
"Krip," tegur Jose lembut. Ia menurunkan kakinya, menghela napas. "Aku tahu kau mencemaskanku. Aku tidak bermaksud menekanmu. Sungguh. Aku akan melakukan apa yang aman bagiku. Apa kau pikir aku sebodoh itu dan berjalan sendiri ke dalam jurang atau bagaimana setelah mendengar apa yang kau tahu? Bagaimana bisa aku menjadi seseorang yang pantas dihormati kalau aku tidak tahu apa pun? Apalah aku ini dibanding Paman Marco?"
"Tuan Kecil, Tuan mewarisi kharisma tajam dari seorang Argent sejati,"
"Tidak ada kharisma kalau kalian selalu memanggilku Tuan Kecil," potong Jose ketus, tetapi dengan mata bersinar jenaka. "Tolong, katakanlah, Krip. Apa kau ingin membuatku memohon?"
"Tidak, Tuan." Krip menggeleng cepat, terlihat ketakutan. Tuan yang memohon pada pelayan adalah mimpi buruk bagi semua pekerja. "Tidak, Tuan Kecil perintahkan saja, maka saya akan melakukan! Tolong jangan merendahkan diri!"
Jose tersenyum tipis, mengagumi betapa besar kesetiaan serta penghormatan yang ditaruh para pekerja pamannya pada Keluarga Argent.
"Saya tidak bisa mengatakan apa pun Tuan, mulut saya benar-benar terkunci," Krip berkata memelas. "Tetapi satu yang bisa saya beritahu pada Tuan, soal mayat yang barusan Tuan temukan."
"Yang kutemukan bersama Nolan?" Jose menaikkan kedua alisnya.
"Ya, Tuan, saya mengetahui identitasnya serta caranya meninggal. Kalau Tuan tertarik, saya bisa mengatakannya, tetapi tolong, hanya itu yang bisa saya berikan pada Tuan."
Jose mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja kayu, membuat jarak panjang pendek yang mengalahkan bunyi detik jam di toko. Akhirnya, ia hanya mengangguk mempersilakan.
Krip langsung gembira. "Namanya Gladys," ucapnya. Baru sampai situ, ia berhenti. Wajahnya berkeriyut aneh, seperti mengutuk dirinya sendiri.
"Kenapa?" Jose menaruh pipi di atas kepalan tangan. Matanya menatap dengan tajam. "Namanya Gladys, dan dia kenapa?"
Krip mengangkat wajah. Matanya menatap dengan tidak enak. "Dari reaksi Tuan, sepertinya Tuan sudah tahu ..."
"Krip, apa kau mau membuatku menceritakan dengan rinci apa yang seharusnya terjadi pada Sean?" Bahkan pipi dan telinga Jose terasa panas karena malu menggunakan ancaman seperti ini.
Ancamannya bekerja. Krip segera membeberkan apa yang ia ketahui. "Dia adalah pelayan keluarga Bannet. Investigasi sedang dijalankan, Tuan. Anehnya, tidak banyak pelayan yang mengetahui siapa dia. Padahal mereka bekerja dalam rumah yang sama. Kepala pelayan hanya mengingat samar-samar, katanya, karena Gladys bukan anak yang banyak bicara."
__ADS_1
"Aneh sekali," Jose berkomentar. "Bukan seperti itu cara kerja Kepala Pelayan."
"Memang bukan." Krip menggeleng dalam persetujuan. "Gladys meninggal delapan belas jam sebelum Tuan temukan. Tidak ada jejak dia meninggal di sana. Ada lubang pada bagian arteri besarnya. Lubang kecil, mungkin karena serangga atau apa." Pria botak itu mendekatkan wajahnya pada Jose saat berbisik, "Masih ada darahnya, tetapi sedikit berkurang."
"Darah tidak menguap, kan?" Jose tersenyum.
"Tidak ada luka selain satu lubang kecil di bagian leher. Tidak ada bekas darah juga di sana. Menurut informasi, dia juga tidak sedang berada dalam masa bulanannya."
Jose menaikkan kedua alisnya hingga melengkung sempurna. Kadang ia penasaran bagaimana cara Kerja Krip sehingga bisa mendapatkan informasi secepat itu. Polisi pun pasti kalah.
"Lalu? Apa yang dikatakan Sir William?" Jose bertanya.
