BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 186


__ADS_3

Renata merasa perutnya seperti diaduk-aduk. Ia pikir semua kekacauan akan berakhir begitu Marco kembali dan mengambil alih kendali, tetapi dugaannya salah. Mereka masih harus melalui masalah demi masalah.


Tidak pernah ada ketenangan di rumah ini, pikirnya maklum.


Mereka berkumpul di kamar Jose sekarang: ia, Marco, Rolan, juga Maria. Nolan masih tidur di kamarnya di sayap barat, tak terganggu keributan di sayap timur.


Renata bangun begitu mendengar bunyi orang-orang berlari melintasi depan kamarnya. Tanpa buang waktu ia segera menyambar mantel untuk menutupi gaun tidurnya, lalu bergegas diikuti dua dayang. Ketika berlari keluar kamar, ia sempat menyambar pisau buah di meja dan menyembunyikannya dalam lengan mantel, berjaga-jaga jika berhadapan dengan situasi terburuk. Namun tidak ada musuh. George memberitahunya bahwa Jose sakit dan saat ini sedang ditangani oleh Dokter Rolan.


Renata diminta kembali ke kamarnya, dan ia menjawab dengan pelototan tajam. Tidak ada seorang pun yang berhak menyuruhnya kembali ke kamar ketika putranya sedang sakit. Jadi di sinilah ia sekarang, memperhatikan bagaimana bekas-bekas darah yang membasahi ranjang dan kemeja putih Jose dibersihkan dan diganti oleh para pelayan.


Sekarang pukul empat pagi, masih terlalu dini untuk sarapan. Namun pelayan sudah membawakan makanan dan minuman hangat yang bergizi untuk disantap Jose demi memulihkan tenaganya.


"Susah buatku untuk makan kalau dilihat begini," kata Jose dalam usahanya mengusir semua orang.


Tidak ada yang beranjak pergi.


"Itu cuma mimisan biasa. Aku cuma kedinginan," Jose menjelaskan. Syal rajut hitam melingkari lehernya. Karena tidak ada yang mau pergi atau berpaling, ia menyerah dan mulai menyantap makanannya mulai dari sup bawang yang masih panas. "Akhir-akhir ini udaranya sangat dingin," ujarnya begitu mangkuk sup tersebut kosong. "Dan jendela kamarku terbuka semalaman. Perapian mati. Mungkin karena itu aku mimisan."


Renata mengerutkan kening. "Kau pernah meringkuk berjam-jam di rumah saljumu saat kecil. Setelah itu pun kau sehat-sehat saja, tidak pernah mimisan."


"Itu kan waktu kecil," sahut Jose tenang. Ia memiringkan kepala menatap Rolan. "Aku tidak apa-apa kan, Paman? Tidak ada luka atau apa?"


Rolan mengangguk pada Renata. "Dia tidak apa-apa, Kak."


Mereka semua membohonginya, Renata tahu itu. Bahkan meski rona wajah Jose sudah kembali dan makannya lahap, ia tahu putranya jelas tidak baik-baik saja. Namun karena tidak mau berdebat di depan tamu, ia pura-pura mengalah.


Renata pamit kembali ke kamarnya, tapi sengaja menunggu di samping pintu. Kedua dayangnya ia suruh menjauh. Rolan akan menyusulnya untuk memastikan keadaan, ia hapal pada kebiasaan adiknya itu.


Lima menit kemudian pintu terayun membuka ke dalam. Rolan melangkah keluar tanpa menyadari keberadaan Renata. Begitu daun pintu menutup dalam bunyi klep pelan, Renata menarik lengan adiknya ke samping dan berbisik cepat, "Aku tidak bisa menunggu lagi, Rolan."


Menunggu bukan hanya keahlian yang diperlukan sebagai seorang perempuan bangsawan, menunggu adalah senjata mereka. Bahkan predator pun perlu menunggu waktu yang tepat untuk menerkam mangsanya. Renata tahu caranya menunggu, hanya saja kali ini ia tidak mau.


"Kalau kau tidak cerita apa yang sebenarnya terjadi serta apa yang membuat Jose seperti itu, aku akan marah!" Bola mata Renata berkilat-kilat penuh kesungguhan. "Ceritakan apa yang terjadi!"


Rolan mengerutkan kening. "Lalu kalau sudah tahu, kau mau melakukan apa, Kak? Mengurungnya di kamar? Menguncinya dalam lemari kaca?" Mata cokelat kacangnya menatap tajam. "Jose tahu apa yang dia lakukan. Dia bukan lagi anak empat tahun yang perlu kau lindungi."

