BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 197


__ADS_3

William berjalan menuruni undakan pelan-pelan, menghitung waktu. Ia sebenarnya malas menumpahkan lebih banyak darah, tapi kota ini berubah mencurigakan dalam beberapa hari belakangan, dan ia tidak mau ambil risiko. Dulu, Marco Argent mengusirnya pergi dan ia memilih mengalah. Namun itu tidak akan terjadi lagi kali ini. Sekarang ia sudah belajar untuk lebih berhati-hati.


"Apa kau yang melakukan ini?" celetuk Rolan.


William berhenti di tengah undakan. Mata birunya mengamati Rolan, heran karena pria itu bisa mempertahankan ketenangannya meski dalam situasi seperti ini.


Mengira tidak menangkap apa maksudnya, Rolan mengibaskan tangan ke sekitar, ke arah Bjork yang membeku sepi. "Maksudku ini," tegasnya. "Semua orang hilang, tidak ada suara, suhu anjlok. Ini cuma ilusi atau mereka benar-benar hilang? Kau yang melakukan ini, kan?"


"Bukan aku," William memutuskan tidak ada salahnya jujur pada orang yang akan mati. Ia menoleh ke samping, ke sisi bahunya. Material hitam melesap keluar dari pori-porinya melewati tiap serat pakaian, material tersebut membentuk kepulan asap hitam pekat yang bergelung liar. Dari kegelapan pekat tersebut, gerbang neraka terbuka dan sang iblis muncul. Satu kepala kambing terjulur keluar dari sela asap pekat, moncongnya terbuka, memanggil nama Rolan dalam banyak bahasa, menyebut satu-per satu dosanya.


"Apakah dia iblis? Atau kau yang iblis?" tanya Rolan heran tanpa mengedip, mata cokelat kacangnya justru kelihatan tertarik. "Siapa namanya? Iblis punya nama, kan?"


William diam. Genggaman pada tongkat metaliknya mengerat. Ia tidak suka pada orang-orang yang tidak merasa gentar melihat iblisnya. Bjork adalah kota yang aneh. Kekuatan iblisnya dibatasi di banyak tempat. Ia bahkan tak bisa menyeberangi sungai yang membatasi bagian selatan kota ini, betapa pun kerasnya berusaha. Kalungnya disembunyikan di sana oleh Duke Ashington dan ia tidak bisa mengambilnya. Terlalu banyak kebetulan yang aneh yang tidak ia sukai terjadi di sini, dan sekarang semua kota dipenuhi dengan wangi lavender. "Mau tahu namanya?" tanyanya dingin. "Kau bisa berkenalan dengannya secara langsung."


Rolan masih berdiri di tempatnya semula. Alih-alih kabur, pria itu justru meluncurkan pertanyaan lain, "Apakah kau yang membunuh Tuan Wallace?"


William ingat pria buntal itu. Pria menjijikkan yang menyembahnya berlebihan dan berkata akan membawakan kalungnya, tapi tidak bisa melakukan apa pun.


"Dia mati sendiri." William mengangkat bahu. Tangannya terangkat ke samping, mengelus kepala kambing yang berada di sisinya. "Begitu melihat ini, dia mati sendiri. Padahal aku belum selesai bicara dengannya."


Rolan mengangguk. "Apa kau juga yang datang ke gubuk Higgins? Maksudku, ke rumah Argent, ketika aku bersama dengan dua pria lain? Apa kau yang berteriak dari luar memanggil kami dengan menggunakan suara Marco dan Jose?"


William ingat malam itu. Ia mengangguk dengan mudah. "Aku merasakan kalungku ada di rumah Argent, aku hanya ingin mengambil benda itu kembali. Itu memento dari kekasihku."

__ADS_1


"Kau juga yang membunuh Higgins? Kau juga yang mengisap darah semua orang di Bjork?"


William tertawa pelan, sekarang mengerti apa yang ingin dilakukan Rolan. Ia melangkah mendekat, dan kali ini dokter itu mulai berjalan mundur dengan waspada. "Aku mengunci Bjork dalam jarak dua puluh meter dengan kita sebagai pusatnya," ia berkata. Mereka bicara sambil terus menuruni tangga. "Kau bermaksud mengulur waktu, berpikir semua akan kembali normal cepat atau lambat, begitu kan? Sayang sekali, tidak akan ada yang datang. Tidak akan ada bantuan muncul untukmu. Kau boleh mencoba berteriak, kalau mau. Lihat sendiri apa yang terjadi."


Rolam menelan ludah. Sebelah tangannya sudah menggenggam pisau kecil. Mata cokelat kacang pria itu bergerak-gerak gelisah, mencari sesuatu di sekitarnya yang bisa digunakan untuk berlindung. William tahu pria itu akan memainkan trik. Mungkin memanfaatkan cahaya matahari, mungkin melempar pasir ke matanya, mungkin berlari dan menjebaknya seperti yang dilakukan Krip semalam. Apa pun itu, William tidak ingin menunggu lebih lama untuk mencari tahu. Ia merasa tidak nyaman berada terlalu lama di Bjork. Kota ini seperti menolaknya. Ia tidak suka ditolak.


William sebenarnya tidak ingin membunuh terlalu banyak orang. Ia perlu menyimpan cukup nyawa sebagai bea untuk membuka gerbang transmutasi dan evokasi saat gerhana tiba, sebagai syarat penukaran jiwa. Namun membiarkan orang-orang Argent hidup lebih lama mungkin malah akan membahayakannya. William tidak ingin mengambil risiko.


