BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 245


__ADS_3

Ketika membuka mata, Jose mendapati dirinya berada di atas sampan panjang yang dikayuh oleh lelaki asing yang lebih muda darinya. Pemuda itu mengenakan topi lebar dari jerami dan setelan berbahan katun tipis. Satu lentera minyak diletakkan di dekat kaki tukang kayuh sebagai penerangan.


Jose menoleh ke kiri dan kanan dengan heran. Air hitam tenang membentang sejauh mata memandang. Di atasnya, warna kelam yang sama terhampar. Langit tanpa bintang maupun bulan. Udara begitu dingin hingga Jose merapatkan kerah mantelnya. Ia meringkuk di sudut, membiarkan tubuhnya bergerak seirama gerak sampan. Kiri, kanan, kiri, kanan.


"Hey," gumam Jose pelan, tak mengerti mau dibawa ke mana dirinya dan berada di mana ia sekarang. "Hey, ini di mana?"


Pemuda itu menoleh, wajahnya tidak terlihat karena tertutup bayangan topi bambu yang ia kenakan. "Kau kan tahu."


"Aku tidak tahu." Jose merasa gelisah. Ia tidak bisa melihat melewati permukaan air. Bayangannya tidak terpantul di sana dan ia terlalu takut untuk menyentuh air itu. "Kita mau ke mana?"


"Menyeberang."


Suara pemuda itu menggelayut di udara dalam cara yang ganjil hingga membuat Jose bergidik. "Menyeberang ke mana?" Sejauh penglihatannya, tidak ada daratan tampak. Ia tidak tahu kenapa dirinya bisa ada di atas sampan dan untuk apa. Ia bahkan tidak bisa mengingat apa yang terjadi seharian ini. Jose merinding dari ujung rambut sampai ujung kaki ketika menyadari satu hal paling fatal: ia tidak ingat siapa namanya. Anehnya, hal itu tidak membuatnya terlalu khawatir. Nama rasanya bukan hal yang terlalu penting baginya sekarang. "Menyeberang ke mana?" ulangnya.


Pemuda bertopi jerami di depannya tidak menjawab, malah kembali mengayuh dalam diam. Jose bangkit dari duduknya, tapi malah membuat sampan mereka bergoyang dan hampir terbalik. Untungnya si pemuda pengayuh begitu sigap menstabilkan perahu.


"Maaf," kata Jose cepat. Ia masih berdiri, matanya diedarkan ke sekitar, mencari tanda. Mencari keberadaan makhluk lain. Tidak ada ikan, tidak ada angin, tidak ada ombak, tidak ada burung. "Ini di mana?"


"Sungai."


"Sungai mana?" Jawaban pendek-pendek itu membuat Jose agak kesal.


"Bjork."


Jose mengerutkan kening keheranan. Ia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tangannya dimasukkan ke dalam kantung mantel untuk mencari koin, berpikir saat sampai nanti ia harus membayar tukang kayuh tersebut. Ia tidak menemukan koin atau emas. Jarinya meraba benda lain. Ia mengeluarkan benda itu, yang ternyata adalah kalung emas.


Aku tidak ingat pernah punya kalung semacam ini, pikirnya. Apa ini bukan mantelku?


Jose membolak-balik kepingan medalion kalung tersebut, mengamati ukiran yang tertera.


"Tidak boleh membawa benda," kata pemuda pengayuh di depannya, menghentikan gerakan galah. Jarinya menunjuk permukaan air dengan gestur mendesak. "Buang ke sana."


Jose menaikkan kedua alisnya dengan heran. "Tapi ini bukan milikku."

__ADS_1


"Terlebih yang bukan milikmu."


"Maksudku, aku tidak mencurinya. Tapi benda ini ada di mantelku. Kalau pemiliknya mencari, bagaimana?"


"Pemiliknya tidak akan mencari," sahut si pemuda tak acuh. "Buang saja."


Jose menolak. Ia justru makin asyik meneliti kalung di tangannya. Hanya itu hal menarik yang bisa ia amati di tengah lautan air tenang yang membosankan.


Merasa ditentang, pemuda pengayuh di depannya mengaitkan galah ke tempatnya di samping sampan dan berjalan mendekat. Perahu mereka bergoyang seirama dentum-dentum langkah lembut. Jose mencengkeram medalion itu dan menyembunyikannya di belakang punggung. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia merasa gugup, tapi matanya menyorot tak mau kalah. Biar saja pemuda itu marah. Kalau mereka akan berantem karena kalung ini, biar saja. Ia yakin bisa melempar pemuda itu ke air atau memitingnya. Yang jelas, tidak ada yang boleh memerintahnya. Tak seorang pun boleh memerintah Argent untuk melakukan hal yang tidak mereka suka.


Argent?


Jose terdiam. Sesuatu tersibak dalam kepalanya, seolah ada selaput tipis yang koyak. Nama adalah kunci jiwa.


Ketika pemuda itu sampai di hadapannya, Jose sudah ingat siapa namanya, apa yang terjadi seharian tadi, apa yang ingin ia lakukan, serta apa yang sebenarnya terjadi. Ia menenggelamkan diri ke dalam Sungai Bjork. Ia ingin melakukan penawaran.


Tempat ini bukan dunia nyata.


Pengayuh itu bukan seorang pemuda. Bukan manusia.


"Kubilang lemparkan ke sungai!" dia berteriak, suaranya pecah dalam bunyi serak saluran mampat. Setiap teriakannya menggetarkan jiwa. "Orang mati tak punya nama! Tak punya harta! Tak punya barang pribadi!"


