BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 140


__ADS_3

Jose menjentikkan jari sebagai tanda.


Gerald mengangguk mantap, berjalan menyeruak jalan seperti banteng. Ia menyambar satu opsir untuk menanyakan letak sel, kemudian bergegas ke arah yang ditunjukkan baginya.


Jose menoleh kembali pada Gordon dan mengangguk penuh persetujuan. "Kerja bagus, Mr. Gordon. Pulanglah, tak usah mencemaskan soal pekerjaan. Hidupmu sudah jadi tanggunganku mulai detik ini."


Gordon menyusut hidung, kemudian berlari pergi tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Keheningan yang ditinggalkannya menyelimuti ruangan dengan cara yang paling menghina.


Jose memandangi wajah-wajah di kantor tersebut secara kilat. Beberapa orang menghindari tatapan matanya, beberapa melotot balik, yang lain kelihatan bingung, tetapi ada juga yang mengawasi dengan saksama.


Apa tujuan hidup mereka? Jose memikirkan pertanyaan itu dalam hati ketika melihat wajah-wajah yang kini berkumpul dan bersembunyi.


Ia melihat Robert punya obsesi untuk memiliki tempat spesialnya sendiri, membangun piramida kekuasaannya sendiri. Keinginan agar eksistensinya diakui kentara begitu jelas dalam tiap tindak-tanduk Robert. Pria itu menyombongkan loyalitas anak buahnya, tetapi Jose bisa melihat bahwa yang dibangga-banggakan pria itu tak lebih dari istana yang dibangun di atas pasir.


Wilayah yang mencekam.


Era dengan kasta sosial yang labil.


Semua orang hanya sekadar hidup, tanpa tujuan. Tanpa ambisi.


Jose tahu ia bisa merontokkan istana pasir itu dengan mudah.

__ADS_1


Robert menatap Jose penuh selidik. Pemuda itu kelihatan seperti menanti sesuatu. Robert tidak bisa menebaknya sampai lima menit kemudian.


Belasan tukang pukul milik Argent memasuki lahan kantor polisi dan berbaris di depan pintu seperti menunggu antrean masuk. Sekilas, mereka kelihatan seperti warga biasa, tetapi sorot mata yang berkilat di sana dipenuhi nafsu berbuat onar, seperti api liar yang siap melalap habis seisi kota.


Para polisi yang berada di dalam kantor terkesiap ribut, berdesakan mengintip dari jendela. Beberapa bahkan tampak siaga, siap menghadapi bentrokan.


"Tidak perlu cemas," kata Jose lembut sambil mengangkat sebelah tangan untuk meminta perhatian. Ia tidak ingin darah benar-benar dikucurkan di sini. "Tidak ada sipil di luar, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan yang berbaris di sana tidak akan melakukan apa pun. Mereka cuma menungguku. Mereka cemas aku juga akan ditangkap tanpa alasan."


"Bajingan!" umpat Robert. Dadanya kembang kempis karena amarah. Napasnya tak beraturan. Ia mendekat dengan langkah terpincang. "Kau tidak berhak melakukan ini! Kau melawan hukum, Jose. Ini sudah kelewat batas!"


"Hukum apa?" Jose membalas dingin, tidak lagi menggunakan bahasa formal yang sopan. "Hukum macam apa yang membuatmu menahan tamuku dan menyembunyikan dia dariku, Sir?"


"Aku tidak mengatakannya karena tahu kau akan menggunakan kuasamu dan nama keluargamu untuk menyalahgunakan hukum! Anak itu tidak punya identitas! Dia juga bukan orang Utara, jadi tidak boleh masuk Utara!" Robert mengulurkan tangan untuk mencengkeram kerah baju Jose, tetapi Hans dengan sigap menampar keras lengan pria itu hingga Robert hampir terpental jatuh.


"Kau mengancamku, Jose?" desis Robert dengan suara bergetar karena marah. Ia mencengkeram bahunya yang sakit karena efek hantaman Hans.


"Bukan aku yang duluan bicara soal hukum, Sir," Jose menyahut dingin. Ia menatap ke sekitarnya dengan sebelah alis terangkat, sengaja memamerkan senyum kemenangan yang congkak. Jose bisa membuat dirinya kelihatan arogan kalau ia mau. "Untuk orang-orang yang tidak ingin terlibat, kalian bisa keluar. Aku mempersilakan dengan hormat. Pergilah berpatroli atau melakukan apa pun, tapi satu yang pasti: hari ini kalian tidak melihat atau bertemu denganku dan aku juga tidak melihat satu pun dari kalian. Kita tidak pernah bertemu."


Awalnya, yang bangkit hanya satu orang. Lelaki itu masih muda, sepertinya bukan polisi melainkan seorang staff administrasi. Ia berjalan pelan-pelan ketika melewati Jose, lalu lari terbirit-birit ketika sudah mencapai ambang pintu. Kemudian dua orang lagi melakukan hal yang sama. Jose tidak melihat ke arah mereka sekejap pun dan para tukang pukulnya juga diam saja. Menit berikutnya, ruangan dipenuhi bunyi geradak ribut meja dan decit kursi bergeser serta derap tapak sepatu.


Warna muka Robert berubah-ubah dari merah, kebiruan, kemudian pucat pasi. Pria itu menatap terluka pada ruang-ruang kosong yang ditinggalkan pemiliknya.

