BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 247


__ADS_3

"Kau tahu apa yang dikatakan orang-orang tentang kalian di luar sana?" Tuan Stuart datang membawa koran pagi Daily Bjork, meletakkannya ke atas meja di ruang tengah manor Argent. "Argent memimpin pasukan undead! Mereka bilang bahkan neraka pun melepehkan kalian kembali karena terlalu takut!"


Rolan tertawa mendengarnya. Sekarang sudah pukul tujuh pagi dan matahari bersinar hangat menerabas jendela raksasa ruang tengah, mengirim kehangatan ke dalam rumah, tapi Rolan masih menyelimuti dirinya dengan selimut berlapis-lapis. Ia masih kedinginan. "Secara teknis, kami memang tidak jadi mati. Jadi bagian undead-nya kurang lebih benar."


"Aku masih menunggu penjelasan dari kalian," sela Albert Garnet yang duduk di sisi istrinya.


Edgar mengangguk. Ia memandangi semua orang yang ada di depannya. Rolan, Clearwater, Marsh, Nolan, Tuan dan Nyonya Garnet, Greyland, Tuan Stuart, kemudian Renata di sisinya. "Kalian semua berhak mendapat penjelasan," katanya. Ia menarik napas panjang. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi mungkin ini bisa membantu menjelaskan." Ia menyelipkan tangan ke dalam saku dada jasnya, kemudian mengeluarkan secarik kertas. "Seperti yang sudah kalian ketahui, aku pergi ke Aston beberapa hari yang lalu. Aku membereskan urusan dengan Baron Hastings di sana. Ketika menggeledah rumahnya, aku menemukan surat ini."


Edgar memulai cerita versinya dengan membacakan surat itu.


Dear Baron Hastings, aku menulis surat ini sebagai peringatan bagimu agar tidak berurusan dengan iblis.


Ya, iblis. Maksudku iblis sungguhan.


Pertama kali bertemu dengan William Bannet adalah saat perang saudara meletus, tepatnya adalah seratus sembilan puluh tahun lalu. Dia berumur dua puluhan tahun, pemuda berambut pirang yang menawan. Kata-kata yang keluar dari bibirnya sehalus sutera, semanis madu, setajam duri. Kami akrab dengan cepat dan kulihat dia akrab dengan putriku, Bella.


Aku punya beberapa putri lain, tapi Bella yang paling kusayang. Meski sakit, dia tidak pernah menunjukkannya. Dia selalu tersenyum dan tertawa seolah dunia tidak menyakitkan baginya. Tabib bilang umurnya tidak akan mencapai sepuluh, jadi aku senang ketika dia mencapai ulang tahunnya yang ketujuh belas. Kupikir, putriku pasti sembuh. Tabib-tabib jelas salah. Tapi aku salah. Tak ada yang bisa melawan takdir.


Kematian Bella menghancurkanku. Aku menangis tersedu di depan petinya dan merasa seolah jantung hatiku direnggut oleh takdir, oleh nasib, oleh Tuhan. Kupikir aku adalah pria paling sedih di dunia ini, tapi aku salah. Pemuda itu sama hancurnya. Dia tidak menangis di pemakaman, juga tidak mengatakan apa pun.


Namun suatu hari ketika kami berbincang dan tertawa, tahu-tahu dia berkata, 'Hey, Frits ... Bella tidak akan kembali lagi ya?'


Saat itu aku merasa ada yang janggal darinya, tapi aku mengabaikan firasatku.


Harusnya aku sadar bahwa Willy sudah rusak di dalam.


Iblis itu telah merusaknya, kawanku yang kukasihi.


William tetap menemaniku untuk waktu yang lama, bahkan sampai aku tua. Kami sering menghabiskan malam-malam panjang mengobrol bersama, berdebat, dan kadang bertengkar. Ketika akhirnya tiba saat aku mengucapkan perpisahan padanya, dia menolak.


'Kalau kau tidak ada, aku tidak punya teman untuk mengenang Bella,' katanya waktu itu, kata-katanya adalah cobaan yang manis, dan aku menerima uluran tangan sang iblis.


'Hanya dua nyawa,' katanya, 'kita bisa ambil dari penjahat yang tak mungkin dicari keluarganya. Satu nyawa untuk satu nyawa. Jika satu nyawa mencapai delapan puluh tahun, menurutmu berapa dua nyawa?'


