
“Suara-suaranya berhenti,” kata Jose tegang. Ia sedikit gelisah. Perasaannya tidak nyaman. “Aku tidak dengar suara tembakan apa pun.”
“Tapi awan hitam itu juga hilang,” komentar Rolan yang ikut berdiri di samping Jose. Awan putih kecil mengepul dari mulutnya setiap kali ia bicara. “Omong-omong, aku tidak melihat Hans sejak tadi. Lord Dominic juga. Di mana mereka?”
“Entahlah, mungkin main petak umpet.”
Jawaban Jose justru membuat Rolan curiga. Ia tahu Hans adalah seorang loyalis. Pria bongsor itu tidak akan mungkin meninggalkan Jose tanpa alasan. Dave juga kelihatan jelas begitu ingin dilibatkan dalam pemecahan misteri ini. Tidak mungkin keduanya kabur menyelamatkan diri sendiri. Jadi pilihan yang tersisa hanya satu: Jose memberi mereka tugas. “Kau minta mereka melakukan apa?” selidiknya.
“Bukan hal berbahaya.” Jose tersenyum menenangkan. Ia merapatkan syal hitamnya di leher, menenggelamkan bibir yang membeku ke baliknya. “Kalau aku salah, tidak akan ada apa pun yang terjadi. Tapi kalau aku benar, kita semua mungkin bisa selamat.”
Sekarang Rolan benar-benar penasaran. “Apa yang kau lakukan?”
Jose tidak menjawab. Matanya memandang ke kejauhan. “Paman dengar itu?”
“Tentu saja aku dengar. Suara kau mengalihkan topik, kan?”
“Bukan! Maksudku suara kuda! Ada banyak.”
Rolan menyiagakan belatinya. Marco menyarankan ia membawa senjata api, tapi Rolan tidak terbiasa menggunakannya. Ia lebih suka menggunakan sesuatu yang lebih akrab dengan tangannya seperti pisau.
“Tenang Paman,” Jose menyentuh lengan Rolan. “Itu siluet Clearwater.”
__ADS_1
“Kau bisa membedakan orang dari siluetnya?” Rolan menganga tak percaya.
Jose tidak menanggapi. Ia sudah berlari menyongsong kawannya. Clearwater meloncat turun dari kudanya begitu sampai di padang rumput. Wajahnya kelihatan tegang.
“Rencana kita gagal,” kata pria itu tanpa basa-basi begitu sampai. Seperti menyadari bahwa ia baru saja melakukan kekeliruan, Clearwater segera mengedarkan pandangan ke sekitar, memastikan wilayah itu steril dari kuping-kuping nakal yang tidak ada hubungannya dengan ini.
“Gagal bagaimana?” sambar Rolan tegang. Wajah muram Clearwater membuatnya jadi ingat kegentingan situasi mereka. “Maksudmu Sir William lari? Bagaimana dengan Marco? Apa yang dikatakannya?”
Clearwater menatap Rolan agak lama, kemudian berpindah pada Jose. “Marquis Argent tewas.”
Rolan menyipitkan matanya hingga menyerupai garis tipis. “Kau bercanda, kan?”
Rolan segera sadar dari syoknya. Ia mencengkeram lengan Jose erat-erat dan menggeleng dengan tegas, tahu apa yang ingin dilakukan keponakannya. “Kau tidak boleh!”
“Mungkin Paman cuma pingsan!” desis Jose. “Aku perlu memeriksanya! Paman juga ingin memeriksanya, kan?”
Clearwater menggeleng lagi. Napasnya tidak beraturan, membuat wajahnya hampir tidak kelihatan di balik uap putih tipis. Malam begitu dingin di Bjork, lebih dingin dari yang sudah-sudah. Clearwater kelihatan begitu menderita bertindak menjadi pembawa berita buruk. “Jose … Sir William membawanya … pamanmu.” Ia segera menceritakan semuanya dari awal, dari kedatangan mereka yang sukses ke kota sampai kekisruhan yang terjadi dan Lady Chantall yang histeris. “Sir William kemungkinan memang sengaja diam, menunggu sampai di tengah Bjork. Di sana … kita lalai … ada satu lagi sigil darah di sana. Begitu dia sampai di sana, sigilnya bersinar dan … gerbang neraka terbuka. Entahlah, kelihatannya seperti itu. Ada wajah iblis di langit. Semua orang ketakutan. Semua yang menatapnya merasa takut dan tak bisa bergerak. Lalu Sir William bangun dan menyerang Marquis … dengan iblisnya.”
Jose mengangguk. Ia mengusap kedua pundak Clearwater dan menepuk-nepuknya untuk menenangkan pria itu. “Aku mengerti,” katanya. “Terima kasih sudah memberi tahu.”
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Clearwater. Matanya menatap ke arah karavan yang membuka. Orang-orang di dalam sana sudah menyadari kehadiran tamu lain. Renata yang pertama turun dan menghampiri Jose. Wajahnya cemas.
__ADS_1
“Jose?” bisiknya pelan setelah memberi salam dengan manis pada Clearwater. “Semuanya baik-baik saja, kan?”
Jose tersenyum dengan wajah malaikatnya dan mengangguk. “Tentu saja, Bu. Clearwater cuma memberi tahu apa yang terjadi di Utara.”
Baik Rolan maupun Clearwater sama-sama tercengang melihat begitu mudahnya kebohongan meluncur dari wajah Jose. Lelaki itu bahkan tidak kelihatan terpukul sedikit pun. Raut sedihnya yang tadi sempat ada sekarang benar-benar hilang tersapu bersih. Jose bahkan tidak mengedip saat berbohong pada ibunya. Tidak memberi jeda, tidak berpikir.
“Aku tidak mendengar suara tembakan lagi,” Renata memancing. Matanya menatap mereka bertiga bergantian. Clearwater mengalihkan wajah, tak sanggup membalas tatapannya.
“Itu juga yang dibicarakan Clearwater. Paman Marco butuh bantuanku,” kata Jose tenang. “Tapi tenang saja, semua baik-baik saja. Ibu sebaiknya di sini bersama Maria. Aku akan segera kembali.”
Renata tampak keberatan, tapi mengangguk kaku. “Rolan akan bersamamu, kan?”
“Paman Rolan tetap di sini.”
“Tidak. Aku akan bersamamu!” Rolan berkata keras. Ia tidak mau ambil risiko Jose mencoba menghidupkan kembali Marco lalu malah membuat keadaan keduanya sama-sama kritis.
“Paman, bagaimana kalau mayat hidup itu datang lagi?” Jose menggamit lengan pamannya dan membawanya agak menjauh ketika mengingatkan hal tersebut. “Kita kekurangan pekerja yang bisa bertarung. Cuma Paman yang bisa melindungi mereka! Aku bersama Clearwater, dia tidak akan mungkin membiarkanku terluka! Lagi pula harus ada yang melindungi Maria di sini.”
Rolan tahu bahwa keponakannya hanya membuat alasan untuk bisa pergi sendirian ke Utara. Harusnya ia tidak mengizinkannya, atau minimal ia harus memaksa untuk tetap menemaninya. Namun Rolan tidak menemukan argumen bagus untuk menolak alasan Jose.
***
__ADS_1