__ADS_1


"Mau umurnya empat tahun atau empat puluh, dia tetap putraku," balas Renata dingin. "Dan aku perlu tahu apa yang dia alami, serta apa yang sedang dan akan dia hadapi."


"Jika dia memutuskan untuk tidak memberitahumu, kenapa kau tidak mencoba percaya padanya dan biarkan dia memutuskan?" Rolan meraih kedua tangan Renata dan merangkumnya dalam genggaman hangat. "Dia baik-baik saja. Percayalah padaku."


Renata tidak percaya. Ia tahu Rolan berbohong padanya.


***


"Itu karena fisikmu kelelahan, kan?" tanya Maria. Ia duduk di seberang Jose, mengenakan mantel tebal untuk menutupi gaun tidur yang ia kenakan. Maria tidak tidur di kamar tamu, melainkan di salah satu kamar utama di sayap timur, karena itu ia tahu keributan yang terjadi. Mata birunya mengamati wajah Jose dengan kritis. "Kau bolak-balik pergi ke dunia lain. Sudah kubilang, akan ada ganjarannya."


"Aku kan tidak ke sana dengan sengaja," sahut Jose lelah. Pandangannya beralih pada Marco. "Sungai itu memang sakral. Aku setuju pendapat Paman Rolan, Sir William kemungkinan memang membuat mayat hidup untuk sebuah misi—mungkin mengambil kalungnya. Mungkin dia pikir kalungnya ada di puri Ashington."


"Awalnya memang di sana," sahut Marco.


"Ya, dan Nolan menemukannya lalu membawanya ke sini. Tapi Sir William tidak tahu itu sampai beberapa saat lalu," sambung Jose. "Karena itu dia masih membuat mayat hidup, masih membuat Gladys ... dia tidak bisa menyeberang, karena itu bereksperimen membuat budak mayat."


"Aku juga berpikir begitu." Marco mengangguk. "Kau bilang, suara-suara yang kau dengar meminta supaya kau membawa seseorang menyeberang. Aku jadi ingat bagaimana mimpi Nolan. Dia mimpi melihat Arabella di sungai."


"Mungkin itu sebuah petunjuk," cetus Jose. "Aku berpikir untuk menyeret Sir William ke sungai itu dan menenggelamkannya di sana. Mungkin itu bisa mengembalikannya ke alam lain." Ia memikirkan mayat yang berwajah mirip Nolan, mayat yang menghilang dalam sungai. Jose mengangkat wajah. "Omong-omong, Paman memang mengizinkan Nolan memanggil nama depan Paman?"


"Dia sangat berani," ujar Maria, yang sudah mengubah pandangannya tentang Nolan begitu mendengar apa yang dialami gadis itu di menara puri serta bagaimana Nolan menyelamatkan Marco dan memilih pergi ke Utara daripada pulang dan bersembunyi di rumahnya di Selatan. Meski tetap tidak menyukai sifat urakan Nolan, ia mengakui keteguhan hati serta loyalitas gadis itu. Seperti itulah seharusnya perempuan, pikirnya, penuh integritas.


Matanya kini beralih dari Jose pada Marco. "Saya bisa melihat bahwa Anda sudah punya rencana, my lord," katanya dengan nada tertarik yang sopan. "Dan saya masih selalu berpikir, saya bisa membuat diri ini berguna."


"Kau tidak perlu menggunakan nada kelewat sopan saat bicara denganku." Marco mengangkat satu alis peraknya. "Dan keberadaanmu di sini saja sudah sangat berguna. Berkat keberanianmu melakukan konfrontasi langsung dengannya, kita tahu bahwa Sir William sangat berhati-hati denganmu. Dengan tubuhmu, tepatnya. Dia tidak ingin ada cacat sedikit pun padamu. Mungkin dia takut kalau kau terluka maka akan ada semacam reaksi penolakan ketika jiwa Arabella dimasukkan ke dalammu."


Maria menggeleng. "Dia sudah ada di sini, di dalamku. Masih sebagian, tapi aku merasa dia bertambah kuat ... mungkin gerhana itu akan mengunci jiwanya di sini ... mengusirku pergi."