Itu menggiurkan. Sayangnya, yang tidak kutahu adalah bahwa untuk memberiku nyawa, portal ke neraka harus dibuka dan ratusan nyawa dikorbankan untuk itu.


Semua sudah terlambat saat aku bangun. Semua orang di kastil lenyap. Semua tamuku lenyap. Semua teman-teman baikku lenyap. Untungnya putri-putriku yang lain sudah menikah dan pergi jauh dariku, mereka selamat. Sejarah mencatat bahwa istana Duke Ashington diserang oleh musuh.


Tak ada yang mencatat soal iblis dan ritualnya.


'Tenang saja,' aku masih bisa mendengar suaranya berbisik seperti itu di telingaku, 'ini masa perang. Tanpa kita melakukan ini pun, mereka pasti mati juga dalam perang. Lebih baik nyawa mereka dimanfaatkan.'

__ADS_1


Dia sudah gila. Ketika menatap matanya, aku tahu dia tidak benar-benar melakukan ini untukku melainkan untuk Bella. Aku hanya kelinci percobaan, aku hanya simpanan data mengenai Bella. Darahku untuk darah Bella. Dia membutuhkanku untuk darahku. Itulah yang dia inginkan. Semua sudah terlambat ketika aku sadar.


Dia sudah membuka gerbang neraka lagi, tapi aku akan mencegahnya. Kita bisa mencegahnya. Petunjuk yang diberikan iblisnya adalah dia harus membuka tujuh gerbang dosa dengan melakukan upacara kurban. Tujuh orang yang mewakili tujuh dosa besar manusia harus dikurbankan berurutan setiap tujuh tahun. Kalau dia gagal membuka satu saja gerbang dalam kurun tersebut, dia harus mengulang ritual dari awal.


Tapi dia tidak akan bisa mengulangnya kalau aku tidak ada. Dia butuh darahku. Aku akan sembunyi menunggu ajalku, menunggu waktuku habis.


Kalung ini kutitipkan padamu. Sembunyikan selama tujuh tahun. Gunakan kekuatan kalung ini untuk hentikan dia setelahnya. Biarkan putriku tenang.


Salam,


Frederick, Duke of Ashington.


***


"A Horde of Undead?"


"Itu judul Daily Bjork hari ini, Tuan," kata George lembut, dengan cekatan membantu tuannya memakai jas dan merapikan diri. "Semua orang menunggu penjelasan Tuan, tapi saya sudah bilang bahwa Tuan perlu waktu bersiap setelah istirahat. Tuan Edgar sudah mengambil alih sementara di bawah, menemani mereka."


Lady Chantall juga ada di kamar yang sama, dayangnya sudah membawakan pakaian ganti dan membantunya berbenah begitu mereka kembali ke manor Argent. Ia mengambil salah satu koran pagi yang diletakkan di meja kopi di kamar itu, sengaja memilih Daily Bjork. "Judul ini maksudnya adalah para mayat hidup yang dibuat Sir William, bukan kalian. Tapi entah kenapa semua orang menyangka Hubbert lagi-lagi menulis judul ini merujuk pada Argent. Yah, wajar saja. Selain karena banyak orang tahu dia selalu menyerang kalian, judul ini cocok dengan keadaan barusan. Aku masih selalu takjub membayangkan bagaimana kalian semua muncul dari sungai seperti setan."


"Setan yang terbatuk-batuk dan muntah air?"


Lady Chantall tertawa kecil. "Bahkan dengan batuk-batuk, muntah air, dan bicara tak jelas pun kemunculan kembali kalian tetap saja dramatis."


George selesai membantu tuannya bersiap dan puas dengan hasil kerjanya. "Prajurit Earl Clearwater maupun Lord Marsh serta pekerja kita sudah pulih, Tuan. Awalnya mereka memang kesusahan bicara seakan tak punya lidah, tapi mungkin itu hanya efek kembali dari kematian. Efek sementara. Semua orang sudah pulih."


"Dan yang kembali hanya mereka? Tidak ada orang lain lagi? Bagaimana dengan orang yang hilang atau orang yang menjadi mayat hidup?"


George menggeleng sedih. "Kelihatannya yang kembali hanya yang semalam meninggal, Tuan. Atau tepatnya, yang belum tujuh jam meninggal."


