
Semua mayat selesai ditenggelamkan tepat pada saat matahari mulai terbit. Sekarang pukul lima pagi hari Rabu, tinggal dua hari lagi sampai gerhana matahari.
Rolan mengetuk pintu rumah salah satu orang di Utara untuk mencari air matang dan handuk bersih, baru mendapatkan apa yang dimauinya setelah mengetuk pintu rumah ketiga. Banyak para pekerja yang kena luka cakar atau gigit, tapi tidak ada yang terlalu parah. Hans dan Gerald bahkan tidak terluka sama sekali. Mereka lebih suka diperiksa saat sudah kembali ke manor, tapi Rolan memaksa agar semua luka dicuci serta dibersihkan secepat mungkin karena takut akan kemungkinan infeksi.
"Bagaimana kalau ini sebenarnya penyakit?" Rolan menghampiri Jose, membantu keponakannya membuka mantel untuk melihat apakah ada luka tersembunyi. Suaranya sedikit tersendat gugup ketika meneruskan, "Monster ... iblis itu ... menjulurkan lidah padaku sebelum kau datang, dan lidahnya membuatku ingat belalai nyamuk. Bagaimana kalau yang membuat mayat manusia hidup kembali adalah penyakit? Mungkin semacam virus atau bakteri, atau parasit semacam malaria. Lalu sungai ini semacam air kina yang membunuh parasit."
"Entahlah, Paman," sahut Jose, tak mau ambil pusing. Ia memakai kembali mantelnya setelah Rolan memastikan tidak ada luka berarti. "Kalau ini penyakit, berarti bisa disembuhkan."
"Kalau ini penyakit, apa penjelasan untuk sungai yang menyala?" sebuah suara menimpali.
Jose dan Rolan menoleh, melihat Hubbert sudah benar-benar pulih. Sinar matahari membangunkan harapan bagi semua orang, membuat segala hal yang terjadi saat gelap terasa bagai mimpi belaka. Hubbert membawa perlengkapan potretnya dengan kedua tangan. Tas hitamnya tercangklong di pundak kanan. Apa pun yang ada di dalam tas itu jelas sudah remuk jika dilihat dari noda basah pada permukaannya. Topi petnya hilang, menampakkan ikal merah liar di kepala lelaki itu.
"Kau baik-baik saja?" Jose bangkit berdiri. Senyum jahil tersungging di wajah pucatnya. Ia menjentikkan jari dua kali. "Kau tahu siapa namamu, Mr. Decker?"
"Hubbert Decker!" Hubbert tertawa lepas. Ia menggeleng malu dan menghela napas. "Terima kasih sudah menolongku semalam, Mr. Argent, dr. Orlov. Sungguh. Aku benar-benar berterima kasih. Meski begitu, tanpa mengurangi rasa hormatku ..."
"Kalau ingin wawancara, ikutlah ke manor Argent bersama kami," potong Rolan, yang benar-benar capek dan tak tahan pada bau mayat di tangannya. Aroma daging busuk dan amis darah tak juga hilang meski ia sudah mencuci tangan berulang kali. "Kau bisa tanyakan apa pun di sana sambil makan. Aku tidak akan bisa makan daging setelah malam ini. Aku mau makan sayur seperti kelinci."
Hubbert menoleh pada Jose dengan pandangan bertanya. Jose mengangguk, bisa melihat bahwa ia sudah memenangkan rasa hormat dan kepercayaan dari lelaki itu. "Kau bisa ikut sarapan bersama kami," katanya sambil mulai memimpin jalan. Begitu ia melangkah, semua pekerja segera ikut bergerak mengikutinya menyeberang jembatan. "Dokter Rolan pasti juga ingin memeriksa apakah mayat-mayat itu membawa penyakit menular pada kita dan banyak lagi yang ingin ia ketahui. Benar, Paman?"
"Yang ingin kutahu adalah bagaimana orang-orang Bjork bisa tetap diam dan mengabaikan kita semalaman penuh!" gerutu Rolan sambil menjajari langkah Jose. "Apa mereka tak mendengar keributan semalam?"
"Tentu saja dengar, lonceng balai kota menyuruh mereka untuk sembunyi. Lagi pula kita semua sudah dilatih untuk mengunci pintu setelah hari larut." Jose tidak ingin menyalahkan siapa pun. Ia justru bersyukur kalau tidak ada orang sipil yang terluka. Sir William tidak bisa mengejar mereka sampai ke Selatan, karena itu dia mengirim mayat hidup sebagai gantinya. Fakta bahwa ada begitu banyak gelombang mayat hidup membuat Jose tahu bahwa Sir William berniat menghabisinya tadi malam, dan habisnya pasukan mayat hanya punya satu arti: si pembuat mayat sedang tidak ada di Bjork, atau pria itu tidak bisa lagi membuat lebih banyak mayat. Mungkin ada batas pembuatan. Jose tidak tahu mana yang benar, yang jelas dengung psikis yang tenang dalam kepalanya memberi tanda bahwa sekarang sudah aman.
