BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 212


__ADS_3

"Pencernaan dan tenggorokannya luka," Rolan memberi tahu. Ia mengusap wajahnya yang basah dengan handuk putih. Tidak ada waktu untuk mandi santai dalam kondisi seperti ini. Ia hanya mengguyur muka dan tubuh sekenanya begitu selesai merawat Jose. Ujung-ujung jarinya berbau sabun dan antiseptik, tapi ia merasa masih bisa mencium aroma lemak daging busuk samar-samar. "Sekarang suhu tubuh dan tekanan darahnya sudah kembali stabil, tapi sebaiknya biarkan saja dia istirahat." Ia menatap Renata tegas dan meneruskan, "dia baru saja tidur. Kalau ada yang membangunkannya dan membuat dia berkeliaran lagi, aku akan sangat-sangat-sangat histeris."


"Apa yang membuatnya luka?" Renata tidak punya waktu untuk tersinggung karena diperingatkan sekeras itu. Ia cemas setengah mati.


"Dia tidak makan seharian kemarin," sahut Rolan singkat. "Jadi asam lambung naik, melukai tenggorokan. Dan aku juga bakal muntah darah kalau tidak ada sarapan secepatnya."


Renata melotot, membisikkan, "Jangan sembrono!" lalu meneruskan dengan nada lebih lembut, "jadi dia tidak apa-apa, kan? Bukan sakit kronis?"


"Tidak apa-apa. Kecapekan, iya. Suruh saja koki masak makanan yang bisa menaikkan kadar HB. Kutebak George sudah tahu apa saja yang dibutuhkan, tapi aku sudah membuat daftarnya untuk jaga-jaga." Rolan mengeluarkan secarik kertas dari saku celana, menyerahkannya pada Renata. "Aku juga lapar sekarang. Sarapannya belum siap?"


"Aku akan memeriksanya." Renata menerima kertas itu dan membacanya sambil berputar balik ke lantai satu.


Begitu punggung wanita itu hilang di balik belokan koridor, Marco bertanya dengan nada serius, "Kenapa dia bisa muntah darah?"


"Tenggorokannya luka," ulang Rolan datar. Ia menghela napas, mengusap-ngusap rambut cokelat basahnya dengan handuk. "Tubuhnya kacau balau sekarang. Ibaratnya dia itu balon, lalu beban yang dia tanggung selama berhari-hari ini membuat balonnya berlubang. Kau tahu apa yang terjadi kalau balon yang besar itu bolong? Bakal terbang tidak karuan. Itulah kondisi Jose sekarang, sesuatu dalam tubuhnya bergolak tidak karuan, membuatnya sakit. Dia menyebut soal dengung psikis atau suara-suara, membuatku khawatir dengan kepalanya. Aku tidak bisa memastikan seberapa parah sakitnya, andai ada alat untuk memeriksa lebih detail."


"Dia akan sembuh, kan?"


Rolan menggeleng. "Sejujurnya, aku belum tahu. Perlu dilihat lagi bagaimana perkembangannya. Kalau setelah ini dia tetap stabil, kurasa kita tidak perlu cemas." Ia menatap Marco saksama. "Bagaimana pinggangmu? Lihat sini."


"Sembuh," sahut Marco. Wajahnya berkerut heran. "Tidak ada bekas jahitannya. Bahkan benangmu pun hilang."

__ADS_1


"Wah, itu kan harusnya dicabut." Rolan menggaruk kepala. Memang tidak terlihat ada bekas apa pun di tempat seharusnya ada luka sobek dan jahitan panjang. "Hmmm tidak ada tanda jahitan atau terasa ada benang di balik kulit. Apa kau merasa sakit atau gatal? Bagaimana kalau disentuh begini?"


"Seperti disentuh biasa. Tidak ada rasa sakit." Marco menurunkan kembali kemejanya. "Dia benar-benar yang melakukannya? Bagaimana bisa?"


Rolan melirik ke sekitar, menatap koridor dari ujung sampai ujung. Sepi. Hanya ada Gerald dan Hans yang berjaga di depan pintu kamar Jose. Lady Chantall mengurus Hubbert dan Maria serta Nolan menunggu di lantai satu, tidak diizinkan naik meski keduanya sangat panik dan ribut begitu melihat Jose berjalan sempoyongan setelah batuk darah.


"Gerald, masuk," Marco memerintahkan. "Awasi Jose. Dia tidak boleh keluar kamar. Tidak meski lewat jendela, atap, pintu, atau manapun. Jangan biarkan dia bersilat lidah denganmu dan mencari celah untuk lolos. Jose harus tetap istirahat di atas tempat tidur."