"Kurasa itu ada hubungannya dengan mitos di Bjork." Lady Chantall mengangguk, meletakkan kembali lipatan koran ke atas meja. "Sebelum tujuh jam berlalu, nyawa manusia masih melayang di gunung, belum kembali pada Pencipta."


"Ada apa dengan angka tujuh?"


"Banyak yang bilang itu angka sakral, Tuan," George berkata khidmat menanggapi keheranan tuannya. "Tuhan menjadikan dunia dalam tujuh hari."


"Menurut dongeng samawi, hanya enam hari. Yang ketujuh untuk istirahat. Tapi sudahlah, tidak usah membahas itu. Jose baik-baik saja?"


"Baik, Tuan. Terakhir kali saya memeriksa, Tuan Muda masih tidur di kamarnya. Dokter Rolan bilang hanya kelelahan dan tidak perlu dicemaskan. Kondisinya baik dan stabil. Nona Garnet yang menemani Tuan Muda."


"Bagus, biarkan saja. Tidak usah ganggu mereka." Marco mematut diri di cermin, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari. Ia sendiri tampak baik-baik saja. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang berkurang. Malahan, ia merasa lebih sehat dari sebelumnya. Benar-benar aneh. "Katakan pada Edgar bahwa aku akan turun saat sarapan, sekalian memberi penjelasan pada semua orang. Kalau Jose sudah bangun saat sarapan tiba, minta dia bergabung. Kita semua juga ingin mendengar cerita lengkap apa yang sebenarnya dia lakukan."

__ADS_1


George membungkuk hormat, kemudian undur diri. Begitu pelayan tersebut pergi, Lady Chantall mendekat, memeluk Marco dari belakang. Ia bisa mendengarkan degup jantung pria itu, merasakan hawa panas tubuhnya, juga merasakan bagaimana tubuh itu bergerak bernapas. Semua itu membuatnya bahagia hingga ia ingin menari-nari di jalan untuk merayakannya.


Marco menepuk-nepuk jemari Lady Chantall di dadanya. "Kau sudah melewati hari-hari yang berat," katanya.


Masih dengan kepala bersandar di punggung Marco dan mata terpejam, Lady Chantall mengangguk. "Sangat berat. Aku tidak mau mengalaminya lagi."


Marco mengesah. Ia melepaskan pelukan wanita itu dan berjalan menjauh. "Tentu. Aku paham," katanya. Ia membaca sekilas berita utama Daily Bjork, lalu membetulkan letak koran itu di atas meja. "Kita bisa melupakan semua ini. Kalau kau mau berhenti bekerja denganku, seperti Robert, aku akan menerimanya. Kau akan kembali ke Skot?"


Lady Chantall mengerutkan kening tak mengerti. "Kembali ke Skot?" Ia terperangah begitu menyadari apa maksud pertanyaan itu. "Beraninya kau!" bentaknya jengkel. "Kau pikir maksudku tadi aku ingin pergi dari sini?!"


Marco berbalik menghadapnya dengan heran. "Memangnya bukan begitu?'


"Mau tahu apa yang berat bagiku yang tidak ingin kualami lagi?" Lady Chantall berjalan mendekat dengan marah. Ia mendorong Marco keras-keras hingga pria itu mundur selangkah. "Kau! Kau terluka di depan mataku! Itu sangat berat!" Ia mendorong lagi. "Lalu kau meninggalkanku tanpa mengatakan apa pun! Itu lebih berat lagi!" Tangisnya pecah ketika ia mendorong lebih keras dengan kedua tangan. "Aku tidak mau lagi mengalami detik-detik kehilanganmu, aku bahkan masih selalu sesak napas membayangkan kejadian itu, tapi kau malah berpikir aku ingin pergi? Padahal aku sudah mengatakannya berkali-kali, ratusan kali, bahwa aku mencintaimu, tapi kau kira aku akan pergi hanya karena satu-dua iblis pernah datang? Aku bahkan rela mati untukmu! Kau gila! Kau menyebalkan! Tidak peka! Aku benci padamu!"


Marco menangkap tangan Lady Chantall yang masih memukulnya, kemudian menarik wanita itu dan mendekapnya. "Baik, baik, itu tadi salahku," katanya buru-buru. Ia memang tidak menyangka wanita itu masih ingin bersamanya meski sudah melalui hal gila dan mengerikan beberapa hari ini. Ia menunduk, mencium pelipis Lady Chantall, mendekapnya lebih erat, berusaha menenangkan sedu sedan wanita itu. "Maafkan aku."