Rolan mendengus. "Yah, atau mereka semua tidur kelewat lelap."
"Aku tidak setuju, dr. Orlov," sahut Hubbert yang berjalan agak di belakang Jose, di sisi kirinya. "Bjork tidak tidur semalam. Mereka semua melihat apa yang kalian lakukan. Mereka semua menyaksikannya. Lihat saja." Ia menunjuk ke sekitar.
Rolan mengangkat wajah dan menyadari kebenaran kata-kata Hubbert. Jendela-jendela rumah terbuka lebar. Orang-orang menatap mereka sembunyi-sembuyi dari balik tirai. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga muncul, meringis malu-malu atau sembunyi begitu bertemu mata dengannya. Beberapa orang menatap mereka terang-terangan dari balkon, yang lain berseru dan memberi salam.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan Tuan Kecil?" seru Pierre sambil membuka pintu tokonya. Wajah bulat itu merona merah, senyumnya mengembang lebar dan bangga. "Sinar apa yang kulihat semalam?"
Jose menoleh, meletakkan satu jarinya di depan bibir sambil tersenyum penuh rahasia.
Beberapa orang yang menyapa mereka ketika lewat merasa senang karena rombongan Jose membalas dengan supel dan rendah hati. Ada juga yang berlari datang hanya untuk mengucapkan terima kasih pada Gerald atau Hans atas bantuan mereka semalam. Semua orang melihat bagaimana pekerja Argent menyeret semua mayat ke sungai di Selatan. Jalanan riuh dengan gelak tawa dan seruan salam serta berkat. Jose membalas tiap berkat yang dilayangkan padanya dengan sopan.
Rolan mengawasi dengan wajah tercengang. Citra angkuh dan kejam yang menempel pada nama Argent bertahun-tahun runtuh dalam satu malam. Ia belum pernah melihat orang-orang menyambut rombongan tukang pukul seramah dan seantusias ini. Sampai sehari lalu, semua orang masih mengalihkan mata atau pura-pura tak melihat karena begitu takut pada nama Argent. Dan itu setengahnya karena Hubbert. Mungkin melihat lelaki itu berjalan santai bersama Jose-lah yang membuat masyarakat ikut melunak.
Bjork, untuk pertama kalinya, tidak terlihat sedingin dan sekaku biasa.
"Mereka semua melihatmu menyalakan sungai?" tanya Rolan waswas. Matahari bersinar keemasan. Ada suara sorak sorai dan bunyi siulan panjang, juga tepuk tangan samar-samar seolah menyambut kedatangan pahlawan. Mau tak mau hatinya jadi menghangat mendapat kemeriahan semacam itu. Namun ia juga tahu momen ini biasanya hanya sementara. "Jangan terbuai Jose," bisiknya memperingatkan. "Orang-orang yang sama dengan yang menyambutmu sekarang bisa saja memburu kepalamu dalam sekejap. Masyarakat berbalik arah semudah mengedipkan mata."
"Aku tahu." Jose mengangguk kecil, tapi masih menebarkan senyum flamboyan dan melambai pada setiap orang yang memanggil namanya. Ia ahli mengambil hati orang dan berniat tampil semenyenangkan mungkin agar lebih mudah membuat publik percaya apa pun yang akan dikatakan keluarganya sebagai penjelasan misteri ini besok. Semakin publik menyayanginya, segala hal akan jadi lebih mudah.
"Kalau kau mau, aku bisa membantumu menyampaikan penjelasan," kata Hubbert tergesa. "Aku yakin Daily Bjork tidak akan melewatkan penjelasan dari Argent. Terutama karena kalian yang menyelamatkan kota iniādan sepertinya tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi."
"Kupikir kau membenci Argent?" sindir Rolan.
Itu berarti dia menganggap Argent ada di sisi yang benar? Rolan membiarkan pertanyaan itu tidak diutarakan.
"Kau akan sangat membantu, Mr. Decker." Jose berhenti begitu melihat satu kereta kuda berjalan menghampiri mereka. Kereta itu berwarna hitam pekat. Lambang pedang Argent tertera pada pintunya.
***
Tidak ada yang bicara dalam kereta. Rolan dan Jose terlalu lelah untuk membicarakan apa pun. Benak mereka masih dipenuhi bayangan mayat-mayat yang menyerang dalam gelap. Rolan menempelkan telapak tangannya di leher, masih meraba dan mencari kalau-kalau lukanya ternyata ada di sana. Jose memejamkan mata rapat-rapat, menahan diri agar tidak muntah. Rasanya seperti ada ratusan semut bersarang dalam tempurung kepalanya, hilir-mudik di sana. Ia merasa gatal dan juga sakit. Hubbert tidak bersama mereka. Pria itu berjalan bersama para pekerja Argent, memilih berada di bawah siraman matahari pagi dan riuh orang banyak untuk menenangkan diri.