"Lord Bannet berkata, dia tidak menghitung jumlah pelayan. Ia menyerahkan urusan pelayan sepenuhnya pada Kepala Pelayan, jadi tidak tahu bahwa ada satu yang hilang."
Jose mengangguk pelan. "Lalu, apa yang dilakukannya di rumahku kemarin siang?"
Krip menatap Jose hati-hati, tetapi tidak mengatakan apa pun.
"Mencari Tuan Wallace."
Darah Jose berdesir ngeri. Krip membeliak kaget.
Keduanya menoleh kaku bersamaan, mendapati lagi-lagi pria berambut emas itu ada di depan konter, tersenyum dengan cara yang sangat manis.
Jose tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. Ia sama sekali tidak merasakan atau mencium kedatangan siapa pun. Padahal sebagai ahli kabur dan sembunyi, insting itu sudah tumbuh secara alami dalam dirinya. Kini bahkan keberadaan Sir William masih seperti hantu baginya. Pria itu ada di depannya, tetapi terasa tidak nyata.
"Selamat siang, Tuan Jose Argent? Semoga aku tidak mengejutkanmu." Seperti menyindir, pria itu tersenyum lebar.
__ADS_1
Jose balas tersenyum, mengalihkan pandangannya dari kerah Sir William yang berkelim. Memang tipis, tetapi ia melihat sesuatu yang aneh di ujung kerah itu. Noda berwarna cokelat tua.
Seperti darah yang mengering.
William balas tersenyum, sementara Krip diam-diam melirik laci kedua pada meja kasir, memastikan tempat senjatanya berada.
"Kau memang mengagetkanku, Tuan Bannet," Jose berkata, "Apakah sudah jadi kebiasaanmu untuk datang tanpa suara?"
"Kadang-kadang aku memang bisa sepelan angin, tidak terdengar bagi orang yang cukup lengah."
Nada suara itu begitu menusuk, membuat Jose sadar bahwa pembicaraannya pasti didengar barusan. Telinganya memanas. "Aneh," balasnya sambil tersenyum. "Kudengar, pencuri juga memiliki keahlian serupa."
Sir William menatap dengan mata sayu yang mengancam, mendekat selangkah pada mereka. "Kudengar, putra keempat dari Keluarga Argent biasa merayap sehening malam di atap-atap kota dan tembok-tembok batu," bisiknya seraya tersenyum. "Seperti pencuri."
Jose segera mengangkat tangan ke depan mereka, bukan karena tersinggung dengan serangan balik itu, tetapi karena melihat Krip bersiap bangkit. Meski tahu bahwa informan keluarga Argent pasti tidak akan bertindak gegabah, ia tetap khawatir kalau tiba-tiba pria paruh baya itu mengeluarkan senjata dan mengancam Sir William.
"Bukan aku yang mencuri dengar pembicaraan orang lain," ucap Jose, menurunkan tangannya. "Sebaiknya kau ingat itu."
"Setidaknya, aku melakukan itu dengan tidak sengaja," Sir William menandaskan. "Dan aku tidak sedang menggosipkan orang lain."
"Oh, kau salah paham, Tuan Bannet," Jose bangkit dari duduknya, memutari meja konter, lalu berdiri berhadapan dengan Sir William. "Aku cuma penasaran, siapa yang datang ke rumahku saat aku tidak ada, dan untuk keperluan apa. Karena kebetulan aku tidak menyadari keberadaanmu di sini, aku tidak mungkin bertanya langsung padamu, apa yang kau lakukan di sana, kan?"
"Oh, dan kau memutuskan untuk bertanya pada pemilik toko kelontong?"
Jose melirik Krip, menyadari bahwa pria itu bisa berada dalam bahaya. "Dengan siapa aku bicara, sepertinya penting sekali bagimu, ya?"
"Penasaran saja. Biasanya, orang akan bertanya pada kepala pelayan atau orang di rumah, bukan pria tua yang tinggal satu kilo dari rumahnya."
__ADS_1
"Dia pemasok untuk dapur rumah." Jose mengedikkan bahu. "Dan hanya dia yang ada di toko ini untuk kuajak bicara. Omong-omong soal pelayan, aku dengar kabar mengenai pelayanmu. Aku turut berduka."
Sir William memberi senyum yang aneh, sekilas membuat bulu kuduk Jose merinding.