"Kami akan bergerak secepatnya, Marry," ucap Jose. Ia sudah menghabiskan sarapannya. Rona di wajah lelaki itu sudah kembali, membuatnya tidak kelihatan pucat lagi. "Aku yakin begitu gugus sihirnya dirusak, kau akan bisa pergi dari sini dan berlindung di luar Bjork. Mungkin kau bisa keluar Albion sekalian, mengungsi dulu ke negara lain. Ke Skot, mungkin. Lady Chantall pasti bisa membantu."


Maria tertawa. "Lalu siapa yang menjamin dia tidak akan mengejarku?"


"Aku," sahut Jose tegas. Matanya berkilat penuh kesungguhan. "Aku akan menyeretnya kembali ke neraka."


Dia serius, Maria menyadari. Dia akan melakukannya meski itu akan membuatnya celaka.

__ADS_1


Kesungguhan Jose membuatnya tersentuh. Namun Maria tidak mau melarikan diri seperti pengecut dan membiarkan orang lain melindunginya. Ia tidak mau jadi kuntum bunga di rumah kaca.


"Anda pasti mengerti maksudku, my lord," Maria beralih kembali pada Marco, berhasil membuat dirinya tidak mencicit atau gemetar. Suaranya tenang dan terkendali. Setelah menghitung dalam hati, pada hitungan ketiga ia melanjutkan, "Anda tahu aku ingin melawan, bukan sekadar bertahan. Anda yang paling tahu bagaimana perasaanku sekarang."


Ia berharap Marco mengerti. Mereka berdua sama-sama kehabisan waktu. Mereka berbagi nasib yang sama, kegelisahan yang sama, keresahan akan ketidakpastian yang mengintai jiwa mereka.


Marco membalas tatapan Maria sama seriusnya, lalu mengangguk. "Sebenarnya, aku punya rencana untukmu. Itu kalau kau bersedia."


"Marry," bisik Jose. Lelaki itu menggeleng pelan, memohon. "Jangan."


Maria tidak menatap Jose. Ia mengangguk tegas. "Saya bersedia."


"Kau bahkan belum mendengar apa rencananya!" protes Jose. "Setidaknya tanya dulu dan pastikan apakah itu bahaya atau tidak, takar risikonya. Jangan beli kucing dalam karung!"


Marco tersenyum kecil. Ia menghela tubuhnya bangkit, diikuti Maria. "Lebih baik kita bicara di ruang kerjaku, nona muda. Biarkan Jose istirahat."


"Aku tidak butuh isti—" Jose baru saja hendak bangkit, tapi sudah terhuyung jatuh ke sofa. Wajahnya bingung. Ia mencoba bangkit lagi, tapi gagal. "Apa yang ...?"


Maria menatap lelaki itu dengan cemas. "Kau sakit?"


Marco tertawa. "Itu akibatnya kalau kau membuat Rolan kesal. Dia pasti capek melihatmu bolak-balik menantang bahaya seperti bocah bosan hidup."


Ah, itu karena obat dari Dokter Rolan. Maria merasa lebih lega sekarang. Ia sempat khawatir Jose lumpuh atau kondisinya memburuk.


"Tenang saja, kau akan pulih dalam satu atau dua jam," Marco menenangkan. "Rolan akan kembali beberapa menit lagi, dan aku akan meminta Gerald berjaga di depan pintu kalau-kalau kau butuh sesuatu." Ia mengibaskan tangannya, mempersilakan Maria berjalan duluan. "Silakan, Lady."


Jose masih memanggilnya di belakang, mencoba membuatnya berubah pikiran, tetapi Maria tidak menoleh.


Sampai beberapa hari lalu, Maria masih menyukai cerita dongeng di mana pangeran tampan berkuda putih datang menyelamatkan sang putri dari penyihir jahat. Ia dulu bermimpi ingin berada dalam posisi tersebut: di mana ia dalam situasi genting dan seseorang yang ia cintai akan menyelamatkannya. Lalu ia dan pangeran tersebut akan hidup bahagia selamanya.


Namun itu impian dungu, Maria menyadarinya sekarang. Berada dalam situasi itu sama sekali tidak ada serunya, tidak ada asyiknya. Tidak ada jaminan akan akhir bahagia selamanya. Ia tidak ingin siapa pun menyelamatkannya. Ia tidak ingin bermalas-malasan menunggu orang lain bertaruh nyawa melindunginya dari garis nasibnya sendiri.


Maria merasa ia harus berdiri membela dirinya sendiri. Terutama, ia tidak mau orang yang ia sayangi terluka karenanya. Ini urusannya dengan Sir William, urusannya dengan Arabella.


Jose tidak perlu ikut terluka.

__ADS_1


***


__ADS_2