"Kau yang membuat mayat hidup itu," kata Rolan. Meski berusaha terlihat tenang, tapi suaranya tetap saja gemetar.


William tersenyum mendengarnya. Ia suka mendengar manusia bergetar ketakutan seperti tikus kecil di hadapan kucing. "Memang. Beberapa orang bisa dibuat hidup, tapi beberapa malah mati dalam percobaan." Ia menapak maju dan Rolan melangkah mundur agak terseok.


Mereka kini sudah berada cukup jauh dari Pusat Arsip. William menuntuk Rolan mundur menyusuri jalan utama Bjork yang sepi.


William mengerutkan kening. Seperti yang diduganya, orang-orang Argent memang menjengkelkan. Mereka semua benar-benar punya naluri tajam. Meski sangat lemah dan bisa mati dalam sekali injak, mereka selalu saja melawan. "Kenapa kau ingin tahu urusan orang?" tanyanya gusar. Ia benci manusia yang melawan. Medium serta tumbal-tumbal sebelumnya tidak pernah ada yang melawan sekeras ini. Mereka semua dengan cepat kehilangan semangat hidup dan menyerah begitu melihat sang iblis.


Apa karena ini yang terakhir, atau karena kota sialan ini memang aneh?


William benar-benar membenci Bjork. Tempat ini dan seisi orangnya selalu saja dengan keras kepala menolaknya, melawannya. Kalau saja Duke Ashington tidak membawa kalungnya kabur ke tempat ini, ia tidak akan mau kembali lagi ke Bjork.


Iblis yang masih menggelayut dari sela asap hitam di punggungnya mulai tak sabar. Makhluk itu mengeluarkan erangan panjang yang mirip binatang merengek. Kepala lain muncul dari leher si kambing. Awalnya hanya ada gumpalan daging seperti kanker pada bagian leher, kemudian gumpalan itu membesar dalam letup-letup mendidih, dan membentuk wujud kepala ayam jantan. Kokokannya meluncur selantang sangkakala malaikat kematian, menggetarkan tanah. Rolan terjatuh di tanah mendengarnya. Pisau kecilnya terlempar tanpa daya.


William menoleh sekilas, merasa melihat mata binatang-binatang itu berubah hitam sepenuhnya. Ia mengembalikan pandangan pada Rolan yang masih meraba jas, mencari senjata lain.

__ADS_1


"Dokter," katanya. Ia sendiri juga berhenti di tempat. Senyumnya tersungging miring. "Kau ingin tahu bagaimana orang-orang itu darahnya diisap habis hingga seluruh pembuluhnya jadi bersih?"


Rolan tertawa lirih. Matanya terpaku pada dua kepala iblis yang menjulur dari sela asap neraka. "Kenapa kau melakukan ini, Sir?"


"Kenapa ular memakan tikus?" balas William dingin. "Memang seperti itu rantai makanannya, Dokter. Kalian, manusia, adalah mangsa. Sementara aku adalah predatornya."


Dan aku membutuhkan Bella untuk tetap hidup. Yang itu tidak perlu diketahui Rolan. William mengibaskan tangan, membiarkan iblisnya menjulurkan tubuh dan mengeluarkan lidah yang seperti belalai tajam dari sela moncongnya. Rolan menjerit panjang.


"Sir William!" sebuah suara meletus seperti bunyi pecut tepat sebelum belalai sang iblis menyentuh Rolan.


Untuk pertama kali sejak berabad-abad lamanya, William merasa jantungnya berdegup dalam sentakan rasa kaget. Tubuhnya terasa kaku. Harusnya tidak ada seorang pun yang bisa mendekat tanpa izinnya. Harusnya tidak ada yang bisa masuk wilayah yang sudah diberi perisai pelindung oleh iblisnya.


Ia kenal suara itu. Itu suara Jose Argent, bocah sialan yang selalu menatapnya dengan curiga sejak awal dan mencari masalah dengannya. Ia memutar tubuhnya perlahan ke sebelah kanan. Di sanalah bocah manusia itu berada, sepuluh meter darinya, menodongkan senjata padanya. William hanya mengerjap melihat moncong senapan laras panjang yang terarah padanya. Tidak ada waktu untuk menghindar. Senjata itu menyalak sebelum ia sempat berpikir. Sesuatu yang berwarna keperakan memelesat mendekatinya dalam kecepatan tinggi, menabrak tengkoraknya dengan keras hingga tubuhnya terlempar ke belakang mulai dari kepala duluan.


Dunia serasa berputar. Langit begitu biru.


Sekejap, nalurinya mengambil alih dan iblisnya bergerak mengikuti. Setidaknya ia harus membunuh Rolan sebelum jatuh. Namun sebelum iblis itu sempat memenuhi keinginannya, ia mendengar Jose berseru lantang memanggilnya sekali lagi. Dalam waktu sepersekian detik sebelum kepalanya menghantam tanah, ekor mata William menangkap bagaimana Jose melemparkan sesuatu tinggi-tinggi ke langit. Benda itu berkilau ditimpa cahaya matahari.


Kemudian Jose mengokang kembali senapannya dan membidik ke atas, ke arah benda berkilau itu.


William merasa tersengat. Yang sedang dibidik adalah kalungnya. Kalung Arabella. Iblisnya meraung dalam kaok panjang tepat pada saat suara senapan meletus di udara.


Ah, betapa ia membenci semua Argent.

__ADS_1


***


__ADS_2