak?" Marco mendekati Nolan, menggulingkan anak itu untuk memeriksanya. Ruangan begitu gelap, ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah Nolan, tetapi gadis itu masih bernapas. "Hey, jawab aku." Ia menepuk pipi Nolan beberapa kali. Rasa cemas menyerangnya. Ini salahnya. Harusnya ia melempar pisau itu lebih kencang. Harusnya ia menginjak mati pemuda itu dulu sebelum beralih ke yang satu.
Nolan mengerang pelan. "Sakit," bisiknya parau dengan suaranya yang habis.
Lewat ekor matanya, Marco menangkap sebuah gerakan. Pemuda yang kedua sudah mendapatkan kembali senjatanya. Wajah pemuda itu memerah karena marah. Tidak ada lagi rasa takut di sana.
"Kau akan baik-baik saja." Marco meletakkan kepala Nolan dengan hati-hati ke lantai pualam. Ia membuka kancing kemejanya yang paling atas untuk melonggarkan kerah, kemudian menyingsingkan lengan baju. Tadinya Marco ingin menyisakan satu orang untuk diinterogasi, tetapi sekarang ia berubah pikiran. Beraninya orang-orang itu melukai orang yang sudah ia putuskan untuk lindungi. Ini penghinaan.
Marco mencabut revolvernya dari pinggang dan menodong.
"Hey!" Pemuda di depannya menurunkan pedang. Wajah merah berbintik itu memucat. "Hey, itu kan curang! Kukira kau akan mengambil pedang—“
Suara letusan revolver menginterupsi. Bolongan hitam muncul di kening pemuda itu, tepat di antara kedua matanya, kemudia ia jatuh terbanting dengan kepala duluan. Pedangnya kembali berkelontang di lantai batu. Marco memalingkan wajah, menatap pemuda pertama yang masih bernapas dengan posisi tengkurap di lantai batu.
"Ampun," pemuda itu berbisik dengan suara serak. Napasnya cepat dan berat, kelihatannya tak lama lagi akan mati, tetapi Marco tidak mau lengah lagi. Marco berjalan mendekatinya, menarik tuas pemicu. Revolvernya menyalak dalam ruangan yang sunyi.
Tinggal satu peluru tersisa.
__ADS_1
Marco menyimpan kembali senjatanya. Ia meraih lentera terdekat dan kembali menghampiri Nolan.
Gadis itu berbaring diam di lantai batu, masih dalam posisi yang sama dengan saat Marco meninggalkannya. Nolan masih sadar, tapi kelihatan syok. Napasnya lambat. Marco berlutut memeriksa, menemukan mantel yang dipakai Nolan sobek di bagian lengan, dekat bahu. Darah segar merembes dari sana.
"Kau cuma tergores di lengan. Tidak dalam," kata Marco setelah memeriksa dengan cermat. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku belakang celananya, menggunakan benda itu untuk mengikat lengan Nolan tepat di atas lukanya. "Kau bisa bangun? Ada yang lain yang sakit?"
Nolan menggeleng. Ia menatap Marco dalam-dalam tepat di manik matanya. "Sembunyi," bisiknya. "Dia datang."
Marco bisa merasakannya juga sekarang. Suhu ruangan turun hingga di bawah titik nol. Rambut di seluruh tubuhnya terasa seperti ditarik berdiri. Tengkuknya meremang. Manik matanya bergerak sendiri mencari dalam gelap, tertarik menatap ke atas, ke ujung pintu rahasia.
Kabut putih yang mencurigakan muncul dari sana. Marco awalnya mengira ia salah lihat, tetapi makin lama makin jelas bahwa di atas tangga tersebut terdapat gumpalan aneh yang berjalan melata seperti ulat. Tiap kali makhluk itu bergerak, ada suara sesuatu diseret, membuatnya kedengaran seperti sedang tertawa mengejek.
Marco merasa pening karena jijik dan ngeri. Namun ia tidak membiarkan perasaan itu menguasainya. Kakinya yang sakit membantu Marco mempertahankan kesadaran ke masa kini dan tidak tenggelam dalam ilusi teror. Ia menyelipkan tangan ke bawah tubuh Nolan, mengangkat gadis itu ke punggungnya sambil memerintahkan, "Pegangan! Aku tidak mau mengambilmu lagi kalau kau jatuh."
Marco menarik napas dan bangkit berdiri dengan Nolan di punggungnya. Ia tidak bisa membawa lentera, tapi matanya sudah terbiasa dalam gelap. Ia tidak tahu apakah dugaannya benar, tapi Marco akan bertaruh.
