BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 183


__ADS_3

William Bannet berjalan mendekati Krip tanpa buru-buru sedikit pun. Mata birunya mengamati gerakan pria gempal itu dengan tatapan seorang pemburu mengawasi mangsa.


Angin malam bertiup cukup kencang di Bjork, membuat ujung mantelnya berkelepak riang di belakang, menampar betis.


Krip ada beberapa langkah di depannya. Pria itu masih berlari dari satu pintu ke pintu lain, mengguncang-guncang gagang pintu dan menghajar jendela-jendela yang ia lihat.


William mengikuti dengan sabar, tahu bahwa apa pun yang dilakukan Krip hanya akan berakhir sia-sia. Ia sudah mengunci wilayah ini sampai seputaran dua puluh meter. Bahkan meski Krip menjerit dan melolong sekuat tenaga, tak mungkin ada orang yang akan membuka pintu. Tidak akan ada yang mendengar.


William menarik napas, menghirup udara malam banyak-banyak. Ia bisa mencium seberkas aroma darah. Buku-buku jari Krip pasti lecet dan kulitnya mengelupas karena terlalu kalap memukuli pintu dan jendela.


"Lucu," kata William lembut, membiarkan suaranya merambat di udara dalam lantunan dingin. "Kau tahu sedang berurusan dengan siapa, harusnya kau sudah tahu apa konsekuensinya."


Krip menoleh sekilas ke arahnya, lalu lari terbirit-birut ke arah yang berlawanan. Pria itu tersandung rekahan batu jalan dan jatuh terjerembap dengan keras. Bahkan dalam keadaan seperti itu, Krip masih berguling merepet ke emperan rumah di kanan jalan. Setelah agak lama berdiam diri, pria itu bangkit dan berjalan terpincang, kali ini justru menjauh dari rumah Argent. William tahu sebabnya. Krip mencoba menjauhkan bahaya dari tuannya.


Ia tidak habis pikir kenapa orang seperti Marco bisa punya banyak orang yang setia sampai rela mati. Pria itu membuatnya muak. Ia masih ingat dengan jelas kejadian tiga puluh tahun lalu, ketika pria itu mencurigainya sebagai penyebab penyakit misterius yang melanda Bjork dan mengusirnya dari kota ini. Sejak saat itu, ia sudah mencatat nama Marco dalam daftar khususnya, sambil terus berharap agar sifat dan karakter pria itu sama sekali tidak berubah ketika saatnya tiba, ketika ia harus datang untuk memanen.


Sekaranglah saat itu, dan harapannya terpenuhi. Marco masih sama persis dengan tiga puluh tahun lalu. Kalaupun ada yang berubah selain usianya, pria itu justru bertambah angkuh dan kebanggaan dirinya bertambah besar.


Krip mendadak berhenti. Topi kupluknya sudah hilang, menampakkan kepala botaknya yang basah. Tidak hanya kepala dan leher, seluruh tubuh pria itu dibanjiri keringat.


William hanya bisa melihat punggung Krip dari tempatnya berdiri, tetapi ia menangkap aroma ketakutan menguar kuat dari tiap pori-pori Krip. Sengal napas pria itu bergema nyaring di gang gelap tempat mereka berhenti.

__ADS_1


William menelengkan kepala dengan heran, menebak akan ada serangan dilancarkan padanya. Namun begitu melihat apa yang membuat Krip macet, ia terbahak.


Jalan buntu.


Mereka masuk ke dalam sebuah gang sempit di sebelah gudang kayu. Di sebelah kiri dan kanan mereka ada tumpukan kayu reng yang disandarkan miring ke dinding, dan di ujung gang hanya ada dinding batu yang tinggi.


Jalan semacam itu bukan masalah bagi William, jadi ia tidak menyadari apa yang salah. Setelah melihat Krip diam saja, ia baru sadar bahwa manusia pasti tidak bisa meloncat atau merambat menaiki dinding setinggi sepuluh meter.


"Siap atau tidak siap, aku datang," katanya main-main. Ia baru mendekat dua langkah ketika Krip mendadak berbalik menghadap ke arahnya. Kilat di mata cokelatnya memancarkan semangat. Pria itu belum menyerah.


