BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 148


__ADS_3

Ketika Xavier sudah mulai tenang, Jose mengubah taktiknya. Mereka tidak akan bisa maju dari status quo kalau sama-sama ngotot bertahan pada syarat masing-masing.


Xavier tidak mau cerita apa pun kalau nyawanya tidak dijamin, tetapi Jose sendiri tahu dirinya bukan dewa. Ia sadar keterbatasan dirinya sendiri dan merasa tidak mungkin sembarangan memberi janji melindungi orang berdasar iming-iming informasi yang belum jelas kebenarannya. Jose tidak mau mengubah pendiriannya, tetapi ia mau mencoba melakukan kompromi dengan mendengarkan dulu masalah Xavier. Pria itu sampai mau kehilangan muka menemuinya untuk minta tolong, jadi siapa pun yang mengejarnya, mereka pasti tidak bisa ditangani dengan uang Hastings bersaudara yang berlimpah.


"Kau bilang, kau dikejar seseorang. Apa kau tahu siapa saja yang mengincarmu?" tanya Jose. "Atau punya dugaan soal siapa yang punya dendam denganmu?"


Xavier tertawa. "Dugaan ya, hmm ... ini bukan dugaan ... aku yakin siapa yang mengejarku. Orang-orang Scholomance itu."


"Scholomance?" Jose mengulang.


"Ah," Xavier menatap sekilas, tidak kelihatan heran. "Jadi kau sudah tahu nama itu. Tentu saja. Kau juga tahu mereka yang menangkap Marquis Argent? Maksudku, secara teknis memang bukan mereka, tapi—"


Pintu diketuk dari luar.


"Masuk," kata Jose, matanya tak lepas dari Xavier yang mendengus jengkel karena ucapannya selalu dipotong.


Pintu terayun ke dalam dan Rolan masuk, membawa Nolan yang berjalan gagah dalam balutan mantel biru Marco.


Jose menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi. Ia tadi memang meminta Rolan untuk membawa Nolan, tetapi maksudnya adalah membawa ke kamar tidur yang letaknya tepat di sebelah kamar baca. Ada pintu yang menghubungkan tempat itu dengan ruang baca, sehingga suara dari tempat ini akan bisa kedengaran.


"Aku tahu apa yang mau kau katakan," Rolan berbisik pada Jose begitu sampai. "Tapi dia tidak mau sembunyi, ngotot sekali ingin ke sini sampai mencoba berteriak. Aku tidak mau suaranya benar-benar rusak. Dia bahkan ingin jalan sendiri. Salahku karena memberinya obat penghilang rasa sakit. Kau boleh memarahiku nanti."


Jose mengamati Nolan yang duduk di sofa di sampingnya, mengenakan mantel kebesaran yang menenggelamkan kedua tangannya hingga tak terlihat. Margie sudah mencuci mantel itu tadi dan berniat menyimpannya di kamar Marco, tetapi Jose meminta agar Margie tetap meninggalkannya di kamar bersama Nolan. Gadis itu kelihatan menyukai overcoat Marco.


Xavier memperhatikan Nolan agak lama, kemudian menepuk pahanya sendiri dan terbahak keras. "Pantas saja aku merasa pernah melihatnya! Dia kan pelayan Marco yang bersamanya kemarin! Kenapa dia di sini? Robert bilang dia sudah mati!"


Jose menoleh pada Rolan, memberinya kedipan singkat. Rolan membalas dengan anggukan pelan. Dugaan Jose benar soal Robert. Inspektur itu memang berniat menyelamatkan Nolan dengan menyembunyikannya di sel.

__ADS_1


Cara yang kejam untuk menolong orang yang terluka, pikir Jose. Tapi aku tidak bisa terlalu menyalahkannya, dia mungkin tidak bisa memikirkan hal lain ketika Nolan tiba-tiba muncul di kantornya.


Nolan mengerutkan kening mendengar ucapan Xavier. Sedetik kemudian matanya membola. Ia mengenali suara yang bicara padanya pada waktu di penjara. Nolan bangkit dengan cepat dari duduknya untuk menyerang, tetapi kemudian oleng karena masih terlalu lemah. Rolan memaksanya duduk, mengomelinya, dan berdiri berjaga di belakang kursi anak itu.


"Aku mengerti," Xavier menyembunyikan senyum, masih menatap Nolan dengan wajah terheran-heran. "Kau menggunakan pelayan ini untuk memastikan apakah aku berkata jujur atau tidak."


Rencananya tadi begitu, pikir Jose kesal. Nolan selalu saja bertindak di luar rencananya, dan itu membuat ia sedikit pusing membangun ulang semua taktik dari awal lagi.


Nolan sendiri tak kalah kesal. Ia memelototi Jose sangat lama dengan tatapan bengis.


Jose mengalihkan wajah, pura-pura tidak melihat. Ia tahu Nolan marah karena tidak ada yang menyangkal tuduhan Xavier dan menjelaskan bahwa Nolan bukan pelayan. Namun Jose merasa tidak ada perlunya membuka kartu informasi tanpa balasan setimpal. Semua hal harus ada harganya. Setiap informasi hanya boleh dibagi jika menguntungkan. Biar saja Xavier mengira Nolan adalah pelayan kalau itu bisa membuat segala hal jadi lebih singkat.


"Apa yang sudah dia ceritakan padamu?" tanya Xavier sambil menggerakkan dagu pada Nolan.