__ADS_1


"Ini loyalitas yang kau banggakan, Sir?" Jose terkekeh. Lebih dari separuh isi kantor sudah pergi. "Aku jadi ragu apakah kau mengerti apa yang dimaksud dengan loyalitas. Loyalitas bukan sesuatu yang luhur. Loyalitas terletak di mana sebuah kepentingan berada. Selama kepentingan kalian sama, orang-orangmu akan setia. Kau pikir hanya dengan memiliki status sebagai atasan maka itu cukup untuk membeli kesetiaan? Kau lihat sendiri mereka tidak merasa diwakili olehmu."


"Tutup mulut!" bentak Robert. Rupanya saat ini persis seperti banteng marah. Tetapi ia tidak bergerak. Ia tidak bisa bergerak karena diikat oleh citranya sendiri, juga oleh aturan permainan yang ia ciptakan sendiri. Siapa pun yang maju duluan akan menjadi pihak yang kalah karena akan membuat lawan merasa punya alasan untuk melakukan serangan balik. Jika ia terpancing dan bergerak memukul Jose, Robert yakin pemuda itu akan menerima pukulannya satu kali. Jose akan menerimanya hanya supaya ia punya alasan untuk membakar semangat anak buahnya dan melancarkan balasan.


Robert yang tahu dirinya terjebak segera mundur. "Pulanglah Jose! Aku akan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi di sini demi Marco!"


"Kau tahu apa kesalahanmu, Sir?" Jose melangkah maju, tak kenal ampun. Ia tidak mau berhenti. "Kau menganggap enteng seorang Argent. Menurutmu kau idealis? Menurutku, kau setengah matang. Kau mengancam Sersan Gordon untuk tutup mulut hanya dengan menggunakan kariernya sebagai imbalan. Naif sekali, padahal kita sedang melakukan taruhan yang lebih besar di sini. Padahal kau tahu seorang Argent selalu berjudi dengan taruhan nyawa."


"Bocah lancang!" seru salah satu opsir yang tersisa di ruangan itu. Pria yang tadi meludah. Ekspresinya muak dan jijik. Ia merasa sudah cukup mendengar ceramah Jose. "Kurang ajar benar kau! Siapa yang mengajarimu begini, ha? Karena Marco hilang, maka kau pikir bisa bertindak di luar batas?! Beraninya mengancam Sersan Gordon dan Inspektur Robert! Berani benar kau mengancam Kepolisian Bjork!!"


"Opsir Wayne," seru Jose lantang, menyebut nama pria itu. Ia tidak menoleh, matanya memperhatikan bagaimana pupil mata Robert bergerak-gerak ketika memeras otak.


Wayne mengerut di kursinya, tak menyangka namanya diketahui.


"Kau punya dua putri yang baru beranjak dewasa, yang bekerja sebagai tukang jahit di ujung Bericht Square. Mereka selalu pulang saat hampir jam malam, melewati Danau Brich yang sepi. Mengerikan sekali kalau misalnya terjadi sesuatu pada mereka, kan? Dua wanita muda yang belum menikah. Padahal begitu banyak pria hidung belang di Bjork."


Ruangan meledak dalam gemuruh riuh dan seru-seruan marah mendengar tuturan Jose. Wayne terduduk lemas dengan wajah pucat pasi. Lidahnya kelu. Ia bahkan tidak pernah membayangkan akan mendengar ancaman serendah itu keluar dari wajah sopan Jose.


Beberapa orang bangkit dari meja mereka untuk menyerang, memberi pelajaran pada pemuda arogan itu, tetapi Hans mengentakkan sebelah kaki begitu kuat ke lantai hingga membuat suara persis ledakan pistol. Matanya menatap nyalang, membuat semua orang berpikir dua kali dan tidak jadi bergerak.


Jose menoleh dengan wajah manis ke arah Wayne, bibirnya melengkung dalam senyum tak berdosa. "Nah, yang kuucapkan barusan tadi itu baru namanya ancaman," jelasnya dengan seringai lebar. "Tenang saja, aku cuma memberi contoh seperti apa yang namanya ancaman agar kau mampu mempelajari bentuknya. Putri-putrimu jelas aman, polisi patroli kan selalu berkeliaran sampai sana. Kalau kalian masih belum paham apa yang disebut ancaman dan bagaimana membedakannya dengan dialog biasa, aku bisa menggunakan contoh lain."

__ADS_1


Jose diam sebentar untuk mengedarkan pandangan, memberi efek mengintimidasi. Satu telunjuknya terangkat naik ke langit-langit. Ia menghitung, "Opsir Smith yang anjing kesayangannya selalu sendirian di rumah setiap sore, Opsir Dallas yang istrinya saat ini sedang sakit keras, Sersan Harper yang baru saja punya bayi manis." Jose sudah menaikkan tiga jari sekarang. Ia mengerling penuh arti. "Aku bisa saja menyebutkan satu demi satu contoh untuk tiap orang di sini, tapi itu akan menghabiskan waktu dan lagi jari tanganku cuma ada sepuluh. Kalian harusnya merasa terhormat seorang Argent bermurah hati memberi pelajaran gratis."


Jose tertawa ramah dengan nada yang tidak enak didengar. Tak ada seorang pun yang tertawa bersamanya. Semua orang seperti dipaku ke lantai kayu kantor polisi. Lidah mereka kelu. Semua orang seperti diingatkan kembali keluarga macam apa yang sedang berdiri di depan mereka saat ini. Yang barusan jelas-jelas bukan kemurahan hati. Jose sedang membeberkan titik lemah beberapa orang yang ada di situ. Dari mana lelaki itu mengetahui informasinya atau sejak kapan menghapalnya, tidak ada yang tahu. Yang dilihat semua opsir di ruangan tersebut bukan putra keempat Keluarga Argent melainkan jelmaan iblis berwajah manusia. Jose serius dengan setiap ancamannya.


__ADS_2