Krip mengayunkan tangannya secara diagonal dengan cepat. Bersamaan dengan gerakan itu, bunyi derak memecah malam; derak kayu bersenggolan dengan kayu. William mengangkat wajah, mengerjap satu kali ketika melihat kayu-kayu reng yang tadi disandarkan pada dinding kini melayang jatuh ke arahnya ditarik gravitasi.


***


"Rasakan! Itu jadinya kalau melawan orang sini!" Krip tergelak keras. "Pasti tadi kau pikir aku yang terjebak!" Senyumnya melebar. Hatinya bungah. Ia bahkan merasa ingin berdansa saking gembiranya, tapi tahu bahwa itu akan kelihatan konyol. Ditariknya ujung tunik yang ia kenakan untuk mengelap keringat di wajah. Kedua lutut dan sikunya perih karena jatuh, tetapi itu bukan masalah.


Ketika menurunkan kaus dan menatap ke depan, pandangan matanya menumbuk langsung pada pria bermata biru yang kini berdiri dalam jarak sejengkal darinya.


Sir William menepuk-nepuk debu pada bahu mantelnya dengan santai, tidak kelihatan terluka sedikit pun. "Aku sempat kaget," ia mengakui.


Krip tidak sempat menarik napas. Asap hitam tebal meletup keluar dari punggung Sir William dan mengepul di sana dalam gumpalan sepekat malam. Asap itu sehitam arang dan tidak berbau. Suara jerit-jerit ribuan orang terdengar lirih dari partikel asap tersebut. Kemudian dari gumpalannya yang paling pekat muncul bentuk-bentuk aneh, kepala-kepala binatang bertanduk.

__ADS_1


Sosok itu keluar dari asap seolah menjadikan tiap kepulannya sebagai gerbang keluar masuk dunia lain. Kepala-kepala binatang bertanduk yang muncul menempel satu sama lain, seperti berasal dari tubuh yang sama. Kesemuanya membuka moncong, menampakkan taring tajam bernoda darah. Satu yang berkepala banteng perlahan membuka kelopak mata dan menatap Krip lurus-lurus, seolah ingin merasuk ke dalam jiwanya.


Detik itu juga, tahulah Krip bahwa ia sedang menatap iblis. Jiwanya ingat eksistensi makhluk di depannya. Dosa-dosanya mengenali asal bibit itu berasal.


Kedua tangan Krip masih mencengkeram ujung kaos tunik di depan perut. Bibirnya membuka tanpa suara, hanya bisa mengeluarkan suara tercekik.


Sir William mengulurkan sebelah tangan ke sisi leher Krip, mengirim rasa sakit menusuk di tempat yang disentuh. Krip mencicit. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia tidak bisa bernapas. Paru-parunya meronta, menuntut udara. Pelipisnya berdenyut nyeri. Jantungnya memompa kuat.


Lawan! Krip masih memaksa dirinya berpikir. Tangannya terasa berat, tapi ia berusaha menggerakkannya dengan kaku. Memukulkannya ke depan sekuat tenaga. Kepalan tangannya menghantam dada Sir William dalam sentuhan selembut anak kucing, kemudian ia merosot jatuh begitu mudah seolah seluruh tulangnya meleleh.


Krip membuka mulut di paving batu, mencari udara. Lidahnya terjulur keluar. Sir William berjongkok di sisi kepalanya.


"Kau terlalu ikut campur sih," kata lelaki itu. "Kalau kau mau menyalahkan seseorang, salahkan saja dirimu sendiri yang mengendus di tempat tak semestinya. Salahkan Marco yang mempekerjakanmu."


Krip mengejang di atas lantai batu yang dikotori debris kayu. Seluruh dunia menggelap di matanya, seolah ada yang mematikan lampu. Segala hal terlintas cepat bergantian dalam benak Krip seperti rekaman sinematik. Ia ingat belum mengucapkan selamat tinggal pada istrinya. Ia ingat Billy si penjaga makam berulang kali meminta ditemani minum-minum tapi ia selalu mengelak. Ia ingat laporannya. Berkasnya. Ia menyembunyikan buku itu di lubang air ketika jatuh tadi. Jose pasti akan menemukannya, ia percaya pada Tuan Kecil itu.


Krip ingat kelahiran putranya, suara tangis dan aroma kuap bayinya.


Air matanya meleleh panas, tetapi Krip tidak bisa merasakan apa pun. Tubuhnya mati rasa.


***

__ADS_1


__ADS_2