Gerald mengangguk dan mengiyakan dengan hormat, lalu masuk untuk berjaga di dalam kamar. Hans tetap di luar. Marco mengajak Rolan melanjutkan diskusi di kamar kerjanya, tak jauh dari kamar Jose. Rolan menceritakan semua hal mulai dari perginya ia ke Pusat Arsip, bahwa sigil kertas yang dibawanya tak berguna, serta menceritakan apa yang diketahuinya dari Sir William.


"Jadi dia memang seorang Solomonari?" Marco mengerutkan kening. "Dan dia bukan iblis, tapi diikuti oleh iblis?"


Rolan membuka tirai jendela lebar-lebar, membiarkan matahari pagi tumpah ke dalam kamar kerja. Setelah menghadapi malam panjang yang dingin, ia jadi sangat menyukai matahari pagi. Makin terik makin bagus. "Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana bentuknya," katanya sambil bergidik. "Makhluk itu mengerikan."


Rolan mengangkat bahu. "Aku melihat Robert memerintahkan polisi patroli menyusuri sungai. Dia tidak menyapaku, juga tidak mau melihatku. Kuharap mayat-mayat itu tidak bangkit lagi kalau ditemukan dan dikeluarkan dari sungai."


Marco mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja kerja. "Jadi Jose bisa sihir?"


"Dia tidak mau menyebutnya sihir," sahut Rolan. "Tapi yah, memang bisa. Katanya karena dia sudah melihat Kebenaran Sejati. Personifikasi Tuhan. Dewa yang membisikkan banyak hal padanya."


Marco mendengus.

__ADS_1


"Hei, kau sebaiknya percaya," Rolan tertawa. Ia berjalan ke meja kopi dan menuang teh panas dari satu set perlengkapan minum teh yang tersedia. "Nyatanya, Jose memang melakukan banyak keajaiban dengan doanya. Andai kau lihat bagaimana dia menyalakan sungai. Benar-benar bersinar seperti petir!"


"Jika Tuhan memang ada," sahut Marco dengan suara berat, "kenapa Dia membiarkan makhluk jahat seperti Sir William berkeliaran membunuhi manusia? Jika ketidakpercayaan manusia membuat-Nya lemah, jadi untuk apa dia disebut Tuhan? Apa bedanya Dia dengan Robert, misalnya?"


"Hmmm ... bedanya, meski kau percaya pada Robert belum tentu Robert bisa membantumu?"


"Bukankah kalau aku percaya pada-Nya juga belum tentu Dia mau membantuku? Semua tetap tergantung Dia, kan?" Marco tertawa dingin. "Kalau begitu lebih baik aku percaya pada diriku sendiri. Aku tidak mungkin menggantungkan diri pada makhluk mitos yang tak jelas kekuatannya."


"Kau tahu karena sifatmu yang inilah makanya kau menjadi target kurban pride, kan?" Rolan melempar berkas dari Krip yang barus saja dibacanya ke tas meja, berkas yang didapatkan oleh Lady Chantall. "Bagaimana kalau kau bersikap lebih rendah hati? Mungkin segalanya akan berubah. Mungkin Sir William akan pergi dan mencari orang lain."


"Omong kosong. Kau baca sendiri dalam berkas itu, lihat skala waktunya, kronologinya. Cocokkan dengan segala data yang kita punya." Marco berjalan mendekat, ikut menuang satu cangkir teh untuk dirinya sendiri. "Gerhana besok adalah satu-satunya peluang untuk Sir William melakukan ritual, atau Arabella tidak akan kembali. Dia hanya punya satu kesempatan. Ritual ini harus dilakukan secara berurutan dalam periode solar dan entah kenapa hanya bisa dilakukan satu kali ini. Dia sudah melakukannya enam kali untuk enam dosa. Tinggal satu ini. Tinggal pride."


"Eh, soal periode solar itu kan tidak ada dalam data Krip. Dari mana kau tahu?"


"Garnet." Marco menyesap teh panasnya pelan-pelan. "Dia ingat banyak hal. Ingatan yang bukan miliknya."


Rolan diam agak lama, kemudian mengesah. "Sulit dipercaya," gumamnya. "Semua kematian ini, semua darah dan mayat ini, keributan ini ... dia hanya ingin menghidupkan satu wanita. Kenapa tidak cari cewek lain?"


"Kau sendiri?" balas Marco. "Kenapa tidak mencari perempuan lain?"


Rolan terpekur.

__ADS_1


***


¬solar: matahari


__ADS_2