
Jose masih terpaku di tempatnya. Ia berdiri di samping Run, menggenggam tali kekang. Kudanya menderapkan kaki depan tanpa kendali, sulit untuk ditenangkan. Insting tanda bahaya binatang itu yang membuatnya ketakutan. Bunyi kegelisahan Run sama seperti bunyi kuda yang selalu didengar Jose di malam hari. Sekarang Jose tahu bahwa kuda-kuda di istal memang gaduh karena melihat anomali ini. Kengerian ini.
Lima meter dari mereka, seorang wanita menyeret kakinya keluar dari semak perdu. Aroma busuk menguar dari arahnya, hilang timbul karena diterbangkan angin gunung.
Jose masih terpaku. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan. Itu memang Gladys. Ia tidak salah. Jose melihat foto gadis itu pada laporan yang diberikan Krip.
Gladys pada foto memiliki rambut ikal cokelat sepunggung. Tulang pipinya tajam dan matanya kecil. Namun gadis yang menghampiri Jose sekarang berbeda. Gadis di depannya ini memiliki kulit berwarna kelabu kehijauan. Sebelah pipinya menggembung bengkak, menutupi mata hingga menyipit. Rahangnya membuka, dan gigi-giginya berantakan.
Meski begitu, Jose tetap mengenalinya sebagai Gladys. Bahkan pakaiannya sama persis dengan yang ia lihat di hutan Bjork.
"Tuhan Maha Baik," gumam Jose tersendat. Tangannya masih mencengkeram erat tali kekang Run, mencegah binatang itu pergi. Ia tidak mau sendirian bersama mayat hidup.
Gladys, wanita mati yang ditemukannya di seberang sungai di selatan Bjork, mendekati Jose dengan langkah terseok. Kepala wanita itu ditelengkan ke sisi kiri, lehernya seperti tidak kuat menyangga beban kepala. Setengah wajahnya tertutup rambut kusut yang berdebu.
"Halo, Gladys," bisik Jose pelan, tidak yakin bagaimana caranya berkomunikasi dengan orang yang seharusnya sudah mati. Gadis itu sudah mati, kan? Ia sekarang tidak terlalu yakin. "Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang bisa kubantu? Apa ... kepalamu sakit?"
Gladys menjawab dengan semacam dengkuran. Matanya yang sebelah membuka dan berkedut, tetapi tatapannya kosong. Bau busuk melayang-layang di udara karena angin.
Jose berusaha menenangkan diri. Kalau paramedis dan polisi salah dan ternyata Gladys masih hidup, gadis itu butuh bantuan. Tapi kalau tidak, ia yang butuh bantuan.
"Namamu Gladys, kan?" tanya Jose, memastikan. Ia lupa siapa nama belakang gadis itu. "Pelayan di rumah Sir William Bannet?"
Gladys maju selangkah, terhuyung. Dari antara kedua kakinya yang tertutup rok, gumpalan merah besar terjatuh dalam bunyi plop ke atas rumput. Aroma busuk menyengat dari sana.
Jose berjengit. Sudah jelas bahwa yang ada di hadapannya memang sudah mati.
__ADS_1
Jose mengubah prioritasnya. Sekarang yang penting ia harus pergi dari sini.
Jose bergeser pelan-pelan ke sebelah kiri, menyeret serta Run. Mungkin saja mayat itu cuma mau lewat. Ia tidak keberatan memberi jalan pada para wanita, terutama yang kelihatan aneh dan berbahaya seperti ini.
Namun Gladys tidak mau lewat. Dia malah mengangkat wajahnya ke atas, mengendus-endus, lalu berbelok mengikuti arah Jose menghindar.
"Oh, ya Tuhan, demi segala yang suci di dunia ini," gumam Jose ngeri. Lehernya merinding. Ia belum pernah melihat hal seaneh ini. "Gladys? Kau Gladys atau bukan? Gladys pelayan Lord Bannet? Halo? Kau belum mati, kan? Apa ini semacam lelucon?"
Run yang menjawab dalam ringkikan. Gladys berjalan mendekat selangkah lagi. Ia kelihatan goyah, tapi juga kuat. Kedua tangannya bergerak meraba udara.