"Apa Sir William sudah menyerah?" Rolan bertanya. Kalau mereka berdiam diri lebih lama lagi, ia yakin dirinya akan gila. Suara-suara cabikan daging dan dengkur mayat masih menggema di telinganya. Ia seperti masih bisa merasakan bagaimana lehernya dikeramus.
"Dia tidak ada di Bjork," sahut Jose pelan dengan kepala serasa berputar. "Mungkin dia pikir mayat-mayat itu akan cukup untuk membunuh kita, makanya dia meninggalkan Bjork saat ini. Tapi dia akan kembali."
__ADS_1
Rolan merasa agak lega. Setidaknya mereka punya waktu untuk bernapas. "Kenapa kau perlu menggunakan rambut? Maksudku ketika berdoa."
"Untuk persembahan," gumam Jose lirih. "Darah, kuku, ari-ari, rambut, apa pun bagian tubuh manusia bisa digunakan untuk persembahan karena mengandung energi. Itu semacam ... biaya pengganti yang harus dibayar untuk sebuah kecurangan."
"Kecurangan?"
"Tidak ada yang namanya sihir, Paman. Semua keajaiban yang terjadi barusan adalah pemanfaatan sistem alam." Jose memijat pundaknya sendiri. Tulang-tulangnya serasa mau copot karena beban tenaga yang ia gunakan semalaman. "Yang dinamakan dengan sihir adalah ketika kita melakukan intervensi terhadap sistem alam yang ada, mengubahnya menjadi sesuatu dalam waktu cepat. Tapi untuk melakukannya secara instan, harus ada harga yang dibayar karena segala pertukaran harusnya setara. Tidak lebih, tidak kurang."
"Dan kenapa kau bisa melakukan itu?"
"Karena aku sudah melihat kebenaran sejati," sahut Jose singkat, merujuk pada entitas purba yang ditemuinya dalam ambang hidup dan mati. "Mudahnya, aku tahu cara sistem dunia bekerja kalau aku mencoba mengingatnya." Ia menggenggam kosen jendela. "Aku bisa mengubah kayu ini jadi sesuatu yang lain kalau aku mau. Sekarang juga. Itu bisa kulakukan karena aku tahu komposisi dan cara mengubahnya, aku punya pengetahuan atas itu, tapi melakukannya jelas akan menguras tenaga. Energi adalah harga yang harus kubayar. Orang lain bisa melakukannya juga, tapi mereka yang tidak punya pengetahuan sejati tidak akan bisa melakukannya tanpa sigil. Sigil itu berisi kata-kata, mantra, doa, kunci, sandi, apa pun manusia menyebutnya, yang membantu orang-orang tanpa pengetahuan untuk bisa mengintervensi sistem alam."
Bunyi geradak roda kereta melindas paving berbatu mengisi kesunyian dalam kompartemen kereta.
Rolan berusaha memahami semua penjelasan Jose, tapi ia tetap tidak mengerti satu hal. "Lalu bagaimana kau bisa menyembuhkan lagi leherku? Aku yakin segumpal dagingku pasti hilang. Kalau memang hukum alam adalah pertukaran setara, kau menukar kesembuhanku dengan apa?"
Jose tersenyum tipis, tidak menjawab. Mereka sudah memasuki halaman Argent dan berhenti di pelataran. Pada undakan teras sudah ada banyak orang menunggu mereka. Marco, Renata, Maria, Nolan, Lady Chantall, juga George dan banyak pelayan lain.
Jose meloncat keluar dari kereta, membalas pelukan ibunya erat-erat, lalu berjalan menghampiri Marco. "Maaf aku merepotkan," katanya.
"Aku tidak heran," sahut Marco dingin. "Kau memang selalu merepotkan. Tapi jangan harap ini bisa selesai hanya dengan satu permintaan maaf."
Jose menaiki undakan hingga sejajar dengan Marco, kemudian menyentuh pinggang pamannya yang terluka. "Apa sekarang aku dimaafkan?"
Marco mengerutkan kening. Ekspresinya berubah dari bingung, heran, lalu kaget. "Kau ..." Ia menoleh cepat pada George. "Bawa Jose ke kamarnya. Cepat!"
Jose awalnya tidak mengerti kenapa Marco perlu berteriak sepanik itu. Ia pikir mungkin pamannya hanya kaget karena luka di pinggangnya tidak sakit lagi, tapi Jose salah. Ia tahu tebakannya salah ketika dunia mendadak oleng dan segala hal tampak merah dalam pandangannya. Ia mencecap rasa metal yang familier.
Detik berikutnya, Jose terbatuk dan muntah darah.
__ADS_1
***