Ia berlari ke sudut kanan ruang, di samping depan pintu yang disebut-sebut sebagai dekorasi. Duke Ashington bukan orang iseng. Pria itu tidak mungkin membuat menara kosong dan pintu dekorasi. Pintu itu pasti bisa terbuka, dan kodenya ada pada lantai yang bergerak turun membentuk pola C1.
C1 adalah tempat pion raja diletakkan jika ingin melakukan castling dengan benteng. Lantai ruangan ini berpola papan catur. Mereka ada dalam menara kastil. Dan Duke Ashington adalah anggota kerajaan. Semuanya cocok.
Castling adalah strategi catur untuk menukar tempat antara raja dan benteng. Langkah yang hanya bisa dilakukan satu kali dalam satu kesempatan istimewa.
__ADS_1
Duke Ashington adalah pion raja yang dimaksud. Menara ini adalah benteng dalam catur. Jika mereka ingin keluar, yang perlu mereka lakukan hanya melakukan langkah castling. Raja menuju C1.
Marco menginjak satu ubin hitam di depan pintu. Ubin tempat pion raja putih seharusnya berada. Ubin itu tidak turun, mereka memang sudah memeriksanya sebelum ini. Sekarang, Marco menoleh ke kanan dan melompati satu tegel putih untuk menginjak tegel hitam lain. Di belakang mereka, hantu hitam mengejar turun dengan suara tawa aneh yang jahat. Kombinasi menginjak tegel tempat raja berada disusul tegel di C1 ternyata membuahkan hasil.
Dinding menara bergetar ringan ketika ubin yang diinjak Marco turun hingga sepuluh senti. Pintu tanpa handle itu terangkat ke atas, masuk ke dalam dinding dalam gerakan pelan. Terlalu pelan. Nolan terkesiap kagum di punggung Marco, tapi Marco sendiri begitu tegang. Ia bisa merasakan makhluk di belakang mereka sudah mendekat. Kakinya yang sakit terasa seperti disengat ribuan lebah. Pintu logam menara baru terbuka lima puluh senti. Jika ia melangkah naik, Marco yakin pintu itu akan berdebam menutup lagi. Dan ia tidak tahu apakah pintunya masih akan bisa membuka dengan cara yang sama.
Marco tidak perlu berpikir lama. Ia terlatih untuk membuat keputusan secepat mungkin. Jadi ia menurunkan Nolan ke depan, menepuk ringan pipi anak itu, kemudian berkata dengan nada lembut yang tak pernah ia gunakan bahkan pada para keponakannya. "Terima kasih sudah melindungiku tadi. Pulanglah sana. Ini bukan pertarunganmu."
Selagi Nolan masih kebingungan menangkap apa maksudnya, Marco mendorong pundak Nolan ke bawah hingga tubuh gadis itu jatuh ke lantai, kemudian menggelindingkannya sekuat tenaga melewati celah pintu, ke luar menara.
Nolan berguling keras seperti bola menggelinding di turunan jalan. Bahunya sakit. Lengannya yang terluka seperti diiris tajam. Ia meringis sakit dan mengaduh ketika kepalanya membentur batu. Nolan kini sudah berada di luar dinding menara. Udara malam yang dingin menerpa tubuhnya, mengirim kesegaran sampai ke setiap sudut paru-parunya.
Nolan tidak punya waktu menikmati semua itu. Ia berpaling kembali ke arah menara. Marco melangkah naik dan beranjak menyusulnya, tetapi begitu pria itu naik ke ubin yang normal, pintu bergerak turun.
"Marcoo!!" Nolan menjerit, menggapai. Ia bisa melihat hantu hitam itu sudah turun ke lantai menara, merayap cepat dengan muka peyotnya yang meletup-letup basah. Ia melihat kaki Marco berputar balik darinya, kini menghadap ke arah makhluk tersebut. Ada suara logam berputar, suara 'klik' yang familier, kemudian letusan senjata yang mirip suara kembang api. Detik berikutnya, pintu menara berdebam menutup, menyisakan abu tanah yang beterbangan.
Nolan merayap ke arah pintu tersebut, mendorongnya sekuat tenaga, memukulnya dengan kepalan tangan, tetapi tidak ada hasil.
Ia sendirian sekarang.
***
__ADS_1
Makasih sudah baca sampai bab ini. Aku selalu senang setiap membaca kesan kalian untuk tiap babnya. Itu mood booster-ku. Buat yang minta crazy up, tiga bab dulu aja ya hari ini. Hehe 💕