Saat sosok itu mendekat dengan kedua tangan terulur mengancam, Jose refleks menghajar sosok di depannya hingga jatuh ke dalam air. Sialnya, perahu jadi terbalik dan ia juga ikut jatuh.


***


Begitu tengkorak-tengkorak aneh musnah dari seluruh Bjork, Edgar dan Greyland segera mencangklong kuda mereka pergi ke Selatan. Robert sengaja ditinggalkan untuk menenangkan warga. Keahliannya memang di komunikasi massa.


Semua orang sudah keluar dari rumah-rumah mereka, menatap takjub ke langit cerah berbintang sambil menunjuk-nunjuk, mengobrol dengan keras dan heboh tentang apa yang barusan terjadi. Bahkan tanpa perlu diberi penjelasan, semua orang sudah tahu bahwa mereka sudah aman. Hawa dingin dan aneh yang menyelimuti Bjork tidak ada lagi.


Manusia juga berkerumun di samping kantor pajak. Mereka semua ingin melihat secara langsung sungai yang dikabarkan sempat berwarna seperti petir. Semua orang penasaran ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kerumunan itu begitu banyak dan susah dibubarkan. Edgar turun dari kudanya dan berlari menelusup di antara orang-orang, disusul oleh Greyland.


Hal yang pertama dilihatnya adalah Tin Lizzie yang setengah terjungkal. Sungai tetap berwarna seperti biasa, tidak terang dan tidak ungu. Di samping mobil hitam yang tenggelam itu terdapat Tuan Stuart, Renata, serta Albert Garnet.

__ADS_1


Begitu melihatnya, Renata segera berlari menyambut dan memeluk erat-erat. Edgar membalas pelukan itu sama hangatnya. Ia mengecup puncak kepala Renata, mengusap-usap punggung wanita itu untuk menenangkan. "Mana Jose?" tanyanya cepat. "Marco? Rolan?"


Renata menggeleng di dadanya. Pelukan wanita itu bertambah erat.


Edgar menatap Tuan Stuart dengan pandangan bertanya. Pria itu juga menggeleng pelan. Lady Chantall juga ada di sana, tak jauh dari mereka, dikelilingi beberapa orang yang membawa beragam benda. Ada teko panas, lentera, kain, kotak obat. Lady Chantall duduk di sebuah kursi kayu yang kelihatannya seperti dibawakan seseorang dari rumah warga. Rambutnya basah kuyup. Handuk lebar menyelimuti pundaknya. Kedua tangannya menggenggam cangkir minuman panas yang tak tersentuh. Mata wanita itu kosong.


Edgar bisa menebak apa yang terjadi, tapi ia tidak mau menerimanya begitu saja. Ia tidak mau menerima bahwa separuh hidupnya runtuh. "Stuart!" bentaknya garang, mengalahkan bisik-bisik dan hiruk pikuk di sekitarnya. "Ceritakan apa yang terjadi barusan!"


Tuan Stuart menoleh pada Lady Chantall untuk mencari petunjuk, tapi wanita itu masih belum pulih dari rasa syoknya.


"Jose menenggelamkan ketua Scholomance," Nolan memecah keheningan. Anak itu menyeruak dari kumpulan orang-orang Selatan yang juga berkerumun di tanah lapang di samping kantor pajak. Matanya merah sembap. Suaranya gemetar, tapi ia memberi penjelasan dengan cukup lancar, "Marco Argent membongkar markas mereka di gunung sana," katanya sambil menunjuk hutan. "Jadi pemimpin sektenya marah dan memanggil iblis untuk memusnahkan kota ini. Lalu semua orang berperang dengan iblis itu. Aku lihat banyak yang jadi abu. Aku melihat Papa—maksudku, aku melihat ayahku ... arwah ayahku di sungai sakral kita, membantu Jose. Lalu sekarang dia tenggelam di sana."


Renata terisak di pelukan Edgar. Orang-orang saling berbisik keheranan. Tak sedikit yang bingung dengan penjelasan Nolan.


"Aku juga melihatnya," ujar salah satu orang dari sela kerumunan. Suaranya penuh semangat. Orang itu menyibak kerumunan untuk tampil ke depan. Umurnya empat puluhan. Pria itu masih mengenakan kimono tidur, memeluk seekor kucing putih gemuk yang gemetar ketakutan. "Aku bisa melihat tempat ini dari jendela kamarku. Yang terjadi memang begitu. Orang itu tidak mati meski ditembak dan ditabrak." Dia bergidik. "Lalu Jose Argent—"


"Orang yang tadi pagi juga lewat sini sambil melambai-lambai, bukan?" sela seseorang.


Pria yang memeluk kucing itu mengangguk, meski tidak tahu siapa yang bicara. "Ya, dia menenggelamkan orang itu. Sungainya lalu menyala!"


Keterangan yang terakhir memicu suara-suara lain yang mendiskusikan soal cahaya di Bjork dan di sungai.


"Aku juga melihatnya!"


"Mereka benar, aku juga lihat setan itu dari rumahku!"


"Yang aku lihat cuma dia menyeret Marquis Argent!"


Mulai muncul cerita-cerita dari saksi mata yang menyaksikan apa yang terjadi. Suasana kembali riuh dengan sahutan dan timpalan cerita versi masing-masing yang melihat.


Edgar menoleh pada Greyland. "Periksa sungai dari hulu sampai hilir. Aku mau putraku ditemukan."


***

__ADS_1


__ADS_2