Jose mengumpat, mengutuk pertanyaan payahnya yang terlontar gemetar. Ia membelai-belai surai Run, mencoba agar tetap terlihat sebagai seorang tuan yang berani. Kalau kudanya mulai hilang kepercayaan padanya, Jose tidak akan bisa kembali pulang sebelum gelap. Jalan kaki dari tempat ini ke rumahnya akan makan waktu dua jam.
Tetapi ia tidak berani menaiki Run sekarang, waswas kalau Gladys meloncat dan menyergapnya saat ia lengah. Apakah dia bisa berlari? Apakah dia akan menyerang? Kepala Jose dipenuhi pertanyaan-pertanyaan semacam itu.
Setelah diam agak lama dan melihat bahwa Gladys tidak bergerak, Jose menyimpulkan bahwa Gladys memang tidak bisa bergerak cepat. Ia menoleh pada Run untuk menaikinya. Kesalahan besar.
Gadis itu bau. Kulitnya dingin dan lunak, kelihatan seperti mudah lepas kalau ditarik cukup keras. Dan matanya ...
Jose mengerahkan seluruh kekuatan mentalnya untuk mengangkat kaki dan menendang Gladys hingga terpental menjauh. Gadis itu bangkit dengan lambat dan tak wajar. Jika orang biasanya mencari tumpuan untuk bisa bangkit, Gladys bangkit dengan menarik tubuhnya seolah ia ditarik benang dari atas.
Run mendekati Jose dengan patuh tanpa dipanggil.
Angin dingin berembus kencang melewati mereka, membuat tubuh Gladys terhuyung. Kesempatan itu dimanfaatkan Jose untuk meloncat dan menaiki Run, menarik tali kekang dan membuat kuda itu menghampiri Gladys dan berbalik, menendang Gladys dengan keras.
Jose merapatkan gigi. Bahkan meski Run yang menendang, tetap saja ia merasa seperti memukul langsung wanita itu. Bunyi 'buk' yang disusul tulang patah terdengar mengisi kesunyian tebing.
__ADS_1
Jose membiarkan Run menderap sementara jantungnya berdegup sangat kencang. Ia tidak langsung kabur melainkan mengamati tubuh yang tergeletak itu selama beberapa saat.
Padahal ia yakin mendengar suara tulang patah, dan tendangan barusan harusnya bisa membuat seseorang muntah darah. Tetapi Gladys kelihatan lebih kuat dari kelihatannya. Tubuh itu pelan-pelan bangkit berdiri. Kepalanya terkulai ke belakang dan lengan kirinya terjuntai turun. Dislokasi bahu. Dengan tubuh remuk seperti itu, Gladys menyeret langkahnya mendekat.
Jose rasanya ingin menjerit ngeri, tetapi ia hanya berbisik pelan, "Kau ini sebenarnya apa, sih?"
Wanita itu mengatup-ngatupkan mulutnya seperti ikan.
Jose mengendalikan Run mundur sambil memperhatikan letak bibir tebing serta memperhitungkan kedatangan Gladys.
Mayat itu berjalan terhuyung-huyung. Dan meloncat.
Benar-benar meloncat, entah dari mana daya lentingnya.
Jose menganga kaget, tidak memperkirakan hal itu. Ia menggesekkan kakinya pada badan Run, membuat kudanya menderap minggir, menghindar. Gladys tidak menubruknya, tetapi justru meloncat ke jurang di belakang Jose.
Gladys membuat suara merengek yang keras di udara, seperti monster yang kecewa. Matanya menatap mata Jose ketika ia melayang jatuh.
Jose hanya menatap dengan ngeri. Matanya mengikuti gerak lenting Gladys yang terpengaruh gaya fisika, melewati dirinya, mayat itu terlontar dengan kuat oleh gravitasi. Terjun bebas dari tebing.
Selama beberapa menit hanya ada kesunyian.
Run masih menderap-derap ngeri selama beberapa saat, tetapi kemudian kembali tenang dan mendengus. Jose sendiri hanya sanggup mengelus-ngelus surai kudanya dan membisikkan kata-kata yang menenangkan. Kata-kata yang sebenarnya ia tujukan untuk dirinya sendiri.
Jantungnya masih berdebar sangat kencang. Seluruh tubuhnya gemetaran. Tangannya lemas dan kepalanya kosong. Ia tidak memikirkan apa-apa selama beberapa saat, hanya menatap ke arah jurang dengan mata terbelalak.
__ADS_1
***