Jose tidak menanggapi pertanyaan itu. Ia akan mulai dari titik yang lain. "Jadi yang mengejarmu adalah Scholomance? Setahuku itu nama sekolah yang diadakan oleh iblis?"


Baik Rolan maupun Jose ingat pada kasus kematian Wallace. Direktur Pusat Arsip itu juga menyebut-nyebut soal Beliau.


"Kau juga salah satu dari mereka?"


"Tentu saja bukan!" Xavier menyangkal keras. "Scholomance itu kumpulan orang aneh! Mereka mengambil nama dari mitos sekolah iblis tapi menganggap diri mereka beragama, itu saja sudah aneh! Kami bertemu dengan mereka di Rumania—maksudku, aku dan Charles. Mereka bilang, mereka mengejar gerbang kebenaran abadi atau semacam itu. Kau tahu kisah Penciptaan kan? Adam dan Hawa diusir dari Eden karena makan buah dari Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat?"


Jose mengangguk hati-hati, mencoba mengumpulkan semua puzzle dalam kepalanya. Ia heran kenapa semua kekacauan ini selalu berujung pada agama. Dugaan awal mereka juga agama: antara agama lama di Bjork atau kakure kirishitan. Namun dugaan itu salah semua. Mereka berurusan dengan sesuatu yang lebih parah: Scholomance.


"Mereka ini percaya ada gerbang kembali ke Eden," Xavier melanjutkan. "Mereka mengaku punya pengetahuan dari orang-orang yang pernah berhasil keluar dari scholomance, pengetahuan untuk membuka jalan menuju gerbang itu."


Jose tertawa. "Lalu kalau gerbangnya terbuka, mereka mau apa? Makan buah pengetahuan lagi?"

__ADS_1


Xavier menggeleng serius. "Mereka ingin makan buah dari pohon satunya, Argent."


Pohon Kehidupan.


Dalam Kitab Kejadian, dikisahkan ada dua pohon terlarang di Taman Eden, satu-satunya jenis pohon yang buahnya tidak boleh dimakan oleh Adam dan Hawa. Pohon tersebut adalah Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat serta Pohon Kehidupan. Memakan buah dari Pohon Pengetahuan akan membuat manusia memiliki akal budi dan mengerti mana yang baik serta mana yang jahat, mana yang salah serta mana yang benar, menjadikan manusia berbeda dengan ciptaan yang lain. Pohon tersebut membawa pengetahuan yang seharusnya tidak dimiliki oleh manusia. Begitu Adam dan Hawa memakan buah dari Pohon Pengetahuan, Tuhan mengusir keduanya dari Taman Firdaus dan untuk berjaga-jaga agar pohon yang satu lagi aman, segera menempatkan malaikat kerubim lengkap dengan pedang yang bernyala-nyala untuk menjaga pohon terlarang lain.


"Kau tahu bahwa dalam kitab, Tuhan hampir selalu dituliskan menyebut diri sendiri dengan kata ganti jamak, kan? Kita. Kami. Mereka tidak hanya satu, dan inilah dasar iman orang-orang Scholomance. Apa kau ingat apa yang Mereka katakan setelah mengusir Adam dan Hawa dari Eden?" Xavier bahkan tidak perlu mengingat-ingat ketika mengutip, "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah Pohon Kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya."


Jose menyadari apa tujuan Scholomance. "Mereka ingin makan buah Pohon Kehidupan dan jadi Tuhan?"


"Bingo." Xavier menjentikkan jari. "Mereka berpikir semua manusia itu Tuhan, hanya saja terperangkap dalam tubuh semu. Jika mereka makan buah yang satu, mereka bisa jadi Tuhan yang sempurna. Konyol, kan? Tapi ternyata mereka punya banyak pengikut. Sangat banyak. Dan mereka punya cara untuk membuka gerbang menuju Eden. Cara gila, menurutku. Mereka akan membukanya di sini, di Bjork."


"Kenapa di sini? Memangnya Eden ada di sini?"


"Entahlah, mungkin saja. Tapi yang kudengar, alasannya karena gerhana matahari," Xavier menjawab. "Mereka butuh gerhana, gerhana matahari cincin yang terdekat akan bisa dilihat jelas dari sini. Tapi untuk apa, aku tidak begitu mengerti. Aku tidak masuk terlalu dalam untuk tahu. Mereka juga tak percaya padaku ..."


"Lalu Golem apa yang kau maksud?" kejar Jose. Tangannya mencengkeram lengan kursi, masih ingat awal dari semua ini. Jika yang selama ini mereka sebut sebagai hantu hitam itu adalah golem, apakah Higgins dibunuh golem? Apa Sir William tidak terlibat?


"Golem itu," Xavier berdehem pelan. Ekspresinya berubah resah. "Itu ... aku tidak tahu, tapi kami biasa membuatnya untuk menjaga ritual atau pertemuan mereka. Makhluk dibuat dan diberi perintah tertentu, lalu lenyap saat perintahnya selesai mereka laksanakan. Tapi kalau yang membuatnya tidak ahli, maka golemnya akan langsung meleleh atau rusak dan berubah kembali jadi bahan utamanya."


"Bahan utamanya apa? Tanah?" Jose mengerutkan kening. "Kau dikejar-kejar tanah liat?"


"Mayat."


Jawaban itu terlantun dalam suara serak yang mengerikan. Itu bukan suara Xavier.


***

__ADS_1


__ADS_2