Lady Chantall menggeleng, membalas pelukan itu sama eratnya. "Aku tidak mau kau minta maaf," sahutnya dengan suara teredam jas. Sisa isakan masih membuat pundaknya terguncang lembut. "Aku ingin dengar kalimat yang lain."


Marco melonggarkan pelukan. Ditatapnya mata hijau yang basah itu dalam-dalam, mata yang selalu membuatnya lupa bagaimana caranya bicara, membuatnya lupa pada hal-hal yang tidak membahagiakan. Detik jam seolah berhenti tiap kali ia menatap ke dalam warna zamrud itu, rasanya seperti terisap ke dalam rawa-rawa, terseret dan tenggelam dipermainkan pusaran emosi yang asing. Namun itu perasaan yang menyenangkan, sensasi yang belum pernah ia rasakan saat bersama orang lain sebelumnya.


"Kau mau menikah denganku, Jeanne?"


Hening.


Lady Chantall terlalu kaget sampai berhenti terisak. Kepalanya terasa kosong. Niatnya tadi hanya ingin memancing kata cinta saja karena ia belum pernah mendengar Marco menyatakan cinta. Saat melihat Marco muncul dari sungai, Lady Chantall sudah bersumpah ia tidak ingin mengharapkan apa-apa. Ia sudah merasa bersyukur mendapat kesempatan kedua untuk bertemu lagi dengan pria itu. Menjalani hubungan tanpa status pun akan ia terima. Kalau Marco ingin mereka kembali bekerja secara profesional tanpa hubungan pribadi pun tak masalah. Sudah cukup baginya melihat Marco hidup kembali.


Namun lamaran barusan memberinya pukulan keras. Inilah yang sebenarnya ia inginkan. Ia ingin mendengar kalimat itu dari Marco.


"Bersamaku jelas akan jauh dari ketenangan," kata Marco kemudian karena wanita itu masih diam. "Selama aku masih hidup, aku bersumpah tidak akan membiarkanmu terluka. Tapi masalah yang datang ke depannya mungkin saja akan lebih bahaya dan lebih berat dari yang kita alami beberapa hari ini. Apa kau masih mau hidup bersamaku?"


"Aku mau," bisik Lady Chantall cepat, gemetar. Air matanya kembali menetes tanpa henti. "Aku mau, astaga, aku mau sekali! Oh, ya Tuhan ... sebentar, sebentar, aku harus tenang ... tarik napas ... apa aku mimpi?"


Marco mencubit pipi Lady Chantall agak keras sampai wanita itu mengaduh. "Sakit?"


"Sakit. Sakit sedikit." Lady Chantall menutup bibir dengan kedua tangan, lalu memegangi pipi yang tadi dicubit. Ini memang bukan mimpi. Ia tidak berada di sofa mungil di rumah Simon Rutlan. Ia tidak terbangun di pinggir sungai dan mendapati yang didengarnya barusan cuma mimpi. Marco memang melamarnya. "Aku mau! Aku ingin bersamamu selamanya!"


"Kau tahu beberapa orang mungkin akan mengolokmu karena bersama dengan kakek-kakek, kan?"


"Astaga, mana orangnya? Biar kucolok keluar bola mata mereka dengan kuku jariku sendiri!" Lady Chantall mengatakannya dengan senyum lebar dan pipi merona merah seolah itu tadi bukan ancaman. "Kakek apa?! Umur lima puluh itu masih muda! Justru usia matang! Kau itu jauh ... jaaaaaaaauh lebih tampan dan gagah dibanding semua lelaki lain di Albion atau Skot, tidak, bahkan di dunia! Lagi pula kau cerdas, dan berkharisma, dan kuat, dan ... hebat di ranjang," tambahnya nakal sambil mengedipkan sebelah mata. "Kau sempurna! Yang akan mengolok cuma orang yang cemburu karena aku akhirnya berhasil mendapatkanmu."


Marco tergelak mendengar rentetan pujian itu, tahu bahwa Lady Chantall tidak sedang merayu, wanita itu memang berpikir demikian. Ia menunduk, mengecup lekuk bibir merah di bawahnya dengan gemas. "Kau boleh memilih cincin dan tanggal sesukamu," katanya. "Semahal apa pun batu atau logam itu, hari mana pun yang kau inginkan, aku akan memberikannya."

__ADS_1


***


__ADS_2